⿻⃕⸵Chapter XL ៚݈݇

Malam berganti pagi. Untungnya setelah berguling-guling, duduk, tiduran, berguling lagi, duduk, dan tiduran lagi, akhirnya Zen bisa tidur pulas. Matahari mulai mengintip dari daerah Timur, embun pagi yang menyegarkan mulai menyelimuti rerumputan. Nyamyian hewan malam yang merdu mulai mereda.

Sementara itu, Alwen baru saja membuka tirai jendela di kamar Zen (kamar tamu Kerajaan Luminosa), membiarkan cahaya matahari itu masuk dan menghangatkan seisi ruangan. Kemudian ia membangunkan Pangeran kita, Zen.

"Pangeran, ini sudah pagi, waktunya bangun. Lekas bersiap, setelah itu kita akan berangkat," ucapnya.

Zen menggeliat dalam tidurnya, menarik selimut hingga menutupi wajah, dan berbalik membelakangi Alwen. "Sebentar lagi ... beri aku 5 menit ...." Suaranya pelan, nyaris tak terdengar karena kepalanya di dalam selimut.

Alwen menarik selimut hangat itu seraya berkata, "Tidak ada 5 menit. Anda harus bangun sekarang, Pangeran!" Wajahnya masih sama seperti biasa, tenang dan berwibawa, tapi ... tampaknya sedikit lebih galak dari sebelumnya. Bukan galak, hanya ... tegas, lebih tegas dari biasanya.

"Ayolah sebentar saja," mohon Zenn yang berusaha mengambil kembali selimutnya, tetapi tidak berhasil. Zen menghela napas malas, sudah lama ia tidak tidur di kasur yang empuk seperti ini.

Persetan ia Pangeran asli atau bukan, sudah cukup Zen memikirkannya semalaman. Yang jelas, Luce telah membawa Zen ke dunia sihir ini, menjadikannya Pangeran dan memberi tanggung jawab. Sudah ia putuskan, untuk apa takut? Toh semua yang terjadi padanya ini adalah impian yang selama ini dibayangkannya. Lagi pula, Zen selalu percaya pada 'Happy Ending'.

Yahh ... semoga happy ending itu berlaku padanya.

Karena selimutnya diambil, Zen meletakkan tangan kirinya di atas kelopak mata agar silau dari sinar matahari tak mengenai matanya. Tapi kemudian, Alwen berucap lagi, "Tugas saya di sini bukan untuk memanjakan Anda, tapi untuk membimbing dan melatih agar Anda siap saat-"

"Saat melawan Azrael satu bulan setengah lagi, iya kan?" Zen memotong ucapan Alwen. Tangannya masih menutupi mata.

"Jika Anda tidak siap, Anda bisa saja-"

"Jika aku kalah dan mati di dunia ini, maka aku akan benar-benar mati dan tidak bisa kembali ke duniaku. Aku sudah tahu. Kumohon, beri aku waktu. Dua menit lagi aku keluar." Lagi-lagi Zen menyela ucapan Alwen.

Alwen diam sejenak, sebelum akhirnya menyerah dan meninggalkan Zen sendirian di kamarnya. "Baiklah." Alwen berjalan ke arah pintu, tangannya memegang gagang pintu tapi langkahnya terhenti. "Jika dalam 2 menit Anda tidak keluar, saya akan kemari lagi dan memaksa Anda bangun."

Zen masih pada posisinya, terlentang di kasur dengan mata tertutup sambil mengangkat tangan kanannya dengan ibu jari menghadap ke atas, membentuk jempol. Setelahnya, Alwen pun keluar.

Setelah Alwen benar-benar menutup pintu, Zen menurunkan tangan kirinya, kini ia menatap langit-langit di kamarnya, seperti tadi malam. Dengan suara pelan, Zen berucap, "Padahal kan mau kalah atau menang aku memang sudah sekarat."

Mengingat racun dari luka tusukan yang Reno berikan ketika Zen masih di Kerajaan Luce terkadang kambuh, menjadi beban lain di pikirannya. Ditambah cerita dari Alicia yang bermimpi tentang kematiannya. Jujur saja, hal itu membuatnya sedikit takut.

⿻⃕⸙͎

Sementara itu, di Nerobuio, Azrael tengah duduk di singgasananya dengan bosan. Ia tidak sabar. Menunggu satu setengah bulan terasa seperti berabad-abad, padahal umurnya sendiri telah lebih dari setengah milenium.

