7. Opening New Chapter
Tiga tahun kemudian
"Serius, apa yang salah dengan otak anak-anak Aldera?!"
Begitulah yang dijeritkan oleh Dorothea ketika mereka sudah cukup jauh dari SMP mereka. Hari ini, dua anak itu pulang sore karena seseorang menyembunyikan buku tugas Izuku. Jadi, mereka harus berkeliling sekolah untuk mencarinya.
Keluhan Dorothea hanya disambut oleh tawa lemah oleh Izuku. Akan tetapi, anak itu benar. Izuku juga merasa heran soal itu. Kenapa murid lain tidak bisa menerima perbedaan kecil?
"Today just one of those day, huh?" gumam Dorothea. Melirik ke Izuku. Anak itu mengangkat bahu.
"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa."
"Bukan berarti kau harus terbiasa!"
"Dorothea-san, tenanglah! Aku tidak apa-apa, kok!"
"Parahnya, mereka yang melakukan ini pasti bisa kau tendang dengan mudah!"
"Aku tidak akan melakukan itu," dengus Izuku. "Walaupun aku membela diri, tetap aku yang akan disalahkan."
"Apa kau sudah bicara dengan orang tuamu?"
"Kau tahu aku tidak mau merepotkan mereka."
Gadis bermata emas disampingnya menghela napas berat. "Kau itu terlalu baik, Midoriya-san!"
"Bukannya malah bagus?" canda Izuku. Mau tidak mau, Dorothea terkikik kecil.
Izuku tidak percaya dia sudah mengenal gadis ini selama tiga tahun. Anak hijau itu dulu berpikir dia akan menghabiskan masa SMP-nya dengan bersembunyi dan lari dari perundung. Menuduk di lorong. Dan berusaha tidak membuat 'masalah'. Dia senang tebakannya salah.
Setidaknya dengan Dorothea, Izuku tidak kesepian lagi. Dan jika ada yang berani mengganggu anak itu, Dorothea bisa melapor.
Karena dia punya quirk. Jadi protesnya pasti didengar guru.
Karena itulah, anak-anak lain jadi jarang mengganggu mereka berdua. Hanya berbisik atau mencibir. Sesekali memvandalisme barangnya. Kecuali Katsuki. Dia masih sering mendorong dan membentak Izuku. Anak itu memang seperti quirknya. Tidak tahu cara melakukan sesuatu secara halus.
Namun—selain Katsuki—tidak ada kekerasan separah dulu. Dua calon hunter itu seakan melebur dalam latar belakang.
Mereka tidak keberatan. Lebih baik bersama teman yang kau percaya daripada mereka yang berpura-pura.
"Toh, sebentar lagi kita lulus." Izuku tersenyum. "Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Yeah," gumam sahabatnya itu.
Mereka berdua melangkah beriringan di jalanan sempit. Langit sudah mulai memerah. Bahkan jalanan sudah sepi. Hanya ada seorang pria dengan jaket kulit berjalan di depan.
"Ah, aku harus bilang apa ke Okaa-san dan Otou-san?"
"Kau bisa bilang kau dibully—"
"Dorothea-san..."
"Ugh! Oke, oke, kau bisa bilang kau harus mencari buku yang salah ditaruh. Secara teknis itu tidak bo—"
Bip.
Langkah mereka berhenti.
Mata terbelalak.
Dorothea menarik meteran anomali dari saku roknya. Tampak titik merah di sana.
Bip.
Bip.
Bip.
"Apa yang—"
"AWAS!"
Izuku mendorong Dorothea. Sebelum pria berjaket kulit menerjang mereka. Sebilah pisau berkilat di genggamannya.
"Wah, wah."
Suara pria itu bergetar. Terdengar seperti tiga orang berbicara sekaligus.
"Aku ketahuan."
Pria di depan mereka tampak biasa. Rambut hitam pendek. Tubuh ramping. Wajar.
Skleranya sepenuhnya hitam. Itu tidak aneh di dunia quirk. Namun, yang membuat Izuku dan Dorothea kaget adalah lambang merah yang tertoreh di dahinya.
"Possession mark," desis Dorothea. "Kau wraith! Keluar dari tubuh itu!"
Izuku langsung mengingat demonpedia yang dia baca.
