Chapter 22
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
Gadis itu sangat terkejut tak menyangka dia saat ini melihat kejadian yang membuatnya sangat shock. Secepat kilat langsung merubah ekspresi terkejutnya menjadi sebuah senyuman kejam.
"Hahaha. Apa perlu aku membantumu untuk menggundulkan kepalamu sekalian" Ucap gadis itu tanpa merasa bersalah. Karena ia melihat dengan jelas rambut Grace mengalami kebotakan dan tertolong oleh wignya.
"Perkenalkan aku Karina adik Alice" Ucap Karina sambil tersenyum bak iblis.
"Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Samuel setelah putus dengannya" Ucap Grace dengan berani walaupun keadaannya sedikit kacau.
"Aku tidak perduli dengan itu. Yang ku tau karena dirimu, Samuel tidak akan menikahi Alice. Seharusnya kamu mati saja dari pada hidup di dunia ini." Ucap Karina menjambak sisa rambut pirang pasir Grace. Tangannya mengarahkan wajah Grace pada westafel yang sudah di penuhi air. Tanpa aba-aba Karina memasukkan kepala Grace di dalam air beberapa detik. Air matanya keluar karena penyiksaan ini begitu menekan mentalnya karena sudah ada orang lain selain Kaitlyn, Chris dan Tristan yang mengetahui penyakitnya. Apalagi gadis yang mengetahuinya adalah adik dari musuh bebuyutannya.
"Aku sudah memberikan peringatan untukmu dengan mengirimkan kedua orang tuamu yang gila uang itu, tapi tampaknya ancamanku tidak berpengaruh padamu ya" Ucap Karina mengangkat kepala Grace supaya Grace mendengarkan ucapannya lalu kembali menenggelamkan kepalanya. Tangan Grace berusaha melepaskan cengkraman Karina namun cengkramannya begitu kuat karena tenaga Grace semenjak sakit semakin melemah. Rasa sakit di kepalanya kembali menyerangnya, kali ini sakitnya lebih sakit dari biasanya membuatnya mengerang nyaring.
"Kakakku terlalu lemah padamu, karena dia memiliki hati yang lembut. Dia bahkan tidak bisa memaksa Samuel untuk mencintainya. Padahal jelas-jelas Samuel adalah ayah kandung Felix. Dengan adanya kamu, Samuel tidak bisa menentukan pilihan yang tepat" Karina mengangkat kepala Grace lalu di lakukan secara berulang-ulang hingga tubuh Grace lemas tidak bisa memberontak sama sekali.
"Ini hukumanmu sebagai pengganggu kehidupan kakakku. Mulai saat ini aku tidak segan-segan untuk berbuat kasar padamu" Ucap Karina menghempaskan tubuh Grace yang lemas. Karina membuang wig Grace dan menginjaknya dengan ujung heels-nya dan berlalu pergi meninggalkan Grace.
Dengan tubuh yang lemah Grace berusaha menggapai wignya yang rusak dengan seluruh tenaganya. Dia kembali menangisi keadaannya. Ternyata Karina yang menjadi penyebab orang tuanya selalu mengetahui dimanapun tempat tinggalnya. Karina juga mengetahui keadaan paling terburuknya. Nafasnya kembali pendek-pendek akibat pergolakan mental dan fisik secara bersamaan.
Grace sudah tidak sanggup lagi menggapai wignya membuat Grace terlentang menatap langit-langit toilet dengan pasrah. Menikmati dinginnya air yang meresap pada kulit kepalanya, menikmati dinginnya granit toilet yang mengenai tubuhnya. Dia pasrah, dia ikhlas jika saat ini adalah saat terakhirnya. Rasa sakit ditubuh dan kepalanya begitu membuatnya muak. Rasa sakit di kepalanya membuatnya merasa ngantuk.
"Kamu harus bangun, kamu tidak boleh terpejam. Maaf aku terlambat" Ucap Tristan tiba-tiba sudah berada di samping Grace. Tangannya menampar agak kuat pipi Grace menyadarkan Grace agar tidak pingsan.
"Aku sudah tidak kuat lagi Tris aku mengantuk sekali" Ucap Grace berusaha melawan rasa kantuknya namun tidak bisa.
"Kamu tidak boleh mati semudah ini Grace!" Kesal Tristan.
"Kamu pikir aku akan mati semudah ini" Grace tersenyum miring dan lemah. Matanya sudah terpejam.
