34
Sohyun POV
Aku mengatupkan kedua netraku, sejenak menghayati sentuhan angin malam yang merasuk melalui indra penciuman serta pori-pori kulit. Udara menjelang musim gugur memang yang tersejuk. Perlahan, aku mengulum senyuman tipis. Aku mendapatkan selintas kedamaian yang selama ini jarang kudapatkan. Dan aku tidak sendirian.
Aku mengajaknya, orang yang janji akan kuhadiahi sesuatu. Dia tengah berdiri tegap di sampingku, ikut menikmati indahnya lampu warna-warni yang menyelimuti Hangang. Tak ada pembicaraan di antara kami, masing-masing pikiran kami kabur. Aku tak tau apa yang ia bayangkan di balik pejaman matanya itu, dan aku tidak cukup peduli.
Taeyong ikut terlarut bersamaku di tengah keramaian kota. Sungai Han adalah hiburan terbaik. Meski suara bising kendaraan tiada henti menyumpal telinga, namun Han mengalahkan segalanya.
Aku senang memandanginya dari dekat. Gurat tegas wajahnya terlukis jelas. Samar-samar bibirnya melengkung ke atas, membentuk garis imajiner yang terkesan mempesona.
"Udaranya enak bukan?"
Ia membuka matanya, dengan tatapan masih tertuju lurus ke depan. Kupikir ia sangat menikmati pancuran air penuh warna di hadapannya serta permukaan air Sungai Han yang bergelombang kecil tersapu angin.
"Apa alasanmu mengajakku kemari? Apa ini hadiahmu?"
Hadiah...
Hadiahku jauh lebih baik daripada ini. Aku, sebagai orang yang peduli pada Taeyong, ingin memberikannya waktu bersantai sebelum ia terbelit oleh tugas-tugas kantor yang memberatkan kepala.
"Bersepeda di tepi sungai, berlayar di tengah sungai, dan menikmati street food. Aku yakin kau belum pernah melakukannya."
Taeyong memicingkan matanya, berpikir sekelebat sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Intuisiku yang ulung menuntunku menebak karakter Taeyong dengan tepat.
.
.
.
"Hei! Hati-hati! Jangan ngebut!"
Karena Taeyong tidak bisa mengendarai kendaraan roda dua ini, akhirnya aku pula yang memboncengnya. Lumayan berat, tetapi beban ini tak berasa sedikit pun setelah terbayarkan oleh betapa menakjubkannya Han di malam hari. Bukan hanya aku yang terhibur, lihatlah! Pria manja ini juga!
Ck. Tidak, dia tidak manja lagi! Dia sudah dewasa, bahkan sekarang menjadi CEO. Waktu terbang begitu cepat tanpa kusadari..
Meski agak ketakutan dan cemas kalau-kalau kami jatuh, tawanya memadati jalanan Han yang tak sepi. Keramaian orang tak menghalangi jiwa muda Taeyong terbebas. Ia tertawa lepas, berteriak sekencang mungkin dan meloloskan seluruh gundah gulana yang ia pendam.
Niat jahil tiba-tiba terlintas di otakku. Sengaja aku mengendarai sepeda ini ugal-ugalan. Taeyong memegang erat kedua pinggangku, membuatku terasa geli.
"Bodoh! Hentikan sepedanya! Aku tidak mau jatuh!"
"Ini menyenangkan, bodoh!"
"Kau bodoh!"
"Iya, bodoh! Aku bodoh! Kita dua orang bodoh yang tidak waras!"
"Apa katamu??"
"WAAA!!"
Kami menjerit bersamaan, menjadi pusat semua orang. Bagaimana tidak?? Sepeda kami oleng dan akhirnya menabrak tiang pembatas. Kami jatuh terjungkal. Sama-sama merasakan nyeri di lutut dan siku.
"Kau selalu ceroboh! Gadis bar-bar!"
"Aduh.. sepedanya rusak!"