Wraith
Julukan lain : Body snatcher
Demon yang bisa merasuki manusia yang memiliki possession mark—tanda perasukan. Dia menjadi sentien dalam tubuh inangnya.
Jika tidak memiliki badan, sama sekali tidak berbahaya. Namun, jika seseorang memberi orang lain atau dirinya sendiri possession mark, mereka bisa dirasuki. Berbahaya jika mendapat badan.
Kelangkaan : 5
Tier : 4
"Sial," dengus Izuku.
Mereka tidak bisa menyerang begitu saja kali ini.
Karena demon ini berada di dalam tubuh manusia.
"Aku tidak percaya mereka benar."
Mata bersklera hitam menatap tajam ke Dorothea. Tangannya memainkan pisau.
"Karena kau ada, Mistress bisa segera bangkit!"
Mistress?
Sebelum Izuku sempat bergerak—
Pria itu menerjang.
Dia tidak mempedulikan Izuku. Fokus pada Dorothea yang tersentak. Pisau terhunus. Tetapi—
Si gadis lebih cepat.
Tangan terulur. Benang melesat dari ujung jari. Mengikat tubuh pria itu.
"Apa yang—?!"
Dorothea belum selesai.
Dia mengibaskan tangan. Melempar si laki-laki ke tiang lampu. Pisau lepas dari tangan. Tanpa memberi waktu bangkit, Dorothea mengacungkan jari. Benang melejit. Mengikat pria itu di tiang.
"Midoriya-san!"
Izuku paham. Tangan menarik buku saku dari samping tas. Membukanya pada halaman wraith.
Lalu membaca baris latin di sana.
"Exorcizamus te omnis immundus spiritus—"
Pria itu meraung. Kaki menjejak dan menendang. Kepala bergerak ke sana kemari. Menggeliat.
"Omnis satanica potestas, omnis incursio—"
Raungannya makin keras. Makin memekakkan. Seakan api membakar tubuhnya.
"Infernalis adversarii—"
"Tunggu dulu."
Izuku tersentak. Memandang bingung pada temannya.
"Dorothea-san, ada ap—"
"Kau bilang 'mereka'," tanya gadis itu. Suaranya datar.
"Siapa 'mereka'?"
"Pertanyaan bodoh, gadis kecil," kata si wraith. Dia tertawa. Tar hitam tesembur dari mulutnya.
"Kau tahu siapa 'mereka'. Atau kau harus melihat ouroboros di nadi dahulu, sebelum percaya?"
Tunggu dulu. Ouroboros? Di nadi? Apa maksudnya pergelangan tangan? Bukankah itu—
"Lanjutkan, Midoriya-san."
Perintah gadis itu membuatnya terlonjak. Namun, si anak hijau masih terpatung memandang sang teman.
"Sayang sekali kami tidak bisa membunuhmu sekarang," kata demon itu lagi.
"Merah pasti sangat cocok untukmu!"
Itu cukup untuk menyentak Izuku keluar dari kebingungannya. Mata hijau dipenuhi amarah. Berani-beraninya monster ini!
"Vade retro satana! Nunquam suade nobis vana!"
Si demon berteriak dari mulut inangnya. Tubuh menegang di ikatan benang. Dua anak itu mundur. Menjaga jarak mereka.
"Sunt mala quae libas! Ipse venena bibas!"
Semakin banyak lendir hitam dimuntahkan pria itu. Tubuhnya bergetar hebat. Sungguh malang.
Tetapi Izuku tidak boleh berhenti sekarang.
"Cessa decipere humanas creaturas eisque aeternae perditionis venenum propinare!"
Pria itu berhenti.
Tubuhnya lemas. Jatuh layaknya boneka. Matanya kosong. Sklera hitam kembali menjadi putih. Cairan tar di baju dan mulut buyar menjadi asap hitam.
Dorothea dan Izuku berpandangan.
"Ayo panggil polisi."
***
"Jadi... apa yang terjadi?"
"Dia menyerang kami, Pak. Jadi saya menggunakan quirk untuk mengikatnya."
Dorothea mengatakan itu setenang mungkin. Dengan hati-hati memilih kata-kata. Opsir di depannya mengangkat alis. Tangan menuliskan semua di buku catatan kecil.
