Chapter 2 - Second Meet
"Ae-ri, kenapa kamu sudah pulang? Bukankah liburanmu masih panjang," gerutu Oppa sembari menyantap sarapan pagi.
"Ki The, biarin adikmu di rumah saja. Dia bisa menemani Mom, seperti shopping, nyalon, dan lain-lainnya. Kalau tidak dia bisa beristirahat di rumah, karena Mom bisa memantaunya dan Mom juga tidak perlu khawatir. Oke, sayang?"
Mom emang paling the best. Tanpa perlu aku kasih tahu keinginanku, Mom selalu membantu menengahi gerutukan Oppaku yang overprotektif itu. Aku tahu. Oppa sangat menyayangiku melebihi apapun, sampai ada suatu ketika aku dilabrak pacarnya dikarenakan dipikirannya aku adalah selingkuhannya. Itu sangat menggelikan. Setelah kejadian itu, wanita tersebut tidak pernah tampak lagi batang hidungnya.
"Ayolah, Oppa. Aku lebih nyaman di rumah. Untuk liburan setidaknya aku mau ditemani, enggak enak liburan seorang diri. Itu sangat membosankan," bujukku dengan memasang raut wajah gemas.
"Baiklah-baiklah. Tapi dengan satu syarat. Kamu harus janji tidak akan mengingkarinya. Mengerti?" tanya Oppa melunak.
"Oke, Oppa. Tapi apa syaratnya?" tanyaku dengan penasaran.
"Ae-ri harus benar-benar istirahat total. Tidak ada mengerjakan kerjaan kantor apapun. Jika ketahuan, cuti Ae-ri akan Oppa perpanjang satu minggu lagi," kata Oppa dengan mimik muka tegas dan serius.
"Makasih, Oppa. Muachh ...," aku mengecup pipi Oppa dengan senang.
"Oppa-nya dikecup, Dad kenapa tidak?" Dad yang sedari tadi diam berkata dengan nada cemburu.
Aku menyengir lebar, lalu berjalan ke arah Dad dan Mom untuk mengecup kedua pipi mereka dengan bahagia.
Seusai sarapan pagi, aku menghabiskan waktu sampai malam dikamar dengan membaca buku, menonton sampai ketiduran karena membosankan tidak ada kegiatan apapun. Yang biasanya dihabiskan dengan kerjaan yang banyak tanpa henti, ini sama sekali tidak melakukan apa-apa seharian.
* * *
Keesokan paginya, mataku terbuka jam 05.00 AM. Masih subuh, akan tetapi mataku sudah segar terbuka lebar. Karena bangun jam segini, lebih baik kugunakan untuk berolahraga keluar rumah sembari menghirup udara segar pada pagi hari.
Tempat tujuan yang ingin kutuju adalah sebuah taman besar yang tidak jauh dari rumahku. Aku mengeluarkan sepeda yang tidak tahu kapan terakhir kugunakan itu. Olahraga yang biasa kulakukan hanya di ruang gym di rumahku.
"Wah, udaranya sangat segar," kataku sembari menarik napas panjang.
"Pagi, Pak Jung," sapaku pada penjaga pos rumahku.
"Pagi, Non Ae-ri. Anda mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Pak Jung penasaran.
"Saya mau bersepeda di taman dekat sini, Pak. Udaranya juga masih segar," ucapku tersenyum ramah.
"Kalau begitu hati-hati Nona," ucapnya dengan senyum ceria.
Aku mengayuh sepeda ke taman yang berjarak sejauh 400 km dari rumahku dengan santai. Ketika sampai di taman tersebut, aku memarkirkan sepedaku di tempat khusus sepeda, kemudian mulai melakukan perenggangan untuk memulai jogging.
Seseorang menghampiriku ketika aku selesai melenturkan badanku.
"Hi, kitty. Dunia ini sangat sempit ya. Kita bisa bertemu disini," ujarnya dengan senyum lebar.
"Haishh ... Kenapa saya harus bertemu anda pagi-pagi begini. Membuat mood saya jelek saja," gerutuku kesal.
"Wow, sapaanmu sangat ketus ya. Nanti tidak ada pria yang mau denganmu loh kalau galak begitu," ujarnya dengan nada menggoda.
"Bukan urusanmu," semburku marah.
"Eitzz ... Tapi kamu tenang saja, aku bersedia menerimamu apa adanya," ucapnya gombal.
