Chapter 3

Denyutan jarum jam hampir menyentuh angka delapan. Dua lelaki muncul, menggemakan derap langkah gusar di dalam koridor sunyi senyap.

.
.
.
.
.

No Exit
By
Lucian_Lucy_

.
.
.
.
.

"Kenapa tiba-tiba ada kabar semacam ini?! Sebelumnya dia tidak pernah mengatakan apapun. Bahkan dulu aku merasa dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah keluarganya! Tapi sekarang kenapa dia malah ikut tertuduh?!".

Teman yang berjalan bersisiran dengannya menimpali, "Entahlah. Dia orang yang cukup tertutup seingat ku saat kita masih kuliah. Awalnya ku pikir dia mengelabuhi kita, berpura-pura kalau dia tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis yang di jalanlan oleh keluarga nanase. Tapi lama-lama aku merasa tuduhan atasan padanya itu tidak beralasan. Hanya karena dia merupakan bagian dari keluarga nanase, atasan malah menuduhnya sebagai salah satu pelaku kriminal".

Dua lelaki. Dua sifat berbeda. Yaotome gaku dan Tsunashi ryunosuke.

Saat ini ekspresi mereka senada, marah karena terlampau khawatir pada kabar yang datang secara tiba-tiba.

Lelaki muda bersurai baby pink belakangan ini terdengar membuat banyak perkara dengan pihak interpol. Dan karena menolak untuk percaya pada tuduhan sang atasan, keduanya memutuskan untuk bertanya langsung pada Nikaido yamato selaku letnan dalam interpol yang juga ikut di tugaskan dalam misi menangkap Nanase riku dan Nanase tenn sebagai pelaku utama.

"Ck sial," gaku berdecak sebal. "Jika ini bukan sebuah lelucon, berarti ini merupakan kebetulan yang sangat tragis," tambahnya lagi sambil semakin mempercepat langkah kakinya menujuk ruangan letnan Nikaido yamato.

Pintu di buka–bukan. Pintu itu di dobrak tanpa berperasaan.

"Letnan Nikaido yamato. Tidak bisakah anda menarik kembali perintah inspektur untuk menangkap Nanase tenn? Perintah macam apa, yang melibatkan orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan rahasia terkelam keluarganya sendiri?"

Ryuu terdiam. Gaku memberondong pertanyaan tanpa basa-basi. Lelaki itu sengaja membiarkan rekannya melepaskan semua rasa amarah yang sudah dia tahan sejak tadi.

"Oh, kalian datang?"

Keduanya baru tersadar kalau sang asisten dari letnan berada di sana. Izumi mitsuki selaku asisten dari nikaido yamato, terlihat lebih memilih bertindak pasif.

"Aku pamit undur diri dulu letnan, dan berkas-berkas yang anda minta sudah saya siapkan,"

Merasa keberadaannya sudah tidak di butuhkan lagi, mitsuki memutuskan untuk pamit undur diri meninggalkan ketiganya dalam diam. 

Tapi baru berapa langkah dia ingin meninggalkan ruangan itu, sebuah suara yang terasa berat dan penuh intimidasi menghentikan langkah kakinya bahkan terasa seperti berhasil memaku pijakannya saat ini. "Mitsuki. Aku masih membutuhkan bantuan mu untuk menjelaskan pada kedua anggota interpol bodoh ini, kalau sebenarnya Nanase tenn sudah tidak pantas untuk di percayai lagi".

"Letnan," gumam lelaki bersurai jingga itu sambil memberikan tatapan jengkelnya.

Dia sama sekali tidak ingin terlibat dengan pemasalahan yang satu ini, dirinya terlalu lelah baik lahir maupun batin setelah mengetahui sebuah fakta lain yang berhasil adiknya sembunyikan darinya selama ini.

"Aku akan membantu mu untuk meminta agar adik mu di bebaskan oleh inspektur. Dan di rekrut sebagai salah satu anggota kehormatan interpol," kata yamato dengan nada bersungguh-sungguh. Dia sangat tahu, konsekuensinya kalau berani mengubah keputusan inspektur Orikasa yukito tapi untuk yang satu ini dapat dia toleransi.

Tidak perlu menunggu hingga lima detik, langkah mitsuki yang awalnya hendak keluar dari ruangan yamato berubah arah. Mitsuki tidak akan membiarkan adiknya di hukum mati, setidaknya meskipun iori sudah pernah berbuat suatu kejahatan. Tapi negara masih dapat mengampuni kejahatannya dan membersihkan seluruh kasus yang sedang melilitnya.

