Chapter 23

Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!

Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂

^_^ Happy Reading 😁

-_Mr. Charming Alexanders_-

Grace sudah bangun dengan Tristan yang masih sigap disampingnya membantu jika dia membutuhkan bantuan Tristan.

"Baringlah. Tubuhmu masih lemah. Lihatlah kamu masih pucat" Ucap Tristan berusaha membaringkan kembali tubuh Grace.

"Aku sudah tidak apa-apa Tris" Ucap Grace bangkit dan berdiri di samping Tristan.

"Apakah Benjamin sudah mengetahui sakitku?" Tanya Grace agak was-was. Pasalnya dia takut Benjamin akan mengasihini-nya jika mengetahui Grace sedang sakit.

Tristan menggeleng. "Aku sudah mengalihkan perhatiannya dan sekarang dia sedang menjemput Chris dan Samuel"

Mata Grace begitu membulat ketika Tristan mengatakan jika Alexanders lainnya saat ini sudah berada di Monaco. "Mereka disini?"

"Benar, dalam rangka liburan bareng ke Dubai" Balas Tristan.

Grace mengehela nafas lelah. "Bukankah kalian sudah terlalu sering bersama. Apakah kalian tidak bosan selalu bersama? Kalian itu akan tetap bersama walaupun berbeda tempat. Kurasa seluruh negara pasti pernah kalian kunjungi" Ucap Grace sambil memutarkan matanya bosan.

Tristan kembali menggelengkan kepalanya. "Aku belum pernah ke Zimbabwe, aku rasa safari disana juga keren" Ucap Tristan memegang dagu sambil berpikir.

Grace menghela nafas kesal lalu meninggalkan Tristan dan Grace memutuskan untuk berdiri di depan pintu masuk hotel. Matanya melihat hiruk pikuk menjelang malam di negara ini.

Banyak orang hilir mudik melewati nya, banyak sport car yang baru datang untuk menginap di hotel yang sama dengannya. Dengan cekatan petugas valet membukakan pintu mobil mewah dan membantunya keluar dari mobil.

Old money adalah bau dari orang-orang yang baru saja tiba. Begitu cantik dan tampan serta elegan membuat Grace tanpa sadar tersenyum bahagia. Melihat suasana senang tanpa hiruk pikuk yang berisik adalah sebuah anugerah. Inilah hidup.

Beberapa anak muda bersender pada sport car miliknya masing-masing yang terparkir di pinggir jalan berbatasan langsung dengan air laut. Grace merasa mereka sepertinya melakukan pameran sport car seakan tidak mau kalah dengan orang-orang sekomunitasnya. Kakinya tanpa sadar berjalan menuju pagar pembatas antara jalanan yang dekat dengan pameran sport car pemuda tadi.

Lagi-lagi Grace tersenyum kala menikmati semilir angin laut dan bisa menatap pantulan bintang beserta benda langit dari air laut. Sangat indah bukan?

"Jangan sampai sakit, angin malam disini agak lebih dingin daripada di New York" Benjamin menyampirkan long coat nya pada tubuh Grace. Grace agak terkejut pasalnya dia kembali mengingat apa yang di lakukan Benjamin seperti yang di lakukan Samuel sebelumnya.

Grace tersenyum sambil mengembalikan long coat Benjamin. "Terimakasih sudah memperdulikanku. Aku rasa aku sudah cukup hangat" Ucap Grace sambil memamerkan pakaiannya. Pakaian yang dikenakannya adalah boots heels berbulu setinggi betis dengan celana panjang serta cardigan tebal berbulu.

Benjamin menerima kembali long coat nya yang di tolak oleh Grace lalu memakainya.

"Aku dengar tadi kamu menjemput Chris dan Samuel ya?" Tanya Grace pada Benjamin. Benjamin menjawabnya dengan mengangguk.

"Kenapa? Kamu merindukan Samuel?" Tanya Benjamin tidak suka. Grace menggeleng pelan saja.

"Dimana yang lainnya?" Tanya Grace lagi.

"Mereka sedang beristirahat di kamar hotel. Mereka kelelahan setelah bermain di yacht . Tapi besok kita akan menonton perlombaan Formula 1 jam 9 pagi" Ucap Benjamin sudan menghadap Grace di sampingnya.

"Aku sudah tidak sabar untuk menunggu besok" Balas Grace dengan excited. Pasalnya besok hari yang sangat di tunggu-tunggu. Ingatkah jika dialah yang meminta pergi ke Monako demi menonton perlombaan ini.

"Sebentar lagi ada luxury cars parade kamu ingin menonton?" Tanya Benjamin pada Grace. Tangannya bahkan berdekatan dengan tangan Grace yang sama-sama memegang pagar pembatas. Benjamin agak ragu ketika dirinya ingin menggenggam tangan Grace.

