Part 41 : Caught Again

Flashback On

"Pergi dari sini sekarang juga, saat ini aku sudah punya istri dan tak akan bermain lagi denganmu. Pergilah, sebelum istriku datang-..."

"Varel, siapa yang datang?"

Varel sukses membungkam mulutnya saat didengarnya suara Nathalie yang mendekat.
Bahu pemuda bermata coklat itu menjadi menegang kala merasakan sentuhan di pundaknya dari belakang.

Varel menolehkan kepala sambil menelan salivanya dengan susah payah, dirinya sekarang seperti korban yang didatangi hantu dalam film-film horror.

"Na-Nathalie kau sudah bangun?"
Tanyanya dengan nada bicara tergagap, namun tak dicurigai oleh Nathalie hingga wanita itu tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.

Kepala Nathalie yang tadinya menghadap Varel kini beralih pada wanita yang masih menunggu di depan pintu apartemen mereka.

"Varel, siapa dia?"
Tanya Nathalie sembari memperhatikan wanita di depannya sedangkan yang diperhatikan hanya memberikan senyuman yang sulit diartikan.

Varel menelan salivanya, "Ah d-dia temanku, benarkan?" Varel melirik 'wanita malamnya' kemudian menganggukan kepalanya mengisyaratkan agar wanita malamnya itu ikut bergabung dalam dramanya.

Wanita itu langsung menyodorkan tangannya ingin bersalaman dengan Nathalie, "Ya, aku adalah teman Varel. Maafkan aku, kebetulan aku sedang ada urusan dengan Varel menyangkut uang Varel yang kupakai."

Nathalie mengernyit, "Maksudmu, kau punya hutang dengan suamiku?"

Wanita malam Varel itu hanya mengangguk ragu, dirinya sendiri hanya asal menyebut alasannya bertemu dengan Varel barusan.

"Baiklah, ayo kita ngobrol di dalam, aku akan membuatkan minuman dulu."
Ajak Nathalie seraya membuka jalan agar wanita itu masuk ke dalam apartemennya.
Varel yang melihat itu hanya bisa mengumpat dalam hati.

'Sial! Apalagi sekarang?'

Flashback off

***

Gabriella menangis dalam pelukan Garrison kala pria bermata biru dan para rekannya sudah berhasil memborgol kedua tangan Max.

Garrison mengelus lembut puncak kepala Gabriella, menenangkannya yang masih saja menangis terisak, "Sssttt tenanglah Gabriella, kita sudah menangkapnya. Dia tak akan melakukan apa-apa lagi padamu."

"A-aku benar-benar takut Garrison, d-dia pria itu mencoba me-membunuhku dengan pisau."
Ucap Gabriella sambil sesegukan dan melirik Max yang kini menatapnya dengan sinis.

Max mendengus kasar melihat akting yang dilakukan Gabriella sekarang, bisa-bisanya gadis itu menuduh jika dirinya akan membunuh Gabriella?

Max mengerti jika perkataan Gabriella yang akan kembali memasukkannya ke dalam penjara tak main-main dan sudah terbukti sekarang, tapi tak bisakah gadis itu tak melakukan akting konyol seperti ini?

Hanya gara-gara dirinya menolak cinta Gabriella, gadis itu dengan tak berpikir panjang langsung kembali menjebloskan Max ke penjara.
Lucu memang, padahal Gabriella sendirilah yang waktu itu membebaskannya dengan cara yang salah, namun sekarang gadis itu lagi yang kembali membuatnya akan mendekam dalam penjara.

Jangan salahkan Max yang menolak perasaan gadis itu secara gamblang, biar bagaimana pun Max masih tetap mencintai Kelly, yang notabenenya masih berstatus sebagai kekasihnya.

"Cepat bawa dia ke dalam mobil, aku akan melapor ke chief tentang keberhasilan kita menemukan buronan ini!"
Tegas Garrison menyuruh para rekannya yang kini masing-masing berada di sisi Max, sedangkan Max hanya diam dan terus menatap sinis Gabriella dan Garrison secara bergantian.

'Jika saja pria itu tau selama ini Gabriella-lah yang membawaku kabur, pasti dia tak akan berlaku selembut itu pada putri ketuanya. Sayangnya, aku masih mengingat jasa Gabriella yang telah menyelamatkanku waktu itu, ditambah aku merasa bersalah atas kematian Walter.'
Batin Max yang kini memandang Garrison, pemuda itu kini dituntun para polisi menaiki mobil polisi yang sudah terparkir di depan apartemen Gabriella.

|||

"Sudahlah, kau harus tenang, hm? Sekarang tak akan ada yang mencoba membunuhmu lagi."
Tukas Garrison sambil menatap Gabriella lembut, Gabriella yang mendengar itu hanya mengangguk.