"Aishhhh!!!" Kesal Tristan.
Tristan langsung menggendong tubuh Grace menuju kamar Grace. Tak lupa dia menyuruh Benjamin memanggil dokter yang dikenalnya, ia juga tak lupa menyuruh Elmer mencarikan wig untuk Grace karena wig sebelumnya sudah rusak tak bisa digunakan lagi.
Awalnya Benjamin bingung mengapa Tristan menghubunginya dan menyuruh dokter kenalannya di sini untuk menolong Grace. Setelah mendengar nama Grace tanpa babibu dia langsung menghubungi dokter kenalannya dengan rasa penuh khawatir.
Saat ini Benjamin dan Tristan sedang berada di kamar para ladies. Benjamin meninggalkan Angela dan Rachel di kapal pesiarnya menikmati hari yang mulai berganti malam. Namun saat mendengar Grace sakit, dia meninggalkan begitu saja.
Untung saja Elmer datang lebih awal daripada Benjamin untuk mengantarkan wig berwarna pirang pasir yang panjang dan lurus persis seperti wig sebelumnya.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini" Ucap Benjamin pada Tristan.
"Sepertinya dia tidak sengaja terjatuh di toilet, aku menemukannya disana" Ucap Tristan sambil memperhatikan dokternya melakukan tindakan pada Grace.
"Kenapa dia bisa seceroboh ini sih" Benjamin benar-benar khawatir pada Grace.
"Bisa minta tolong untuk menjemput Angela dan Rachel di atas yacht mu bersama Chris dan Samuel disana" Ucap Tristan enteng.
Mata Benjamin membulat sempurna tidak percaya dengan omongan abstrak Tristan tapi mengapa bisa Chris dan Samuel menyusul kemari? Padahal baru saja beberapa jam mereka sampai disini dan sudah di susul oleh Alexanders. Niat untuk menculik Grace berdua menikmati negara ini sudah pupus karena terganggu dengan keberadaan Alexanders. Memang semua yang bermarga Alexanders itu brengsek, tidak membiarkan dirinya bahagia.
"Aku baru saja meninggalkan Angela dan Rachel, tapi mengapa ada dua Alexanders lainnya bersama mereka diatas kapalku saat ini?" Tanya Benjamin bingung.
"Karena mereka adalah Alexanders" Ucap Tristan tersenyum misterius dan kembali memperhatikan Grace yang nampak pucat di atas kasur.
"Kamu saja yang menjemput mereka, aku akan tetap menjaga Grace disini" Ucap Benjamin tidak mau kalah.
"Chris menugaskanku untuk menjaga Grace, Ben" Jawab Tristan dingin kala melihat Benjamin sudah mulai bertindak menyebalkan.
"Chris, Samuel ataupun kamu bukanlah orang yang berarti bagi seorang Grace. Angela-lah yang sangat berarti bagi Grace. Aku tidak terlalu suka jika Alexanders mencampuri urusan pribadiku dengan Grace" Benjamin melemparkan tatapan permusuhan pada Tristan. Kali ini dia tidak akan baik hati pada Tristan.
"Jika Grace adalah sahabat Angela berarti Grace juga sahabat kami. Kami juga sudah menganggap Grace sebagai keluarga. Jika kamu tidak suka kami ikut campur dengan urusanmu lebih baik putuskan saja lamaran kalian. Kami tidak keberatan jika Grace melepaskanmu" Ucap Tristan dengan senyum bengisnya.
"Aku menjadi calon suami Grace, kamu tidak berhak untuk menjauhkanku dengan Grace!" Balas Benjamin sengit.
Tristan tersenyum mencemooh "Aku bisa pastikan keluarga besarmu menentangmu karena menikah tidak sesuai dengan pilihan mereka. Bukankah ku dengar kamu sudah di jodohkan. Lagi pula dari keyakinanmu dengan Grace saja sudah berbeda. Grace tidak mungkin keluar dari keyakinannya begitu pula dengan sebaliknya" Ucapan Tristan tampak berbahaya.
Telak, kalah telak Benjamin atas ucapan Tristan. Bibirnya terkunci sempurna karena tidak bisa membalas ucapan tajam Tristan.
Tristan lalu mengantarkan dokter itu keluar pada saat dokter itu selesai menangani Grace. Dia juga meninggalkan obat untuk di konsumsi Grace.
