8. First Day at U.A.

"Hei Miss? Kau tadi melihat ke arahku, kan? Hei?"

Dorothea berusaha keras untuk tidak menoleh. Sungguh.

Dia merutuki dirinya yang tidak sengaja meringis melihat hantu anak kecil yang melayang di pintu gerbang. Tidak habis pikir, bagian sejarah mana yang membuat U.A. punya hantu anak kecil?

Sekarang, makhluk itu mengikutinya ke dalam. Sementara Dorothea mati-matian tidak mengacuhkannya. Hanya menunduk melihat ponsel.

Izuku kenapa lama sekali?

Gadis itu melirik ke kerumunan. Rambut hijau kawannya sama sekali belum terlihat. Baik di sela yang hidup maupun tak hidup. Dorothea melirik ke jam tangannya dengan cemas.

Sebentar lagi tesnya dimulai. Serius, anak ini dimana

"Dorothea-chan!"

Panjang umur.

"Izuku-kun!"

Dorothea membalas lambaian anak berambut hijau itu dengan bersemangat. Izuku berlari mendekat. Berhenti di depan Dorothea dengan napas terengah-engah.

"Kau berlari kemari?" tanya gadis itu sembari mengangkat alis.

"Aku pikir aku terlambat!" Izuku meluruskan posisinya. "Dan aku harus menghindari Katsuki di depan tadi!"

"Oh, sial, Baka-gou? Dia juga masuk kemari?"

"Hush! Dorothea-chan! Jangan panggil dia begitu!" desis Izuku. Telunjuk menempel di bibir. "Dan tentu saja dia di sini! U.A. itu sekolah Pahlawan paling top di Jepang!"

Ah, benar juga.

Dorothea melempar pandangan ke gedung itu. Tampak besar dan kokoh. Agak mengintimidasi. Dorothea tahu bahwa bagaimanapun, U.A. itu sekolah Pahlawan. Walaupun ada Prodi lain di sana, dia paham apa yang utama.

"Yah, sudahlah, ayo kita masuk," gumamnya. "Aku boleh tanya sedikit soal matematika?"

"Tentu saja!"

***

Dorothea bersyukur tes Prodi Umum hanya tes tertulis.

Tidak, Dorothea bukan genius. Dia payah dalam matematika dan punya jawaban yang 'menarik' untuk sastra jepang.

Yang kedua itu hanya karena dia besar di London. Dia lebih paham Charles Dickens daripada Akutagawa Ryuunosuke.

Tetapi, dia lebih memilih berkutat dengan soal-soal kelewat rumit daripada melawan robot seperti Prodi Pahlawan.

Atau mengatasi apapun itu yang meledak di Prodi Support.

Kalian bahkan belum masuk dan kalian sudah meledakkan sesuatu?

Begitulah yang Dorothea pikirkan ketika melewati pintu ujian Prodi Support yang berasap dan ramai. Entah apa yang terjadi di sana. Sepertinya otak-otak anak yang masuk Prodi itu sangat... kreatif.

Dorothea lewat saja. Dia dan Izuku berjanji untuk bertemu di gerbang lagi setelah tes selesai. Sayang ruang ujian mereka berbeda. Tetapi, kalaupun sama, toh mereka tidak bisa saling contek. Pengawasnya ketat sekali.

Ketika sampai di luar, ternyata Izuku sudah di sana. Tentu Dorothea langsung menyapanya.

"Yo! Izuku-kun!"

"Ah! Akhirnya! Jadi bagaimana?"

"Eh, begitulah," jawab Dorothea meringis. Menggaruk rambut merahnya. "Sekarang tinggal... menunggu?"

Izuku mengangguk kecil. Keduanya berjalan keluar dari U.A. beriringan. Menyerahkan keputusan pada nasib.

***

"Tenang, apapun hasilnya, kami akan tetap bangga," hibur Avery.

Mantan anggota The Children itu meletakkan satu pot daging semur di meja. Tepat di depan Dorothea yang membenamkan muka di tangan.

Gadis itu hanya berdehum. Tidak memberikan jawaban verbal yang jelas.

Masa menunggu ini benar-benar akan membunuhnya.

Rasanya seperti menanti bom yang akan meledak.

"Jangan terlalu dipikirkan, dear," tambah Avery. Menepuk kepala putrinya pelan. "Kalau kau tidak diterima, kau bisa masuk sekolah lain. Mandaroa selalu membuka pintu untukmu!"

Tentu saja.

Mandaroa itu sekolah milik Children of Earth. Mereka selalu menerima anak anggota The Children. Terutama yang akan menjadi calon hunters di masa depan.

