Part 55 : Visit
KELLY menyisir rambut panjang pirangnya dengan lembut sembari mematut diri di depan cermin besar di hadapannya.
Ia menatap datar pemandangan dirinya di cermin itu.
Mata yang membengkak, hidung memerah, dan wajah yang kusut.
Itu semua karena seorang pria yang sangat ia cintai yang kini tengah lupa ingatan.
Siapa lagi kalau bukan Max Maxwell.
Mengingat perlakuan Max siang tadi padanya, matanya kembali memanas dan dirinya tak bisa menahan sebutir air mata yang kini sudah lolos meluncuri pipinya.
Kelly mengusap cepat air matanya itu dengan punggung tangan, dia segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tak boleh kelihatan lemah seperti ini terus, jika hal itu terjadi maka akan mengakibatkan Gabriella semakin bahagia karena mencoba merebut Max dariku. Tidak! Aku tak akan membiarkan itu terjadi! Ya, mulai sekarang aku harus menahan air mata bodoh ini dan terlihat baik-baik saja. Yang perlu kulakukan adalah pelan-pelan mencoba mengingatkan Max tentang diriku. Ya, hanya begitu semuanya akan segera kembali, Max akan kembali padaku."
Kelly tersenyum simpul menatap dirinya sendiri di depan cermin, dia berbicara tadi seolah sedang bicara pada pantulannya di cermin.
Kaki Kelly lalu segera menghampiri kasur yang berada di kamar itu, dan langsung membaringkan diri di atasnya.
Kelly memejamkan mata kemudian tersenyum tipis, "Good night Max."
Dan tak lama kemudian dengkuran halus segera lolos dari mulutnya.
***
Di kamar yang berbeda, Max dan Gabriella kini tengah bercanda dengan posisi Gabriella di atas tubuh Max yang terbaring.
"Dasar bayi besar!" Ejek Gabriella sembari menjulurkan lidahnya ke arah Max.
Membuat Max langsung memicit hidung Gabriella cukup kuat, "Jangan memanggilku begitu, nona keras kepala!"
"Biarkan saja, dasar bayi besar! Makan saja harus aku suapi dulu!"
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang bersemangat untuk menyuapiku tanpa aku minta sekalipun?"
"Aku memang suka untuk menyuapimu karena kau sedang sakit Max, tapi kau bertambah manja karena memintaku untuk menemanimu sikat gigi!"
"Memangnya salah, minta temani kekasih sendiri?"
"Tentu salah, kau terlalu manja dan bersikap seperti bayi besar!"
"Gabriella berhenti sekarang juga atau---"
"Atau apa?!"
"Atau aku akan,"
Max sengaja menggantung kalimatnya dan wajahnya kini memasang seringai licik.
Langsung saja kedua tangan pemuda itu yang tadinya berada di pinggang Gabriella---beralih ke perut gadis berambut blonde itu dan segera menggelitiknya tanpa ampun.
Gabriella menggelinjang di atas tubuh Max karena merasa geli atas perlakuan pemuda berambut hitam tersebut.
"Max hentikan kumohon!"
Gabriella tertawa keras seraya terus berusaha menghindarkan kedua tangan Max dari perutnya.
Bahkan tubuh Gabriella kini sudah terturun dari posisinya semula dari atas tubuh Max, menjadi berada di atas ranjang.
"Max kumohon hentikan ini..."
Gabriella berucap dengan nada tersengal-sengal karena terlalu lelah tertawa, namun hal itu tetap tak digubris Max.
Pemuda bermata hazel itu tetap sibuk menggerayangi perut Gabriella, meskipun gadis itu merengek minta dilepaskan.
"Max sudah cukup..."
"Berjanji dulu jika tak akan menghinaku seperti itu lagi?"
Tanya Max, lalu menjauhkan tangannya dari perut Gabriella, membuat gadis tersebut dapat bernafas lega.
Gabriella menarik nafas panjang, "Oke baiklah, dasar menyebalkan! Kau membuatku lelah tau!"
Max terkekeh dan menyentil kening Gabriella pelan, "Itu hukuman untuk orang yang berani mengejekku."
"Kau jahat!"
Gadis blonde itu terlihat memajukan bibirnya, berpura-pura kesal.
"Kemarilah."
Max merentangkan tangannya dan langsung membuat Gabriella mengubah ekspresi pura-pura kesalnya menjadi tersenyum manis, gadis itu kini sudah berada dalam dekapan Max.
"Aku mencintaimu Max."
"Aku juga. Sekarang kita tidur ya, sudah malam."
•°•°•
Pagi ini Kelly terbangun gara-gara suara teriakan Gabriella yang berasal dari luar kamarnya, atau lebih tepatnya di ruang tamu.
Gadis bermata emerald itu karena penasaran buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
Mengikat rambut panjang pirangnya, dan segera bergegas berlari ke luar kamar.
Kelly mendapati pemandangan yang cukup membuat paginya kali ini menjadi pagi terburuk sepanjang hidup, di mana Max kini tengah berlari mengejar Gabriella dengan wajah penuh noda tepung.
"Gabriella jangan lari, jika kutangkap, kau akan benar-benar menyesal telah mengotori wajahku!"
Ujar Max masih berlari berusaha menangkap Gabriella yang berlari di depannya.
Gabriella menolehkan kepalanya dan memberikan juluran lidah pada Max, "Aku tidak peduli, yang penting aku sudah berhasil membuat wajahmu kotor."
Saat Gabriella berlari melewati Kelly yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi, kemudian Max menyusul agak jauh ke belakang, Kelly segera saja menarik kaos yang dikenakan Max membuat pemuda itu menghentikan larinya.
