Chapter 16
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
Setelah sesi pemotretan dengan berbagai tema dan latar, berakhirlah sesi kerjasama antara S'Alexanders Company dengan agensi Grace yang berasal dari Paris.
"Lapor tuan, penjualan property kita naik di angka 150% karena bagian promosi benar-benar menggencarkan properti kita yang di bintangi oleh nona Grace Kennedy dan tuan sendiri" Kenzo melapor pada Samuel di ruang kerja kantor miliki Samuel.
"Ini tuan" Ucap Kenzo memberikan beberapa lembar foto selama pemotretan berlangsung.
Foto satu terdapat Grace yang sedang berada di pelukan Samuel dengan posisi Samuel mencium kening Grace diatas yacht layaknya sepasang suami istri menikmati liburannya di tengah laut.
Foto kedua dengan tema angel dan devil. Samuel yang bertelanjang dada memiliki sayap putih sedangkan Grace menggunakan kostum devil berwarna merah berpose di taman depan properti terbaik perusahaan Samuel. Grace sebagai iblis tersenyum miring sambil memeluk Samuel yang tersenyum manis dari belakang.
Foto ketiga yaitu Grace dan Samuel berada di balkon tepi laut. Sama-sama menghadap matahari tenggelam. Foto itu diambil dari angle belakang hingga hanya memperlihatkan siluet keduanya di keremangan gelap dan cahaya senja. Suasana romantis malah tercipta di saat yang bukan jadwal pemotretan.
Samuel memegang foto ketiga. Tanpa sadar dia tersenyum. Mengenang euforia saat pertema kali ketemu lagi setelah sekian lama tak bertemu dengan Grace. Samuel mengambil foto itu dan memajangnya di atas meja kerjanya.
"Izin tuan menyampaikan jika Samuel Jonathan Smith sudah masuk ke barak pelatihan tuan Tristan. Disana dia akan di tempa menjadi pasukan khusus" Lapor Kenzo sambil menyerahkan data diri Joe.
"Aku merasa Joe anak yang berbakat, sayang saja jika dia tidak berada di tempat semestinya" gumam Samuel mulai memindai data diri Joe.
"Pergilah" Usir Samuel pada Kenzo yang masih diam di tempat.
"Saya menyampaikan satu hal lagi tuan. Villa terbesar di Jones Beach State Park akan di beli oleh Mr. Benjamin Franklie namun....." Ucapan menggantung Kenzo membuat Samuel mengernyit heran. Tidak biasanya Kenzo bersikap seperti ini.
Dia tidak terkejut jika Benjamin akan membeli properti nya karena Benjamin tentu orang kaya yang tidak memiliki privat jet. Samuel akan tertawa jika mengingat Benjamin tentang hal itu. Dia tidak memiliki private jet karena ada aturan dalam keluarga kerajaan Arab jika hanya seorang Raja saja memiliki private jet, yang lainnya tidak boleh.
"Ada apa?" Tanya Samuel melihat gelagat tubuh Kenzo yang agak gelisah.
"Mr. Benjamin meminta anda sendiri yang mengatur dan mengurus segala urusan tentang penjualan Villa termahal di properti kita" Kenzo agak takut karena baru kali ini klien perusahaannya meminta bosnya yang turun tangan langsung.
"Ini.... Ada sebuah surat perjanjian yang di berikan oleh tuan Benjamin untuk anda tuan. Pihak mereka meminta anda menandatanganinya" Kenzo menyerahkan berkas lagi kepada Samuel.
Mata biru itu menyusuri setiap poin-poin penting dalam isi perjanjian tersebut.
1. Karena pihak pertama sudah membeli villa termahal di properti milik pihak kedua. Wajib hukumnya pihak pertama meminta secara langsung untuk di layani oleh pihak kedua pada survey kedua ini.
2. Pihak kedua wajib melayani dengan sepenuh hati pada pihak pertama tanpa bantahan atau sanggahan apapun.
3. Sebagai pihak kedua wajib untuk menerima apapun yang diinginkan oleh pihak pertama.
Note: - Pihak pertama adalah pihak Benjamin Franklie
- Pihak kedua adalah pihak Samuel Jhon Alexanders
Samuel berpikir pasti ada sesuatu yang sengaja di buat oleh Benjamin kali ini. Entah untuk apa. Lagi pula properti itu harganya benar-benar mahal mungkin seharga 20 tower apartemen tingkat 20. Properti yang di pilih benjamin bukan properti ecek-ecek melainkan villa ekslusif berukuran sangat besar dan mendapatkan sebuah yacht pribadi berukuran besar dengan teknologi terbaru dari perusahaan Tristan. Maka dari itu wajar jika Benjamin meminta hak pelanggan khusus.
