Chapter 9

Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!

Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂

^_^ Happy Reading 😁

-_Mr. Charming Alexanders_-

Setelah beberapa bulan tinggal bersama dengan Samuel di Paris, Alice begitu bahagia. Samuel, Alice dan Felix hidup bersama seperti layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia. Paris adalah kota lahir dan besarnya Alice, dia sudah tidak memiliki kedua orang tua hanya tersisa adik perempuannya yang masih tinggal di Paris. Alice sendiri sering berpergian karena job pekerjaannya sebagai model sebelum kembali ke Paris. Sedangkan adiknya yaitu Karina bekerja sebagai Accounting di perusahaan Head Office S'Alexanders Company yang bergerak di bidang properti milik Samuel.

Alice ternyum seperti orang bodoh. Dia sangat bahagia ketika mendengar Samuel memilih Paris sebagai tempat tinggal mereka dan memindahkan seluruh Head Office S'Alexanders Company dari New York pindah ke Paris.

Keseharian Alice hanya berbelanja, nongkrong di cafe, makan di restoran, merawat diri di spa, bermain dengan Felix. Felix juga di berikan beberapa orang untuk menjadi baby sitter-nya. Menjadi pasangan orang kaya adalah sebuah anugerah. Semua keinginannya terwujud. Membeli pakaian, tas dan heels terbaru dari berbagai merk ternama sudah menjadi makanan sehari-harinya. Samuel begitu memanjakan Alice dengan uangnya. Perempuan mana yang tidak bahagia jika di perlakukan seperti itu.

"Alice ayo kita berbelanja tas terbaru dari Hermes" Ucap Karina adik Alice.

"Jangan kamu gunakan lagi credit card Samuel untuk membeli tas untukmu. Gunakan saja tasku di penthouse. Lagian aku juga jarang berpergian sekarang" Ucap Alice mengikuti tarikan tubuh adiknya menuju store Hermes.

"Baiklah aku akan menggunakan milikmu tapi ini permintaanku terakhir aku ingin memiliki edisi ini. Edisi terbatas hanya 5 di dunia. Ayolahhh Alice kamu pasti tidak setega itu padaku kan" Ucap Karina dengan puppy eyesnya. Karina adalah keluarga yang hanya di milikinya saat ini selain Felix ataupun Samuel, tentunya dia sebagai kakak berusaha memberikan yang terbaik untuk adik satu-satunya itu.

"Baiklah. Tapi janjilah padaku ini terakhir kalinya memintaku membelikan tas untukmu" Membuat Karina mengangguk semangat. Melihat sifat ceria Karina membuat Alice membalas senyumannya senang.

"Padahal tasku saja sudah beberapa lusin di pajang dalam penthouse. Itupun banyak yang belum pernah kugunakan" bisik Alice pada dirinya sendiri.

Setelah apa yang diinginkan di dapatkan. Karina tersenyum senang sambil menenteng goodie bag dengan logo merk terkenal itu. Selanjutnya mereka pergi ke salah satu restoran paling terkenal di Paris. Signorvino Paris, restoran dengan tema klasik ala kerajaan. Tempatnya pun cukup mewah di dalamnya terdapat rak khusus anggur dengan anggur tahun-tahun lawas.

Alice dan Karina sudah memesan makanan dan pelayan pun menyiapkan sebotol anggur mahal dari tahun 1955. Keduanya menyantap makanan dengan tenang.

"Apakah sudah ada perkembangan hubungan antara kamu dan Samuel?" Tanya Karina membuat Alice tersedak.

"Tampaknya Samuel masih belum ingin meresmikan hubungan kalian ya? Padahal jelas-jelas Felix adalah anak biologisnya. Apa sih yang membuat Samuel tidak memberikan kepastian. Ini sudah tiga tahun kebersamaanmu dengan Samuel. Cukup lama untuk orang yang tinggal bersama tapi tidak memiliki ikatan pernikahan" Ucap Karina sedikit jengkel pada Samuel.

