⿻⃕⸵Chapter XLI ៚݈݇
Semalam sebelum keberangkatan.
Zen baru terlelap setelah berbincang dengan Alwen. Tak disangka Luce mengunjunginya lagi, lebih sering dari biasanya yang jarang sekali menampakkan diri untuk membatasi penglihatan Azrael. Luce kembali menemui Zen di alam mimpi. Setelah sebelumnya ia menceritakan masa lalunya, kali ini Luce akan memberi hadiah kecil untuk Zen.
Zen yang masih terlelap perlahan mengerjap karena merasa ada yang janggal. Sebelumnya ia tidur di kamar, semua jendela sudah ia tutup, lantas kenapa sekarang ia merasa seperti sedang diterpa sepoian angin? Tak lama kemudian, Zen membuka mata. Terpesona dengan langit biru penuh bintang, secantik jutaan permata yang mengapung di udara. Tetapi kemudian ia duduk tersentak ketika mendapati dirinya berada di atas atap kuil Aurum yang sebelumnya diceritakan Luce.
"Selamat malam, Zen," ucap Luce berdiri di samping kiri Zen, membuat Zen lagi-lagi terkejut akan kedatangannya. "Maaf aku membangunkanmu." Luce mengulurkan tangan, membantu Zen berdiri.
Zen menerima ukuran tangan, lalu berdiri, ia sedikit mengangguk menanggapi ucapan Luce. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Luce tersenyum. "Kau sudah memiliki tiga pecahan dan latihanmu juga cukup bagus, seharusnya tubuhmu sudah bertambah kuat. Sepertinya aku tahu kekuatan sihir apa yang cocok untukmu."
"Sihir yang cocok untukku?" sahut Zen dengan alis yang bertaut, bingung tapi juga penasaran.
Luce mengangguk, kemudian menengadah kedua tangannya setinggi perut, yang kanan mengusap telapak tangan kirinya sambil memutar perlahan searah jarum jam. Perlahan muncul cahaya kebiruan di telapak tangannya, dari yang bentuknya tak beraturan, lama-lama cahaya kebiruan itu menyerupai bunga kamboja.
"Ini sihir ilusi, aku yakin kekuatan sihir ini akan cocok dengan hobimu."
"Apa maksdumu?" Zen menaikkan alisnya sebelah, mendelik, merasa tersindir dengan ucapan Luce yang mengatakan 'hobimu'. Hobinya yang tidak bermanfaat-bagi kebanyakan orang-yaitu mengkhayal, halu, membayangkan dirinya berada dalam segala situasi seperti pada cerita novel atau komik yang sering ia baca.
Luce terkekeh. "Kau hanya perlu membayangkan sesuatu. Dengan sihir ini, kau bisa mewujudkan segala sesuatu itu, meski hanya dalam bentuk ilusi. Semakin besar kekuatanmu, maka ilusi yang diciptakan juga akan semakin kuat, bahkan sampai menyamai kenyataan."
⿻⃕⸙͎
Sementara itu, di tempat Azrael, di Kerajaan Nerobuio. Ia sedang tidak di singgasananya, pemuda panjang umur itu tengah berada di ruang rahasia Kerajaan Nerobuio yang hanya bisa dimasuki Azrael dan Agares si tangan kanannya.
Azrael berdiri di depan sebuah kolam kecil berdiameter 65 cm. Batu-batu merah besar mengelilingi kolam sebagai pembatas. Itu bukan kolam biasa. Dengan sedikit mantera, kolam itu bisa menampilkan apa yang ingin kau lihat.
Sebelumnya Azrael hanya mengandalkan laporan dari Vyria dan Nell yang ditugaskan untuk mengikuti rombongan Zen, tetapi kini ia semakin penasaran sekaligus geram. Ia tak bisa lagi mengetahui izi pikiran Luce. Tentu saja tidak bisa, karena Zen yang sekarang memiliki jiwanya sendiri. Bukan wadah kosong yang dimasukkan separuh jiwanya lagi.
Ditambah sekarang Zen yang telah memiliki tiga pecahan permata Afetoros, permata pemberian Dewi Levera itu juga memberinya kekuatan untuk menahan Azrael agar tidak menembus pikirannya. Karena itu sekarang Azrael akan menggunakan kolam ajaib ini.
"Étsi Ta Mátia!"
Poof!
Muncul segumpal asap pekat yang kemudian mengepul di udara, seketika itu pula muncul beberapa ekor ngengat beterbangan di sekitar Azrael. Corak lingkaran hitam pada sayap cokelat itu membuatnya terlihat seperti mata yang mengawasi.
