Chapter 23
Tampak raut kecewa di wajah Naren. Dalam otaknya sudah berputar alasan Jani menolak ajakannya untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat.
"Gua nolak bukan karena gua enggak suka sama lu, Ren. Dari dulu gua nunggu kesempatan ini ..."
"Terus kenapa?" potong Naren tak sabaran.
"Gua berusaha enggak mengecewakan ayah. Kesibukan gua udah cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Gua takut. Kehadiran lu bersama dengan hubungan yang baru di antara kita membuat fokus gua terbagi." Jani berusaha meyakini dirinya sendiri bahwa keputusan yang ia ambil saat ini merupakan keputusan tepat.
Entah setan dari mana yang merasuki tubuh Naren, cowok itu menggapai kedua tangan Jani yang terbalut jaket kebesaran miliknya. "Kenapa menurut lu, gua bakalan menyita waktu yang lu miliki?"
"Saat lu sama Aqila dekat untuk mempersiapkan lomba, pikiran gua benar-benar kacau, Ren. Bahkan kita sempat berantem, 'kan? Lu bukan hanya menyita waktu yang gua punya, pikiran dan tenaga gua juga ikut kesita. Gua cukup kagum, selama persiapan ujian sampai pekan ujian berlangsung hubungan kita merenggang dan cara itu ampuh untuk gua mempersiapkan ujian. Setelah pekan ujian gua berusaha untuk mempertahankan jarak kita," jelas Jani mencoba membuat Naren mengerti dengan pilihan yang ia ambil.
"Karena itu kita berantem di ruang Jurnalistik?" tebak Naren membuat Jani menggeleng.
Bukan. Bukan karena itu mereka beradu argumen. Jani pikir hubungan mereka bukan lagi sebagai rumah yang membuat mereka tenang saat pulang, karena mereka sudah bergelut dengan kesibukan masing-masing.
"Gua lelah dengan kesibukan yang gua jalani, begitu juga dengan lu. Saat dua orang dalam satu hubungan memiliki kesibukan masing-masing, mereka sama-sama membutuhkan rumah untuk saling berkeluh kesah. Gua takut, gua enggak bisa jadi tempat lu pulang karena kesibukan yang gua punya bakalan menyita waktu, pikiran, dan tenaga, begitu juga sebaliknya."
Naren masih mencoba meyakinkan Jani. Raut wajahnya masih terlihat serius, namun jika menyelami tatapan matanya, Jani melihat ketulusan di sana. "Gua siap untuk jadi tempat lu pulang, Jani. Gua enggak mempermasalahkan apa lu bisa jadi rumah bagi gua."
Perasaan Jani malah tak menentu, ia merasa ragu. Ketulusan Naren membuat Jani ingin egois saat ini. Namun, tangannya memilih menjauh dari balutan tangan Naren, Jani harus menolak. Dirinya sangat takut bila ia dan rencananya yang sudah disusun hancur berantakan.
"Naren. Dalam sebuah hubungan itu harus ada saling. Saling mencintai, saling melindungi, saling memiliki, saling mendengar, dan saling yang lainnya. Kalau berat sebelah, hubungan itu gak akan balance."
"Tolong. Tolong untuk pikirkan sekali lagi, Jani." Cowok di seberang Jani benar-benar keras kepala dan watak keras kepalanya itu berhasil membuat Jani meragu.
***
Hari ini rinai hujan sangat setia menemani langit yang semakin menggelap, tak lupa kilatan disusul guntur datang sesekali sebagai rintangan dari kesetiaan rinai hujan bersama langit. Jani dan Naren masih berada di dalam kafe, membicarakan tentang kesibukan mereka masing-masing. Dalam cerita mereka saat berjauhan ada rindu yang tersampaikan secara tak sengaja, memberi tahu bahwa kehadiran satu sama lain sangat berpengaruh.
"Cemburu kok sama Aqila? Capek-capek gua jelasin panjang lebar, masih cemburu juga? Bahkan gua menekankan kita bukan orang asing pas wawancara, tapi lu malah betah kalau kita kayak orang enggak kenal." Naren masih kesal jika mengingat wawancara kemarin, emosi tiba-tiba memengaruhi dirinya dan berujung adu argumen.
"Capek-capek gua menjauh dari lu supaya enggak dirundung lagi. Lu enggak tahu popularitas lu membuat cewek di sekeliling lu kena dampaknya? Iya kalau dampaknya positif, kalau negatif? Rugi!" tukas Jani mengingat kembali sekelam apa masa lalunya, walaupun Naren, Mahen, dan teman-teman Naren berusaha melindunginya.