"Apakah akan di lakukan oleh pemuda-pemuda ini?" Tanya Grace sambil melirik yang tadi di maksudnya dengan pameran sport car dihadapannya. Benjamin mengangguk lagi.

Tak lama beberapa mobil dengan jenis yang sama datang ikut memeriahkan parade nanti. Grace pikir daripada hanya melihat parade mobil yang sering di lihatnya, lebih baik dia menuju ke suatu tempat.

"Ayo ikut aku" Ucap Grace langsung menarik tangan Benjamin yang di dekatnya. Keduanya pun berlari sambil bergenggaman tangan dengan erat. Benjamin tersenyum merasakan kehangatan tangan Grace, apalagi dengan keadaan berlari seperti ini rambut Grace yang berantakan bukan membuatnya telihat jelek malah terlihat sangat cantik.

"Jangan terlalu lelah, nanti kembali sakit" Ucapan Benjamin nampaknya diacuhkan oleh Grace. Mereka masih berlari dengan tersenyum, tentunya Benjamin bahagia bisa menuruti segala keinginan Grace apapun itu.

"Kita akan ke mana?" Tanya Benjamin masih mengimbangi langkah lari Grace.

"Casino de Monte-Carlo" Jawab Grace semangat.

Benjamin tertawa kecil melihat betapa semangatnya Grace ke casino paling terkenal di negara ini. Benjamin pasrah tubuhnya diseret oleh Grace. Mereka sudah melewati beberapa blok namun Grace merasa aneh, pasalnya dia merasa jika jalan yang saat ini di laluinya sudah di lalui. Grace terdiam sementara, seharusnya lokasi kasinonya sekitar sini tapi mengapa dirinya tidak melihatnya.

Benjamin tersenyum kecil merasa Grace agak lingung karena merasa salah jalan. "Ada apa Grace?" Tanya Benjamin pura-pura tak mengerti. Padahal jelas-jelas Benjamin yakin jika ini kali keduanya sudah berbelok ke blok yang sama.

"Aku tidak tau dimana kasino itu. Padahal jelas-jelas aku tadi sudah mengeceknya di gmaps hanya berjalan lurus dan belok kanan sekali pada blok pertama" Ucap Grace agak bingung. Grace menatap Benjamin dengan berharap Benjamin mengetahuinya karena Benjaminlah yang pernah kemari. Ini kali pertama bagi seorang Grace berada di negara mewah ini.

Benjamin tersenyum mengahadap kearah Grace karena sedari tadi genggaman mereka tidak terlepas. Bahkan dengan rasa percaya dirinya Grace akan membawanya ke kasino tapi malah dirinya sendiri yang tidak mengetahui pasti tempatnya. Benjamin langsung meminggirkan badannya dari padangan Grace yang menatapnya.

Tepat di balik punggung Benjamin terdapat penunjuk jalan ke arah kasino.

"Itu dia, kita akan kesana" Ucap Grace kembali semangat melihat petunjuk. Benjamin membalasnya tersenyum dengan mengangguk layaknya orang bodoh.

Grace kembali menarik tangan Benjamin dengan semangat. Jarak antara plang di depan dengan lokasi tepat kasino itu sekitar 500 meter. Selama berlari Grace melihat hilir mudik mobil mewah melewati mereka mengantarkan para majikan untuk bersenang-senang disana.

Yang membuat Grace tercengang adalah sekelas Justin Bieber saja masuk ke dalam kasino itu diantarkan dengan mobil van mewah, jangan tanyakan berapa harga mobilnya tentu saja Grace tidak mampu membelinya.

"Itu ada Justin Bieber" Tunjuk Grace dengan semangat. Mereka semakin mempercepat langkah mereka. Setelah tepat di pintu masuk mereka istirahat untuk menormalkan nafas mereka.

Benjamin menunjukkan sesuatu di balik dompetnya pada penjaga kasino itu membuat sang penjaga kasino menunduk hormat dan mempersilahkan Benjamin masuk. Grace menatap itu hanya terdiam saja. Lalu Benjamin mengulurkan tangannya kepada Grace menyuruh Grace untuk mengikutinya.

"Apa yang kamu tunjukkan kepada penjaga?" Tanya Grace agak heran.

"Aku menunjukkan ini" Ucap Benjamin sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

"Ini black card" Pekik Grace sambil menatap kearah black card Benjamin.

"Ini gunakan saja, beli apapun yang kamu inginkan" Benjamin menyerahkan black card nya di tangan Grace.

"Tidak! aku tidak ingin menggunakannya. Kamu pikir aku tidak memiliki uang?" Ucap Grace sambil menunjukkan kartu kredit platinum dari American Express. Kartu kredit ini tentu di bawah black card milik Benjamin.

