Chapter 4

Lelaki yang sudah sempat memeluk, bahkan mencemari polusi suara yang ada di sekitarnya seketika harus merasakan straight forward dari tenn -melengos dan menghempaskan- secara kasar.

Naas, lelaki bersurai silver itu tidak menyadari. Kalau dia baru saja menghempaskan dirinya secara sukarela ke arah tenn yang sangat sensitif dengan pergerakan tiba-tiba dari sekitarnya.

Naas gandanya, tenn yang tanpa segan-segan akan langsung defensif saat merasakan bahaya. Menghempaskannya tepat di hadapan publik. Sekarang, mereka harus menahan malu karena mendapat tatapan penuh rasa ingin tahu dari setiap orang yang melihat kejadian barusan.

"Ah, sialan" umpat momo yang sangat tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang.

.
.
.
.
.

No Exit
By
Lucian_Lucy_

.
.
.
.
.


"Gaku, buka baju mu".

Gaku tertegun, "Apa?"

"Akan ku lihat seluruh punggung mu dengan sangat teliti, mungkin punggung mu memiliki beberapa memar. Tadi aku membanting mu dengan sekuat tenaga".

"Itu tidak perlu".

Tapi sayang, tenn bersikeras. Tangannya terulur untuk melepaskan kancing kemeja gaku. Tanpa canggung, tanpa minta izin pula, "Aku sangat profesional dalam merawat luka". Ujar tenn yang masih sibuk dengan kancing kemeja gaku.

Pada dasarnya, tenn selalu di larang untuk melakukan bermacam-macam kegiatan di dalam mansion, selain menyambut kepulangan kepala keluarga nanase dan menyiapkan hidangan khusus untuknya. Jadi, bisa di bilang. Kemampuan tenn dalam merawat luka masih di ragukan.

Tapi, yang dasarnya gaku tidak suka berprasangka buruk pada lelaki muda bersurai baby pink itu. Dia membiarkan tenn, menjadikan punggungnya sebagai objek menyalurkan bakat dalam ilmu kesehatan versi neraka jahanam.

Bahkan, baik momo dan juga ryuu yang sejak awal sudah mendepakkan diri dari mobil bugatti milik tenn. Dapat mendengar suara dramatis gaku, yang sedang menahan rasa dingin yang menusuk, dari dalam mobil tenn yang tertutup rapat. Menyisakan keduanya yang saling bertatapan di luar mobil bersama teriknya matahari.

.
.
.
.
.

Yaotome gaku segera menggeser posisi, memejamkan mata. Sementara tenn duduk di belakangnya. Mengompres punggung kekar gaku yang telanjang karena baju kini berada di salah satu pangkuan tenn.

Handuk basah yang dinginnya setara dengan air es batu. -ralat- lebih tepatnya, handuk tersebut memang di lapisi sekantung es batu. Di tepuk-tepuk secara perlahan, menutup memar nyeri di sepanjang punggung gaku. Dingin air es merambat masuk ke dalam pori-pori, meminimailasir pendarahan jaringan. Mata pink lembut menatap punggung keras sekaku batu dengan pandangan kosong. Tenn ingin sekali saja mendengar gaku mengaduh –bukannya malah meringis menahan rasa dingin es batu-. Agar sekaligus menggenapkan rasa bersalahnya.

"Gaku," gumam tenn dengan sangat lirih tapi masih bisa di dengar olehnya

"Hmm?"

"Pergilah yang jauh, Gaku. Jangan pernah muncul lagi di hadapan ku".

Mata gaku terbelalak kaget, saat mendengar kalimat pengusiran tanpa segan secara sepihak dari tenn. Tapi dia memilih diam untuk mendengarkan seluruh kalimat lelaki bersurai baby pink itu. Di tambah suara gebrukan ringan kantong es batu yang terjatuh, membuatnya sadar kalau dia tidak boleh meninggalkan tenn dalam keadaan buruk seperti ini.

Tenn mengabaikan handuk putih yang di gunakan olehnya untuk melapisi kantong es batu. Fokusnya sekarang mengabur, iris pink lembutnya terselapuk kabut. Tenn bergerak, tubuhnya ia condongkan ke arah gaku. Mengalungkan kedua lengannya di leher jenjang lelaki bersurai silver dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung tegak gaku.