Air muka Max yang tadinya ceria kini berubah datar, "Ada apa? Aku harus mengejar Gabriella."
Menatap Max sekilas, tanpa berkata-kata Kelly langsung memeluk Max erat.
"Biarkan dia berlari sendiri. Kau di sini saja bersamaku."
Max tersentak, perasaan hangat mulai menjalari tubuhnya ketika Kelly memeluknya erat, entahlah, Max sendiri tak mengerti kenapa dia merasakan hal itu saat Kelly memeluknya.
"Lepaskan, apa kau sudah kehilangan akal?!"
Kelly mendongak untuk bertemu pandang dengan iris hazel Max, "Ya, dan kau-lah yang telah membuatku kehilangan akal. Berhenti membuatku cemburu Max, kau itu hanya milikku, bukan milik Gabriella, dia telah membohongimu!"
Max tersenyum sinis, "Jangan gila! Kau-lah yang berbohong!"
Kelly menggeleng cepat, dengan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Tangan halusnya segera menangkup wajah Max, "Aku mengerti kau lupa ingatan. Tapi, aku tak tahan melihat kedekatanmu dengan Gabriella, dia telah membohongimu---"
"Siapa yang berbohong?!"
Sela Gabriella yang tiba-tiba saja sudah berada dekat mereka, gadis blonde itu langsung menarik lengan Max namun dengan sigap dicekal oleh Kelly.
"Aku belum selesai bicara pada Max, kau pergilah."
Gabriella menaikkan sebelah alisnya kemudian terkekeh, baginya perkataan Kelly barusan sungguh lucu, "Pergi? Apartemen milik siapa ini? Dan lagi, coba kau tanyakan dulu pada Max, Kelly Collins, apa dia mau bicara padamu?"
Kelly melirik Max, "Max---"
"Aku tak ingin bicara padamu."
Jawab Max ketus, alhasil membuat Gabriella tersenyum puas.
"Sudah dengar apa yang dikatakan Max 'kan? Seha---"
"DIAM! KAU YANG SUDAH MEMBUAT MAX MENJADI LUPA INGATAN, APA INI RENCANAMU GABRIELLA?! Ah aku tau, kau memiliki perasaan lebih terhadap Max, tapi Max tak memiliki perasaan lebih terhadapmu, makanya kau membuat rencana ini 'kan?"
Gabriella menaikkan sebelah alisnya, "Rencana? Rencana apa yang kau maksud? Max amnesia juga karenamu 'kan? Jika saja kemarin kau yang terkena tembakan, kemungkinan kecil kau masih hidup di dunia ini hari ini, namun sayangnya malah Max yang terkena. Dan sekarang? Max hilang ingatan karena itu, lalu apa itu salahku dan rencanaku? Rencanaku yang sebenarnya adalah membunuhmu, bukan mencelakai Max."
"Tetap saja itu adalah kesalahanmu. Jika kau tak melakukan penembakan kemarin, sekarang pasti aku telah menjadi istri sah Max! Tapi kau---kau mengacaukan semuanya, dan saat ini kau mencoba merebut Max dariku, dia adalah calon suamiku Gabriella! CALON SUAMI!"
"Max, aku malas berdebat dengan wanita ini sekarang, jadi, ayo kita lanjutkan membuat cake-nya."
Gabriella sudah menggenggam tangan Max dan akan beranjak ke dapur membawa pemuda itu, namun Max tetap diam di tempatnya.
Gabriella mengernyit, "Ada apa?"
"Katakan padaku, apa benar kau berniat membunuh Kelly kemarin?"
Tanya Max dingin dengan sorot menusuk ke iris abu-abu Gabriella.
Gabriella meneguk salivanya dengan susah payah, "Max aku---"
"Jelaskan Gabriella, apa alasan untuk semua itu? Dan katakan padaku, apa sebenarnya kita ini punya hubungan sepasang kekasih?"
"Max, kenapa kau bertanya? Kau mulai mempercayainya?!"
Gabriella melirik sekilas Kelly yang masih berada di antara mereka.
"Aku tak mengerti, tapi, aku merasakan sebuah perasaan nyaman saat Kelly memelukku tadi."
Kelly yang mendengar itu, menghapus air matanya yang kembali turun, dengan cepat, kemudian tersenyum penuh harap, "Max, apa kau mulai mengingatku?"
"Hentikan! Max, kau harus percaya padaku, okay? Kita adalah sepasang kekasih, dan Kelly bukan siapa-siapamu, kau harus percaya padaku. Semua yang dikatakan Kelly adalah bohong."
Kelly memandang Gabriella tajam, "Gabriella kau---"
"Maaf mengganggu semuanya. Nona Gabriella, ada masalah! Tuan Charlie datang untuk bertemu denganmu, dia sudah di pintu utama!"
Gabriella dan Kelly sontak membulatkan mata mereka dan memberi tatapan horror ke arah Eddie yang baru saja membawa kabar buruk, "APA?!"
Tbc...
Astaga part ini gaje gak sih?😂
Yaudahlah meskipun gaje kalian tetap sayang 'kan sama Author?😳
Btw, pak Charlie mau berkunjung tuh, kira² gimana nasib Max, Kelly, dan juga Gabriella ya?
Kalo mau tau, makanya tetap baca cerita ini, kuharap kalian gakpernah bosen:')
Oh ya, kalo misalnya ada readers di sini, yang mau buat fanart, doodle atau semacamnya boleh banget kok dari tokoh² yang ada di cerita ini. Kalian bisa mengirimnya di ig aku : @melqueeeeeen_post
atau cuma ditag.
Vommentyangbanyakguys!😚
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top