"Apa-apaan dia sampai membuat perjanjian seperti ini" Ucap Samuel kesal sambil membanting surat perjanjian itu.
"Tapi tuan, dengan di belinya villa itu kita bisa kembali membangun gedung apartemen mewah lainnya" Nasehat Kenzo membungkam Samuel.
Samuel berusaha menenangkan dirinya, berusaha mengambil keputusan terbaik untuk perusahaannya. Tidak mungkin melibatkan masalah pribadinya dengan perusahaannya.
"Baiklah, kapan dia akan menemui kita?" Tanya Samuel berusaha meredakan amarahnya.
"Siang ini tuan" Ucap Kenzo takut.
"Kamu gila baru memberi tahuku di jam 11 siang begini. Baiklah siapkan pelayanan terbaik di villa yang akan di survey secepatnya" perintah Samuel pada Kenzo.
"Baik tuan" Ucap Kenzo lalu berlalu pergi meninggalkan Samuel yang memijit kepalanya.
-_Mr. Charming Alexanders_-
"Bagaimana dengan penampilanku?" Tanya Grace pada Benjamin yang baru saja datang ke apartemennya. Grace celingak celinguk tidak melihat kehadiran para bodyguard Benjamin yang biasanya selalu membuntuti tuannya.
"Oh hai Syauqi, kita berjumpa lagi" Ucap Grace riang sambil melambaikan tangan pada Syauqi yang memiliki wajah datar dan tegas. Syauqi tidak membalas sapaan Grace dan mengikuti langkah Benjamin masuk ke dalam apartemennya.
"Kamu sangat cantik hari ini" Ucap Benjamin tulus.
Matanya menangkap Grace memang tampak cantik dengan hoodie biru bergambar doraemon dan celana kulot panjang berwarna coklat. Rambut pirang pasirnya di biarkan terurai dengan hiasan pita panjang di belakang kepalanya. Tidak ada riasan tebal karena Grace kali ini mengusung tipe makeup glass skin ala Korea.
"Kita akan pergi kemana Ben?" Tanya Grace pada Benjamin yang sudah duduk di sofa di sampingnya terdapat Syauqi.
Benjamin tampak tampan dengan set formal berwarna hitam dengan vest abu-abu nya. Rambutnya di buat klimis ke belakang meninggalkan kesan formal.
"Ikut saja aku ingin memberikan kejutan untukmu" Ucap Benjamin lagi-lagi tersenyum seakan ketampanan Benjamin akan luntur jika tidak tersenyum.
"Ini untukmu" Benjamin memberikan paperbag pada Grace. Grace membuka dengan semangat. Hingga apa yang dilihatnya membuatnya menjerit histeris.
Grace langsung menghambur ke pelukan Benjamin. "Thanks Ben i love it so much" Ucap Grace bahagia. Syauqi yang mulai terbiasa dengan hubungan Grace dan Benjamin hanya diam.
"Syauqi liatlah!! aku di bawakan coklat segini banyaknya!!" Pamer Grace sambil menghambur isi paperbag yang di berikan Benjamin.
"Ingat makannya jangan terlalu banyak sebelum Stella akan mengomelimu lagi karena berat badanmu naik" Benjamin mewanti-wanti Grace.
"Haha Stella, Naomi dan William sudah kembali ke Paris. Aku mengambil cuti karena ingin bernostalgia di mana aku tumbuh" Ucap Grace mulai memakan coklat oleh-oleh Benjamin.
"Apakah kalian sudah makan siang?" Tanya Grace pada Benjamin dan Syauqi. Benjamin membalasnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Setelah sampai di bandara aku langsung kemari, jadi tidak sempat untuk makan siang" Ucap Benjamin.
"Sebentar ya aku cek kulkas dulu siapa tau ada bahan yang bisa diolah" Grace langsung ngacir membuka kulkasnya namun isi seluruh kulkasnya hanya di penuhi oleh air mineral.
