©16. Changed ⌛

'Berhentilah menyusahkan para dayang!'

'Sikapmu yang seperti ini tidak mencerminkan bahwa kau seorang bangsawan.'

'Aku sangat menyesali pernikahan raja dengan ibumu, bahkan keluarga kalian saja tidak sederajat dengan keluarga Yoon yang terhormat. Pheya terlalu baik karena mengangkat derajat klan kalian, sungguh menyebalkan.'

'Dirimu bukan anak kecil lagi, Daemok-ssi. Segeralah membalas budimu sebagai putri raja, bersikaplah dewasa.'

Kata-kata Nakrang petang tadi sangatlah menyakiti batinnya. Saking sakit hatinya, wanita itu bahkan melewatkan makan malam bersama penghuni istana lainnya. Dia sedang tidak ingin bertemu tatap dengan siapapun.

Bersyukurlah, juru masak istana yang bernama Lee Jieun sangat berbaik hati membawakan makanan milik Daemok ke dalam paviliunnya.

Wanita cantik itu menemani Wang So untuk membujuk Daemok makan. Selagi Wang So menunggu di luar kamar, Daemok memanfaatkan waktunya bersama Jieun untuk menceritakan tentang keluh kesahnya menjadi putri seorang raja.

Dia juga menceritakan tentang bagaimana sang saudara tiri perempuan yang tidak begitu menyukai eksistensi dirinya.

Terlahir sebagai sesama wanita, membuat Nakrang memiliki kecemburuan sosial yang tidak ia tunjukkan didepan orang banyak. Terlebih lagi, semenjak ada Daemok, perhatian para penghuni istana tidak lagi tercurahkan penuh untuknya.

Daemok sangat benci jika Nakrang sudah membawa nama keluarga saat berdebat dengannya, hal itu semakin menunjukkan kedudukan mereka yang sangat kecil di dalam istana.

Apalagi kalau sudah membahas masalah ibu mereka merupakan istri raja yang ke-empat, dengan angkuhnya Nakrang selalu mengatakan tahta istana tidak akan pernah jatuh ke tangan keturunan keluarga Choi.

Tanpa di jelaskan juga Daemok sudah tau, jika bisa memilih juga dia tidak ingin lahir menjadi anggota kerajaan, tapi mau bagaimana lagi, nasibnya sudah seperti ini, takdir menginginkan dia menjadi salah satu keturunan kerajaan, apa yang bisa Daemok perbuat?

Sebagai pendengar yang baik, Jieun hanya membiarkan sang nona muda melepaskan semua perasaaannya tanpa memotong, atau memberi interupsi apapun. Dia juga tidak memberi nasihat apa-apa, hanya sekedar membiarkan Daemok merasa lega dengan bercerita kepadanya.

Dan setelah dirinya di tinggal sendiri lagi, Daemok kembali menatap bulan yang malam ini bersinar sangat cantik.

Daemok yang termenung sambil menatap kearah langit. Disaat kesedihan melanda, dia pasti akan duduk di tepi jendela semari memperhatikan langit malam seperti sekarang.

"andai saja aku punya sayap seperti kupu-kupu, ingin rasanya aku terbang bebas berkelana, keliling dunia," ratap gadis itu, "aku hanya ingin merasakan hidup yang sebenarnya, dan melakukan apapun yang aku suka, tanpa kekangan apapun dan aturan-aturan menyedihkan seperti ini ...,"

"Bulan ... beri aku petunjuk, bagaimana caranya untuk keluar dari lingkaran mengerikan ini ... aku tidak mau lagi jadi putri raja," keluh Daemok, matanya berkaca-kaca.

Ditengah kebimbangannya, Daemok seperti melihat ada sekelebat cahaya biru yang menguar dari kejauhan sana. Daemok sendiri tidak yakin akan apa yang dia lihat. Merasa seperti hanya ilusi mata.