"Baiklah aku akan menyusul mereka. Tolong bantu jagakan Grace disini, kabari aku jika terjadi sesuatu pada Grace" Ucap Benjamin mengalah pada Tristan dan memilih meninggalkan kamar hotel Grece.
Benjamin menjemput Angela, Chris, Samuel dan Rachel dengan helikopternya. Karena yacht pribadi yang dimiliki Benjamin terlalu besar hingga bisa mendaratkan helikopter diatas kapalnya. Yacht nya dibawa agak tengah laut membuat Benjamin dengan terpaksa menjemput mereka dengan helikopternya. Bisa saja dia menggunakan speed boat tapi dia lagi malas membawanya.
Angela dan Rachel yang baru saja naik dari berenang di kolam renang diatas yacht , keduanya menatap bingung siapa gerangan dengan konyolnya mendaratkan helikopter diatas kapal mereka. Chris langsung mendekat kearah Angela sambil memeluknya, Rachel sibuk mengeringkan rambutnya serta Samuel yang santai duduk di dek depan yacht nya sambil menikmati pemandangan sekitar.
"Dia gila heh membawa helikopter dan menurunkannya kemari" Bisik Rachel pada Chris dan Angela. Matanya menangkap Benjamin dari balik kemudi helikopternya. Melihat Benjamin yang memarkirkan di dek depan kapal membuat Samuel minggir dari sana, tidak mungkin ada adegan Samuel mengalami insiden tertabrak oleh helikopter Benjamin. Bisa-bisa keduanya langsung menjadi pemberitaan hangat di sosial media.
"Biasa, si pangeran itu ingin memamerkan kekayaannya" Ucap Chris jujur.
"Sombong sekali" Balas Rachel sewot kala melihat mesin helikopternya mati dan memperlihatkan Benjamin yang keluar dari helikopter dengan aura kekuasaan yang begitu ketara.
Mungkin perempuan lain akan tergila-gila dengan ketampanan Benjamin apalagi di tambah aura uang yang sangat tampak, membuat banyak perempuan akan mengejar dengan gila.
"Sombong sekali pangeran Arab ini" Sindir Rachel pada Benjamin yang mendekat kearahnya.
"Aku kemari untuk menjemput kalian bukan menyombongkan diri" Ucap Benjamin masam.
"Chris, apakah Alexanders tidak memiliki properti di sini? Kulihat kalian miskin sekali di negara ini. Tidak memiliki yacht , tidak memiliki tempat tinggal bahkan Tristan tadi berlomba dengan si pangeran Arab sombong ini dengan menggunakan mobilnya dan Tristan kalah" Ucap Rachel pada Chris dan duduk di sebelah Chris.
Chris sudah menganggap Rachel seperti adiknya sendiri karena Rachel paling muda dan juga berada di bawah pengawasan Alexanders. Tangan lainnya menepuk kepala Rachel pelan menyuruh Rachel agak menyaring omongan kasarnya.
"Karenamu, aku jadi berpikir untuk menginvestasikan propertiku disini. Apa perlu aku beli satu tower apartemen disini?" Ucap Samuel sambil memegang dagu seakan berpikir.
"Seharusnya kamu membeli yacht juga" Ucap Angela tersenyum manis sambil mengelus lengan Chris.
"Aku pikir membeli sport car juga penting" Balas Chris tersenyum menggoda pada istrinya.
"Yeahhh sekali-sekali berlibur sini. Sangat menarik sekalii" Ucap Rachel heboh dan bersemangat.
"Besok ada perlombaan Formula 1 jam 9 pagi mau nonton?" Benjamin mengalihkan semua pembicaraan keluarga Alexanders.
"Sepertinya boleh. Aku tidak pernah nonton perlombaan disini" Ucap Chris dengan interesting.
"Boleh juga kamu mimiliki properti mewah di negara ini Ben. Aku saja tidak ada kepikiran seperti ini" Ucap Samuel santai.
"Aku lumayan suka dengan negara ini. Negara elit yang bebas pajak, sama seperti negaraku yang bebas Pajak Penghasilan" Benjamin agak senang karena di sanjung Samuel, rivalnya.