Ia berkata pelan dengan penuh duka, "Aku tidak menginginkan kau dan ryuu tetap di sini, Gaku. Bertemu dengan kalian berdua membuat hidup ku kacau".

Dan waktu berhenti menggeserkan diri dengan sengaja.

Dari belakang, Nanase tenn mendekap leher Yaotome gaku seerat yang ia bisa.

"Jangan muncul lagi, kalau kalian berdua tidak ingin menjadi teman ku hanya karena bisnis haram keluarga ku. Pergilah, Gaku. Pergilah sekarang juga kalau kau berani".

"Hei"

Gaku menyentuh lengan tenn tanpa berbalik.

Tapi lelaki bersurai silver itu tahu dengan pasti, "Mengapa kau harus menangis, tenn?".

.

.
.
.
.

"Ayolah riku, angkat... Angkat..." bak sebuah mantra, momo mengucapkan kalimat yang sama sambil berusaha menghubungi riku yang sejak tadi malah di terima oleh mail box.

Momo merasa alarm tanda bahaya mendengung dengan nyaring di tempurung kepalanya.

Kalau bukan hujan peluru karet, sudah pasti. Timah panas menunggunya nanti saat melapor.

Sudahlah, momo hampir pasrah sekarang. Niat awalnya ingin menjenguk keadaan gaku yang berada dalam perawatan tenn, tapi dia malah menemukan tenn yang sedang menangis di balik punggung gaku.

Waktu di tanya kenapa malah diam, gaku yang topless juga memilih untuk keluar dari mobil tenn, malah momo di ajak untuk ikut bersama dia dan ryuu ke mobil milik ryuu yang terparkir tidak jauh dari mobil tenn.

Serius, baru pertama kalinya seorang Sunohara momose merasa ingin menertawakan takdir.

Siapa sangka kalau kedua juniornya beserta salah satu orang yang paling ia percaya selama ini, ternyata bekerja untuk interpol. Bahkan mereka sudah mengawasi pergerakan tenn dan dirinya semenjak mereka kuliah.

Tapi momo bersyukur, karena setidaknya gaku dan ryuu masih percaya pada tenn. Dan kalau misalnya dia tewas karena peluru panas milik pihak interpol, tenn masih bisa melarikan diri bersama gaku atau ryuu.

Tapi, prioritas utama momo sekarang adalah membawa pulang tenn yang masih terlelap dalam tidurnya setelah menghabiskan waktu selama 5 menit untuk meratapi pertemanannya yang mungkin akan segera kandas setelah dia dengan terang-terangan melakukan pengusiran secara sepihak pada keduanya.

"Ah sialan, aku lupa hari ini riku punya jadwal meeting" gumam momo sambil mengusap rambutnya dengan rasa frustasi.

Bak seperti sedang di kejar oleh waktu, momo segera membanting pintu mobil tenn tanpa mempedulikan apakah sang empunya mobil marah atau tidak. Dengan sangat tergesa-gesa momo menarik seatbelt dan mengencangkannya, tidak lupa seatbelt milik majikan harus terpasang dengan sempurna kalau tidak ingin di hajar oleh kepala keluarga nanase.

Sekarang, momo kebingungan harus melakukan apa. Padahal tadi dia sudah merasa memiliki rencana yang bagus. Tapi sayang, sang bos tidak dapat di hubungi sejak tadi.

Gawat, momo rasanya ingin sekali menggadaikan otaknya sekarang, di saat segenting ini. Otaknya malah blank untuk memikirkan suatu rencana.

Peduli setan, sekarang momo harus segara melapor pada riku. Setidaknya dia mungkin masih bisa melihat hari esok kalau memiliki alasan yang masuk akal.

"Siapa yang bisa ku hubungi sekarang? Siapa? Siapa?" racau momo sambil menggeser layar ponselnya dengan sangat terburu-buru.

"Iori?" tapi momo segera menggelengkan kepalanya, momo sangat tahu betul siapa tangan kanan milik riku yang memiliki julukan 'Mr. Perfect' itu.