Aku membuat gerakan mau muntah mendengar kata-kata tersebut.
"Gombalan anda mungkin mempan ke wanita lain, tapi saya tidak akan termakan rayuan gombal memuakkan anda," ujarku mempercepat lariku meninggalkannya.
Tidak beberapa lama, dia sudah berada disampingku sembari mencolek-colek pipi gemas yang membuatku menepis tangannya kasar. Aku tidak suka hal tersebut. Kenal saja enggak. Berani sekali dia main-main colak-colek begitu.
Saking kesalnya, aku berhenti berlari diikuti dia. Kemudian tanpa aba-aba aku memutar tubuh menghadapnya lalu menendang kakinya yang mengakibatkan terdengar suara mengaduh kesakitan.
"Mampus. Siapa suruh tangan anda kurang ajar," ledekku dengan tawa lebar.
Aku segera melarikan diri dari TKP kejadian. Terdengar samar-samar, dia berteriak,"Awas ya, kalau kamu ketangkap."
Emang aku takut diancam gitu. Aku tertawa dalam hati. Setelah kupikirkan tendangan tadi sangat menyakitkan sekali. Aku mempelajari beberapa bela diri, sejujurnya tadi aku kelepasan menendangnya dengan keras. Aku salut karena dia hanya mengaduh pelan, atau dia hanya menahannya agar tidak malu didepannya.
Oh kaki beberapa jam kedepan itu bakal bengkak. Di lain sisi, aku kasian padanya. Sedangkan di sisi lain aku merasa sangat terhibur.
Jam menunjuk pukul 07.00 AM.
Aku meninggalkan taman tersebut dan balik pulang ke rumah sebelum orang rumah kelabakan mencariku hilang tanpa kabar.
"Kamu darimana?"
Dad berdiri di pintu utama bersedekap dengan wajah serius dan diikuti wajah sangar Oppa, serta muka khawatir Mom.
"Jogging, Dad. Sekaligus menghirup udara segar di taman dekat rumah," ucapku sudah biasa dengan reaksi mereka, jika tidak dapat menemukanku di jarak pandang mereka.
"Mom lapar," rengekku bergelayut manja.
"Sudah-sudah kita sarapan dulu. Masalah ini kita tanyakan sehabis sarapan saja," Mom tersenyum lembut.
Sehabis sarapan, seperti yang saudara-saudara tahu aku diinterogasi. Sarapan yang kumakan menguap seketika.
"Jadi? Apa alasan yang mau diberitahukan mengenai kejadian keluar tanpa seorang pun yg menemani?" tanya Dad dengan muka tajam.
"Aku hanya jogging, Dad. Kenapa selalu dipermasalahin jika aku keluar tanpa pengawal. Apa alasannya? Seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Kalian selalu menutup-nutupi hal itu dariku," ujarku lelah ke mana-mana selalu diikutin bodyguard.
Ketika ditanya alasannya untuk keamananku. Yah tidak segitunya juga. Dan pertanyaan yang selalu kutanyakan selalu tidak dijawab. Mereka terdiam.
"Sayang ...," panggil Mom.
"Aku tahu Mom pasti mau bilang itu untuk kebaikan dan keamananku. Aku tahu, tapi ini berlebihan. Tolong beritahu aku alasannya biar aku bisa paham," ucapku lemah.
"Sorry, sweety." Mom berkata dengan raut wajah sedih.
Aku memandang mereka dengan raut wajah kusut dan sedih, kemudian berjalan keluar tanpa menoleh. Aku masuk ke kamar mandi yang dikamarku dan langsung mengguyur diriku dengan air dingin untuk mengembalikan kejernihan pikiranku. Serasa sudah tenang, aku keluar dengan pakaian basah.
Aku sangat terkejut melihat Mom duduk termenung di tempat tidur.
"Astaga. Bentar Mom ambil handuk dulu," Mom terkejut melihat keadaanku dan menyampirkan handuk mengeringkan muka dan rambutku tanpa suara.
"Kita ganti pakaianmu dulu ya sayang biar kamu enggak sakit nanti. Mom akan jelasin semuanya.
Setelah itu, Aku hanya menuruti arahan Mom ke ruang pakaian tanpa banyak bantahan. Selesai berganti pakaian, aku dan Mom mencari posisi yang nyaman untuk bercerita. Mengalirlah cerita yang selama ini ditutup-tutupi oleh keluarga itu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top