Bab 12
***
Jam empat sore, kafe lantai dua dekat Sekolah Internasional Gunardi sudah cukup ramai. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, memberi suasana hangat. Di lantai dua lebih tenang—beberapa pengunjung sibuk dengan laptop masing-masing.
Raka sudah lebih dulu duduk di pojok dekat jendela luar. Dari sana dia bisa melihat jalan yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja, juga pepohonan rindang yang berjejer rapi di pinggir trotoar. Dan di hadapannya sudah terhidang segelas latte panas dan caramel latte dingin yang ia pesan untuk Kirana, lengkap dengan sepiring roti isi tuna.
Jarinya mengetuk pelan meja. Pikirannya belum lepas dari obrolan di ruang guru tadi pagi. Tapi, apabila makin dia pikirkan, rasa penasarannya justru menguat.
Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga. Raka menoleh. Kirana muncul, mencari sekeliling, lalu tersenyum saat melihatnya.
"Mas Raka," sapanya.
Raka berdiri, menarik kursi untuk istrinya. "Pas banget, caramel latte sama rotinya udah siap."
Kirana tersenyum sambil duduk. "Thank you, Mas. Pasti kamu udah nunggu lama. Maaf ya, tadi ada urusan bentar di ruang guru."
"Nggak kok, sayang. Tidak apa. Duduklah."
Raka kemudian duduk di tempatnya lagi. lalu menghela napas sebelum akhirnya membuka percakapan serius. "Kirana. Aku ngajak kamu ke sini bukan cuma buat santai. Ada hal yang dari tadi terus mengusik pikiranku."
Kirana agak membelo, lalu bertanya penasaran. "Soal apa, Mas?"
Raka mencondongkan badan, menurunkan suara. "Tadi di ruang guru, aku dengar soal penggelapan dana di SMP Harapan Bangsa. Katanya dulu ada guru yang sempat vokal, tapi setelah itu kasusnya hilang. Aku kepikiran... jangan-jangan guru itu papa."
"Papa Wirya?" tanya Kirana memastikan, lalu Raka membalas dengan anggukan kencang.
Kirana berhenti sejenak, memutar-mutar sedotan di gelas caramel latte-nya. Ia menatap suaminya dalam-dalam. "Kebetulan sekali, di Instagram aku juga lihat postingan dengan kasus serupa. Tentang kasus itu juga. Dan aku langsung ingat ... SMP Harapan Bangsa. Sekolah itu tempat papaku ngajar. Sebelum beliau berhenti dan beralih kerja di bidang lain."
Raka terdiam. Alisnya berkerut rapat. "Bentar, bentar. Jadi ... papa Harun juga pernah kerja di SMP Harapan Bangsa?"
Kirana mengangguk mantap. "Iya, Mas. Makanya aku jadi kepikiran. Bisa jadi papa tahu sesuatu. Atau pernah ada di situasi itu."
Raka menyandarkan punggung, pandangannya beralih ke luar jendela. "Berarti ... papa kita pernah satu tempat kerja dong. Aku ingat juga papaku dulu ngajar di situ, sebelum kejadian yang bikin ingatan beliau jadi kacau."
Kirana mengangguk lagi, wajahnya serius. "Itu yang bikin aku juga mikir. Aneh nggak sih? Kita aja nggak pernah dengar cerita itu. Bahkan sebelum nikah."
Raka mengusap pelipisnya, merasa pusing. "Kalau benar begitu, berarti ada dua kemungkinan. Entah mereka pernah saling kenal sebelumnya, atau justru sengaja tidak pernah membicarakannya di depan kita. Dan soal papa ... aku mulai ragu. Apa benar kecelakaan itu memang murni kecelakaan? Atau ... ada orang yang memang sengaja melakukannya?"
Kirana menatap lekat wajah suaminya, suaranya pelan namun penuh tekad. "Mas, itu baru dugaan. Kita nggak bisa langsung menuduh. Tapi aku juga nggak bisa bohong kalau ... aku bisa ikut curiga. Terlalu banyak kebetulan yang muncul."
Raka menarik napas panjang kemudian mengangguk. "Iya, sayang. Aku tahu. Makanya, kita harus lebih hati-hati. Sebelum tahu kebenarannya dari papa aku sendiri ... atau dari papa kamu, semua ini hanya akan jadi prasangka."
Kirana menautkan jemarinya dengan jemari suaminya di atas meja. "Apa Mas yakin? Papa Wirya bisa mengingat kejadian tersebut kalau kita bahas ini?"
Raka menatap mata istrinya, menghela napas berat. "Entahlah. Ingatan beliau masih acak. Kalau dipaksa, malah bisa bikin beliau bingung."
Keheningan melingkupi mereka beberapa detik. Hanya suara sendok yang beradu dengan gelas dari meja pengunjung lain yang terdengar samar.
Raka menatap meja, suaranya lebih rendah. "Tapi kalau memang benar ada hubungannya, kalau benar kecelakaan papa itu bukan kebetulan ... aku harus tahu siapa yang tega melakukan itu."
Kirana menggenggam tangan suaminya lebih erat, memberi kekuatan. "Kita cari tahu sama-sama, Mas. Tapi pelan-pelan. Jangan sampai papa makin tertekan."
Raka mengangguk tipis. "Iya, sayang."
Di dalam hatinya, satu hal mulai jelas.
Ada sesuatu di masa lalu—melibatkan Wirya dan Harun—yang belum selesai.
Dan sekarang, perlahan mulai muncul ke permukaan.