"Pergilah dan temukan mereka untukku!" titah Azrael. Ngengat-ngengat itu pun berhamburan ke luar.
Tak butuh waktu lama, salah seekor ngengat telah menemukan lokasi Zen. Kolam kecil itu bercahaya kemerahan sebelum menampakkan Zen dan kawan-kawannya yang sedang menyusuri kota menuju pelabuhan. Gerak mereka melambat seperti sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian, terlihat Xander menunjuk salah satu restoran. Rupanya mereka akan makan siang.
Tapi ... tiba-tiba mereka semua diam. Setelahnya Zen menoleh, pantulan dalam kolam terlihat seolah Zen sedang bertatapan langsung dengan Azrael. Di sana, di tempat Zen, matanya tertuju pada ngengat yang terbang di atas mereka.
Beberapa temannya tampak bingung dengan apa yang dilihat si Pangeran. Zen mengambil busur lalu menembakkan anak panahnya, melesat cepat dan menghancurkan ngengat itu sehingga penglihatan Rael pun terputus.
Azrael tersentak. Air dalam kolam meletup, cipratan air itu bahkan sampai menampar wajah dan pakaiannya. Alisnya menukik tajam, menyeringai disertai gertakan gigi.
"Sepertinya kau sudah berkembang ya Pangeran Kecil," ucapnya seraya mengusap mukanya kasar.
"Agares!" panggilnya keras. Tak sampai semenit, yang dipanggil kini sudah berdiri di hadapannya.
"Iya, Yang Mulia." Agares menunduk hormat. Tatapannya tenang namun penuh kebencian, tatapan yang sama seperti mata Rajanya. Membenci semua makhluk yang hidup dalam kedamaian, merasa tidak adil dengan apa yang dialaminya. Pikirannya itu menjadikan Agares pengikut setia Azrael.
"Kau sudah kirim kejutannya pada mereka?" tanya Azrael yang tengah meniriskan air di pakaiannya.
"Sudah, Yang Mulia."
Seringaian Azrael melebar. "Bagus. Mereka suka hadiah, bukan?"
Sementara di tempat Zen, beberapa menit sebelum ngengat Azrael menemukan mereka, Zen dan kawan-kawannya sudah sampai di Kota dan sedang mencari tempat makan siang. Perjalanan kali ini cukup lancar, Zen menggunakan sihir ilusinya untuk membuat kucing-kucing raksasa itu terlihat seperti kucing normal.
"Pangeran, jangan terlalu memaksakan diri. Anda harus menghemat energi Anda," ujar Gain khawatir. Zen baru tumbang kemarin, ingat? Tapi sekarang ia justru mengaktifkan sihirnya sepanjang jalan untuk manipulasi penglihatan orang di sekitar mereka tentang dua kucing raksasa itu.
"Aku tidak memaksakan diri, Gain. Aku sedang melatih sihirku," sahut Zen santai. Luce benar, sihir ilusi sangat cocok untuknya. Mengkhayal adalah keahlian Zen. Di dunia tanpa sihir, membayangkan dirinya bisa terbang dan melawan penjahat saja mudah, apa lagi sekarang yang hanya membayangkan kucing raksasa menjadi kucing kecil. Itu sangat mudah bagi Zen.
"Hei! Bagaimana kalau kita makan di sana?" Xander menunjuk salah satu restoran. Aroma masakan yang lezat itu tercium melewati hidungnya. Baunya seperti daging panggang dengan olesan mentega, disertai perbawangan dan rempah-rempah yang meresap ke dalam daging. Uhh ... benar-benar menggugah selera Xander dikala perutnya berteriak minta makan.
"Boleh juga. Kudengar makanan di sana memang enak, tapi aku belum pernah mencobanya," ucap Alicia. Ia sudah sering dengar orang-orang membicarakan restoran yang Xander tunjuk itu, tapi ia selalu tidak ada waktu untuk mencicipinya karena latihan tatakrama kerajaan dan pelajaran lainnya, atau kadang ayahnya menyuruh Alicia melakukan hal lainnya. Tapi untuk beberapa hari ini, ia membolos dan pergi mengantarkan tunangannya ke pelabuhan.
"Kalau begitu ayo!" girang Xander semangat. Belum tentu perjalanan di depan mereka bisa menemukan restoran lagi dalam waktu dekat, ini kesempatan makan enak, tidak boleh dilewatkan. Begitu pikirnya.