Benar Samuel memenuhi seluruh kebutuhan Alice dan Felix bahkan Karina juga namun bukan berarti dia bisa menggantungkan perasaan kakaknya yang sangat mencintainya. Sudah cukup tiga tahun ini tidak ada kepastian.

"Aku akan berbicara dengannya jika dia sudah berada di penthouse" Ucap Karina final melihat kakaknya yang masih sabar atas perlakuan Samuel yang tidak ada kejelasan.

"Sudah tidak perlu. Dia memenuhi kehidupan kita aja sudah bersyukur" Balas Alice menepuk pelan pipi Karina dengan sayang.

"Tidak. Aku akan tetap harus berbicara dengannya mengenai hubungan kalian kedepannya" Keras kepala Karina membuat kakaknya menghela nafas lelah. Alice sebagai kakak pasti akan mengalah dengan kekeras kepalaan adik satu-satunya itu.

Tak lama datang seorang lelaki tampan mendekat kearah meja Alice. Tiba-tiba lelaki itu mengambil tangan kanan Alice dan menciumnya. Alice terlalu terkejut hingga dia sama sekali tidak berbuat apapun.

"Siapa kamu?" Tanya Alice shock. Bahkan tangannya masih berada di genggaman hangat lelaki itu.

"Perkenalkan aku Lucius nona cantik" Ucap lelaki bermata abu-abu yang memiliki rambut senada dengan mata indahnya. Alice sedikit terhenyak kala melihat senyuman manis dari lelaki yang bernama Lucius itu. Tubuh atletisnya berkulit coklat eksotis dengan tubuh tinggi begitu tampan. Benar-benar tipe idealnya.

Semburat merah begitu muncul di wajah Alice tanpa di sadarinya membuat orang bermata biru dari kejauhan menggeram marah. Tangannya tekepal keras melihat Alice malah tersipu dengan lelaki lain.

"Sialan Lucius" Teriak marah Samuel tiba-tiba menojok Lucius yang masih berlutut di samping tempat duduk Alice. Tubuh Lucius tersungkur di lantai.

Lucius memeriksa pipinya yang di tonjok Samuel. Terdapat darah di tangannya, dia tersenyum miring kepada Samuel yang menatapnya marah.

"Ahhh ternyata gadis ini milik tuan Alexanders? Bagaimana dengan Grace?" Tanya Lucius sambil tersenyum mencemooh, dia kemudian bangkit dan berdiri di hadapan Samuel.

Lucius menatap seakan menunjukkan perlawanan pada lelaki di hadapannya. Samuel tidak mengeluarkan sepatah kata pun membuat Lucius tersenyum lebar. Alisnya terangkat sebelah seakan mencari kepastian dari raut wajah Samuel.

"Ahhh ternyata pilihanmu tetap bersama gadis ini di bandingkan dengan Grace. Baiklah jika seperti itu Grace akan menjadi milikku" Ucap Lucius tersenyum miring meremehkan Samuel.

Samuel tampaknya memendam amarahnya, mereka berada di tempat umum, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi dan membuat harga saham perusahaannya kembali turun karena berita hangat jika pemiliknya terkena skandal.

"Goodbye Alice manis" Ucap Lucius meremas pelan pundak Alice, dia pun memberikan kedipan genit pada Alice kala Lucius menjauh dari mereka. Lagi-lagi Alice tersipu malu ulah Lucius barusan.

"Kamu mengenalnya?" Tanya Samuel pada Alice dengan tatapan menyelidik. Alice menggeleng lemah.

"Jangan terlalu dekat dengannya. Dia adalah anak kartel terbesar di Las Vegas. Banyak berita tentang dia menculik para wanita sebagai hiburannya dan tubuh para wanita itu di temukan tidak bernyawa" Samuel mengetatkan rahangnya karena berani-beraninya Lucius menggoda Alice. Tidak cukupkah dia bersama Grace sebelumnya membuat tubuhnya mendidih apalagi sekarang yang di dekati adalah Alice.