"Aku juga hampir lupa jika negara ini bebas pajak" Ucap Samuel sambil menyalakan rokoknya. Tapi pikirannya sudah melayang entah kemana karena ucapan Tristan sebelumnya.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Chris, Samuel dan Tristan sekarang sudah berada di sebuah ruang bawah tanah yang sangat mewah dan megah. Beberapa lampu ala obor itu menerangi ruangan. Tidak ada kata gelap dan lembab di ruangan ini karena memang tentunya tidak ada kata tak terawat di negara elit ini. Biasanya mereka akan menawan seseorang di ruang bawah tanah basecamp mereka namun kebetulan karena mereka saat ini di negara orang, maka dari itu tidak ada aura mengerikan dari ruangan tawanan mereka.
Sebuah gadis sedang duduk bersimpuh di tengah ruangan berlapiskan karpet bulu berwarna abu-abu. Gadis dengan keadaaan terikat tangannya, matanya pun di ikat dengan sebuah kain putih serta mulutnya di lakban. Selama di bawa kesini, gadis itu memberontak dan berteriak tidak jelas walaupun semua usahanya jelas sia-sia.
Sedangkan seorang wanita juga berdiri dengan keadaan terikat berdiri di barisan Alexanders.
"Bicaralah" Ucap Samuel sambil membuka lakban di mulut wanita di sebelahnya.
"Apa yang kalian lakukan padaku dan Karina!" Teriak Alice sambil menggerakkan tubuhnya dari cekraman kuat tangan Samuel.
"Kami akan melakukan apa yang kalian lakukan pada Grace" Ucap Samuel dengan dingin. Tangannya sedikit menghentakkan tubuh Alice agar diam dan tidak memberontak.
"Aku tidak pernah ada sangkut pautnya dengan Grace. Aku tidak minat dengannya, jika kamu ingin bersamanya silahkan" Ucap Alice berani menatap lurus kearah Samuel.
Samuel tersenyum miring "Kamu mengatakan itu karena kamu sudah berani bermain dengan Lucius Marcello di belakangku? Kamu pikir kamu bebas bermain di belakangku saat aku tidak bersamamu?"
Mata Alice langsung membulat sempurna ketika mendengar penuturan Samuel. Dia tak percaya jika Samuel mengetahui hubungannya dengan Lucius, padahal dia selama ini sudah sangat hati-hati jika ingin bertemu dengan Lucius.
"Kamu mencintai Grace namun kamu tetap menawanku. Aku seperti barang saja dan aku harus tetap di bawah kekuasaanmu" Alice tidak terima dengan tuduhan Samuel. Ia melakukan ini karena merasa kurang dihargai oleh Samuel.
Tentu saja Alice sangat sakit hati karena di sepelekan oleh Samuel. Dia pikir Samuel hanya ingin di dekatnya karena merasa bertanggung jawab pada Felix. Samuel tidak sedikitpun melihatnya sebagai wanita, tidak peka atas perasaan tulus darinya. Itulah mengapa Alice menyimpulkan Samuel tidak sedikitpun bisa menghargai dirinya. Untuk apa bertahan jika kedua belah pihak tidak bisa saling mencintai. Lebih baik mencari cinta yang tulus untuknya, yaitu Lucius Marcello.
"Itu karena kamu harus selalu menuruti apa yang ku katakan" Balas Samuel tajam.
"Aku tau kamu seperti ini untuk mengekangku, agar bisa mengontrolku. Agar aku tidak merusak citramu di depan publik. Tapi bukan begini caranya Sammy, aku mohon lepaskan aku dengan kebahagiaanku bersama Lucius" Balas Alice. Tangisan Alice pun kini terdengar walaupun kecil.
"Aku akan melepaskanmu tapi aku akan mengambil Felix dari sisimu" Ucap Samuel lagi.
Chris dan Tristan hanya terdiam melihat apa yang terjadi pada Samuel. Greg, Kenzo dan Elmer berdiri tegak mengelilingi Karina yang masih terduduk di lantai. Tangisnya pun terdengar kala permintaan Samuel yang dirasanya tidak adil. Karina menatap kakaknya sambil menggeleng kencang, ia sebagai auntie Felix yang melihat tumbuh kembang Felix selama ini tentu tidak rela jika Felix dibawa oleh Samuel.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu membawa Felix. Felix itu anakku" Teriak Alice sambil menatap tajam di sela tangisannya.
"Felix juga anakku, kalo kamu mau tau itu" Ucap Samuel tak mau kalah.
"Tidak!! dia anakku!!" Teriak Alice menyangkal ucapan Samuel.