Garrison tersenyum, kemudian menggerakkan tangannya menghapus jejak-jejak air mata Gabriella yang masih terdapat di pipi, "Seharusnya kedua bodyguardmu selalu berada di sisimu 'kan? Ke mana mereka? Aku benar-benar tak mengerti kenapa mereka tak ada di saat-saat seperti ini. Aku akan menghubungi mereka dan memarahinya nanti."

Gabriella menggeleng cepat, "Tidak, maksudku tak usah memarahi mereka. Mereka berdua tak salah Garrison, aku-lah yang salah."

"Apa maksudmu?"

"Sebenarnya...akulah yang menyuruh mereka untuk tak menjagaku lagi saat ayah sedang tak berada di dekatku, mereka kuperintahkan untuk tak menjagaku saat ayah tak berada di dekatku."

"Jadi maksudmu, mereka hanya menjagamu saat ayahmu ada saja, dan mereka melepaskanmu disaat ayahmu tak mengawasimu?"

Gabriella mengangguk ragu, membuat Garrison berdecak.

"Kau memang benar-benar keras kepala Gabriella! Lihatlah kejadian yang kau alami barusan! Apa itu belum cukup untuk membuatmu jera?!"
Tanya Garrison dengan nada tinggi, pria itu terlihat benar-benar kesal atas pernyataan gadis di hadapannya.

"Maaf Garrison, aku berjanji akan menghubungi mereka setelah ini dan meminta mereka menjaga apartemenku."

Garrison menghela nafasnya, "Maafkan aku, aku bukannya marah melainkan hanya mengkhawatirkanmu Gabriella, aku benar-benar tak ingin kejadian semacam ini terulang lagi padamu. Aku juga tak mengerti kenapa Max Maxwell bisa tau alamatmu dan menjadikanmu sasaran. Apa kau yakin kau hanya mengenalnya saat pertemuan singkat yang kau ceritakan itu?"

Gabriella mengalihkan pandangannya, tak berani menatap mata Garrison, "Ya, te-tentu saja aku yakin Garrison."

Garrison mengangguk paham kemudian menaruh sebelah tangannya di pipi Gabriella, "Baiklah, aku pamit dulu, hm? Tunggu dulu, aku akan pamit setelah kau menghubungi kedua bodyguardmu dulu."

Gabriella terkekeh, "Tenanglah, aku akan menghubunginya Garrison, kau kembali saja ke kantor polisi dan segera hubungi ayahku untuk memberitahu jika Max sudah ditemukan. Jangan lupa, kau harus menutup mulutmu tentang kejadian yang baru saja aku alami dari ayah, hm?"

"Okay, tapi kau harus menghubungi bodyguardmu dulu sekarang, setelah itu baru aku akan pamit dengan perasaan tenang."

"Astaga tuan Garrison James, percayalah padaku oke? Sudah cepat pergi sana!"
Gabriella mendorong tubuh Garrison menuntunnya ke pintu utama.

Setelah mereka telah sampai ke pintu utama, Garrison berdecak, "Baiklah nona Gabriella, aku akan percaya padamu. Tapi bisakah kau berjanji?"
Garrison menyodorkan jari kelingkingnya, membuat Gabriella tertawa kecil.

Dengan segera, kelingking milik Gabriella bergerak mengaitkannya dengan milik Garrison.

Garrison tersenyum lega, "Baiklah, aku pulang, ya?"

"Ya. Terima kasih telah menyelamatkanku tuan menyebalkan!"
Gabriella melambaikan tangannya ketika Garrison sudah membalikkan badannya, namun belum sempat Garrison melangkah menjauhinya, Gabriella dengan cekatan menarik lengan pria itu hingga berbalik lalu mengecup pipi sebelah kanan Garrison.

"Sekali lagi terima kasih."
Ujar Gabriella setelah melepas kecupannya di pipi Garrison, sedangkan yang dikecup kini mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memegangi pipi sebelah kanannya.

"Sudah cepat pergi sana!"
Usir Gabriella membuat Garrison tersentak dengan wajah merona.