Samuel berusaha tenang dan menghilangkan rasa marah di dirinya dengan mengatur nafasnya.

"Sam, apakah aku boleh bertanya?" Ucap Karina dengan nada sedikit bergetar karena aura Samuel begitu menyeramkan saat ini.

"Tanya saja" Ucap Samuel dengan nada dingin. Mata biru itu begitu menusuk melihat Karina.

"Ini sudah tiga tahun kebersamaan kamu dengan Alice. Apakah tidak ada niatan kalian untuk ke jenjang serius. Lagi pula Felix juga sudah besar" Ucap Karina dengan nada yang semakin lama semakin mengecil. Keberanian yang tadi di milikinya begitu menciut jika berhadapan langsung dengan sang most wanted wanita di dunia.

"Jadi kamu selama ini berharap jika aku hidup bersama dengan Alice, aku akan menikahinya?" Tanya Samuel dengan nada tajam begitu menusuk bagi Karina.

"Maaf aku tidak akan menikahinya. Aku disini bersama kalian karena bertanggung jawab pada Felix dan kalian. Kurang apa aku dengan kalian? Kemewahan sudah ku berikan, semua keinginan kalian aku wujudkan dan kalian masih berharap padaku untuk menikahi Alice? Kalian terlalu banyak berharap padaku" Samuel langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Alice dan Karina dalam suasana canggung. 

Alice yang mendengar semua perkataan kejam Samuel hanya bisa menangis. Ia tak menyangka pilihan Samuel tetap tidak bersamanya walaupun selama ini seluruh kasih sayang sudah dia berikan.

Karina langsung menepuk-nepuk pelan punggung Alice berusaha meringkan kesedihan kakaknya.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Lelaki bersuit biru dongker itu begitu tampan. Pakaiannya begitu serasi dengan warna biru matanya. Di sampingnya terdapat lelaki juga bertubuh khas korea. Mata hitam sipit dengan kulit putih. Itu adalah Samuel dan Kenzo -tangan kanannya. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah balkon hotel menatap di bawah sana terdapat orang yang sibuk melakukan photo shoot dengan tema swimming pool.

"Ganti gaya" Ucap sang fotografer pada sang model yang hanya memakai bikini diatas angsa karet di tengah kolam renang. Model itu berganti gaya dan membuat fotografer itu puas melihat hasil jepretannya.

"Terimakasih atas kerjasamanya" Ucap fotografer sambil bertepuk tangan mengundang para kru pemotretan turut bertepuk tangan juga menandakan sesi pemotretan telah usai.

"Kamu sangat hot Grace sayang" Ucap sang fotografer mendekat kearah Grace dan mencium pipi Grace.

"Kamu berlebihan Julian" Grace tersenyum sambil menerima sebuah selimut yang di berikan Stella padanya menutup tubuhnya yang hanya menggunakan bikini kuning.

"Setelah ini ada sesi pemotretan lagi?" Tanya Grace pada Stella.

"Tidak ada. Besok waktunya libur dari bekerja" Balas Stella heboh sambil bertepuk tangan, Grace yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

"Aku sudah lelah karena begitu padat jadwal pemotretanmu sebulan ini. Aku harus bertemu dengan kasurku" Keluh Stella sambil duduk di sebuah bean bag di pinggir kolam renang yang diikuti oleh Grace di sebelahnya.

"Ini makanan untukmu Grace" Ucap Naomi membawakan makanan dan di taruh di atas meja di hadapan Grace.

Grace cemberut kala harus melihat semangkuk salad yang dibawakan oleh Naomi.

"Apakah tidak ada makanan enak yang lain. Aku sudah lelah menjadi kambing" Keluh Grace tak bersemangat. Tangannya pun menusuk salad itu dengan garpu agak terpaksa.