Ingatkan dulu Samuel pernah menyindirnya tentang isi kulkasnya yang sudah layak. Maka dari itu Grace memilih untuk mengisi kulkasnya dengan air mineral. Setidaknya kulkasnya berguna membuat seluruh air mineralnya dingin.
Grace langsung merasa salah tingkah saat Benjamin dan Syauqi memperhatikannya membuka kulkas yang isinya zonk.
"Sepertinya kita harus pesan antar" Grace menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa bersalah ketika tuan rumah tidak menyiapkan apapun untuk tamunya.
Grace kembali membuka kulkasnya kembali, mengambil dua botol air mineral dan di berikan pada Benjamin dan Syauqi.
"Setidaknya ini bisa mengganjal perut sampai makanan tiba" Ucap Grace semakin salah tingkat. Melihat Grace seperti itu membuat Benjamin terkikik geli.
"Ingin makan menu apa Ben?" Tanya Grace sambil sibuk membuka aplikasi delivery makanan, tangannya men-scroll referensi makanan di ponselnya.
"Bagaimana Italia? Aku rindu makan spagetti" Benjamin menaik turunkan alisnya berharap apa yang diinginkan di kabulkan oleh Grace.
"Okey" teriak Grace semangat lalu mengambil posisi di seberang Benjamin.
Tiba-tiba bunyi bel apartemennya berbunyi membuat Grace bangkit dan membukakan pintu.
"Mom? Dad?" Grace agak shock pasalnya kedua orang tuanya kembali belum pada waktu yang di tentukan. Padahal kesepakatannya mereka kembali setelah lima bulan kemudian dan ini baru berjalan satu bulan.
"Hai nak" Ucap Harry canggung di depan pintu apartemen Grace.
Grace langsung mengubah ekspresi shock nya menjadi wajah datar, dia harus memakai topengnya untuk menghadapi kedua orang tuanya.
"Apa yang kalian lakukan disini" Ucap Grace datar.
"Biarkan kami masuk dulu, tidak enak pembicaraan kita nanti akan di dengar tetangga" Ucap Lily berusaha masuk ke dalam apartemen namun Grace menahannya agar tidak masuk.
"Sudah ku katakan apa yang kalian lakukan disini. Bukankan kesepakatan kita tidak akan bertemu selama lima bulan sesuai dengan uang yang kuberikan pada kalian lima juta dollar" Suara Grace terdengar tajam, mencerminkan tidak adanya rasa hormat pada orang tuanya.
"Uang kami telah habis karena Harry menjudikannya di kasino Los Angles. Kami sudah tidak memiliki uang lagi. Kami juga butuh makan" Ucap Lily berusaha melas agar di kasihani oleh Grace.
"Tidak. Aku tidak akan memberikan uang lagi pada kalian. Lima juta dollar itu uang yang banyak bahkan bisa membeli rumah besar namun dengan bodohnya daddy malah berusaha melipat gandakan uang itu dengan cara berjudi?" Tawa sumbang Grace terdengar seperti menyedihkan.
"Orang bodoh saja yang ingin kayak lewat berjudi" Ucapan Grace begitu menusuk di hari Harry.
"Cepat berikan kami uang setelah itu kami akan pergi dari sini" Ucap Lily agak memaksa Grace.
"Aku juga tidak punya uang. Bahkan cukup untuk makan saja" Kali ini Grace mulai teriak histeris sambil mendorong Lily agar tidak masuk ke dalam apartemennya yang dimana ada Benjamin dan Syauqi sebagai tamunya.
"Jika kamu tidak memberikan kami uang berarti kamu anak durhaka. Anak yang tidak tau berterimakasih karena kami merawatmu hingga besar" mantra itu lagi sebagai ancaman untuknya dari Lily.
"Jika saja kamu menikah dengan lelaki kaya, aku tidak akan meminta padamu lagi. Kamu juga tidak repot-repot untuk bekerja keras mencari uang. Tinggal duduk manis di rumah dan hanya menerima uang dari suamimu" Ucap Lily semakin melantur.
"Kamu di umur tua begini belum menikah adalah aib bagi kami" Lanjut Lily lagi dengan nada nyindir.