"Tunggu dulu!" Zen berseru. Tiba-tiba ia merasa diperhatikan, mata tajam yang menusuk ke tulang hingga membuatnya merinding. Seperti ada aura jahat yang mencengkeram tubuhnya, membatasi pergerakannya karena ia diawasi. Lebih mengerikan daripada ujian di depan Kepala Sekolah.
"Kalian tidak merasakannya?" ucap Zen lagi. Teman-temannya itu lebih peka sihir daripada Zen, secara mereka memang lahir di dunia sihir, tidak mungkin mereka tidak merasakannya.
"Iya, aku tahu. Ada yang mengawasi kita, berhati-hatilah!" ucap Roen. Ia juga bisa merasakannya, tapi tidak semengerikan yang Zen rasakan. Roen tahu sesuatu yang mengawasi mereka adalah hal yang mengerikan, tapi sesuatu itu seperti dilapisi sihir tidak terlihat.
Gain juga bisa merasakannya, sama seperti Roen, ia merasa ada sesuatu yang mengerikan tengah mengamati mereka tetapi tidak terlihat. Tentu Alwen juga merasakannya, samar-samar ia melihat segumpal energi gelap tak jauh di atas kepala mereka. Hanya gumpalan tak berbentuk, Alwen tidak bisa melihat wujud aslinya.
Sisanya? Anak-anak muda itu justru tidak merasakan apa-apa sama sekali, sama seperti warga di sekitar mereka yang bertingkah biasa saja karena tak merasakan tekanan apapun. Bukannya mantra itu lemah, melainkan terlalu kuat hingga bisa menyembunyikan keberadaannya sebaik mungkin.
Mata Zen mengedar mencari sosok yang mengintai mereka. Ketemu. Sedikit mendongak ke belakang, ia mendapati seekor ngengat berlalu-lalang di atas kepala mereka, seperti drone yang diam-diam mengirimkan rekaman aktifitas mereka kepada si pilot drone. Itu adalah ngengat yang Azrael kirim untuk memata-matai mereka.
Zen segera menarik busurnya, matanya menyipit guna memfokuskan pandangannya pada target, dan ...
Wusshhh!
Anak panah itu melesat, membelah dua serangga mengerikan itu sebelum melebur di langit. Seketika tekanan energi gelap yang Zen, Alwen, Roen, dan Gain rasakan menghilang.
"Apa yang kau panah?" tanya Xander bingung. Baginya, Zen hanya memanah udara. Begitu juga di mata Agie, Alicia, dan Karl.
"Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sini," sahut Gain. Tatapannya tampak tajam, lebih jeli daripada saat berhadapan dengan ramuan herbal. Alisnya sedikit terangkat, otot wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Gain memang tidak bisa melihatnya, tapi ia bisa merasakannya, ia tahu ngengat itu adalah kiriman Azrael.
"Di sini tidak aman, sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ujar Alwen. Zen, Roen, dan Gain mengangguk setuju. Posisi mereka telah diketahui, mereka harus secepatnya pergi dari sana.
"Hahh?! Kita tidak jadi makan?" rengek Xander tidak sabaran. Ia sudah lapar sejak setengah jam yang lalu.
"Jadi, tapi bukan di sini," ujar Roen. Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan, mencari restoran lain, meninggalkan tempat yang lokasinya telah diketahui Azrael itu secepat dan sejauh yang mereka bisa.
⿻⃕⸙͎
Sudah satu bulan lebih sejak keberangkatan Zen. Selama itu pula para pemimpin lima kerajaan menyiapkan pasukan, tempat berlindung dan pengungsian, tim medis, kebutuhan pokok, dan lain sebagainya.
"Yang Mulia! Yang Mulia! Anda di mana?" ucap salah seorang prajurit berlarian di lorong istana mencari sang Raja yang bahkan belum ada sepuluh menit sejak Raja Alverd meninggalkan ruangannya.
Segera Ratu Emily menggantikan suaminya, memberi perintah dan arahan pada prajurit yang kebingungan itu. "Pergilah duluan, aku akan memanggil Yang Mulia," ujar Ratu Emily.
Prajurit itu menunduk hormat sebelum melanjutkan pekerjaannya, sementara Ratu Emily pergi mencari Raja. Perasaannya mengatakan, Raja mungkin ada di ruangan itu. Ruangan di mana lukisan-lukisan Raja terdahulu dipajang, merupakan salah satu ruangan favorit Raja Alverd, tempat ia bisa bertanya seolah sedang berhadapan dengan pendahulunya mesikpun lukisan itu tak menjawab sepatah kata pun.
