33
Taeyong POV
Hari ini aku resmi mulai bekerja. Papa mengizinkanku berangkat dengan menggunakan mobil pribadi. Sengaja kupersingkat waktu dan berangkat lebih awal dari papa, bersama gadis ini.
Ya, Kim Sohyun masih bersamaku. Hari itu, setelah aku menerima ijazah, kami tidak jadi membongkar sandiwara soal pertunangan kami. Melihat mama yang raut mukanya berseri serta papa yang tak kalah bangga menatapku berada pada puncak keberhasilan, rasanya aku belum siap menjatuhkan mereka setelah mereka melayang tinggi.
Kami memutuskan untuk mencari waktu yang emas. Sementara itu, Sohyun mempersiapkan dirinya dan Jaehyun untuk melangkah ke jenjang yang lebih jauh---tampaknya.
Sesampainya di kantor, jantungku cukup berdebar-debar. Ini pertama kalinya aku datang dan disambut oleh banyak orang. Hal pertama dan utama yang aku dapat ketika menginjakkan kaki masuk ke lobi adalah kalimat-kalimat sanjungan.
Ck. Bukankah aku seringkali keluar-masuk kantor papa? Kenapa perhatian mereka terhadapku tampak berbeda sekarang?
"Mereka kenapa sih?"
Gumamku pada diri sendiri yang secara tak sengaja terdengar sampai ke telinga Sohyun.
"Kau tidak sadar? Penampilanmu lah yang menarik mereka, Lee Taeyong."
Penampilanku, apa bagusnya? Aku hanya memakai kemeja putih dengan dasi motif garis warna hitam abu-abu, dan juga jas biru steel yang tadi dipilihkan Sohyun. Seperti pekerja kantor regular. Mereka saja yang terlalu hiperbola.
Ah, aku lupa. Apa karena aku ini mantan playboy? Diam seperti apapun, dengan penampilan apapun aku masih terlihat keren.
Lagipula... Aku hanya mantan playboy. Mantan..
Dengan terpaksa, aku pun menebar senyum. Sohyun tiba-tiba mengaitkan lengannya pada lengan kiriku. Jangan lupa, kami masih berstatus 'tunangan' di mata semua orang. Dan ya, sedari tadi aku terkesima oleh kecantikan Sohyun. Bukan! Bukan hanya itu, melainkan keanggunan yang kini ia tampilkan pada kami.
Dia begitu anggun memakai sebuah dress warna merah burgundy. Celana yang biasa ia pakai, topi snapback, kemeja lusuh, serta sepatu kets, seolah hari ini ia buang jauh-jauh. Ia berdandan layaknya seorang wanita. Ditambah lagi, rambut cokelatnya itu panjang terurai, kedua telinganya berhias anting-anting yang elegan, serta di lehernya terdapat kalung yang dulu sempat kuberikan.
Kakinya yang putih berbalut high heels 7 cm, menampilkan Sohyun yang dulu simplistis menjadi lebih glamor. Tak kusangka dia selihai itu mengendalikan high heels-nya.
Mereka terpukau. Bagi mereka, kami adalah pasangan serasi. Yah, kalau saja mereka tau bahwa aku bukanlah pria yang Sohyun harapkan berdiri di sebelahnya saat ini.
"Selamat pagi, Pak Taeyong. Selamat datang di kantor kami."
Sambut ramah seorang pria matang yang tak lain adalah sekretaris papa, namanya Tuan Seokgyu. Beliau mempersilakanku dan Sohyun masuk lebih dalam, menuntun kami menuju sebuah ruangan bertajuk CEO.
Tak lama lagi aku akan meneruskan mandat dari papa, menjabat jadi seorang CEO. Tepatnya, untuk beberapa jam ke depan. Papa meminta kami menunggu di ruangannya. Namun sebelum itu, Tuan Seokgyu menginformasikan, bertindak seperti tour guide, tentang banyak hal menyangkut Canopus. Mulai dari pembagian divisi kerja, pemegang jabatan tinggi, ruangan-ruangan eksklusif, dan yang utama adalah Tuan Seokgyu menunjukkanku dimana papa biasanya menyimpan dan merapikan berkas-berkas krusial.
Introduksi selesai sekitar 30 menit kemudian. Tuan Seokgyu meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.
"Kau gelisah?"
Memang mutlak. Diriku yang baru kali ini berhasil menjadi seorang putra yang dipercayai penuh oleh papanya, barang tentu gelisah. Aku tidak menyangka, sejauh ini kakiku melangkah. Dulu aku serba terpaksa, namun sekarang tanggung jawab telah sukses kuemban. Aku bangga pada diriku sendiri, sekaligus takut bila suatu hari nanti aku tak bisa menjadi harapan semua orang. Aku takut mengecewakan mereka, terutama papa dan Sohyun.
Sohyun memegang kedua lengan atasku, memberiku tatapan penuh arti. Ia menyemangatiku agar aku berusaha lebih keras melawan rasa ketidakpercayaan diriku. Jangan mengira aku orang pesimistis, hanya dalam hal ini lah aku meragukan kemampuanku. Kalian tau sendiri, sesuatu yang diawali dengan keterpaksaan, pasti berakhir buruk bila kita tidak konsisten. Dan aku mencoba untuk menjadi konsisten dengan meyakinkan diriku sendiri.