"Tubuhmu akhir-akhir ini semakin gemuk karena kamu terlalu sering makan daging grill, jadi kamu harus menurunkan berat badanmu lagi" Balas Stella memandang Grace galak.

"Hehe maafkan aku" Ucap Grace merasa bersalah.

 "Jangan salahkan aku, tapi salahkan nafsu makanku ketika ingin menstruasi pasti lebih banyak dari biasanya" Grace tersenyum memamerkan gigi ratanya. Sedangkan Stella hanya berdecak sebal melihat modelnya satu ini membuat sakit kepala.

"Kemana William?" Tanya Grace mengalihkan pembicaraan.

"Entahlah mungkin dia sedang berburu lelaki tampan yang bisa diajak tidur malam ini" Ucap Naomi menggendikkan bahunya.

"Tuan, anda seperti ini selama tiga tahun belakangan ini. Tuan tidak berani menghampiri nona Grace. Kita seperti stalkernya menguntiti kemanapun dia berada" Ucap Kenzo pada Samuel. Kenzo berada beberapa langkah di belakang Samuel menjaga jarak dengan bos besarnya.

Dia cukup mengeluh pada tuannya mengapa rela menjadi penguntit Grace, dia harus melacak dimanapun keberadaan Grace dan berakhir seperti ini. Memandangi Grace dari kejauhan adalah hal yang di senangi tuannya. Tentunya Grace tidak akan mengetahui keberadaan Samuel walaupun di ikuti kemanapun.

"Apakah dia bahagia saat ini Ken?" Lirih Samuel menatap gadis yang menjadi favoritnya di bawah sana. Dia cukup bahagia Grace di kelilingi oleh Stella dan Naomi yang sangat perduli dengan Grace. Untuk William? Samuel juga merasa aneh ketika melihat lelaki kemayu satu itu.

Entah ini pertanyaan yang keseratus kali yang di lontarkan oleh tuannya padanya. Setiap pertanyaan itu terlontar Kenzo hanya bisa terdiam tidak tau harus membalasnya apa.

Otaknya kembali ke masa lalu saat Kenzo memberikan lembaran kertas berisikan informasi tentang Alice secara terperinci. Ia sangat ingat sekali matanya membulat sempurna kala membaca baris demi baris. 

Dia mendengus kesal karena memang benar apa yang di katakan Chris tentang Alice adalah benar. Sifatnya sangat persis dengannya dulu bergonta ganti pasangan tidur demi experience baru. Sebagai trophy jika berhasil tidur dengan wanita cantik dimanapun. Hal yang paling mengejutkan ternyata semua teman kencan Alice adalah pembisnis kaya dan para pejabat tinggi di dunia. Tentunya dia juga dimanjakan dengan kekayaannya seperti saat ini yang di lakukan Samuel. 

Ada maksud terselubung karena Alice akan menempeli setiap lelaki kaya dengan kecantikannya semua demi kenyamanan hidup high class-nya. Samuel hingga saat ini tentu masih memanjakan Alice dengan uangnya, dengan seluruh kekuasaannya. Ia ingin melihat sampai dimana Alice bisa bertahan sebelum semua kelakuan busuknya akan terbongkar. Lagi pula Samuel tidak akan bisa bangkrut cuma karena Alice yang selalu menghambur-hamburkan uangnya.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Besok waktunya libur pemotretan. Stella, Naomi dan William kembali dengan kesibukan masing-masing menikmati liburan esok hari.

Saat ini Grace sedang berada diatas kasur dengan posisi meringkuk seperti bayi di dalam selimutnya. Pasalnya kram perut hari pertama haid sangat tidak menyenangkan, apalagi Grace tipikal yang selalu terlambat dari jadwal haid seharusnya membuatnya setiap kali haid terasa lebih menyakitkan.

Keringat dingin pun membasahi peluh Grace, pinggangnya juga rasanya seperti mau patah. Sekedar untuk bergerak saja sakit.