"Itu tadi apa?" batinnya bertanya-tanya. Karena malam semakin larut, Daemok mengakhiri prosesi bersedihnya, dan menutup kembali jendela paviliun miliknya, bersiap untuk tidur dan berharap pagi akan segera datang.

©©©

Seokmin terbangun ditempat yang dia tidak kenali, semuanya di dominasi oleh warna putihnya cahaya. Pria itu kebingungan, dia mulai bertanya-tanya tempat apa ini sebenarnya. Aneh rasanya, seperti ia tidak dapat bangkit dari posisi tidurnya, seperti ada yang menahannya untuk berdiri.

'Apa ini sebenarnya?'

Ditengah kegamangannya, dia mendengar ada langkah sepatu yang mendekat kearahnya. Seokmin memalingkan mukanya kekiri, melihat siapa yang datang. Sepatunya sangat mengkilap, bentuknya sangat aneh, tidak seperti sepatu dari jamannya.

"Selamat datang, Lee Seokmin-ssi."

Sapa sebuah suara, sepertinya seorang pria. Seokmin masih saja tidak dapat menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa dia yang menyapa, semuanya terasa berat, dan semakin menyiksa setiap kali dia mencoba. Mulutnya seperti terkunci, saat dia akan berbicara, sungguh dia sangat tidak mengerti apa yang salah dengan tubuhnya.

'Tuhan ... aku kenapa?' batinnya bertanya-tanya.

"Anda pasti bingung dengan apa yang anda alami sekarang, bukan? Tenang saja, anda berada di tempat yang aman. Perubahan takdir anda yang sebenarnya baru akan di mulai. Untuk itu Lee Seokmin-ssi, terhitung mulai hari ini, jiwa anda akan terkunci di bawah alam kesadaran. Anda akan mengalami tidur yang sangat panjang, sesuai permintaan anda dimasa depan. Nikmatilah istirahat anda, sampai waktunya terbangun kembali."

Seokmin semakin bingung, mengapa juga takdirnya harus berubah? Apa sebenarnya yang dia pinta pada sang dewa di masa depan, sehingga dirinya harus tersegel seperti ini. Ingin dia membuka suara, tapi tidak bisa, kekuatan aneh ini terlalu kuat menahannya. Belum terjawab semua pertanyaan di benaknya, mata Seokmin mulai terasa semakin berat, seiring dengan kepergian langkah seseorang yang tadi berbicara padanya.

'Haruskah aku berdiam diri seperti ini?'

'Menunggu takdir mebangunkan ku kembali?'

'Mengapa harus aku yang mengalami semua ini?'

Tenggelam dalam pertanyaan yang bersemayam di dalam benaknya, seokmin mulai tertidur dengan lelap, menunggu saat untuk dirinya terbangun kembali.

©©©

========
=================

- Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.-

=================
=========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.

Length: 1300++.
.
.

'Ini aneh, kenapa atap kamarku jadi berwarna coklat dan berbentuk kain seperti itu.'

Dokyeom mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuh kedalam retina. Kepalanya terasa sangat pusing, dia mengumpati diam-diam si kupu-kupu sialan yang menembus kedalam kepalanya malam tadi. Akibat kupu-kupu itu, Dokyeom di buat bingung sekarang, dirinya merasa seperti tersesat, karena tiba-tiba saja melihat keadaan sekitar yang sudah berubah sebanyak seratus delapan puluh derajat.

'kupu-kupu menyebalkan itu, sedang apa dia berputar diatasku?'

Dokyeom mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

'ini mimpi apaan sih, kok kaya gini?'

Kupu-kupu berwarna merah muda yang terus berputar di atas kepalanya membuat Dokyeom jengkel.

"Pergilah, jangan berputar di atas kepalaku!" sahut Dokyeom tiba-tiba, membuat orang yang sedari tadi tidur di sisi ranjangnya tiba-tiba terbangun.

"Seokmin-ah, Seokmin-ah, kau sudah sadar?"

Kim Mingyu adalah orang yang pertama kali menyapanya, saat Dokyeom terbangun. Dokyeom menolehkan wajahnya, dan memandang dengan bingung kea rah pria yang menatapnya dengan raut khawatir.