Pintu ruangan terbuka. Kupikir itu papa, rupanya bukan.
"Kak Taeyong?"
Bagaimana gadis itu bisa masuk semudah ini ke ruangan CEO? Penjagaan di luar sepertinya kurang ketat.
Soojin melewati Sohyun, membuat gadis itu spontan melepas kedua tangannya dari lenganku.
"Selamat ya, Kak. Sebentar lagi Kak Taeyong akan memimpin Perusahaan Canopus seperti yang Kakak impikan."
Lihat, sok tahu sekali dia. Sejak kapan aku memimpikan untuk memimpin Canopus? Ingat, aku terpaksa. Dan sekarang mencoba menjalaninya sebab Sohyun memotivasiku juga.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
"Aih.. Kak. Kenapa bertanya begitu? Kakak balas dulu dong ucapan selamatku!"
Katanya sambil mengerucutkan bibir. Jangan pikir itu lucu, aku merasa jijik sekarang. Di umur gadis itu yang ke-21 tahun, tingkahnya seperti bocah 5 tahunan. Selalu ingin dimanja dan diperlakukan khusus. Kupikir dia bukan penyandang disabilitas, jadi aku tidak perlu memperhatikannya terlalu over kan?
"Terima kasih."
Soojin memelukku. Aku menggerakkan tubuhku tidak nyaman. Ah, Sohyun.. kenapa kau diam saja? Tolong aku..
"Ekhem.. ekhemm.."
Lensa mataku membesar, menyorot ke arah Sohyun yang ekspresi wajahnya sangat aku harapkan.
Ya. Bagus!
Tangan Sohyun meraih pundak Soojin dan sukses memisahkan gadis benalu itu dariku.
"Ih! Apaan sih?! Ganggu aja!"
"Siapa yang mengganggu? Sudah selesai kan ngasih 'selamat'-nya? Bisa pergi dong??"
Wah, kalau saja ini di hutan rimba, aku sudah pasti sedang menyaksikan pertengkaran antara dua singa betina yang memperebutkan singa jantan penguasa hutan. Itu aku.
"Pak Taeyong?"
Sial. Tuan Seokgyu mengganggu saja!
"Ada apa?"
"Pak Lee meminta Anda segera masuk ke ruang pertemuan."
"Sekarang? Kenapa Papa tidak ke sini dulu untuk menemuiku?"
"Saya kurang paham, tapi Bapak bilang kalau jam-nya dimajukan."
Akhirnya, aku harus menuju ke ruang yang dimaksud. Tak lupa aku mengajak Sohyun bersamaku. Setidaknya, gadis benalu tak akan mengusik kami lagi disana.
..............................
"Selamat ya, Tuan Muda Lee sekarang sudah jadi CEO."
Aku tak mampu mengelakkan senyum. Gadis ini benar-benar telah mengikatku dengan pesonanya. Hanya melihatnya bersikap manis saja, jantungku berdentum hebat.
Pipinya yang mengembang, mata bulatnya yang memancarkan percik keindahan, serta bibir mungilnya yang kemerah-mudaan tergambar elok mengemas irasnya.
"Kau bahagia sekali hari ini."
"Aku jarang melihatmu terlihat sebahagia ini. Apa penyebabnya? Apa karena jabatanmu?"
Jabatan bukan apa-apa bagiku, Sohyun. Kau lah yang membuatku bahagia.
"Jika alasanmu aku, jangan terlalu berharap. Karena kau tau, hubungan kita tak akan berlangsung selamanya."
"Hah?"
"Lupakan. Aku bercanda."
Sebuah candaan yang menyembilu. Kukira dia menebak sesuai sasaran melalui kata hatiku. Ternyata aku salah.
"Ini. Hadiah untuk CEO Canopus yang baru."
Sohyun mempersembahkan satu bingkisan lumayan besar kepadaku. Itu terkemas apik. Seakan tau dari sirat kebingungan yang melanda diriku, Sohyun menjelaskan bahwa ia menyiapkan hadiah atas jabatan baruku ini.
Perasaanku terlampau senang. Ini hadiah pertama yang aku dapatkan dari Sohyun.
"Bukalah.."
Aku membukanya tak sabaran. Dan isinya..
"Dasi?"
Kecewa. Aku kecewa karena ia memberiku beberapa potong dasi.
"Aku tau kau akan selalu memerlukannya. Jadi, aku berikan dasi yang siap pakai. Kau tidak perlu lagi susah-susah memakainya. Tinggal masukkan ke kepala, lalu tarik ujung dan bagian simpulnya."
Aku menghela nafas. Paling tidak, Sohyun memberiku hadiah. Aku harus menerimanya dengan senang hati. Hah, kalau perlu akan aku pajang satu-satu dasi ini dan suatu hari ketika aku mulai tua, aku akan memuseumkannya.
"Sepertinya kau tidak puas? Tenang. Bukan cuma ini hadiah dariku."
Secercah harapan timbul di pikiranku yang terdalam. Aku menanti gemas kalimat selanjutnya yang hendak disebutkan Sohyun.
"Hari ini..."
To be Continued.
Next (?)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top