"Dan dia mengatakan hal-hal aneh," tambah gadis itu.
"Well, kau tidak salah," bisik Izuku.
Petugas Kepolisian itu mengangguk. Kemudian melirik ke orang yang masih pingsan. Dorothea juga ikut mengikuti pandangannya.
Memastikan tidak ada sosok spektral baru melayang di sana.
Thank god, dia masih hidup, batinnya.
"Mungkin orang mabuk. Aku minta maaf kalian harus mengalami ini. Kalian boleh pulang. Kami yang akan urus."
Dua remaja itu mengangguk. Merasa lega Pak Polisi berbaik hati dan tidak menanyakan macam-macam lagi.
Mereka berjalan dengan cepat meninggalkan tempat kejadian. Sama sekali tidak menoleh ke belakang. Mereka tidak berhenti sampai sudah jauh dan jalanan kembali sepi. Barulah Izuku menarik tangan Dorothea. Hampir membuat gadis itu terjengkal.
"Hei! Apa-apaan—"
"Apa itu tadi?!"
Dorothea tidak pernah melihat Izuku seperti ini. Ekspresi di wajahnya adalah percampuran bingung dan khawatir. Alis menukik. Mata hijau menatap tajam.
"Midori—"
"Dorothea, dia bilang 'ouroboros di nadi', yang memiliki tato ouroboro—"
"Ssh!!" Dorothea mendesis. Menutup mulut Izuku dengan tangannya yang tidak digenggam.
"Jangan di sini. Malam ini, Pantai Takoba—"
"Pantai Sampah?"
"—Aku janji akan jelaskan semuanya."
Belum sempat Izuku membalas, Dorothea menarik tangannya. Sebelum berlari lebih dulu ke arah rumah. Menembus sosok-sosok transparan yang harusnya tidak terlihat di mata fana.
Otaknya berputar, mencari cara untuk menjelaskan 'hadiah' istimewanya kepada Izuku.
Aku pikirkan soal itu nanti.
***
Izuku menghabiskan makan malamnya dengan terburu-buru. Sebelum menyambar pakaian yang lebih hangat dan pamit ke Pantai Takoba.
Jujur saja, pantai itu lebih mirip tempat pembuangan sampah umum daripada pantai. Kadang Izuku membayangkan bagaimana tempat itu tanpa tumpukan barang bekas.
Sesampainya di sana, dia langsung mendengar suara familiar.
"Blessed thee who dwell in shadow.
O'er the hills, o'er the meadow.."
Dorothea tampak duduk di atas sebuah lemari tua. Diantara tumpukan tinggi sampah lain. Memandang ke laut yang tenang.
Midoriya menelungkupkan tangan di sekitar mulutnya.
"Dorothea-san!"
Gadis itu menoleh. Menunduk menatap balik. Sebelum melambaikan tangannya.
Izuku mendaki tumpukan benda buangan itu dengan hati-hati. Sebelum duduk di sebelah Dorothea. Sama-sama memandang laut yang berkilau di bawah cahaya bulan.
"Jadi...? Siap untuk bercerita?"
Gadis itu menunduk. Menggenggam ujung jaketnya dengan ragu. Izuku menghembuskan napas berat.
"Dorothea-san, kau tahu lambang ouroboros itu lambang—"
"The Silent Hands."
Suara anak berambut merah itu bergetar. Wajahnya murung.
"Kau tahu soal Dia yang Berjalan di Antara Langit? Soal Ibu Segala?"
Izuku tercekat. Tentu saja dia tahu. Semua anggota, calon, bahkan orang yang hanya kenal sedikit soal abnormalitas, tahu nama-nama itu. Malah aneh jika Izuku tidak tahu.
Dia punya banyak nama. Terlalu banyak. Karena manusia tidak tahu apa dia itu. Kecuali fakta bahwa dia adalah manifestasi kekacauan murni.
Kekacauan yang tak acuh. Kekacauan yang tak terelakkan. Kekacauan yang tidak bisa dimengerti.
Dan manusia benci tidak mengerti soal sesuatu yang asing, kan?
Human always fear the unknow.
Jadi, manusia—mereka—memberinya nama.
Dulu, dalam cerita sang ayah, dia adalah Ratu Jahat.
Lalu, Izuku belajar soal panggilan yang lain.
