Chapter 1 - First Meet
"C'mon Oppa, cuti seminggu. Saat ini, kantor lagi sibuk-sibuknya menyiapkan peluncuran produk baru musim ini. Aku harus memastikan semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala. Aku sudah mempersiapkan hal ini dari bulan lalu dan pas Hari-H, aku tidak ada. Apa jadinya nanti. Ayoklah," bujukku sembari memasang muka memelas.
Tak bisa dipungkiri, aku disuruh beristirahat seminggu oleh dokter pribadi keluarga dikarenakan aku pingsan ketika survei produk di lapangan. Hal itu membuat Oppa dan kedua orangtuaku sangat overprotektif kepadaku semenjak kejadian itu. Semua jadwal dan aktivitasku dibatasi dan sampai dibatalkan semua.
"Enggak," tegas Oppa untuk kesekian kalinya.
Aku menghela napas dan meninggalkan ruang kantor Oppa Ki The dengan sebal. Akan tetapi, aku tetap tidak mempedulikan hal itu dan diam-diam memantau persiapan peluncuran produk yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan. Setelah memberikan ancaman anggotaku agar tidak membocorkan keterlibatanku ikut mempersiapkan acara tersebut di masa cuti.
Mau bagaimanapun aku menghindar, aku kepergok ketika secara tidak sengaja Oppa mendatangi lokasi acara tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hal yang sangat tidak mungkin terjadi, karena dia tidak akan melakukan apapun tanpa ada jadwal yang pasti.
"Kim Ae-ri ...," panggilnya dengan nada gemas.
"Iya ... Ya, Oppa."
Aku memasang muka datar dan tidak bersalah.
"Bukannya kamu cuti. Mengapa bisa disini?" tanya Oppa dengan tangan terlipat didada.
"Iya, aku kan sedang liburan disini. Melihat pemandangan orang lalu lalang sibuk mengerjakan sesuatu. Itu hiburan tersendiri untukku," ucapku sembari mengesap kopi favoriteku.
"Huftt ... Adakah alasan yang lebih masuk akal? Sekarang Oppa akan membelikan tiket untukmu liburan ke Jepang, bukan disini. Untuk barang-barangmu semua akan kamu temukan di hotel. Kamu hanya perlu membawa dirimu naik ke jet pribadi Oppa dan kamu bisa menikmati orang lalu lalang disana. Oke?"
What???? Oppa menyeringai lebar dan membuatku terpaku tanpa bisa membantah sama sekali.
"Baiklah," ucapku pasrah.
* * *
Japan. 19.00 PM
"Nona Ae-ri, saya Manager Hotel disini menyambut anda. Apabila ada keluhan apapun anda boleh memberitahukan saya secara langsung. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Semoga anda nyaman disini."
Raut wajahku sangat datar dan dingin, jika berhubungan dengan orang lain selain keluargaku.
Aku hanya bersikap hangat dengan keluargaku saja. Setelah mendengar ocehan panjang lebar dan pujian-pujian yang menjilat dari manager tersebut disepanjang menuju kamar vvip yang dipesan, tanpa basa-basi sesampainya di sana aku segera membuka pintu dan langsung menutupnya tanpa banyak omong.
Lelah.
Setelah membersihkan diri, aku langsung menghempaskan tubuh ke ranjang dan terlelap dengan cepat.
Keesokan harinya, terdengar ketukan pintu yang membangunkanku dari tidur lelap dan ternyata itu layanan kamar yang mengantarkan sarapan pagi.
Setelah menyeret tubuh yang terasa berton-ton karena masih mengantuk ke kamar mandi, kemudian menguyurkan tubuh dengan air dingin yang menyegarkan untuk menghilangkan rasa kantuk. Selesai ritual mandi, aku memakai dress putih. Sehabis sarapan, rencananya mau berkeliling kota jepang.
Ketika berkeliling pantai, tidak sengaja bertrabrakan dengan seorang pria tampan yang digandeng seorang model terkenal yang kutahu.
"Sorry," ujarnya singkat dengan muka dingin.
"Kamu gak salah, sayang. Kenapa harus kamu yang minta maaf. Cewek ini yang jalan tidak memakai matanya," ketus model tersebut sinis.
Aku hanya mengangkat kedua alisku dan hendak berlalu dari sana, tapi tanganku dicekal model tidak tahu beradat itu.