Sudah di pastikan 10000000% kalau Iori pasti menemani sang bos yazusa dalam setiap meeting.

Sekali lagi jemarinya menggulir di layar ponsel dengan sangat cepat, hingga pergerakannya terhenti di sebuah kontak.

"Touma!"

Dengan cepat, momo segera menekan opsi call.

'Tersambung' batinnya bersorak, setidaknya touma masih dapat di hubungi meskipun posisinya merupakan tangan kiri yang paling banyak bekerja secara langsung di lapangan.

"Ha'i, moshi-moshi. Momo-san?"

Dengan cepat momo segera berbicara saat suara salah satu rekannya, terdengar melalui lubang earphone yang menjuntai sebelah.

"Touma!" tanpa sadar, momo meninggikan suaranya hingga membuat touma tersentak.

"Ha'i!"

"Ah, gomen" kekehan kecil momo berikan, tapi dia masih dapat mendengar tawa kaku yang di berikan oleh touma.

"Momo-san, ada apa?"

Ucapan penuh tanda tanya dari touma berhasil menarik momo dari lamunnya.

'Sial, aku hampir lupa' umpat momo dalam hati.

"Touma, kau sekarang ada di mana?"

"Kantor. Riku tadi memanggil ku, sekarang aku sedang menunggu hingga rapat berakhir".

"Oh"

"Memangnya ada apa momo-san? Apa ada misi yang tidak bisa momo-san kerjakan?"

"Ahahahah, tentu saja tidak. Kebetulan aku sedang bosan," terdengar tawa riang momo yang membuat touma juga ikut tertawa. "Tentu saja ada. dasar inu bodoh! Dan hal ini menyangkut hidup dan mati kita semua!!" umpat momo sambil menjalankan mobil milik tenn dengan perlahan.

"Eh?"

"Aku ingin kau memberitahukan pada riku sekarang juga, kalau tenn mulai di curigai oleh pihak interpol." momo kemudian sengaja mengecilkan suaranya agar tidak mengusik tidur tenn,

"Dan aku bersumpah, kalau sampai kau tidak menyampaikan informasi ini pada riku dalam waktu lima menit. Aku akan membunuh mu, dan mengeluarkan isi kepala inu mu serta memberikannya pada burung gagak peliharaan ku. Camkan itu baik-baik di otak udang mu!"

"Ta-tapi momo-san".

"Aku akan sampai di kantor dalam waktu lima menit lagi, dan ingat pesan ku ini baik-baik touma" kata momo sambil berfokus pada jalan raya. "Aku tidak menerima penolakan kali ini".

Dengan kasar, momo segera memutuskan pembicaraan keduanya dan kembali menambah kecepatan mobil yang ia bawa tanpa mempedulikan apakah akan ada korban jiwa atau tidak selama perjalanannya.

.
.
.
.
.

Touma dapat mendengar suara putus yang keji dari momo.

Bulu kudu touma berdiri saat mendengar ancaman dari seniornya. Tidak di saat seniornya itu kuliah, tidak di tengah lapangan. Seniornya itu, selalu berhasil membuat seluruh juniornya hampir terbunuh di tangan bos yakuza yang selalu terlihat bermain dengan sangat bersih di dunia bawah.

Seniornya yang terlihat periang dan mudah tebar senyum itu, memanglah Iblis konservatif bermental yakuza.

Kalau tidak di turuti, nyawa melayang. Di turuti, nyawa melayang juga.

Touma merasa seperti sedang di paksa memakan buah simalakama, mana dia tadi di hina-hina pula. Aduh, sakit tapi tidak berdarah.

Yah, mau tidak mau. Suka tidak suka. Pada akhirnya dia juga akan segera menghadap pada sang bos besar. Lebih baik dia segera mempersiapkan mental sebelum melihat iblis imut yang rasanya ingin di bawa pulang. Tapi sayang, kalau berani membawa pulang iblis imut yang namanya di samarkan tapi di ketahui memiliki surai dan manik crimson. Mungkin dia akan segera tinggal nama.

.
.
.
.
.

TBC


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top