All-Mother.
She Who Walks between the Space.
Bride of Chaos.
Mistress from the Outer Rim.
"Dia yang melahirkan para monster," bisik Izuku.
"Serathephim."
Dorothea mengangguk lemah. Izuku berdehum.
"Aku—aku masih tidak paham apa hubungannya dengan kau."
"Kau tahu apa hubungannya The Silent Hands dan Serathephim?" Dorothea bertanya lagi.
Izuku menaikkan alis. Dia tidak tahu kalau dia hanya dibawa untuk bermain trivia. Apa Dorothea tidak sadar semua pertanyaan ini pengetahuan umum untuk The Children?
"Mereka ingin melepaskan Serathephim untuk menghancurkan dunia quirk. Agar dunia baru yang 'bersih' bisa muncul," jawab Izuku. Tidak yakin kemana ini mengarah.
Ekspresi Dorothea terlihat semakin murung. Gadis itu memeluk kakinya. Dagu bertumpu di lutut.
"Tenanglah, Dorothea-san," hibur Izuku. "The Children sudah menutup residu portalnya! Dia tidak akan bisa kemari!"
"Bagaimana kalau mereka membuat portal baru?"
Anak hijau itu tersentak. Menatap gadis itu tidak percaya. Jujur, itu sebuah kemungkinan yang Izuku tidak ingin pikirkan.
"Kau butuh tiga 'bahan' untuk itu," bisik Dorothea.
"Pertama, mantra. Aku taruhan semua anggota The Silent Hands hapal mantra ini."
Izuku menelan ludah. Gadis disampingnya melanjutkan.
"Kedua, hati dari seorang pelayan. Aku yakin anggota mereka rela menusuk dada mereka sendiri untuk yang ini."
Netra emas Dorothea tengadah. Menatap langit tanpa awan. Bintang terlihat jelas.
"Ketiga... darah dan kehadiran Sang Mata."
Sang Mata.
Sosok itu semacam legenda untuk The Children. Dia yang mendapat hadiah untuk bisa melihat mereka yang sudah tiada. Dia yang bisa berbicara ke dunia yang lain. Sang Penghubung dua dunia. Hidup dan Mati.
"Coba tebak siapa yang ketiga?"
Nada suara Dorothea agak tinggi. Seakan berusaha bercanda.
Namun, mata Izuku melebar.
"Tidak mungkin—"
"Heh, memang mengejutkan, ya?"
"Tapi—kau terlihat sangat normal!"
"Aku berlatih menyembunyikannya dengan baik."
"Jadi—jadi kau bisa—melihat hantu?"
Dorothea tersenyum getir.
"Ya. Ada satu disampingmu sekarang."
***
Setelah Izuku menjerit dan hampir jatuh dari gundukan sampah, Dorothea berhasil menenangkannya. Si hantu juga terkejut. Sebelum satu tatapan tajam dari gadis itu membuatnya pergi dan 'menendang' kaleng.
"Oh, astaga—" Izuku mengelus dada. Masih kaget. Dorothea jadi agak merasa bersalah.
Dia seharusnya tidak menarik Izuku dalam hal ini. Toh, pasti dia akan dapat penolakan.
"Jadi—uh, kalau kau tidak mau bertemu lagi—"
Kali ini Izuku tersentak. Mata hijau melempar tatapan bingung ke emas.
"Apa maksudmu?"
"Eh? Anu—ehm, itu—"
"Dorothea-san," bisik Izuku. "Kau bisa menerima kekuranganku—"
Gadis itu hampir protes kalau quirkless bukan kekurangan. Izuku tidak membiarkannya menyela.
"—Menurutmu aku tidak bisa menerima kelebihanmu?"
Dorothea terkesiap. Memandang temannya dengan heran sekaligus terpana.
"Maaf," gumam si rambut merah. "Dulu, anak-anak lain—"
"Tapi aku bukan anak-anak lain, kan?" kata Izuku. "Lagipula, kita partner!"
Ah, benar.
Tangan Izuku masih menggenggam lembut pergelangan tangannya. Rasanya hangat.
Izuku bukan seperti yang lain.
Dia tidak akan membiarkanku sendiri.
"Terima kasih, Midoriya-san."
***
"Tunggu dulu! Berarti yang dikatakan demon tadi siang..."