Perutnya berbunyi. Dia sangat lapar pasalnya terakhir makan waktu tadi siang selepas sesi pemotretan dan itu hanya makan salad sayur yang di bawakan oleh Naomi. Mata abu-abunya melirik jam menunjukkan pukul 11 malam. Tangannya mengambil ponselnya diatas nakas lalu membuka aplikasi delivery.

Bibir pucat Grace mendesah kesal kala pengiriman makanan malam itu sekitar 1 jam an sedangkan perutnya benar-benar lapar. Alhasil Grace memutuskan turun dari apartemen. Di beberapa blok gedung dari apartemennya ada yang menjual ayam goreng 24 jam.

Grace memakai hoodie hitam dan celananya masih menggunakan celana satin panjang berwarna hitam juga. Tak lupa dia menggunakan kupluk hoodienya agar tak di kenali oleh paparazzi. Setelah selesai dia pun turun menggunakan lift.

Bulir-bulir keringat efek samping dari kram perutnya semakin menjadi. Membuat Grace langsung berjongkok untuk mengurangi rasa sakitnya di dalam lift yang kebetulan hanya dia menggunakan liftnya.

Tiba-tiba suara dentingan lift berbunyi menandakan ada orang yang masuk dan menggunakan lift bersamaan dengannya. Spontan Grace langsung berdiri seakan baik-baik saja.

Kram di perutnya begitu nyeri bahkan sekarang sakitnya merambat pada pinggang belakangnya. Tangan Grace mencengkram keras pegangan besi di dalam lift menyalurkan kesakitannya. Wajah pucatnya semakin pias.

"Kamu sakit?" Ucap seorang lelaki yang berada di depannya tanpa menoleh kearah Grace sedikitpun.

"Tidak tuan, aku baik-baik saja" Ucap Grace pura-pura tidak apa-apa. Ia sedikit tersenyum walaupun dia pasti merasa lelaki di hadapannya ini tidak bisa melihat jelas wajahnya. Rambut panjang dan hoodie nya menutup sebagian wajahnya.

"Tapi kamu begitu pucat. Atau perlu aku mengantarkanmu kerumah sakit?" Tanya lelaki itu tanpa bergeming. Lelaki itu melihat Grace dari pantulan dinding stainless yang berada di dalam lift.

Sepertinya Grace mengenali tubuh dan suara ini namun otakknya begitu lemot karena rasa sakit ini mengalihkan perhatiannya.

"Akhhhh" Grace berakhir dengan berlutut sambil memegang perutnya yang sakit.

"Grace!" Teriak lelaki tadi yang kini sudah berbalik dan menghadap Grace.

Mata abu-abu Grace membulat tak percaya dengan orang di hadapannya. "Samuel" ucap Grace sedikit getir.

"Aku akan mengantarmu kerumah sakit" Ucap Samuel langsung menggendong Grace. Namun Samuel tertahan karena Grace menggenggam lengan Samuel.

"Tidak boleh kerumah sakit. Nanti akan masuk berita dan seperti kamu tau para wartawan selalu melebih-lebihkan berita" Ucap Grace lemah masih di pelukan Samuel.

"Lagi pula aku tidak ingin di sangkut pautkan atas beritamu dengan Alice lagi" Tambah Grace tersenyum lemah, dia memperlihatkan jika dia berpura-pura baik-baik saja.

"Aku hanya kram haid. Lebih baik kembali ke apartemenku" Ucap Grace lagi.

Samuel langsung memencet lantai dimana apartemen Grace berada. Dia bahkan memasukkan kode sandi smart door lock apartemen Grace. Setelah berada di dalam Samuel langsung menaruh tubuh Grace diatas tempat tidur dan menyelimutinya.

Grace hanya pasrah dengan semua yang di lakukan Samuel. Tenaganya entah menguap kemana hanya meninggalkan rasa sakit yang di deritanya.