"Hormat pada Yang Mulia." Agares datang dan membungkuk hormat, kemudian bangkit lagi setelah Rael berdehem.

"Apa laporanmu?" tanya Rael acuh tak acuhacuh sambil menopang pipinya.

"Para Troll telah sepakat bergabung dengan kita. Menurut pengamatan Vyria dan Nell, rombongan kerajaan itu sedang menuju ke Timur Laut," jawab Agares, tatapannya fokus ke depan, penuh keseriusan.

"Timur Laut?" Rael bergumam. "Aku sudah menantang perang begini, kenapa mereka malah pergi ke Timur Laut? Mereka tidak menyiapkan pasukan?" Rael terdiam sesaat. Sejak hari kebebaasannya, ia selalu merasa ada yang janggal. Dirinya-dalam arti jiwa Nero-masih terhubung dengan jiwa Luce, tetapi ia juga merasa ada jiwa lain. Jiwa yang asing, tapi juga familier, yang mana sebenarnya itu adalah jiwa Zen dari dunia tanpa sihir. Rael bisa merasakannya.

Rael meletakan ibu jari dan telunjuknya di dagu, seperti orang dengan pose berpikir. Ia terus memikirkan siapa jiwa asing namun familier yang dirasakannya itu? Di mana ia pernah bertemu? Kapan? Kenapa jiwa itu bisa berada di wadah yang ia siapkan untuk Luce?

"Menurutmu, apa jiwa yang sudah kumakan bisa tiba-tiba ada lagi?"

⿻⃕⸙͎

Matahari kian meninggi, embun pagi pun telah lenyap. Seharusnya Zen sudah berangkat dari tadi, tapi kini mereka justru masih berada di depan gerbang Istana Luminosa. Roen berwajah masam, menatap Xander. Sedangkan yang ditatap hanya diam sambil sesekali tersenyum seolah memamerkan puppy eyes-nya.

Yahh ... keterlambatan ini gara-gara Xander yang telat bangun dan lama sekali di waktu mandi. Sebenarnya itu semua Xander lakukan dengan sengaja karena ingin menikmati lebih banyak waktu di istana, yang jauh lebih nyaman, aman, hangat, dan jauh lebih sempurna dibanding bermalam di hutan.

Alwen berkata, "Pangeran-"

Namun, Roen menyela tiba-tiba. "Xander! Jika kau memperlambat perjalanan kita lagi, maka aku akan memberitahu Yang Mulia agar ayahmu mengirim orang untuk menjemputmu kembali ke Istana!" ucapnya tegas.

Xander tersentak sesaat. Walaupun perjalanan ini melelahkan, tapi ia tidak mau jika harus kembali ke Istana Luce. Apa kata orang nanti jika mendengar kabar tentang pangeran yang dikirim pulang di tengah misi? Bisa-bisa mempermalukan namanya.

"Iya, baiklah, aku mengerti. Aku mengaku salah dan tidak akan kuulangi lagi, maafkan aku," kata Xander pasrah. "Ayo berangkat!" Xander berusaha menyudahi topik yang menyalahkannya.

"Tunggu dulu, Raja Axton bilang akan mengirim salah satu putranya untuk mengantar kita sampai ke pelabuhan," ucap Alwen.

Kemudian saat itu juga seorang lagi datang dan bergabung dengan rombongan, seorang pemuda sepantaran dengan Roen, berambut perak dengan iris emerald, terlihat seperti salinan dari Pangeran Edward yang waktu itu ikut rapat di Kerajaan Luce, hanya saja yang ini sedikit lebih muda. Sebelah pedang besi berkilau menggantung di pinggangnya. Anak itu berlari kecil menghampiri rombongan Zen.

"Maaf aku terlambat," ujar anak itu sembari membungkuk, lalu kembali berdiri tegak. "Lama tidak berjumpa, Pangeran Zen," sapanya ramah.

"Ah, iya, sudah lama sekali ya ...." Zen berkata demikian, meskipun sebenarnya ia tidak tahu siapa orang yang menyapanya itu. Luce tidak mengatakan apa pun tentang Karl.

Pemuda perak iru tertawa kecil, lalu memperkenalkan diri, "Namaku Karl, putra ketiga, anak kelima Raja Axton."

Setelah perkenalan singkat, kemudian mereka segera menaiki tunggangan masing-masing, Zen dan dengan kucing-kucing istimewa pemberian Kerajaan Animare, dan Karl dengan kuda coklatnya nya yang gagah.