Ratu Emily telah sampai di depan pintu, sepertinya firasatnya benar bahwa Raja ada di dalam. Pintu ruangan itu sedikit terbuka.
"Rajaku," panggil Ratu Emily seraya menghampiri Raja Alverd yang tengah memandangi salah satu lukisan. Lukisan sepasang Raja dan Ratu sebelum dirinya, bersama dengan dua pangeran yang masih anak-anak.
Raja Alverd menoleh, melihat sang Permaisuri menghampirinya. "Emily, menurutmu apa yang akan dia lakukan jika 'dia' yang jadi Raja?"
Ratu Emily tersenyum simpul sebelum berkata, "'Dia' akan melakukan yang terbaik untuk melindungi Kerajaan ini, rumah kita, keluarga kita, rakyat kita, dan semua yang ada di dunia sihir. 'Dia' tidak akan membiarkan barang sejengkal pun kegelapan menyentuh kita."
Ucapan Ratu Emily membangkitkan sedikit kepercayaan diri Raja Alverd. Jika 'dia' bisa melakukan itu, maka ia juga harus bisa. Bukannya Alverd tidak mampu menjadi Raja, selama ini Kerajaan Luce telah menjadi kerajaan yang cukup makmur di antara kerajaan lainnya. Ia hanya perlu waktu untuk merenung.
"Kau benar. Aku sungguh payah. Aku hanya ... mengkhawatirkan anak kita, aku tidak ingin kehilangannya lagi," Raja Alverd menjeda sejenak, kembali menatap lukisan di depannya, seperti aku kehilangan 'dia'."

⿻⃕⸙͎
#chapter XLI
Halo
Seperti biasa ... telat apdet
Maap
Kayaknya cuap-cuap kali ini aga panjang, kalo mau di skip juga it's okay (ini cuma bacotan)
Sebenarnya bab ini udah agak lama diketik tapi belum kelar, sebenernya ya skripsi dan 'hal itu' juga ga bisa dijadiin alasan buat telat update karena emang dari awal aku-nya yang lambat
Ini cerita direncanain dari 2019 deh kayaknya, pertama kali publikasi 2020 dengan judul "The Lost Prince" kayak biasa banget njir, tapi dipikir-pikir judul "Neroluce" juga biasa aja:v
❗Mulai dari sini terbilang masuk pribadi, kalo keberatan ga usah dibaca ya ges:>❗
Kalo aku boleh minta tolong, aku mau minta tolong do'ain adik kecilku yang paling cantik manis baik pinter hebat mwahmwamwah lop yu semoga terlahir kembali di alam yang bahagia dan selalu bahagia❤ lop yu cinta Shira-desu
Dia juga punya wattpad tapi emang udah lama ga aktif, walau OC (original character) nya banyak tapi dia lebih suka membagikan visual art nya di IG daripada membagikan versi cerita tulisan seperti ini
Serius, kalo kalian ga suka baca bacotan kayak gini gapapa ga usah dibaca, wattpad juga seharusnya bukan tempat curhat
Aku cuma mau bilang kalo aku cinta secinta cintanya sama adeku
Dia segalanya buatku, hampir 100% semua masalahku dia tau, atau emang 100% dia tau ya wkwkwk
Dia itu hebat, berani ambil jalan yang emang dia mau, ga kayak aku yang cuma ke bawa arus
Udah eh, kalo diterusin bisa lebih dari 5 bab
Serius ya ini lucu, di skripsi aku masukin moto "tidak membenci di antara orang-orang yang membenci" tapi sepanjang jalan berangkat-pulang kerja pikiranku penuh kebencian sama si "dia" yang celakai adeku
Anying👎
Oke cukup sekian, sekali lagi maafffff, semoga bisa cepet update bab 42, otw ngetik walau si Akira ini lelet🗿
Terima kasih untuk kalian semua yang telah mendukung Neroluce sampai bab 41 ini, lop yu
Biasanya aku suka bawel ni sama adeku gini "De, ada yang vote jenjen" atau "De, ada yang komen tanpa open feedback anjai"
Maksudnya, kan kalo feedback emang kita saling kasih dukungan, tapi kalo ada pembaca datang sendiri berarti cerita kita berhasil menarik perhatian pembaca, kan?
Thank youuuuu lop yu see you!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top