Tak lama Samuel datang dengan baskom di tangannya.

"Ini air hangat. Di kompreskan pada bagian perut yang sakit. Jika airnya sudah dingin kamu bisa memintanya kepadaku" Ucap Samuel lalu pergi melengos begitu saja entah kemana.

Grace memandang penuh arti kepergian Samuel.

Mengapa dia tiba-tiba bisa berada di tower yang sama dengan apartemenku? Pikir Grace. Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupannya jika itu bersangkutan dengan Alexanders.

Samuel pergi ke dapur dan melihat rice cooker yang tersambung dengan listrik. Dia tersenyum, ternyata sesibuk apapun Grace masih menyempatkan diri untuk memasak nasi.

Tangan kekar itu membuka isi kulkas. Mata birunya melotot kala isi kulkasnya begitu rapi tapi semua sayur sudah layu bahkan busuk. Sekaleng daging tunanya pun sudah expired. Susunya pun sudah basi.

Samuel mendecak karena kejorokan Grace. Entah sudah berapa lama Grace tidak berada di apartemen sehingga mengecek barang-barang di kulkas pun tidak sempat.

Samuel berbinar kala melihat 5 butir telur. Setidaknya telur bisa menjadi bahan tambahan untuk bubur yang akan di buatnya.

Karena sudah di pastikan telurnya juga telur lama membuat Samuel menyenteri dengan flashlight ponselnya pada telur itu mengecek apakah busuk atau tidak. 4 dari 5 telur semuanya busuk. Setidaknya ada satu telur yang terselamatkan.

"Makanlah" ucap Samuel menawarkan bubur yang di buatnya pada Grace yang masih berbaring.

"Terimakasih Sammy" ucap Grace dengan senyum lemahnya. Senyum itu membuat Samuel berdesir hangat. Sammy adalah panggilan sayang Grace padanya saat bersama dulu. Ingat ya itu dulu.

"Makanlah. Hanya ini yang bisa ku buat dari bahan dapurmu. Semuanya basi dan busuk tidak bisa di gunakan" sindir Samuel.

"Aku tidak kembali ke apartemen selama sebulan. Banyak sesi pemotretan dan baru besok mendapatkan libur" Ucap Grace mulai menyuapkan bubur buatan Samuel. Bubur polos yang di campur dengan telur cukup membuatnya lebih enakan.

"Kulkas perempuan seharusnya bersih dan rapi bukannya berantakan begitu, bahkan ada yang expired dan tak layak konsumsi juga" Samuel mengomeli Grace sambil menjitak pelan kepala Grace.

"Ish sakit tau. Sudah tau aku tidak bisa masak. Bahan-bahan itu di beli oleh Stella dan Naomi. Hanya mereka yang sering memasakkan untukku. Jika tidak ada mereka biasanya aku delivery makanan" Pembelaan Grace begitu masuk akal karena Samuel paham sekali pada wanita di hadapannya ini.

"Lalu mengapa malam-malam seperti ini keluar?" Tanya Samuel dengan nada dominan seperti biasanya. Grace langsung memutarkan matanya jengah.

"Ya kamu pikir aku tidak butuh makan? Aku ingin delivery namun memakan waktu sejam sedangkan aku sangat lapar sekali" ucap Grace kesal sambil mengambil suapan bubur agak kasar.

"Tapi bagaimana kamu tau nomor apartemenku dan sandi pintuku?" Tanya Grace dengan memicing. Samuel merasa salah tingah. Bukannya menjawab dia malah melakukan ini.

"Air kompresanmu sudah dingin kan? Akan ku ambilkan air hangat lagi" Ucap Samuel kabur dari pertanyaan Grace.

"SAMUEL JHON ALEXANDERS JAWAB AKU" Teriak Grace kala Samuel sudah pergi dari hadapannya.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Love, Jun-JunFish


SMD 30-10-25

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top