Memang benar Dorothea punya alternatif lain. Namun, rasanya pasti mengecewakan kalau tidak satu sekolah dengan Izuku.

"Sudahlah! Ayo makan malam. Panggil ayahmu di depan, ya!"

Dorothea mengerang. Namun tetap mengangguk. Akan tetapi, sebelum sempat dia beranjak, Akira sudah masuk ruang makan. Satu tangan mengapit koran. Tangan yang lain membawa—

Surat dengan segel U.A.

Jantung Dorothea seakan berhenti berdetak.

"Dorothea ada surat untuk—"

Gadis itu segera menyambarnya. Memperhatikan amplop itu dengan seksama. Sebelum membukanya dan mengeluarkan secarik kertas putih.

Lalu membacanya keras-keras.

"Oke, kami dari pihak U.A. blablabla, tidak penting—"

"Dorothea!"

Gadis itu langsung melewati bagian yang bertele-tele ke ujung paragraf. Ke bagian paling penting.

"Dan dengan surat ini kami dengan bangga menyatakan—"

Dorothea terdiam. Matanya melebar. Akira dan Avery saling pandang. Khawatir dengan ekspresi anak itu.

"Uh, Dorothea—?"

"Aku diterima."

Tubuhnya terasa lemas. Kakinya mendadak berubah menjadi agar-agar.

"Uh, apa kau mau Mom teleponkan Izuku?"

"Ya... tolong..."

***

"Izu—"

"Dorothe-aaa hiks, hiks."

"Izuku-kun? Kau menangis?"

"Bagaimana tidak! Aku diterima! Hiks, kau? Kau juga—?"

"Ya Izuku-kun! Aku juga diterima!"

"Syukurlah!! Hueee..."

"Ah, tolong jangan buat rumahmu banjir!"

"Terlambat, Dorothea-san."

"Eh? Lho? Hisashi-san?"

"Dia dan Inko sudah menangis. Aku harus pastikan airnya tidak merembes kemana-mana."

***

Akhirnya, hari pertama masuk SMA bergulir dan ada di depan mata.

Dorothea mematut dirinya di depan kaca. Seragam U.A. cukup nyaman. Dan kelihatan jauh lebih beridentitas daripada Aldera. Lebih unik.

Atau mungkin itu hanya otak fashion turunan sang Ayah yang bicara.

"Yakin tidak mau diantar?" tanya Akira ketika Dorothea turun untuk memakai sepatu. Dia duduk di ruang makan sembari menguyah roti panggang.

"Tidak perlu, Dad," gumam Dorothea. "Aku berangkat bersama Izuku-kun, ingat?"

"Jangan lupa untuk membuat teman baru, Dorothea!" panggil Ibunya dari dapur. "Dan habiskan sarapanmu sebelum pergi!"

Gadis itu meringis. Duduk berseberangan dengan sang ayah sebelum mengambil roti. Mengolesnya dengan mentega dan marmalade jeruk.

"Apa ada banyak hantu di U.A.?"

"Sedikit," gumam Dorothea. "Harusnya tidak terlalu banyak untuk kuhindari."

Akira mengangguk-angguk. Menyesap kopi hitam. Sementara tangan yang lain membuka majalah tren pakaian minggu ini.

Dorothea menyelesaikan rotinya. Tepat dengan suara bel pintu ditekan.

"Ah, pasti Izuku-kun!"

"Kau sudah membawa semuanya kan? Ponsel? Uang?"

"Pastikan seragammu rapi, Dorothea!"

"Iya, Mom, Dad!" ucap gadis itu. Menyambar tas birunya sembari tersenyum.

"Aku berangkat!"

Dia mendengar 'hati-hati di jalan' dari orang tuanya ketika berlari ke pintu depan. Benar saja, ketika dia membuka pintu, visinya langsung disapa dengan hijau yang familiar.

"Pagi sekali," canda Dorothea. "Sudah tidak sabar huh?"

Izuku tersenyum sembari menggaruk leher. "Mungkin ini pertama kalinya aku bersemangat untuk sekolah."

"Bukan hal yang buruk!" ucap Dorothea. Tangannya menarik pintu dan menguncinya.

"Ayo pergi. U.A. sekolah elit, kan? Pasti parah kalau kita terlambat di hari pertama!"

Mereka berdua tertawa sebelum mulai berjalan ke destinasi mereka. Jujur saja, Dorothea lebih senang berangkat berdua seperti ini daripada sendirian.