"Ohhh jadi ternyata aku adalah aib bagi kalian. Oke kita akan putus ikatan keluarga mulai saat ini" Teriakan emosi Grace sambil membanting pintu tepat di hadapan Harry dan Lily.
Lily dan Harry yang tak terima langsung menggedor keras pintu Grace. Grace kembali keruang tengah dengan keadaan tangis yang di tahan. Tangannya bergerak menelpon security apartemen.
"Tolong usir dua orang pengganggu di depan apartemen 502 lantai 12" Ucap Grace saat telponnya terhubung. Lalu Grace mematikan telponnya secara sepihak.
Tangan kanannya menghapus air matanya, mata abunya itu menatap Benjamin dengan sembab.
"Ada apa Grace?" tanya Benjamin khawatir keadaan Grace agak memprihatinkan namun tetap cantik.
"Maaf kalian malah mendengar suara pertengkaran keluargaku" Ucap Grace berusaha untuk tetap tenang.
Tak lama bunyi bel kembali terdengar. Baru satu langkah Benjamin ingin membukakan pintunya namun di tahan oleh Grace. Grace menggeleng keras. Ia takut kedua orang tuanya masuk dan menemukan Benjamin dan kedepannya mungkin akan menyusahkan Benjamin. Ia hanya tidak ingin Benjamin ikut terseret ke dalam masalah keluarganya.
Benjamin menepuk pelan pucuk kepala Grace seraya mengatakan tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja. Grace mengalah dan membuat Benjamin membuka pintu.
"Totalnya 175 dollar" Ucap kurir sambil menyerahkan paperbag besar pada Benjamin. Benjamin memberikan uang pada kurirnya.
"Sisanya sebagai tipmu ya" Ucap Benjamin ramah pada sang kuriri, lalu mendekat kearah Grace.
"Hanya kurir makanan. Kurasa kedua orang tuamu sudah di usir oleh satpam" Ucap Benjamin santai.
Lalu benjamin menata rapi semua makanan yang di pesan Grace diatas meja.
"Sudah jangan menangis lagi. Lebih baik kita makan setelah itu bagaimana kita makan coklatnya?" Ucap Benjamin menenangkan Grace berharap bisa mengalihkan perhatian Grace dari masalah dengan kedua orang tuanya.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Saat ini Grace, Benjamin dan Syauqi sudah berada di sebuah villa mewah di pinggir pantai di Jones Beach State Park. Di belakang villa nya terdapat yacht pribadi terpakir. Villa mengusung konsep smart villa modern meninggalkan kesan begitu sempurna di zaman sekarang. Bahkan untuk ukuran kolam renangnya saja sangat besar yang menghadap kearah pantai langsung berada di bibir tebing pantai.
"Kita ngapain disini Ben?" Tanya Grace pasalnya dia cukup familiar dengan villa terbesar ini. Dimana perusahaan Samuel sangat mempromosikan di internet. Harga yang tidak ramah di kantong dan tentunya hanya orang kaya tajir melintir yang bisa membeli properti ini.
"Lihatlah dan survey villa ini untukku" Ucap Benjamin membukakan pintu mobil untuk Grace.
"Sepertinya aku tau tabiatmu. Kamu pasti ingin membeli villa ini bukan?" Tuduh Grace membuat Benjamin tersenyum.
"Masuklah dan lihat-lihatlah di dalam. Jika ada yang ingin kamu tambahkan atau mau di ganti tinggal konsultasikan pada pemilik properti ini" Ucap Benjamin mengajak Grace masuk ke dalam villa.
Grace begitu tercengang, padahal dirinya hanya melihat sebuah gapura dan pintu villa itu yang begitu besar dan mewah. Terdapat beberapa anak tangga sebelum menuju ke dalam villa. Sesampai di villanya Grace benar-benar menenggak liurnya. Interior yang begitu modern dengan kaca-kaca besar sebagai penyekat antara ruang tengah dan ruang makan.
"Hei Siri, nyalakan seluruh lampu ruang tengah dan nyalakan televisi" Ucap Benjamin.
Tiba-tiba semua lampu dan televisi berukuran besar nyala bersamaan. "Hei Siri open the curtain" Tak lama gorden yang menutupi kaca besar di ruang tengah seketika terbuka.