Benjamin spontan langsung tertawa pasalnya sangat terlihat sekali Grace tidak mau mengalah dengannya.

"Ya walaupun aku belum sekaya kamu. Setidaknya dengan platinum card ini, strata sosialku sedikit diatas rata-rata" Grace tersenyum dengan bangganya.

Ia bertanya pada pegawai di kasino mengenai tempat night club nya berada. Dengan senang hati pegawai itu memberitahunya, jangan lupakan Grace selalu menyeret Benjamin untuk mengikutinya.

Disinilah mereka berada, hiruk pikuk suara dj terdengar padahal ini belum terlalu larut malam. Banyak sekali orang sedang duduk di table yang mereka pesan, tentunya tidak lupa juga dengan minuman alkohol sebagai teman santai mereka.

Grace menatap ke penjuru ruangan, begitu sesak dan berasap karena manusia-manusia memenuhi ruangan ini.

"Uhukk uhukk" Grace terbatuk kala asap dari ruangan ini begitu menyengat di tenggorokannya. Entah jenis tembakau apa yang digunakan di negara ini sangat berbeda dengan New York.

"Sepertinya kamu tidak cocok dengan night club disini, lebih baik kita pergi" Benjamin sudah menggenggam balik tangan Grace, dia pun siap untuk membawa Grace keluar.

"Tidak apa-apa aku hanya agak tidak terbiasa saja. Lebih baik kita duduk di sana" Ucap Grace sambil menunjuk meja bartender yang kosong. Karena terlalu kaya, mungkin orang-orang ogah mabuk di meja bartender.

"Hai tampan, tolong racikkan minuman terbaik yang pernah kamu buat" Ucap Grace agak genit, sebelah matanya pun di kedipkan membuat sang bartender tertawa kecil.

"Baiklah nona cantik tunggu sebentar" Balas sang bartender.

Melihat keduanya berinteraksi agak membuat Benjamin kesal namun inilah sifat Grace yaitu senang menggoda lelaki tampan yang baru di lihatnya, Benjamin yakin Grace tidak memiliki perasaan pada orang itu. Benjamin saja yang sering bertemu Grace saja sangat susah mendapatkan hatinya.

"Nona apakah anda sangat kuat minum?" Tanya bartender tiba-tiba kembali ke hadapan Grace.

"Tentu saja. Aku paling kuat minum diantara teman-temanku" Sombong Grace.

"Jika kamu bisa menghabiskan segelas saja,  aku akan menggratiskan dirimu" ucap sang bartender.

"Tidak, aku sanggup membayarnya menggunakan ini" Grace yang sombong melemparkan platinum card nya diatas meja.

"Tidak. Aku akan membayarnya" Ucap Benjamin menaruh black card nya diatas kartu Grace.

Sang bartender semakin tertawa nyaring melihat perselisihan dua orang ini untuk membayar bill mereka.

"Tenang aku akan menggratiskan kalian karena gadis cantik ini,dengan catatan kalian sanggup untuk menghabiskannya." Balas bartender itu sambil melerai tawanya. Lalu berlalu pergi meninggalkan keduanya untuk melanjutkan pekerjaan lainnya.

"Aku rasa aku tidak ingin mabuk. Aku disini akan menjagamu" Ucap Benjamin jujur.

"Hei aku ini bisa menjaga diriku jangan pedulikan aku. Lebih baik kali ini kita bersenang-senang saja bagaimana?" Balas Grace.

Benjamin mengangguk saja tidak ingin memancing keributan dengan Grace. Tentu ia akan kalah jika adu keras kepala dengan Grace.

"Ini untuk nona dan ini untuk tuan" Bartender memberikan sebuah minuman berwarna blue ocean pada Grace tentu di terima dengan senang hati. Satu gelas dengan isi yang sama bartender itu memberikan kepada Benjamin. Benjamin mengucapkan terimakasih tanpa suara.

Grace baru menenggak satu tegukan, ia begitu terkejut dengan sensasi manis tapi berat di tenggorokannya.

Bartender yang sedari tadi menatap Grace karena ingin melihat reaksi Grace tentang minuman racikannya.

"Itu Spirytus Rektyfikowany aku beri perisa peach makanya terasa rasa manisnya" Ucap bartender itu tanpa merasa bersalah sesikitpun.

Grace tidak perduli apapun langsung menghabiskan minuman itu dalam satu tegukan. Benjamin awalnya ingin melarang Grace meminum itu karena kandungan alkoholnya begitu tinggi, bahkan bisa di katakan Grace meminum alkohol pembersih luka karena kandungan alkoholnya di 98%

Namun Benjamin terlambat dia hanya menyaksikan Grace menenggak secara perlahan. Benjamin menghela nafas lelah. Sepertinya bencana akan segera datang.