Dia jadi punya teman bicara. Dan dengan itu, lebih mudah untuk tidak menaruh perhatian ke hantu yang lalu lalang di sekitar mereka.

Mereka masuk ke kereta. Bahkan beberapa orang tampak berbisik dan menunjuk ke seragam mereka.

U.A. memang terkenal, ya?

Akhirnya, setelah beberapa menit berdesakan di kereta pagi yang ramai. Mereka bisa turun di stasiun dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah baru mereka.

"Aku masih tidak percaya aku ada di sini..." gumam Izuku ketika mereka melangkah melewati gerbang U.A.

"Dan sudah berapa kali kau mengatakan itu?" goda Dorothea. Menyenggol lengan Izuku dengan sikunya.

Muka anak hijau itu memerah. "Sebaiknya kita masuk kelas, uh... kau di 1-C?"

"Yep!"

Keberuntungan benar-benar memihak mereka.

Tidak hanya mereka satu sekolah, mereka juga satu kelas.

Dan Dorothea nyaris bersorak ketika sampai di 1-C dan menyadari mejanya disamping Izuku. Dia tidak perlu canggung berkenalan dengan teman lain di hari pertama.

Kelas 1-C berada di sisi gedung dengan jendela. Malahan, Dorothea duduk tepat di samping kaca yang menunjukkan pemandangan luar. Kursi Izuku ada disampingnya.

Dan dia duduk di depan seorang anak berwajah bosan dengan rambut ungu yang tampaknya melawan hukum gravitasi.

Woah, itu kantung mata yang impresif.

Dorothea duduk di kursinya. Melirik ke kelas yang masih ramai. Beberapa anak tampak berjalan dari kursi ke kursi dan mengobrol. Saling berkenalan. Dorothea tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukan itu semua dengan cepat.

Sementara itu, Izuku disampingnya masih memandang kelas dengan mata berbinar. Dorothea tidak bisa menyalahkannya. Dia bilang sendiri kalau sekolah ini impiannya sejak kecil. Gadis itu tidak yakin, tetapi kalau mimpinya jadi nyata, dia pasti akan bersikap sama seperti sahabatnya itu.

Beberapa detik kemudian, seorang murid tergopoh-gopoh masuk. Mengatakan bahwa guru sudah berjalan ke kelas.

Panik langsung meledak.

Anak yang masih berdiri saling dorong ke kursi. Segera menempati tempat masing-masing dan duduk manis.

Tenang selama beberapa detik.

Sampai pintu menjeblak terbuka.

"Can I get a YEEEEEEAAAAH??!!"

...

Semua anak diam.

Ha?

Tampak seorang pria dengan rambut pirang yang ditata mencuat kebelakang. Mengingatkan Dorothea pada burung kakatua. Pria itu memakai celana dan jaket kulit dengan kerah yang sangat tinggi.

Gayanya sekilas lebih mirip bintang rock and roll.

Tunggu dulu, ini guru kita?

"Dorothea-chan!" Gadis itu mendengar Izuku berbisik dengan semangat dari sampingnya.

"Itu Present Mic!"

"Uh, siapa?"

"Halo little listeners!" sapa si Pria Kakatua dari depan kelas.

"Aku Present Mic! Pro Hero! Guru Bahasa Inggris! Dan wali kelas kalian di 1-C!"

Dia menjeritkan semua itu. Menambahkan gestur dan gerakan aneh selagi bicara. Sementara Dorothea hanya berdehum.

Pro Hero, ya? Pantas dia berpakaian begitu.

"Baiklah, listeners!" ucapnya. Lebih pelan kali ini.

"Agenda pertama hari ini adalah perkenalan! Kemudian dilanjutkan orientasi!"

Present Mic mengambil daftar nama siswa. "Aku akan memanggil kalian. Perkenalkan diri dan quirk, oke?"

Mendengar itu, Dorothea melirik ke Izuku. Wajah si greenette agak memutih.

Guru pirang tersebut mulai memanggil satu persatu murid secara acak. Siswa-siswa bergantian maju ke depan kelas dan menyebutkan nama mereka. Diikuti penjelasan singkat mengenai quirk.

Jujur saja, Dorothea melamun sepanjang itu. Tidak bisa benar-benar fokus pada suara kawan sekelasnya yang maju. Sesekali dia melirik Izuku, yang tampak lebih tertarik. Mulut bergumam kecil selagi mendengarkan dengan seksama.

"Dorothea Tuning!"

Mendengar namanya dipanggil, Dorothea langsung bangkit. Berjalan ke depan kelas dengan langkah berat.