"Baiklah letnan, tapi kalau kau sampai berbohong. Aku akan membunuh mu" nada bicara mitsuki terkesan santai, tapi bagi yamato itu terkesan seperti maut sedang mengintipnya.

Mitsuki merupakan salah satu anggota kehormatan yang di rekrut setelah banyak membuat negara mengalami kerugian yang amat sangat besar, meskipun kerugian yang di alami negara akibat perbuatan riku lebih besar darinya.

"Tidak akan, aku berjanji mitsu".

Lelaki mungil bersurai jingga itu menganggukan kepalanya sedikit, sebelum perhatiannya kembali teralihkan pada gaku dan ryuu yang terlihat kebingungan sekarang.

"Letnan, apa kau ingin membuat kedua tamu kita terlihat seperti orang yang bodoh?"

Kekehan yamato terdengar saat fokusnya kembali, "Tidak"

Letnan mereka memang bajingan.

B.A.J.I.N.G.A.N

Bahkan sekarang dia malah terkesan apatis dengan keberadaan gaku dan ryuu yang berada di dalam ruangannya.

Seandainya Nikaido yamato bukanlah seorang letnan, mungkin sekarang gaku akan dengan sangat bersukarela mendepaknya ke alam baka.

Dengan pelan, gaku mendekat. Di dalam pikirannya sekarang hanya berputar tentang alasan yang mungkin dapat membebaskan lelaki bersurai baby pink dari tuduhan yang di lontarkan oleh kapten Mido torao, yang di terima oleh inspektur yuki. "Letnan Nikaido. Apakah tuduhan terhadap Nanase tenn tidak dapat di cabut?"

"Tidak!" nada tega kembali terdengar dari arah lelaki bersurai jingga

"Keluarga nanase di curigai merupakan gerbong penjahat kelas paus, sama seperti keluarga osaka. Kita tidak bisa melepaskan keduanya dengan begitu mudah". Mitsuki berbicara sambil mengangkat sebuah berkas yang sudah tersedia di meja yamato.

Yamato yang pada dasarnya seorang pemalas, sangat berterima kasih dengan tindakan cepat mitsuki yang dapat membungkam dengan cepat kedua lelaki yang terlihat ingin protes padanya.

Berkas yang di pegang oleh mitsuki, segera di berikan pada gaku yang langsung membuka segel berkas itu dengan sangat tergesa-gesa.

"Menurut beberapa informasi terpecaya, nanase tenn selalu di lindungi oleh nanase riku meskipun keduanya tidak berada di tempat yang sama," ungkap mitsuki di tengah kegiatan gaku yang semakin cepat membuka lembar per-lembar dokumen, di setiap lembaran terlihat beberapa bukti kuat yang sesuai dengan penjelasan mitsuki.

"Tapi... Kesempatan kalian untuk membuktikan kalau nanase tenn tidak bersalah sangatlah kecil peluangnya. Karena berkas ini sudah di terima bahkan di periksa oleh markas induk," tambahnya lagi.

"Sialan" umpat gaku sambil memasukkan kembali berkas yang di berikan mitsuki. Dan meletakkannya kembali di atas meja yamato.

"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, gaku?" tanya ryuu yang sejak tadi memilih untuk diam dan mendengarkan dengan baik.

"Tidak ada," bukan gaku yang menjawab tapi mitsuki

"Ck. Apa tidak ada berkas yang dapat menyangkal semua tuduhan ini asisten letnan?" tanya gaku pada mitsuki yang sempat terdiam sejenak.

"Tidak-"

"Keluarga osaka". Untuk pertama kalinya, yamato membuka suara dan menyela ucapan mitsuki.

"Maaf?" mitsuki mencoba memastikan perkataan yamato yang pada dasarnya sudah dapat dia prediksi.

"Kesempatan kalian akan tiba saat keluarga osaka berhasil di taklukkan, dan meminta osaka sogo sebagai anggota kehormatan interpol"

"Hah?! Yang benar saja! Osaka sogo itu seperti nanase riku. Apa letnan bercanda? Dia bahkan sudah membuat kerugian di negara berkali-kali lipat, bahkan hukuman mati terasa lebih baik untuknya," kali ini ryuu yang membantah. Bukan tidak mungkin kalau osaka sogo akan mengatas namakan interpol untuk menutupi segala kejahatannya.