"Kau siapa?" Tanya Dokyeom terang-terangan, merasa sangat asing dengan wajah si pria yang memakai hanbok di era modern gini. Dokyeom masih belum sadar sepenuhnya dengan kejadian yang dia alami sekarang.

"Ya! Kau jangan bercanda," ujar Mingyu khawatir, "Aku ini, Mingyu. Kim Mingyu, temanmu, sahabat seperjuanganmu, masa' kau lupa?"

"Kim Mingyu?" ulangnya. Demi apapun, walau ini pertama kalinya Dokyeom mendengar nama asing yang mengaku sebagai temannya itu, dia sepertinya pernah melihat dia, tapi dimana?

"Iya, Kim Mingyu. Apa kau sudah ingat?"

Dokyeom menggelengkan kepala.

"Astaga, Seokmin-ah, apa yang terjadi denganmu?" sahut Mingyu berkaca-kaca, "Benturan itu, pasti dia penyebabnya. Sebentar, biar aku panggilakan tabib istana," Mingyu buru-buru keluar, memanggil seseorang yang bisa membantunya, meninggalkan Dokyeom yang masih memiliki tanda tanya besar di kepalanya.

"Apa jaman sekarang masih jaman, orang memanggil tabib. Lagipula siapa pria itu, mengapa wajahnya terasa familiar sekali. Mengapa dia memanggilku dengan nama jendral Seokmin? Apa karena wajahku ini mirip ya dengannya?"

Ya, Dokyeom sangat tahu siapa Seokmin itu sebenarnya. Membuat makalah tentang sejarah Goryeo, membuatnya hafal dengan nama salah satu jendral termahsyur di masa pemerintahan raja Wang So yang mati mengenaskan di usia muda.

Namanya tercatat dengan jelas di buku sejarah, sebagai salah satu contoh pahlawan yang mengabdikan diri untuk nama kerajaan mereka sampai akhir hayatnya.

"Tadi dia bilang, Kim Mingyu kan?"

Dokyeom berusaha mengingat-ngingat lagi tentang nama itu. Dia beranjak dari tidurnya, dan menopang dagu seraya berpikir.

"Kim Mingyu?"

"Kim Min ... Gyu ..."

"Kim ... Min ... Gyu?"

Seketika tubuh Dokyeom menegang saat sebuah ingatan menyeruak masuk kedalam kepalanya,

"Bukankah Kim Mingyu, nama seorang penghianat kerajaan yang membawa kabur calon permaisuri kerajaan Goryeo saat pemerintahan raja Wang So?"

Saking fokusnya pada pemikirannya sendiri, Dokyeom bahkan baru sadar kalau ranjang yang dia gunakan sangat berbeda dengan ranjang yang biasa ada di rumah sakit, ataupun ranjang pada era modern.

Pakaian yang dia kenakan juga, Dokyeom baru menyadari kalau sedari tadi dirinya mengenakan hanbok putih, terlebih lagi, sejak kapan Dokyeom membiarkan rambutnya tumbuh panjang seperti ini?

Dokyeom berdiri, kemudian mencari apapun yang bisa membuatnya melihat refleksi tubuhnya. Untunglah ada nampan perak yang bias dia gunakan untuk melihat pantulan tubuhnya.

Dokyeom segera menurunkan tumbuhan dan ramuan-ramuan dari nampan itu, kemudian berusaha membaliknya dan melihat penampilan melalui nampan ini.

Dia benar-benar terkejut, saat melihat rafleksi jendral Seokmin yang biasa dia lihat di buku sejarah, terpantul dari nampan itu.

Saking tak percayanya, Dokyeom bahkan meraba pipinya sendiri, benar dirinya tidak berhalusinasi. Setelah menepuk pipi berulang kali, barulah dia sadar kalau ini bukan mimpi.

"A ... Astaga! Apa ... apa yang terjadi???"

⌛⏳⌛
.
.

To Be Continued.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top