Dia menelan ludah. Bagaimanapun juga, berbicara di depan orang banyak selalu membuat gugup. Terlebih dengan semua mata yang tertuju pada gadis itu.

"Namaku Dorothea Tuning," ucapnya. Berusaha keras agar suara tidak bergetar.

"Namun kalian boleh memanggilku Dorothea. Aku dari London, rasanya agak aneh jika tidak dipanggil dengan nama depan, dan—"

"Quirkku disebut Thread, aku bisa mengeluarkan benang dari ujung jariku dan mengendalikannya. Aku juga bisa mengatur kekuatan dan ketebalannya."

Banyak yang berbisik setelah itu. Mungkin membicarakan quirknya atau tempat asalnya. Beberapa melempar senyum simpul. Izuku mengangkat jempol.

Itu membuat hatinya lega.

Dia kembali duduk. Present Mic lanjut memanggil nama. Dua anak lagi maju setelahnya. Sebelum—

"Midoriya Izuku!"

Izuku berdiri. Kakinya agak bergetar ketika berjalan ke depan kelas. Dorothea berusaha memberikan senyum meyakinkan ketika anak itu meliriknya.

Sang greenette berdiri di depan kelas. Tangan memainkan jari. Pandangan mata tidak fokus. Melihat kemana saja asal bukan anak-anak di kelas.

"Namaku Midoriya Izuku, dan uhm, aku—uh—"

Anak itu menunduk. Menggigit bibirnya cukup keras, mungkin membuat berdarah.

Lebih baik robek plesternya sekarang, kan?

"Aku quirkless."

Kelas hening sejenak. Beberapa anak tampak berbisik. Dorothea terlalu jauh untuk mendengar mereka. Namun, dia berdoa apapun yang mereka katakan adalah hal yang baik.

Kalau tidak, awas saja.

"Baiklah, terima kasih Midoriya." Present Mic tersenyum. Hal itu membuat pundak Izuku lebih rileks. Dia kembali ke tempat duduk. Sang guru kembali melirik daftarnya.

"Selanjutnya... Shinsou Hitoshi!"

Terdengar suara kursi berderit dari belakang Dorothea. Anak rambut ungu bermuka lelah berjalan gontai ke depan. Ekspresinya menyiratkan dia lebih memilih melakukan apapun selain ini.

"Namaku Shinsou Hitoshi."

Diam.

Dia tidak mengatakan apapun lagi.

Sepertinya Shinsou ini enggan menceritakan soal quirknya. Dorothea paham. Quirk bisa jadi topik yang sensitif. Dunia ini tidak ramah kepada orang dengan quirk 'lemah' atau quirk 'penjahat'. Diskriminasi masih sering terjadi.

Melihat Shinsou yang tampak tidak akan mengatakan apapun lagi, Present Mic mendesah. Akhirnya dia mempersilahkan bocah ungu itu duduk.

Shinsou tenang kembali ke mejanya. Sementara yang lain kembali saling bisik. Dorothea sempat melirik ke belakang. Melihat netra violet anak itu membuang pandangan ke luar jendela. Tampak tidak peduli.

Terbiasa, huh?

"Aku tidak tahu kalau 'tidak mengatakan apapun' itu pilihan," dengus Izuku.

Dorothea hanya berjengit kecil. Menepuk pundak si sahabat dengan simpati.

***

Setelah semuanya mendapat giliran. Present Mic menggiring mereka pergi ke aula untuk orientasi. Sebelum itu, Dorothea meminta ijin ke kamar kecil. Gurunya mengijinkan dan memberi arah ke toilet perempuan.

Dia berusaha tidak terlalu lama. Tidak mau melewatkan orientasi. Walau, secara teknis dia bisa bertanya apa yang dia lewatkan ke Izuku. Dan dia berharap kawannya itu menjaga satu kursi untuknya.

Akan tetapi, ketika dia baru selesai mencuci tangan, suara itu terdengar.

"Sesuatu yang buruk akan terjadi, aku tahu itu—"

Itu suara laki-laki.

Dorothea berbalik. Siap mendamprat orang yang masuk. Bisa-bisanya pria masuk ke toilet wanita! Apa dia tidak punya mata? Lambang di depan sudah jelas!

"Hei! Ini toilet perem—!"

Mata emas menatap wajah pucat.

Terlalu pucat.

Nyaris tembus pandang.

Diam menjadi selimut. Tidak ada yang bergerak.

Tubuh di depannya melayang.

"Kau bisa melihatku?"

Sial.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top