Samuel mengangguk kearah 3 tangan kanan Alexanders membuat ketiganya mengangguk mengerti.
Greg dan Elmer menjauh membiarkan Kenzo yang mengambil alih. Tangan Kenzo sudah terdapat pedang panjang, kilauan dari pantulan pedangnya itu memperlihatkan seberapa tajamnya pedang itu. Langsung Kenzo menggores lapisan epidermis di leher Karina hingga terdapat sedikit darah yang mengalir dari sang sumber luka.
Samuel menghamburkan beberapa foto dan dilemparkan tepat di wajah Alice. Disana terdapat beberapa orang yang berbeda sedang menggandeng dan memeluk Alice. Bahkan ada foto yang diambil pada saat Alice dan tidur bersama Lucius dengan keadaan naked yang di tutupi oleh selimut.
"Aku membiarkan semua ini selama 3 tahun kebersamaan kita di Paris. Ketika aku bersama kamu, aku bahkan sudah meninggalkan alkohol apalagi bermain dengan wanita. Aku ingin menjadi daddy yang baik untuk Felix namun sebaliknya selama di belakangku kamu malah berselingkuh di belakangku"
"Kamu sangat salah ketika berani untuk melawanku. Aku sudah mencebur di laut dan kamu baru bisa mencebur ke kolam renang"
"Semua trik kecil hingga besar untuk mengelabuiku dengan berbagai alasanmu itu sudah semua kulalui. Jangan pernah berniat menggungguli dari master yang lebih paham, Ai"
Ucapan panjang dari Samuel terdengar mengerikan di telinga Alice bahkan Karina sekalipun. Alice merasa suasana hangat di basment ini tiba-tiba mendingin membuat tubuh Alice bergetar ketakutan. Alice baru saja ingin melancarkan aksinya tapi rambutnya langsung di jambak oleh Chris. Kepalanya menengadah menatap lurus mata Chris yang tajam.
"Tidak perlu pura-pura gila. Jika benar gila dengan senang hati aku mengantarkanmu ke rumah sakit jiwa" Ucap Chris sambil menyentakkan kepala Alice dari tangannya.
Sialan Chris mengetahui tabiatku! Batin Alice. Lalu Alice mengurungkan niatnya melancarkan aksinya tadi. Padahal bisa saja Alice menarik perhatian Samuel dengan alasan mental health nya sedikit terguncang, biasanya trik itu cukup berpengaruh pada Samuel. Tidak kali ini karena Samuel tidak sendiri melainkan di temani kedua sepupunya.
Elmer langsung menarik lakban yang menutupi mulut Karina karena di balik lakban itu Karina berteriak-teriak walaupun tidak jelas.
"Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil Felix dari Alice. Tolong jangan pisahkan mereka dengan bayaran nyawaku" Teriak Karina sekuat tenaga.
Pakaiannya yang kusut di tambah wajahnya kini tidak ada di polesannya membuat dirinya semakin terlihat menyedihkan. Rambutnya sudah tidak rapi hanya meninggalkan kusut dimana-mana.
"Aku tak butuh nyawamu, aku hanya mendeklarkan jika Felix adalah anakku, dia berada di bawah pengawasan Alexanders. Aku akan memperbolehkan Alice bertemu dengan Felix kapanpun, aku tidak akan melarangnya" Ucap Samuel.
"Ku harap kalian tidak bermain-main dengan keluarga Alexanders. Termasuk juga Grace karena dia berada di bawah perlindungan Alexanders" Ucap Chris menimpali.
"Aku membebaskan kalian untuk melakukan apapun, aku tidak akan membunuh kalian dan aku juga tidak mau ikut campur dalam urusan kalian. Ku harap kalian tidak pernah menyeretku dalam hidup kalian sewaktu kita pernah tinggal bersama di Paris" Tambah Samuel lagi.
"Lepaskan mereka. Mereka sudah bebas sekarang" Ucap Tristan menyuruh Greg, Kenzo dan Elmer melepaskan Alice dan Karina di tengah ruangan.
Kemudian 3 orang Alexanders itu pergi bersama dengan tangan kanannya masing-masing. Meninggalkan Alice dan Karina yang sama-sama posisi terduduk. Kaki dan tangan mereka masih keadaan terikat. Entah siapa yang akan menyelamatkan dan membebaskan mereka nanti.
-_Mr.Charming Alexanders_-
Love, Jun-JunFish
Smd, 5-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top