"Benar."
Keduanya saling bertukar pandang. Paham akan implikasi yang terjadi. Dan bohong kalau itu tidak menaruh khawatir pada pikiran.
Operasi Scrouge Healer tidak menghabisi semua The Silent Hands.
Masih ada mereka yang tersisa.
***
Tinggal beberapa bulan lagi kita lulus.
Izuku mendesah.
Aku harap waktu bisa berjalan lebih cepat.
Anak itu cepat-cepat mengepak kembali alat tulis dan buku-bukunya. Satu lagi hari yang melelahkan.
Ditambah lagi dengan guru yang tanpa bersalah membongkar keinginannya untuk masuk U.A. siang tadi. Alhasil membuatnya diolok-olok. Bahkan Katsuki meledakkan mejanya.
Dan guru sialan itu sama sekali tidak menghentikannya.
Seperti melempar domba ke kawanan serigala. Dan membiarkannya mati di sana.
Lagipula siapa yang ingin menjadi Pahlawan? gerutu Izuku dalam hati.
Baru saja dia mau memasukkan buku tugas. Seseorang menarik benda itu dari tangannya.
Katsuki.
"Kita masih belum selesai bicara, Deku."
Katsuki dan dua teman—ah bukan, kroni—nya sudah berada di depan anak itu. Muka mereka tidak senang. Namun, sejak kapan urusan mereka dengan Izuku itu 'senang'?
"Pahlawan itu sudah menunjukkan kehebatan walau masih masa sekolah—" ucap Katsuki.
Tangan menggoyangkan buku Izuku. Anak itu bisa mencium bau karamel dari keringat sahabat—mantan sahabat—yang berdiri dekat.
"Aku akan menjadi satu-satunya yang—"
Baiklah, semua ini mulai konyol.
Dia dirundung karena gelar yang bahkan tidak ingin dia dapatkan lagi. Dan Katsuki berusaha menjatuhkan mimpi yang sudah Izuku lepaskan sejak tujuh tahun lalu.
Semua ini sangat konyol.
Dan Izuku sangat lelah.
"Silahkan."
Izuku tidak tahu kenapa dia berbicara.
Katsuki dan kroni-kroninya tampak terkejut mendengar itu. Tidak menyangka, Midoriya Izuku yang penakut, tiba-tiba bicara dengan tenang.
Anak bermata hijau itu sendiri juga terkejut. Namun, entah kenapa, dia tidak merasa terganggu. Hanya tenang.
"Silahkan jika kau mau menjadi Pahlawan, Kac—Katsuki. Aku tidak akan ada di jalanmu lagi."
"Haaah?!"
Izuku menyambar bukunya. Entah karena kaget atau apa, Katsuki membiarkannya. Izuku menarik napas.
"Aku punya impian baru. Dan aku masuk ke U.A. untuk Prodi Umum. Bukan untuk menjadi Pahlawan."
Bukan 'Pahlawan' dalam konteks yang kau tahu, setidaknya.
Si rambut hijau berjalan keluar. Pandangan Katsuki dan kroni-kroninya masih mengikuti. Anak pirang itu tampak marah dan bingung. Letupan kecil muncul di tangan.
Namun, Izuku lelah dengan sandiwara.
Lelah selalu menjadi yang 'lemah'.
Dia tidak peduli lagi.
"Kau menang, Katsuki."
Ucapannya tidak mengandung api. Ataupun es. Hanya datar. Paham. Seperti mengatakan fakta.
"Semoga kau menjadi Pahlawan yang baik."
***
Izuku memutuskan langsung pulang. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk menunggu Dorothea. Nanti, dia akan memberinya pesan untuk meminta maaf.
Jantungnya masih berdebar. Dia agak tidak percaya dia mengatakan semua itu ke Katsuki. Namun, yang terlintas dipikirannya tadi hanya kosong.
Dia hanya ingin semua 'permainan' ini berakhir.
Huff, semoga hari ini jadi lebih baik.
Sialnya, semesta belum selesai melempar kesialan kepada Izuku.
Dia sampai di bawah terowongan ketika terdengar suara basah dari belakangnya. Seperti sesuatu yang lembek.
Izuku berpaling. Tangan masuk ke saku. Mengikuti insting, dia menggenggam pisau lipat di sana.