Laki-laki itu dengan segera memasuki mobil polisi yang sengaja dibawanya untuk dirinya sendiri. Tadinya Garrison pergi ke apartemen Gabriella dengan dua mobil, satunya dia yang mengendarai, dan yang satunya rekannya yang mengendarai yang digunakan untuk membawa Max dan polisi lainnya yang tadi sudah membawa Max duluan ke kantor polisi.

Garrison segera mengegas mobilnya menjauhi kediaman Gabriella dengan perasaan yang berbunga-bunga karena baru saja dikecup oleh gadis yang selama ini disukainya.

***

"Maafkan aku sebelumnya telah mengganggu waktu kalian sebagai pasangan pengantin baru. Aku ke sini hanya ingin berbicara dengan Varel mengenai peminjaman uang yang kulakukan."
Kata perempuan yang sering Varel temui di club yang kini sedang berkunjung ke apartemen milik pemuda itu dan Nathalie.

"Baiklah, tapi aku belum mengetahui namamu, kau belum memberitahunya sedari tadi. Jadi, siapa namamu?"
Tanya Nathalie lalu menyesap teh yang dibuatnya.

Wanita malam itu tergelak, "Ah aku lupa. Namaku Grace Liony."
Grace mengulurkan tangannya pada Nathalie sembari tersenyum, melihat hal itu Nathalie segera meletakkan cangkir berisi tehnya dan berjabatan dengan Grace, "Nathalie Lewis--ah sekarang Nathalie Rackbourn."

"Varel, kenapa kau diam saja sedari tadi, padahal ada temanmu ke sini?"
Nathalie memandang Varel dengan tatapan bertanya, membuat Varel tersentak dari lamunannya dan tersenyum kikuk memandang istrinya tersebut.

"Aku hanya-..."

"Kau melamun terus, apa yang kau pikirkan Varel? Apa kau berpikir masalah akan datang mengunjungimu sebentar lagi?,"
Grace tertawa kecil menjeda kata-katanya, "ah maaf aku hanya bercanda kok."

Varel mendelik tajam ke arah Grace, jelas sekali dirinya benar-benar kesal atas kedatangan wanita itu di apartemennya pagi ini.

Siapa yang tau kalau-kalau Grace tiba-tiba saja membongkar kedoknya pagi ini pada Nathalie, istrinya.
Meskipun sejauh perbincangan mereka ini belum ada tanda-tanda wanita itu akan memberitahu, namun justru hal itulah yang semakin membuat Varel gelisah sekaligus cemas.

Varel berdeham pelan, kemudian bangkit dari duduknya, "Baiklah, aku akan ke toilet dulu sebentar."
Ucap Varel pada Nathalie dan Grace, melihat hal itu Grace juga ikut-ikutan bangkit dari duduknya, "Tak perlu repot-repot Varel. Aku akan pulang sekarang juga, sepertinya kau takut akan keberadaanku di sini. Baiklah Nathalie, aku pamit dulu ya, jaga suamimu baik-baik jangan sampai dia lepas dari pengawasanmu. Varel lelaki yang tampan, banyak wanita di luar sana yang menginginkannya. Oke baiklah, aku pamit sekarang, nikmati waktu berdua kalian ya."
Pamit Grace sembari tersenyum penuh arti pada Varel kemudian segera melenggangkan kakinya keluar dari apartemen Varel dan Nathalie.

Nathalie mengernyit, "Kenapa temanmu begitu aneh? Bicaranya parau dan main pulang begitu saja. Padahal katanya ingin bicara mengenai hutang antara kalian, tapi tadi dia tak membicarakan itu sedikitpun?"

Varel beranjak mendekati Nathalie, "Sudahlah, dia memang begitu. Sekarang bisakah kita habiskan waktu berdua?"
Tangan Varel kini melingkar di pinggang Nathalie, membuat Nathalie membalikkan badannya menghadap pria itu.

Nathalie tersenyum miring, "Hei, bukankah kau bilang ingin ke toilet tadi?"

Varel terkekeh, kemudian dengan gerakan cepat menggendong Nathalie ala brydal style yang berhasil membuat Nathalie memekik kecil.

"Ayo temani aku mandi nona Rackbourn."

Tbc...

Max masuk penjara lagi deh😢

Ada yang sedih? Atau mungkin kalian malah seneng karena kalo Max masuk penjara itu berarti ia dan Gabriella berjauhan?

Btw, kasian ya Nathalie gak peka sama kode dari Grace, padahal kan Grace udah beri kode dari kata-katanya agar Nathalie sadar😼

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top