"Rugi dari mana? Untung banyak, buktinya bisa jadi bahan siaran radio!" gerutu Naren membuat Jani tersadar.
"Kalau itu gua minta maaf." Wajahnya tampak menyesal, jika bukan ia yang membuat topik Naren dan Aqila semakin hangat, mungkin Jani tak semakin dibakar api cemburu. Begitulah perempuan, enggak seru kalau tidak mencari penyakit. "Gua mau tanya deh tentang lu sama Mahen."
"Tanya aja." Khusus Jani, ia tidak mempermasalahkan jika luka yang ia miliki harus kembali digali. Ingat. Hanya khusus Jani.
"Mau sampai kapan kalian seperti ini terus?" Seperti ini yang Jani maksud ialah saling menjaga jarak dengan membangun dinding tinggi untuk membatasi kedekatan di antara mereka yang bernama ego.
"Gua belum bisa untuk mengambil langkah terlebih dahulu. Mahen sebenarnya sadar kalau perlakuan orang tua kita beda dan kita tahu gimana sifat dasar manusia kalau merasa hidup dia nyaman, aman, dan damai pasti enggak akan mau membagi kenyamanan tersebut sama orang lain."
Naren selalu ingat bagaimana raut bangga orang tuanya atas apa yang diraih Mahen, berbeda saat dirinya yang meraih kemenangan. Ia merasa tidak diakui. Fasilitas yang diberikan juga berbeda dan Naren membenci segala kehidupannya saat kakinya melangkah memasuki rumah.
"Gua sama dia itu saudara kembar, seharusnya dia sedikit aja menyadari apa yang gua rasakan. Sama seperti gua yang menyadari apa yang dia rasakan."
Sejak di dalam kandungan, anak kembar membangun sebuah ikatan batin yang kian lama akan semakin kuat, dari sana Naren mulai merasakan apa yang dirasakan Mahen, dan Naren harap Mahen juga merasakan perasaan yang ia rasakan.
"Bisa aja ikatan batin kalian belum tentu sekuat yang lu pikirkan."
"Kalau enggak sekuat yang gua pikirkan, enggak mungkin gua merasakan perasaan dia," tampik Naren paling mengetahui hubungan di antara dirinya dan Mahen.
"Memang apa yang lu rasakan tentang perasaan dia?"
Naren merasa pertanyaan Jani merupakan pertanyaan jebakan. Jani pasti akan berbangga diri jika mengetahui perasaan Mahen yang Naren rasakan.
"Bohong ya?" tebak Jani dengan mata memicing.
Naren berdecak sebal, lebih baik mengatakan apa adanya daripada ia disangka penipu ulung. "Dia suka sama lu dan cemburu karena lu lebih tertarik sama gua," jawab Naren, percaya diri.
Jani membungkam bibirnya sejenak, ia bingung harus merespon seperti apa. Merasa bersalah dengan Mahen karena belum bisa membalas perasaan cowok itu, namun hati tidak bisa dipaksakan, bukan?
"Jangan bilang lu menyatakan perasaan ke gua, karena enggak mau kalah sama Mahen? Dia bisa dapat hati orang tua, sedangkan dia enggak bisa dapat hati gua."
Dengan gemas Naren menggetok kepala Jani, bisa-bisanya gadis di hadapannya menilai rendah perasaan yang ia punya.
"Ya maaf, lagian dari dulu lu tuh enggak ada tanda-tanda bakal menyukai gua balik. Wajar dong kalau gua ragu!"
"Alasan aja terus. Lu beneran enggak mau cerita jujur?" tanya Naren mengalihkan topik obrolan mereka.
"Cerita jujur ke ayah gua?" tanya Jani. Kepala Naren mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau itu gua belum bisa sih, cuman kalau permintaan kakek untuk ikut lomba lagi kayaknya bakalan segera terwujud. Oh ya, gua udah cerita belum kejadian makan malam baru-baru ini?"
Setiap Jani melakukan kumpul bersama keluarga besar dari ayah, ia akan menceritakan kepada Naren kejadian apa saja yang membuatnya kepikiran. Hingga saat ini Jani belum sempat menceritakan kejadian saat makan malam keluarga bersama Naren karena mereka tak saling bertegur sapa.
"Belum, tapi gua tahu intinya lu disuruh ikut lomba. Mungkin kakek lu mulai meragukan cucu kesayangannya udah jarang keluar sebagai pemenang."
Dengan latar belakang keluarga yang sama, Naren tentu tahu betul permasalahan kritis apa yang sedang dihadapi Jani.
"Pintar. Pantes menang lomba mulu," puji Jani.
Dengan senyum sombong Naren berucap, "Lomba sama Mahen untuk memenangkan hati lu, 'kan?"
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top