Tak menghiraukan erangan Taeyong, fokusku justru tertuju pada keranjang sepeda yang sudah penyok tak berbentuk. Ban bagian depan pun juga penyok, udara dalamnya terpompa keluar sehingga ban terlihat sangat kempes. Aku memukul kepalaku.
Sudah pasti aku harus mengganti uang untuk ini.
"Kau.. menyusahkan saja."
Taeyong melirikku dongkol, aku hanya bisa tergelak kecil penuh sesal. Aku mengklarifikasi bahwa aku memang ceroboh.
"Kau akan menggantinya kan?"
Aku menggaruk tengkukku, mengganti ya?Sayangnya seluruh uang sudah aku alokasikan khusus untuk perjalanan santai kami di sini. Kalau aku menggunakannya, waktu kami menjelajah di Sungai Han pun semakin sempit. Dan tidak akan ada banyak hal yang bisa kami lakukan.
Ya ampun, kenapa pakai jatuh segala sih?
"Baiklah, baiklah. Karena aku laki-laki, aku yang akan tanggung jawab. Tunggu disini!"
Terima kasih, Taeyong. Syukurlah, aku tidak mengeluarkan uang.
........................
"Wah..."
"Wah..."
"Wah..."
"Wow..."
"Wow, lihat itu!"
"Disana.."
"Yang itu!"
Aku tidak bisa mengerem mulutku. Melihat seluruh view yang luar biasa menarik ini, aku tak berhenti terkagum-kagum. Mengendarai kapal di atas Sungai Han sepertinya akan selamanya jadi aktivitas favoritku. Aku bahkan tidak mau kapal ini segera berhenti. Aku masih nyaman di atasnya.
Berbeda denganku, Taeyong justru terdiam. Ada apa? Apa kapal ini tidak menyenangkan? Apa dia mulai bosan? Huh.. jujur saja. Aku ingin membuktikan padanya, bahwa dunia luar yang bebas dan menantang yang sebenarnya adalah berinteraksi secara langsung dengan alam. Bukan dengan menghabiskan waktu semalaman, menongkrong di dalam club, meminum soju ataupun alkohol serta memanjakan mata dengan gadis-gadis cantik dan seksi.
Inilah yang namanya hiburan, tak hanya kegembiraan, tapi juga sebagai kenangan!
"Kau bosan? Ayo dong, senyum!"
Aku menarik kedua bibirnya, membuatnya terlihat lebih baik. Memaksakan sebuah senyum muncul.
Tak berhasil..
"Ada masalah?"
"Aku yang kau ajak, seharusnya aku yang lebih bergairah. Tapi cuma kau yang sedari tadi berisik."
"Hehe.. maaf. Jujur, ini pertama kali aku naik kapal di Sungai Han, walaupun sudah tak terhitung berapa kali aku berkunjung kesini."
Syukurlah Taeyong memaklumiku. Percayalah, aku sekadar mencoba untuk mengembalikan semangatnya sekarang. Aku meraih ponselku dan mengajaknya berfoto.
"Senyum, Taeyong! Foto ini akan jadi kenangan terindah!"
"Sohyun... Aku malas."
"Ya ampun, ini tidak akan memakan waktu sampai satu jam. Cukup senyum sebentar, dan cekrek!"
Menunggu Taeyong siap berfoto membutuhkan waktu seabad. Jadi, ketika ada kesempatan, aku langsung saja menekan tombol take dari layar ponsel yang sudah ku mode selfie.
Ia sedikit marah. Kupikir ia akan menyemburkan sumpah serapahnya padaku, tapi aku salah.
"Foto yang benar dong! Aku tadi kan belum siap! Mana!!"
Dia merebut ponselku, mengambil alih posisiku sebagai pemotretnya. Yap, dia yang malah berapi-api mengambil banyak foto selfie. Kami berpose ini, berpose itu, sampai-sampai kami kehabisan pose apalagi yang akan kami terapkan. Saat itulah, aktivitas kami terhenti.