***
Selepas mereka pulang dari kafe, rumah terasa begitu hening dari luar. Namun, begitu Raka dan Kirana membuka pintu, aroma masakan langsung menyeruak memenuhi ruangan. Kedua alis Raka spontan bertaut. Meja makan di ruang tengah telah penuh dengan berbagai hidangan—sayur bening bayam, ayam goreng tepung renyah, sambal terasi, hingga tumis kacang panjang yang masih mengepulkan uap hangat.
Raka melangkah pelan, seakan tak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Dari arah dapur, terdengar suara sutil yang beradu dengan wajan. Saat memastikan siapa yang memasak di dapur, matanya langsung membulat.
"Papa?" suaranya pelan, hampir tak percaya.
Wirya berdiri di depan kompor, mengenakan kaos polo lengan panjang dan celana olahraga. Tangannya sibuk mengaduk sayur. Gerakannya tenang, seperti sudah terbiasa.
Kirana ikut mendekat, tak kalah kaget.
"Papa ... masak sendiri lagi?" tanya Raka dengan suara sedikit bergetar. "Papa kan masih sakit loh."
Wirya menghentikan masak sebentar, lalu menoleh dengan senyum tipis.
"Kamu pasti heran kan, nak? Papa memang jarang terlihat seperti ini." Wirya kembali menaruh sendok kayu di mangkuk kecil, lalu menatap anaknya dengan mata yang lembut.
"Papa sudah terbiasa soal ini. Dulu ... papa sering masak untuk anak papa satu-satunya, yaitu kamu. Sering terbayang, anak itu pulang kerja, lalu papa menyiapkan makan malam. Tadi, entah kenapa, tiba-tiba keinget momen itu. Rasanya pengin masak lagi, seperti dulu. Makanya papa melakukannya."
Raka terpaku.
Kalimat itu menusuk.
Dia berusaha mendorong diri agar mengakui bahwa dirinya adalah anak kandung. Namun, dia memilih menahannya.
Justru yang terlihat hanya matanya yang mulai basah.
Kirana pelan menepuk lengan Raka, seolah menguatkan.
"Pa, masakannya kelihatan enak banget," ucapnya, mencoba mencairkan suasana.
Wirya tersenyum samar, lalu menambahkan, "Untung bahan di kulkas cukup lengkap. Papa ingat betul resep-resep yang dulu sering papa buat. Walau badan nggak sekuat dulu, tapi hati ini rasanya lebih kuat setiap kali membayangkan bisa menyiapkan sesuatu untuk anak papa."
Raka menunduk. Tangannya mengepal di samping tubuh.
Kembali, dia memilih diam.
Tak lama, Wirya selesai dan mulai menata makanan di meja. Raka dan Kirana ikut duduk. Kirana mengambil nasi yang tadi sempat dia masak sebelum berangkat.
Raka membuka dua kancing kemejanya, menarik napas pelan, berusaha terlihat biasa saja.
Mereka mulai mengambil makanan. Tapi Wirya tidak ikut makan. Beliau hanya duduk, memandangi keduanya.
"Emm ... pa?" panggil Raka sempat ragu. Dia merasa cukup untuk mempertanyakan hal yang membuat rasa penasarannya lebih kuat.
Raka menarik napas. "Papa pernah kerja di SMP Harapan Bangsa?"
Wirya yang sedari tadi melamun ke arah lain langsung menoleh. Gerakan tubuhnya kaku, matanya menatap kosong ke arah meja makan. Sementara itu, Raka menunggu jawaban, begitu pula Kirana yang spontan melirik sang suami dengan cemas.
Raka melanjutkan, lebih hati-hati, "Dan ... apa papa pernah dengar soal penggelapan dana di sana?"
Hening.
Tak ada jawaban.
Wirya menunduk. Matanya terpejam, wajahnya tampak tegang. Seperti sedang berusaha mengingat, tapi tertahan sesuatu.
Hanya tarikan napas berat yang terdengar.
"Pa? Papa, baik-baik aja, kan?" tanya Raka, memicunya untuk merasa khawatir terkait kondisi Wirya. "Kalau papa meraaa pusing, gimana kalau papa ke rumah sakit?"
"Iya, pa." Kirana ikut setuju. "Papa nggak boleh tumbang, papa harus cepat-cepat dibawa ke rumah sakit kalau kondisi papa cukup serius."
Namun dengan cepat, Wirya menggeleng. "Nggak. Nggak usah, nak," jawabnya singkat, suaranya nyaris serak. "Papa baik-baik saja. Nggak perlu rumah sakit ..."
Perlahan Wirya bangkit dari kursinya, gerakan tubuhnya sedikit goyah. "Papa ... mau istirahat dulu."
Sebelum Raka atau Kirana sempat menahannya, Wirya sudah melangkah perlahan menuju kamarnya. Pintu itu menutup dengan suara klik yang terasa berat di telinga Raka.
Tinggallah meja makan dengan hidangan lengkap, namun tak seorang pun berniat menyentuhnya. Raka bersandar di kursi, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar. Di dalam hati, pertanyaan demi pertanyaan justru semakin menumpuk.
Apa benar papamya pernah terlibat di SMP Harapan Bangsa?
Apa papanya tahu soal penggelapan dana itu?
Atau ... ada sesuatu yang lebih besar yang selama ini disembunyikan?
Raka mengepalkan tangannya di pangkuan. Kirana yang duduk di sampingnya menatap penuh cemas, namun tak berani bertanya lebih jauh.
Dan malam itu, rasa lapar bukan lagi hal yang penting.
Yang tersisa hanyalah rahasia yang semakin gelap—dan pintu kamar yang tertutup rapat, menyimpan jawaban yang belum bisa mereka dapatkan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top