"Hee~ apa kau lupa? Kalau seluruh jajaran yang berada di interpol itu separuh iblis semua?" tanya yamato sambil tersenyum meremehkan. "Kita membutuhkan keahlian gila anak itu" tambahnya lagi.

Skatmat, ryuu sudah tidak dapat menghindar dari ucapan yamato yang sesuai kebenarannya.

"Tapi... Mengapa kami harus menunggu osaka sogo yang berbicara?" masih belum puas denga alasan yamato, ryuu sekali lagi mencoba untuk menyudutkannya.

"Simpel," ujar yamato sambil menyulut rokoknya. "Karena keluarga osaka terlibat dalam pembantaian yang selama ini terjadi di dunia bisnis. Osaka sogo membayar nanase riku untuk membunuh para pesaingnya secara perlahan-lahan, dan dari situ kalian mungkin dapat menemukan bukti kuat yang dapat menangkis tuduhan kapten Mido pada nanase tenn".

Baik gaku, ryuu maupun mitsuki mengerjapkan mata mereka secara bersamaan. Ternyata letnan mereka yang terkenal sebagai manusia paling malas di interpol memiliki otak yang sangat briliant.

"Kesempatan yang cukup besar, tapi apa mungkin osaka sogo mau berbicara tentang hubungannya dengan keluarga nanase?" mitsuki kembali bertanya sambil berusaha menimang-nimang rencana yamato.

"Mitsu. Apa kau meragukan kemampuan negosiasi ku?", tanya yamato dengan tatapan yang terluka. Meskipun di mata lelaki bersurai jingga, tatapan yamato itu terlihat sangat menjengkelkan.

"Bukannya aku meragukan mu letnan, hanya saja. Tampang mu sangat tidak menjanjikan". Ujar mitsuki tanpa ada tampang berdosa

"Pfft"

"Diam kalian berdua!" hardik yamato dengan cepat ke arah gaku dan ryuu yang saling membelakangi demi menahan tawa mereka yang ingin pecah.

"Ti...tidak letnan... Pfft... Kami tidak menertawakan anda," ryuu lebih memilih menjawab secara sukarela meskipun kalimatnya harus terpotong karena menahan tawa.

"Bohong! Kalian pasti menertawakan diri ku bukan?! Jawab!!"

Bangsat, gaku sampai harus memencet hidungnya sendiri agar tidak kelepasan tertawa.

"Hei! Jawab kalau di tanya-"

Drrrrrtttt

Sebuah suara ponsel miliki gaku, berhasil menghentikan suasana yang dapat membuat guku maupun ryuu mati berdiri karena menahan tawa akibat drama singkat yang di lakukan antara letnan dan asistennya.

Yamato terlihat mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya siapa yang menelpon lelaki bersurai silver itu sepagi ini.

Tapi pertanyaan tersiratnya itu tidak di gubrik oleh gaku yang tersenyum kecil kala melihat nama sang penelpon.

"Halo? Tenn. Apa kabar?"

Ryuu mendekati gaku guna mendengar pembicaraan keduanya, sementara mitsuki menahan napas saat mendengar salah satu target interpol menelpon seolah-olah dirinya tidak tahu sedang di incar.

"Ya... Kabar ku baik. Bagaimana dengan mu gaku?"

Yamato memberikan kode agar volume suara ponsel gaku di keraskan, dan hanya di balas dengan tatapan malas. Meskipun demikian, tetap di lakukan oleh gaku.

"Well, seperti yang bisa kau tebak tenn. Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini,"

Mitsuki dan yamato mendengarkan dengan serius, karena menurut mereka. Sangat jarang seorang petugas interpol meminta untuk membebaskan seorang tersangka dengan begitu mudahnya.

"Yah, apa kalian berdua tidak bisa menemani ku? Padahal aku berniat mengajak mu dan ryuu untuk keluar hari ini."

Gaku terdiam sejenak, dapat dia dengar dari nada suara tenn kalau ia sedikit kecewa dengan alasan yang di berikan olehnya. Gaku terdiam membatu, seolah-olah tenn yang meminta untuk di temani terasa lebih mengerikkan daripada di gentayangi hantu manapun.

Ryuu yang merasa keadaan gaku tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk menjawab akhirnya memilih untuk mengambil alih ponsel milik gaku.

