6
Camilla duduk tegang di atas kereta kuda lusuh yang sengaja dibawanya. Gadis itu sedang menunggu kepastian, apakah Kate datang ke istana atau tidak. Menunggu kepastian benar-benar mendebarkan.
"Nona."
Rara tiba-tiba muncul dan membuka pintu kereta kudanya.
"Bagaimana?"
"Saya sudah bertanya pada penjaga gerbang. Mereka bilang tidak ada kereta kuda Keluarga Count Carson yang memasuki istana," jelas Rara.
Ah, kekecewaan memang Camilla rasakan. Namun, bukannya ini lebih baik. Artinya Kate tidak datang ke istana. Lalu ke mana gadis itu pergi?
"Rara, apa informanmu itu terpercaya?" tanyanya memastikan. Bukannya ia tidak memercayai Rara, tapi ia takut informan yang Rara sewa hanya mencari untung dengan menebar kebohongan saja.
Rara terlihat gelisah. Inginnya ia tidak curiga, tapi melihat ekspresi Rara membuatnya mau tak mau harus curiga.
"Rara. Katakan yang sebenarnya padaku? Ada apa? Apa informanmu itu terpercaya? Atau kau bekerja sama dengan dia untuk menipuku? Maafkan aku jika sembarangan menuduh seperti itu, tapi aku tidak bisa untuk tidak mencurigaimu."
"Begini, Nona ...."
"Apa yang kau lakukan di sini, Camilla?"
"Luce?!"
Sungguh Camilla terkejut bukan main. Kenapa malah Luce yang muncul? Apa Luce tahu kelakuannya ini? Aduh. Kalau itu benar, bagaimana ke depannya nanti?
"Apa kau bisa meninggalkan kami berdua?" pinta Luce.
Rara membungkuk dan meninggalkan keduanya.
Luce naik ke atas kereta kuda dan duduk di depan Camilla, "Kau belum menjawab pertanyaanku. Jawablah. Aku penasaran."
"Itu ...." Camilla memainkan jarinya gelisah, "ah, aku hanya ingin bertemu denganmu," bohongnya.
"Dengan penampilan seperti itu?"
Nah, Camilla.
"Memangnya tidak boleh?!" bentaknya. Maaf Luce, ini satu-satunya cara Camilla keluar dari momen canggung ini.
Luce menggaruk kepalanya, "Bukannya tidak boleh. Hanya saja itu aneh. Orang-orang berlomba tampil cantik saat mengunjungi istana. Kau malah berpenampilan lusuh. Bagaimana aku tidak curiga." Pria itu berdeham, "katakan yang sebenarnya. Aku yakin itu bukan tujuan utamamu."
Camilla mengambil napas dalam. Ini saatnya jujur. "Aku mendapat informasi kalau Kate akan mengunjungimu."
"Kenapa menyamar? Jika kau datang aku langsung menyambutmu. Aku yakin Kate tak akan mempermasalahkan itu."
"Masalahnya ... Kate membenciku. Dia menyukaimu. Karena aku menolak membantunya, sekarang dia menjauhiku." Camilla mendesah pelan. "Aku takut Kate merebutmu. Hal itu lah yang membuatku menyamar seperti ini."
Terdengar kekanak-kanakan, tapi tak bisa dipungkiri Luce senang mendengarnya. Camilla takut Kate merebutnya. Bukankah itu sangat romantis? Artinya Camilla benar-benar menginginkannya dan takut kehilangannya.
"Apa Kate tidak mengunjungimu?" Camilla balik bertanya. "Padahal informannya mengatakan kalau kalian akan bertemu."
"Sejauh ini ... dia tidak datang. Mungkin informanmu itu salah."
Artinya dirinya ditipu. Jahat sekali informan itu. Kalau tahu begini, tidak mungkin ia mau menyamar dan berpakaian seperti ini. Rasanya kecewa dan marah. Camilla jadi ingin memukul informan itu.
"Apa kau kecewa?" tanya Luce. Walaupun sudah tahu jawabannya, Luce ingin mendengar langsung dari mulut Camilla.
"Tentu saja!" Camilla berteriak. "Jika tahu kalau itu penipuan. Aku tidak akan susah-susah berpenampilan seperti ini. Merepotkan saja. Aku jadi ingin memukulnya! Berani-beraninya dia menipu Putri Duke!"
Mau tak mau Luce tertawa melihat ekspresi lucu itu. Saat sedang marah kedua alis Camilla selalu berkerut. Bibir merah muda itu juga mengerucut, tak lupa matanya yang membelalak lucu. Sangat menghiburnya sekali.
"Jangan menertawakanku!"
Luce mencoba berhenti tertawa. "Harusnya kau senang, Camilla."
"Mana ada orang sehabis ditipu bahagia? Kalaupun ada. Pasti dia tidak waras," ketus Camilla. Gadis itu membuang muka. "Jangan menguji kesabaranku. Aku sedang kesal."
"Aku sedikit kecewa."
"Kecewa? Apa kau mulai menyukai Kate?"
Saat marah-marah seperti ini Camilla benar-benar menggemaskan.
"Aku memang menyukainya."
Camilla ternganga saking tidak percayanya. Luce jahat! Bagaimana dia mengatakan itu di depannya? Dasar laki-laki tidak punya hati! Matanya tiba-tiba memanas. Cengeng sekali dirinya ini. Padahal baru kemarin Luce berkata kalau dia menyukainya, tapi kenapa sekarang berpindah haluan?
"Kau benar-benar jahat!" Gadis itu terisak. "Bagaimana bisa mengatakan hal itu di depanku?! Apa kau tidak memedulikan perasaanku?! Kalaupun kau menyukai Kate katakan saja di belakangku!"
Akhirnya mata hatinya terbuka. Penulis selalu menang. Walaupun Luce memiliki perasaan untuknya, tapi Luce telah ditakdirkan untuk Kate. Sejauh apa pun ia mencoba merebut Luce dari Kate ia tidak akan bisa. Karena Luce milik Kate. Dirinya hanyalah karakter pendukung dengan akhir tragis. Ya. Ia harus menerima takdirnya sebagai Camilla Anderson. Si Matchmaker dengan takdir mengenaskan.
"Hey, Camilla." Luce menyentuh bahu Camilla. "Kenapa menangis?"
Camilla menepisnya dengan kasar. "Jawab saja sendiri! Lebih baik kau keluar dari sini! Temui saja Kate-mu itu!"
"Aku tidak bermaksud seperti i—"
"Pergi saja!" bentak Camilla emosi. "Tinggalkan aku sendiri. Kumohon."
"Apa kau yakin?" tanya Luce khawatir. Niatnya bukan membuat Camilla menangis. Dia hanya berniat menggoda gadis itu. Namun, akhirnya tidak terduga.
"Apa kau mau aku yang pergi?"
Melihat emosi itu membuat Luce jadi ketakutan. Camilla serius dengan apa yang dikatakannya. Gadis itu sekarang benar-benar marah. Luce takut setelah ini Camilla akan pergi. Ia tidak siap untuk itu.
"Tolong tinggalkan saya sendiri, Pangeran Lucerance."
Ini adalah mimpi buruk Luce.
Camilla membencinya.
•••
Halo. Masih setia, 'kan? 😂
Semoga dapat menghibur. Jangan protes ya kalau nyesek begini. Itung-itung latihan buat cobaan yang lebih berat lagi.
Sekian, ya. Nanti bakal ada penyelesaiannya kok.
Jangan lupa tekan bintangnya ❤️
Sampai jumpa❤️❤️
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top