"It's cool" Ucap Grace heboh sambil bertepuk tangan. Pasalnya selama sesi pemotretan dia hanya berada di properti dengan pembangunan unit terbanyak siap di pasarkan. Ia hanya melihat villa ini dari brosur di perusahaan Samuel. Membuat Grace begitu tercengang berapa uang yang di miliki Samuel untuk memiliki segala properti mewah ini.
"Kamu suka dengan villanya?" Tanya Benjamin tersenyum melihat Grace yang berlarian kesana kemari melihat setiap ruangan di villa lantai satu.
Grace mengangguk bahagia sambil kembali mendekat kearah Benjamin.
"Siapa yang tidak suka jika memiliki villa semewah ini" Ucap Grace jujur. Mata Abu-abunya pun masih berbinar.
"Aku akan membelinya untukmu"Ucap Benjamin sambil menarik pinggang Grace agar Grace menempel pada tubuhnya. Grace terkejut bukan main. Entah terkejut karena Benjamin akan membelikan villa ini atau karena jarak tubuhnya dengan Benjamin begitu menempel erat layaknya perangko.
Syauqi yang melihat kelakuan tuannya hanya berdehem sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Lepas Ben" Ancam Grace. Grace sudah berusaha melepaskan pelukan Benjamin namun Benjamin malah semakin erat mempertahankan jarak intim mereka.
"Syauqi akan salah paham Ben" Peringatan Grace sama sekali tidak membuat gentar Benjamin. Bahkan mata Grace sudah melotot.
"Aku tuannya. Jika dia tidak mengikuti perintahku, aku dengan senang hati memecatnya saat ini juga dan menggantikannya dengan orang baru" Ucap Benjamin enteng.
Sebuah suara deheman keras membuat Grace mendorong Banjamin menjauh darinya. Benjamin melihat sifat Grace hanya tersenyum.
"Selamat datang di villa tuan Benjamin Franklie dan nona Grace Kennedy" Ucap Samuel formal di belakangnya terdapat Kenzo yang setia mengikuti tuannya kemanapun.
"Samuel?" Cicit Grace salah tingkah karena Samuel harus melihat keadaan yang sedikit intimnya dengan Benjamin.
"Kamu sudah menandatangi perjanjian yang ku berikan?" Benjamin tersenyum licik pada Samuel.
Samuel menyuruh Kenzo menyerahkan surat perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh Samuel pada Benjamin. Benjamin menerima dengan senang hati, senyum miring terbit di bibirnya.
Benar-benar uang akan mengubah segalanya. Bahkan uang mampu menaklukan lawanmu.
"Aku akan membeli properti ini atas nama Grace, tolong di bantu proseskan ya?" Ucap Benjamin agak licik, sepertinya ada sesuatu yang diinginkan oleh Benjamin.
"Aku akan memberikan villa ini untukmu. Buat apa aku banyak uang tapi sedikitpun aku tidak dapat membahagiakan orang sekitarku kan?" Benjamin sedikit melirik kearah Samuel seakan menyindir Samuel secara halus.
Mata abu Grace langsung membulat sempurna kala mendengar ucapan tak terduga dari Benjamin. Apa katanya? Villa mewah ini untuknya??
"Yeah, orang kaya mana yang tidak memiliki jet pribadi sepertimu Ben" Sindir Grace membuat Samuel yang mendengarkannya ucapan Grace hanya bisa mengulum senyumnya.
Ia cukup menyukai sifat Grace yang seperti ini.
"Heiiiii. Itu memang peraturan terkonyol yang pernah aku dengar dari negaraku. Jika aku menjadi raja tentu aku akan menghapus peraturan konyol itu" Bela Benjamin tidak mau kalah dari Grace.
"Maaf aku tidak terima pemberianmu ini Ben. Ini terlalu mewah aku tidak bisa menerimanya" Kata Grace mengalihkan pembicaraan.
Benjamin mendekat kearah Grace dan berbisik. "Aku tidak menerima penolakan Grace"
Samuel yang melihat kedekatan mereka kedua kalinya hanya bisa menahan amarah. Tangannya terkepal kuat, rasa ingin menonjok Benjamin namun tentunya di tahannya demi kelancaran penjualan villa ini. Rahangnya pun mengeras menatap keintiman diantara mereka.
-_Mr.Charming Alexanders_-
Love, Jun-JunFish
Smd, 3-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top