"Kami senggang kok tenn, jadi? Kita ketemu di mana nanti?"

"Ryuu?"

"Ya tenn?"

"Ah... Ku pikir kalian berdua sedang tidak berada di satu tempat yang sama tadi" tenn menjeda sejenak pembicaraan keduanya, ia seperti sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana.

"Ah, halo ryuu?"

"Ya tenn, aku masih di sini" jawab ryuu sambil tersenyum kecil meskipun tenn tidak dapat melihatnya.

"Kita ketemu di taman kota ya, aku sedang berbelanja di mall hari ini. Oh iya, jam 9 pagi kita ketemunya ya."

"Baiklah, sampai jumpa tenn".

"Sampai jumpa ryuu, sampaikan salam ku pada gaku ya. Bye-bye"

"Bye"

Terdengar nada putus, ryuu segera menyerahkan ponsel milik gaku yang kesadarannya masih belum kembali.

Hening sejenak.

Semuanya terlihat kebingungan untuk memulai pembicaraan, mitsuki yang awalnya hampir menentang permintaan gaku dan ryuu terlihat berpikir dengan keras.

'Nanase tenn terlihat seperti tidak mengetahui persoalan yang sedang di hadapi adiknya, apakah dia memang tidak ada sangkut pautnya dengan seluruh tindak kriminal yang di lakukan oleh nanase riku?' gumam mitsuki dalam hatinya.

Berbeda dengan mitsuki yang sedang mempertimbangkan untuk membantu kedua lelaki yang berdiri di hadapan mereka berdua, yanato lebih memilih berfokus pada kegiatan awalnya–merokok lebih tepatnya.

Yamato terlihat biasa saja menanggapi keadaan yang terasa membingungkan, dia malah terlihat seperti tidak ingin ambil pusing dengan masalah penangkapan yang mungkin saja akan melibatkan timnya.

"Hei kalian berdua," ujar yamato sambil melirik ke arah gaku dan ryuu secara bergantian.

"Hime-sama sudah menunggu loh, kalau sampai ketahuan adiknya. Kalian berani membuat kakaknya menunggu dengan sangat lama, mungkin kalian bakal tinggal nama sebentar lagi" ancam yamato sambil memberikan cengiran jahil ke arah keduanya.

Mitsuki mengerutkan keningnya, yamato sangat jarang sekali mengusir seseorang dengan cara halus. Sekali dia mengusir mungkin akan langsung berbicara secara spontan.

"Ah.. Maaf mengganggu waktu anda letnan, kami pamit undur diri," ryuu sekali lagi. Sekali lagi bersukarela untuk berpamitan pada salah satu atasannya, sedangkan gaku memilih untuk meninggalkan ruangan itu secepat kilat.

"Ya"

"Selamat pagi letnan"

"Pagi"

Selesai mengucapkan salam yang terkesan basa-basi, ryuu segera mengejar gaku yang sudah keluar terlebih dahulu.

Suara pintu yang di tutup secara perlahan, serta suara derap langkah yang mulai menjauh akhirnya berhasil membuat yamato menghela napas panjang. Seperti dia baru saja melaksanakan pekerjaan yang menguras banyak tenaga. Padahal, yang mengerjakan semua laporan hanyalah mitsuki seorang.

'Ais, kapanlah aku bisa istirahat kalau begini terus,' jerit hati mitsuki yang sudah lelah dengan tingkah laku yamato.

.
.
.
.
.

Mayback Exelero hitam milik riku, membelah jalanan dengan sangat mulus. Semulus dada tenn malah.

Meskipun demikian, bukan berarti sang pemilik mobil dalam suasana mood yang baik, moodnya hari ini acak-acakkan. Niatnya ingin meminta maaf. Tapi, jangankan kata maaf. Bahkan untuk menghubungi kakaknya sendiri riku sudah bimbang setengah mati.

Belum lagi riku harus segera mengatasi kekacauan yang berhasil orang tua bau tanah itu berikan, sekarang suasana hatinya sangat sulit untuk di gambarkan.

Aneh memang. Lebih tepatnya paradoks. Penuh divergensi. Suasana hati Nanase riku saat ini abstrak. Gelap, ya. Terang, jauh.

Setelah bergelud dengan pikirannya, riku memutuskan untuk menghubungi Iori selaku asisten yang selama ini dia banggakan. Baru saja riku ingin memencet opsi call, tapi panggilan dari iori masuk lebih dulu. "Halo? Iori?"