Karl menarik tali kekang kuda, membuat hewan berkaki empat itu mengangkat dua kaki depannya sembari menyerukan suara khas seekor kuda. Namun, ketika mereka baru hendak melangkahkan kaki ....

"Tunggu! Kumohon tunggu!" Suara nyaring itu berasal dari kereta kencana di luar gerbang istana, gadis bersurai pirang itu melambai dari jendela kereta.

"Alicia?" ucap Zen, matanya menyelidik pada gadis dalam kereta kencana yang semakin mendekat itu, hingga akhirnya kereta itu berhenti di depan gerbang Istana Luminosa, dan gadis itu memang Alicia.

Setelah menurunkan penumpang, kusir kereta itu kembali memecut kuda, menyingkir dari jalan sang rombongan. Alicia langsung menghampiri Zen dan memeluknya. "Aku mohon ... izinkan aku ikut ...," ucapnya gemetar.

"Alicia, ada apa? Kau mimpi buruk lagi?" tanya Karl, raut wajahnya khawatir.

Alicia melepas pelukannya, lalu mengangguk pelan. "Mimpi itu selalu menghantuiku setiap malam. Kumohon, izinkan aku ikut mengantar kalian ... setidaknya sampai ke pelabuhan ...."

"Ini bukan misi pariwisata, Alicia," ujar Karl.

"Jangan khawatir, aku bisa bela diri. Kau tidak perlu melindungiku, Karl.

" Tapi-"

"Kumohon, Zen ... aku janji, aku tidak akan merepotkan kalian. Aku hanya ingin terus melihatmu, kuharap mimpi itu tidak mendatangiku lagi ..."

Zen melirik Alwen. Seolah matanya bertanya, apa boleh kita mengajak seorang gadis dalam kelompok perjalanan ini? Sebelumnya memang ada Helene, tapi dia memang seorang wanita petarung. Sedangkan Alicia lebih terlihat seperti putri kecil yang tak pernah pergi jauh dari sarangnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk mencari pengalaman. Ini perjalanan yang serius.

"Keputusan ada di tangan Anda, Pangeran. Kita harus segera berangkat," kata Alwen. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya tajam seolah menegaskan bahwa waktu mereka terus terkuras sepanjang mereka berbincang di sini, mereka harus segera berangkat.

Zen berpikir sejenak, kemudian berkata, "Baiklah. Kau boleh ikut, tapi hanya sampai ke pelabuhan. Setelah itu kau harus kembali ke kediamanmu bersama Pangeran Karl."

Alicia tersenyum, sekali lagi ia memeluk Zen. "Terima kasih."

Tak bisa dipungkiri bahwa jantung Zen cukup berdegup kencang sekarang, ia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh gadis seusianya di dunia tanpa sihir. Yahh ... tapi Zen berusaha menutupi itu semua. Ia pun membalas pelukan Alicia, mengelus rambutnya yang lembut dan harum.

"Sebaiknya jangan ada hambatan lagi sekarang, waktu terus berjalan sedangkan kita masih di sini tanpa pergerakan. Cepat! Kita berangkat sekarang!" Roen mengkomando.

Setelah Alicia naik ke kuda Pangeran Karl, perjalanan baru kembali dimulai. Sekali lagi kuda coklat itu meringkik sebelum akhirnya mulai berlari, melewati gerbang besar pembatas antara Istana Luminosa dengan perkotaan di depan sana, bersamaan dengan matahari yang terus meninggi.

Kali ini mereka akan lewat jalan utama, meskipun tunggangan istimewa mereka akan membuatnya me jadi pusat perhatian sepanjang jalan. Jalan ini jauh lebih cepat dan aman dibanding menyusuri pinggiran kota yang berupa hutan tempat para bandit bersemayam.

Bukan hanya rombongan Zen yang berangkat, Vyria dan Nell juga segera menyusul.

"Mereka sudah bergerak. Ayo jalan!"

⿻⃕⸙͎

#Chapter XL

Halooo!
Hwhwhwhh ... kenapa Akira begitu leletttttt? Harusnya bab ini masuk update bulan Mei, malah jadi 1 Juni😔
Udalah updatenya lelet, alurnya pun lelet

Terima kasih untuk kalian semua, dan ...

See you!!
Jangan lupa vomentnya:3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top