Benar saja.
Lendir hijau merembes dari saluran air. Berlahan menggumpal. Membentuk mata dan mulut bergigi tajam.
"Jubah transparan ukuran M—"
Penjahat. Bukan demon.
Lebih mudah.
Makhluk slime itu menerjang.
Izuku menarik pisau. Satu kibasan pergelangan tangan, dan—
"ARRRGH!! BAJINGAN!!!"
Pisau mengenai mata si Penjahat. Anak itu tersenyum dalam hati.
Bulls eye.
Penjahat itu bergerak frantik. Pisau tercabut. Salah satu matanya kembali tenggelam ke lendir. Yang satunya...
Tampak sangat marah.
"KEMARI KAU SETAN KECIL!!"
Si slime menyerang lagi. Izuku berkelit ke kanan. Menarik diri ke belakang si Penjahat. Sebelum dia sempat merogoh pisau kedua—
"Sudah aman sekarang, nak!"
Tunggu, suara itu—
Izuku menengok ke belakang. Mata membulat tidak percaya.
"Aku ada di sini!"
Itu All Might.
Itu All Might!
Si anak hijau langsung mundur. Mendekati tembok. Dia tahu kapan harus menghindar.
All Might melompat maju. Tangan terkepal.
"TEXAS SMAAASH!!!"
Izuku berjengit ketika tekanan angin dari pukulan itu cukup membuat Si Penjahat berhamburan.
Anak itu masih terpaku ketika All Might mulai mengumpulkan lendir Penjahat itu ke dalam—botol cola? Dalam hati, agak merasa aneh pada dirinya sendiri.
Apa-apaan ini?! Ini Pahlawanmu sejak kecil! Dan kau tidak tampak bersemangat!
Benar.
Namun, Izuku sama sekali tidak berkutik. Dia yang masih kecil dulu pasti sudah menyembah-nyembah dan meminta tanda tangan.
Akan tetapi, banyak yang sudah terjadi sejak umurnya tujuh tahun.
Fokusnya benar-benar sudah berubah. Dia sudah berkembang lebih jauh.
"Syukurlah kau baik-baik saja," kata All Might sembari mendekat. "Maaf ya kau jadi terlibat dalam perkelahianku dengan Penjahat tadi!"
"T-tidak masalah," kata-kata Izuku masih agak tergagap. Bagaimanapun, dia ada di depan Pro Hero Nomor 1! Siapa yang tidak gugup?
Dorothea, otaknya menyuplai.
Kemungkinan dia malah bertanya 'anda siapa?' dengan muka polos.
Izuku meringis. Benar juga. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan Pahlawan. Kalau dia di sini, dia pasti sudah melangkah pergi. Tanpa menghiraukan sang Simbol Perdamaian.
Akan tetapi, ketika Izuku melihat All Might di depannya langsung. Tanpa sadar, mulutnya berkhianat dan terbuka.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu, All Might, sir?"
"Oh, apa kau mau tanda tangan—"
"Apa seseorang tanpa quirk bisa menjadi Pahlawan?"
Dia—
Dia tidak tahu kenapa dia menanyakan itu.
Mungkin untuk membuktikan sebuah poin. Atau untuk eksperimen. Atau dia sekedar ingin tahu apa pendapat idola masa kecilnya itu.
"Tanpa quirk, bisakah seseorang menjadi Pahlawan?" ulang All Might. Senyuman lebarnya tampak sedikit goyah.
"Tidak, aku pikir tidak."
Ah.
Harusnya Izuku sudah menduga itu.
"B-begitu," gumam Izuku. Dia menunduk.
Jujur saja, walaupun sudah banyak orang mengatakan variasi kalimat itu kepadanya. Dan walaupum dia sudah mengubur mimpinya menjadi Pro Hero—
Jawaban dari All Might masih terasa menyakitkan.
"Kau masih bisa melakukan hal lain untuk membantu orang," ucap Si Pro Hero. "Bermimpi itu bagus. Namun, kau harus tetap realistis."
All Might berbalik. Melangkah ke ujung terowongan, dan melompat pergi. Penjahat dalam botol tersimpan di saku.
Meninggalkan Izuku menunduk di balik bayang. Merenung sejenak dalam keheningan.