"Nanase-sama, apa Osaka sogo-san sudah menghubungi anda?"

"Belum, kenapa memang?"

"Osaka sogo-san meminta anda untuk melacak apakah keberadaannya sudah terendus oleh interpol atau tidak. Dia merasa salah satu jaringannya sempat terkena virus beberapa hari yang lalu".

"Virus?" gumam riku sambil mengerutkan keningnya. "Cuma melacakkan?"

"Ya"

"Baik. Tapi, berapa nilai kontraknya? Lebih besar mana daripada membunuh para pesaingnya itu? Kalau lebih kecil aku tidak mau. Rekening ku sudah terlalu penuh dengan uang, tidak di tambah juga sampai mati aku dan tenn-nii tidak akan kesulitan makan".

"Tenang. Tenang, satu miliyar bulat. Nanase-sama, nilai yang keparat bukan?" riku dapat mendengar iori tertawa. "Sebenarnya tadi, Osaka sogo-san mengatakan ingin mampir di kediaman anda besok. Sekalian membahas soal kemungkinan kalau pihak kita juga terendus oleh interpol. Tapi karena anda sangat jarang menerima tamu yang berkaitan dengan bisnis di mansion nanase, jadi osaka sogo-san memutuskan untuk mengundang anda dan tenn-sama untuk berkunjung ke mansion utama keluarga Osaka".

"Maksud mu aku harus bertemu klien sambil membawa kakak ku? Ini pertemuan bisnis melacak dan membunuh orang atau arisan keluarga?"

"Hahaha, anda berlebihan sekali nanase-sama. Memangnya kenapa? Tidak masalah bukan? Membicarakan rencana pembunuhan sambil ngopi-ngopi santai bersama keluarga".

"Kakak ku sangat sensitif, iori".

Riku sekali lagi dapat mendengar tawa iori yang terkesan seperti sedang menghina dirinya.

Baru saja iori ingin menutup telponnya, tiba-tiba ingatan tentang dia yang ingin meminta maaf akhirnya kembali muncul ke permukaan.

"Iori"

"Ya, nanase-sama?"

"Apa kau tahu, bagaimana caranya kita untuk meminta maaf pada saudara kita yang tanpa sengaja kita lukai?"

Iori vakum sedetik

"Hah?"

.
.
.
.
.

Nanase tenn terlihat masih asik menunggu, sambil sesekali tawa lembut mengalun dari bibirnya. Tenn terlihat lebih pasif dengan kaos putih dan mantel cream yang sedikit membalut tubuhnya, dan jeans hitam bersama sepatu warm boots yang membalut kakinya.

Momo yang sejak awal memutuskan untuk memantau lelaki muda bersurai baby pink itu dari kejauhan tidak jarang ikut tersenyum kecil, nanase tenn kalau sudah berada di luar mansion tingkahnya seperti anak kecil saja menurutnya.

Semua hal yang menarik dia foto, apa-apa yang terlihat sangat jarang ia temukan di mansion langsung di foto. Semua jajanan yang di jual di taman dia beli juga, padahal sebelumnya tenn bilang ingin diet tapi sepertinya kokoronya tenn kurang kuat saat melihat adonan manis yang menggugah selera tidak segera masuk ke dalam perutnya.

Momo yang masih memantau keadaan tenn dalam diam, akhirnya memutuskan untuk memotret tenn yang kebetulan sedang memandangi bunga teratai yang berada di sekitar kolam. Dengan ponsel yang sudah siap di tangan, momo menunggu saat yang tepat untuk mengabadikan moment berharga tenn yang terlihat merasa sangat bebas.

Cekrek

Suara ponsel milik momo saat berhasil menangkap moment di mana tenn sedang memejamkan matanya sambil menghadap ke arah bunga teratai.

"Hehe, tinggal di publikasi ke media sosial dan mari kita tunggu reaksi dari riku," gumam momo pada dirinya sendiri.

Momo menunggu dengan sabar, saat lingkaran laman berputar.

Kemudian.

Foto terunggah dengan caption
'Angel In The Dark'.

Momo tersenyum bangga dengan hasil karyanya, dengan senyuman yang masih belum menghilang dari wajahnya. Momo mengunci kembali layar ponselnya dan melesatkannya ke dalam saku jeans yang sedang ia kenakan.