Tiba-tiba ponselnya berdering, itu panggilan dari Syauqi.

"Tolong jaga dia aku akan mengangkat telpon sebentar" Pesan Benjamin pada sang bartender lalu di balas dengan acungan 2 jempol.

Setelah sampai di toilet pria, Benjamin menelpon kembali Syauqi.

"Ada apa?" Ucap Benjamin agak kesal, padahal jelas-jelas dia sebelumnya meminta Syauqi untuk tidak menghubunginya malam ini.

"Maaf tuan ingin mengabarkan jika nona Ayla baru tiba di Monako" Jawab Syauqi dari seberang telpon membuat Benjamin saat ini tersiram air dingin.

"Bagaimana bisa. Dia seharusnya berada di Abu Dhabi" Geram Benjamin.

"Nona mengetahui jika anda saat ini berada di Monako maka dari itu beliau menyusul anda" Ucap Syauqi.

"Nona Ayla sudah berada Hotel de Paris, hotel yang sama tempat kita menginap tuan" Tambah Syauqi lagi.

"Sialan. Atur pertemuanku dengan Ayla sekarang juga, aku akan kesana" Benjamin menutup telpon Syauqi lalu jemarinya mengetikkan sebuah pesan untuk Tristan.

Grace agak celingak celinguk mencari keberadaan Benjamin di tengah mabuknya. Otaknya terasa berat setelah meminum alkohol.

"Sialan ini lebih berat dari absinte" Ucap Grace mulai meracau tak jelas.

"Hei tampan bisakah kamu membantu membukakan pakaianku? Aku dari tadi berusaha untuk melepasnya tapi tanganku terasa tidak ada tenaganya" Racau Grace pada bartender yang sibuk menyiapkan pesanan orang.

Grace berjalan mendekati panggung karena hanya di panggunglah sumber cahaya yang begitu menarik di matanya.

Kakinya berjalan gontai sedangkan tangannya membelah kerumunan orang agar dirinya bisa lewat.

"Hei tampan aku ingin memberimu tip banyak dengan syarat kamu menemaniku tidur malam ini" Grace langsung mengeluarkan lembaran uang USD dan di lemparkan pada sang dj.

Dj itu mengamati Grace dengan seksama, cukup cantik dengan tubuh proporsional. Walaupun pakaiannya tidak cocok dengan suasana night club. Tapi menurut sang dj dia cukup tertarik pada Grace.

Grace berada di barisan paling depan dekat dengan meja dj. Dirinya menari seperti orang gila menikmati alunan dj di ambang batas kesadarannya.

Di sisi lain terdapat seorang lelaki tampan sedang bernyanyi sambil menangis, tangannya yang memegang botol alkohol seakan botol itu adalah microphone.

"Aku lelah dengan semua ini, Ken" Tangis Samuel pada Kenzo tangan kanannya.

"Tuan sudah, jangan minum lagi. Tuan sudah cukup mabuknya" Ucap Kenzo yang entah berapa kali mengingatkan tuannya.

Saat ini mereka berada di kamar hotel Samuel, Kenzo hanya berdiri melihat apa yang di lakukan tuannya seperti orang tidak waras. Menangis sambil bernyanyi dengan tv yang memutarkan lagu karaoke.

Kenzo mendekat kearah Samuel dan ingin mengambil botol yang di pegang bosnya. Namun langsung di tahan oleh Samuel lalu memecahkan botol itu mengenai kepala Kenzo. Cukup sakit tapi sakitnya masih bisa di toleransi tubuhnya. Dia terlalu kuat untuk merasakan sakit sekecil ini.

Kenzo memeriksa kepalanya terdapat darah keluar dari kepalanya akibat pukulan dari Samuel. Benar botol alkohol itu pecah tapi setidaknya tidak ada isi di dalamnya. Hanya botol kosong.

"Kenapa lagi dia ini" Ucap Chris tiba di kamar hotel Samuel. Chris terkejut kala melihat kepala Kenzo mengalir darah.

"Pergilah, bersihkan lukamu agar tidak infeksi. Untuk urusan Samuel serahkan kepadaku" Usir Chris pada Kenzo. Kenzo menundukkan kepala hormat pada Chris lalu pergi.

"Samuel-Samuel. Jika patah hati seharusnya diungkapkan langsung pada Grace bukan malah mabuk-mabukan seperti ini" Mata biru Chris menatap Samuel yang masih sibuk bernyanyi mengikuti irama lagu yang terputar. 

-_Mr.Charming Alexanders_-

Love, Jun-JunFish


SMD, 5-11-25

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top