"Siapa yang menyuruhmu pergi. Anda minta maaf dulu, baru saya biarkan anda pergi," katanya dengan nada memerintah.
"Kalau saya menjadi anda, saya tidak akan membuat masalah yang dapat merugikan diri sendiri," ujarku dengan nada tenang.
"Dan satu hal lagi, bisakah anda lepaskan tangan saya. Atau ...," ucapku menggantung," tanganmu yang cantik ini bakal kupatahkan." bisikku pelan.
"Kau ...." dia seketika emosi dan melayangkan tangannya ingin menamparku yang langsung kutangkap, serta kupelintir ke belakang yang membuatkan histeris kesakitan.
"Opppss ... Sorry," ucapku dengan ekspresi kaget dibuat-buat dan seketika raut wajahku berubah tajam dan dingin.
Model tersebut yang mau menerjangku terdiam pucat.
"Jangan pernah mencari gara-gara denganku atau karirmu di dunia model bakal tinggal hari ini saja. Anda mengerti."
Pria tersebut hanya berdiri menyaksikan perseteruan kami, kemudian dia menyeringai ketika aku melihatnya.
"Kitty yang galak," gumamnya pelan yang terdengar olehku.
Aku memelototinya dengan muka kesal, kemudian segera berlalu dari sana. Niat untuk berkeliling sudah lenyap digantikan rasa kesal akan kejadian tadi.
Rasa kesalku bertambah berkali-kali lipat ketika mengetahui kamar sebelahku adalah pria yang tadi itu. Dia mengekoriku ke mana-mana.
"Hi, kitty. Saya gak menyangka akan ketemu kamu lagi. Ternyata kita berjodoh ya," ujarnya menyeringai lebar.
"Saya sangat lebih tidak menyangka lagi bisa sesial itu bertemu dengan anda lagi," ketusku dingin.
"Saya sangat tersanjung dengan kata-katamu," katanya dengan senyum lebar.
"Minggir," usirku.
Seketika raut wajahnya berubah dingin dengan rahang mengeras karena tersinggung akan perlakuanku.
"Kamu harus ingat kalau kamu tidak akan lepas dariku. Camkan baik-baik hal tersebut," katanya dengan muka serius.
Aku secepat mungkin untuk meninggalkannya.
Dilain sisi, aku mendapatkan informasi seseorang mencari informasi pribadiku dan berhasil mengetahui semuanya. Seseorang yang memiliki kekuatan yang sangat besar melebihku sehingga berhasil lolos dengan licik.
Akan tetapi, aku sama sekali tidak mengetahui siapakah itu dan hanya cuma bisa menebak kira-kira siapakah dia. Orang yang kucurigai hanya satu orang. Itu adalah pria brengsek yang tadi kutemui. Aku bertanya-tanya, dia itu siapa sehingga dengan jentikan jari dia dapat mengetahui apapun yang dia mau, termasuk rahasia yang sudah susah payah ditutupi dan di ganti dengan informasi palsu. Dia bahkan dengan sangat mudah mengetahui informasi yang benar dan akurat.
"Aku harus pulang sekarang. Terserah kalau Oppa Ki The mengamuk karena liburanku hanya 2 hari. Aku lebih nyaman di rumah," gumamku capek.
Setelah membeli beberapa oleh-oleh dan berbelanja untuk diriku, keluarga dan sahabat dekatku. Aku menelepon asisten pribadi Oppa untuk menyiapkan jet pribadi untuk pulang, tapi dengan ancaman tidak dituruti aku bakal pulang sendiri. Aku sangat disayang, apapun yang kuinginkan selalu dituruti. Sikap overprotektif keluargaku pun tinggi yang mengharuskan ke mana-mana harus ada pantauan dari mereka. Iya, katanya untuk keamananku juga.
Seperti yang diketahui, keluargaku termasuk keluarga konglomerat terkenal dengan banyak musuh yang ingin menjatuhkan kami dan sasaran paling empuk yaitu aku, princess keluarga yang dianggap paling mudah ditindas. Padahal bagi orang yang mengenalku, mereka semua bilang aku yang paling mengerikan. Mereka tidak salah juga, aku tidak akan segan-segan membalas perbuatan mereka yang berani mengusikku duluan.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top