"Hehehe, semoga tenn belum melihat unggahan ku barusan, kalau sampai dia lihat pasti dia akan bertanya kenapa harus menggunakan caption seperti ini," gumam momo sambil sedikit mengerutuki kebiasaan salah satu juniornya semasa kuliah.

Dengan santainya, momo melangkah mendekati tenn yang sekarang mulai melihat-lihat berbagai macam bunga yang terlihat sangat cantik dan kontras ketika di padukan dengan surai baby pink milik tenn.

"Hai, tenn! Lagi cari apa?" tanya momo pura-pura kebingungan, padahal dia dapat melihat dengan jelas kegiatan yang sedang di lakukan oleh lelaki bersurai baby pink itu.

"Bunga," jawaban yang di terima oleh momo sangat singkat, padat, dan jelas.

"Oh. Buat riku ya?!" tanya momo kembali dengan antusias.

Tapi tenn malah membalas sikap antusias momo dengan gelengan kecil, meskipun demikian. Paras wajahnya menunjukkan kalau sekarang dia sedang bersungguh-sungguh dalam memilih bunga. Berbeda jauh dengan riku yang langsung borong semua bunga bagus, setelah di pilih satu. Sisanya malah di buang.

"Ah...", Otak momo mendadak blank sekarang, tadi katanya mau bikin kejutan. Kok pas di tanya itu buat riku malah jawabannya bukan.

"Kalau bukan buat riku, terus buat siapa dong?" masih belum menyerah, momo tidak ingin tenn sembarangan memberikan bunga pada orang lain. Nanti orangnya malah narsis lagi cuma karena di kasih bunga sama tenn.

Bahaya level dewa kalau sampai kepala keluarga nanase tahu.

"Oh. Buat ulang tahun riku". Jawab tenn dengan santai.

Pening seratus persen melanda tempurung kepala momo, tadi di bilang bukan buat riku. Sekarang buat ulang tahun riku. Momo heran, tenn sebenarnya di kasih makan seperti apa sama riku, sampai-sampai ucapannya tidak konsisten seperti ini.

"Momo-san," panggilan dari tenn berhasil menghentikan momo dari berjuta pikiran negatif tentang makanan yang sering tenn konsumsi.

"Ya, tenn?" momo masih mencoba berbaik hati untuk memberikan senyuman pada tenn di tengah migrain yang melanda secara tiba-tiba.

"Menurut momo-san, apa bunga anggrek cattleya dapat di jadikan sebagai hiasan di bom rakitan ku nanti?" tanya tenn dengan wajah polos, kelewat polos malah.

Momo vakum sejenak, dia tidak yakin sudah membutuhkan pengorek telinga saat ini.

"Hah?"

Mampus, momo bahkan kebingungan harus memberikan respon seperti apa sekarang. Jadi, ini alasan mengapa mereka sangat lama di toko listrik serta pusat grosir bahan kimia tadi?

"Aku tanya, apa bunga anggrek cattleya bagus buat di jadikan sebagai hiasan di bom rakitan ku?"

"Buat apa, tenn?!"

"Buat hadiah ulang tahun riku," jawab tenn dengan watados.

Mampus kuadrat, tenn memang berniat membunuh riku.

Momo harus cepat-cepat menyelesaikan tugas mengawasi tenn, lalu segera mengungsi ke rumah yuki kalau perlu. Dia tidak ingin keesokan harinya setelah tenn memberikan hadiah yang maha spesial itu pada riku, namanya malah ikut terseret.

"Ya... Kalau menurut tenn bagus, tinggal di beli saja. Kan, ini hadiah buat riku" ujar momo sambil tersenyum memaksa.

'Ingin ku teriak... Ingin ku menangis...' abaikan suara batin momo yang sedang terpuruk.

"Okey, sudah ku duga kalau bertanya pada momo-san merupakan pilihan yang tepat" kata tenn yang dengan cepat segera membeli bunga anggrek.

Sudahlah, momo sudah stress berat sekarang. Bahkan tempurung kepalanya terasa mau pecah.

Tanpa momo sadari, terlihat dua orang lelaki yang melangkah ke arah keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Salah satu lelaki itu memberikan cengiran mesum setelah mendapatkan mangsa yang tepat, dengan santai seperti mereka merupakan kawan lama. Lelaki itu dengan cepat segera memeluk tenn dari belakang dan membisikkan kalimat seduktif di telinganya.

"Hei cantik"

Deg

.
.
.
.
.

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top