"Lihat, wajahmu yang ini jelek sekali!"
Gambar yang ia maksud adalah saat aku berpose dengan menjulurkan lidah, serta memposisikan kedua irisku ke tengah. Terlihat konyol memang! Sekali-kali, tidak masalah kan? Kapan lagi Taeyong menemukan wajahku yang sejelek ini?
Aku ikut tergelitik, namun kepuasan menguasai akal sehatku. Aku berhasil membuat bahagia Taeyong yang akhir-akhir ini berbeda. Dia menjadi agak pendiam. Agak...
"Eh..?"
"Kenapa?"
Aku baru saja mengerti, ada yang tidak beres dengan wajah Taeyong di foto.
"Kau mabuk laut?"
"Hah??"
"Mabuk apa?? Aku tidak minum alkohol."
"Mabuk laut!"
Ucapku lebih keras.
"Ah, tidak!"
Bohong. Taeyong pasti bohong, kelihatan dari mukanya yang belingsatan seperti orang hilang arah. Bingung dan kacau jadi satu!
Aku menarik tangannya, membawanya masuk ke kapal dan sedikit menghindari cuaca dingin di luar. Untung aku berbekal syal dan mantel yang sempat aku simpan di bagasi mobil. Dan aku mengenakannya langsung saat aku menginjak destinasi ini.
Aku mengalungkan syalku ke leher Taeyong. Kuraih telapak tangannya, kemudian kugosok-gosokkan telapak tanganku disana. Semoga, kehangatan sementara ini dapat menghilangkan rasa mualnya.
"Kubilang aku tidak apa-apa!"
Taeyong hendak melepas syal yang aku pakaikan, namun aku menahannya.
"Tidak usah gengsi.. lagipula aku sudah survei dari Mama tentang apa saja yang kau suka dan tidak sukai."
"Hei! Kau memata-mataiku ya?"
"Tidak. Aku hanya mencari informasi saja."
"Terserah. Artinya sama. Kau memata-mataiku!"
"Taeyong..."
Sial. Aku tidak bisa menahan kejutan inti keluar dari mulutku. Rasanya, ingin segera kuberitahukan padanya tentang kejutan utamaku. Apa sebaiknya aku ungkapkan sekarang?? Sayangnya, waktu tersisa masih satu jam lagi.
Karena satu kalimat pun tak kunjung kukatakan, kami berakhir dengan saling tatap-menatap. Mata kami terkunci. Telingaku mendadak tuli, tak mendengar suara apapun. Semua jadi hening.
Satu-satunya objek yang tersisa untuk kuamati adalah wajah tampan Taeyong. Wajah yang sering kupuji-puji dalam hati. Wajah yang sering aku hindari eksistansinya selama ini. Keadaan pun berbalik, semakin aku menolak pesonanya, semakin aku terjerat.
Tapi tidak hari ini, semua ketertarikanku akan segera kuakhiri. Ya, malam ini.
Tunggu! Aku tetap tidak bisa mengabaikan tatapan sendunya. Ya Tuhan, kenapa kau tidak izinkan kelopak mataku berkedip saja??
Bahkan aku sampai tidak terbangun dari kegugupanku, ketika wajahnya semakin mendekat dan hampir bersentuhan dengan wajahku. Ketika nafasnya berhembus dan terasa menghangati pipiku.
Kedua tangannya dengan kuat menarik pinggangku. Mengapitku begitu ketat, tak membiarkan ada jarak di antara kami berdua. Aku semakin merasakan hembusan nafas hangatnya menjalar di seluruh area wajahku. Apa yang dia lakukan?
Matanya turun, atensinya sepertinya teralih pada bagian lain dari wajahku.
Sial. Aku membeku!
Dia pelan-pelan memejamkan matanya, dan aku lagi-lagi lemah tak berdaya!
Aku berontak, namun penolakanku sepertinya membuat kesabaran Taeyong di ambang batas.
Ia melakukannya!!
To be Continued..
Next (?)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top