Diam.
"Haaaaah..."
Anak itu akhirnya menghembuskan napas. Mengucek kedua matanya yang mulai perih dan berair.
"Tidak. Aku tidak boleh menangis soal ini—"
"Midoriya-san?"
Dia berbalik. Tampak siluet anak dengan rambut digulung yang familiar ada di ujung lain terowongan.
"Hei?" bisik Dorothea.
"Kau baik?"
***
"DIA BILANG APA?!"
Suara gadis itu menggema. Membuat anak berambut hijau di depannya berjengit dan menarik muka mundur. Bahkan beberapa hantu yang lewat menengok.
Dorothea tidak peduli.
Mereka berdua duduk bersandar pada dinding terowongan. Dan dengan sedikit paksaan, akhirnya Izuku mau menceritakan apa yang terjadi.
Dan berkata bahwa Dorothea kesal adalah sesuatu yang merendahkan.
"Aku kecewa—maksudku, aku bukan fans berat Pahlawan—tetapi aku berharap lebih dari Pro Hero nomor satu!"
"Dorothea-san, sudahlah!" Izuku bergumam. "Lagipula, tidak seperti aku bisa melakukan apapun."
"Yeah, kalau Pahlawan No. 1, aku juga tidak bisa," gumam Dorothea. "Tapi... kalau Bakugou—"
"Dorothea-san!"
"Apa?"
"Membunuh itu illegal!"
"Tidak kalau kau tidak ketahuan!"
Keduanya berpandangan. Hijau dan emas beradu.
Sebelum tawa pecah diantara mereka.
Setelah beberapa menit, Dorothea mendesah. Menengok ke arah Izuku dan menepuk pundaknya. "Tapi serius, jangan diambil pikir. Apapun kata mereka, secara teknis. Kau sudah menjadi Pahlawan, Midoriya-san."
Ya. Karena berlarian tiap malam memburu demon itu bisa dianggap melindungi orang lain dalam skala yang lebih besar. Tidak secara langsung, tetapi masih dihitung.
Izuku sudah melakukan lebih banyak daripada anak-anak di Aldera. Daripada Katsuki. Daripada yang All Might pikirkan.
Dan Dorothea bersumpah akan selalu meyakinkan Izuku bahwa dia bisa melakukan hal hebat tanpa quirk.
Dia sudah melakukannya selama tiga tahun, for heaven's sake!
Anak berambut hijau itu mengangguk. Kemudian berbisik pelan.
"Izuku."
Dorothea menelengkan kepala. Agak terkejut. "Huh?"
"K-kau boleh memanggilku Izuku. Lagipula, kita sudah kenal cukup lama. Dan berburu bersama. Dan—"
"Baiklah."
Gadis itu tersenyum manis. "Terima kasih, Izuku. Kau juga boleh melepas 'san' dari namaku."
"Jadi... Dorothea—uh, chan? Boleh atu panggil kau Dorothea-chan? Aneh rasanya memanggilmu tanpa suffiks."
"Eh? Agak terlalu imut... tetapi tidak masalah!"
Keduanya tersenyum.
Bahkan beberapa makhluk tak kasat mata yang memperhatikan tampak menggumamkan 'aww' pelan. Seperti biasa, Dorothea sama sekali tidak melirik mereka.
Terserah apa yang dikatakan dunia kepada mereka. Dua orang aneh. Dua orang luar tanpa tempat pasti. Yang satu 'kurang' dan yang satu 'lebih'.
Selagi mereka menerima satu sama lain.
Itu sudah cukup.
***
"Well, aku akan merindukanmu kalau kita lulus."
"Ha! Kita akan tetap jadi partner Izuku! Lagipula, kau akan masuk mana?"
"Oh! SMA U.A. Prodi Umum. Dari dulu itu sekolah impianku."
"... Ah?"
"Eh? Kenapa, Dorothea-chan?"
"Aku juga akan masuk ke sana."
***
.
.
.
.
.
.
.
A.N.: Yoo... akhirnya mereka bakal masuk U.A! Chapter paling panjang sejauh ini, btw. Semoga kalian berkenan.
Notes, Exorcism yang dilakukan Izuku aku ambil dari T.V. Series Supernatural.
Thank you for reading! :D
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top