Gáta
Kucing itu benar-benar hanya memiliki satu mata.
Tentu saja aku sangsi pada awalnya. Di suatu sore yang tiba-tiba Kafta menghubungiku dan meminta tolong agar seseorang mau merawat kucingnya karena dia harus pergi ke luar negeri.
“Hanya sepuluh hari. Tolong, ya, aku nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa,” katanya tergesa-gesa saat itu. “Oh, dan kucingku cuman punya satu mata.”
Karena dia mengatakan itu sambil tertawa, makanya aku berpikir anak itu hanya bercanda. Walaupun sebenarnya Kafta tidak dikenal sebagai pemuda humoris. Aku sendiri mengenalnya sebagai mahasiswa kedokteran kaya raya dengan penampilan modis dan tubuh yang terawat. Rambut yang selalu dipotong rapi, pakaian yang selalu baru setiap harinya, wajah yang putih bersih tanpa ada jerawat, kumis, dan jenggot. Serta otot lengan, dada, dan bahu yang proporsional dengan tubuhnya.
Aku tidak tahu dia dari keluarga mana atau apa pekerjaan orangtuanya, tetapi aku tahu dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk makan malam mewah sambil menggunakan jas tuxedo bersama koneksi keluarganya, atau menjelajahi setiap sudut planet ini setiap kali dia punya waktu luang. Seperti sekarang.
Namun, baru kuketahui kalau dia akan ke Belanda untuk menjenguk ibunya yang sakit.
“Aku belum tahu Ibu sakit apa sebenarnya,” katanya saat mengemasi koper di dalam kamar. Kali ini dia hanya mengenakan jaket hoodie biasa dengan warna biru muda. Di saat bersamaan aku bertemu dengan kucing satu matanya itu.
Satu mata sebenarnya bukan berarti dia lahir dalam kondisi langka yang membuat matanya berada di tengah-tengah wajahnya seperti cyclops, tetapi sebelah matanya rusak dan kini hanya tersisa mata kirinya saja.
“Matanya pecah,” jelas Kafta.
Sejauh yang kulihat kucing itu tidak begitu terpengaruh akan hal tersebut. Dia masih bisa berjalan-jalan di sekitar kamar asrama Kafta tanpa kesulitan atau tanpa sengaja menabrak sesuatu.
Aku duduk di sofa, menunggu Kafta selesai berkemas. Di dekatku terpajang foto keluarganya. Dia, kedua orangtuanya, dan seorang lain yang mungkin adalah kakaknya. Di sini Kafta mengenakan kacamata yang terlalu besar untuk wajahnya. Pertama kali bertemu dengannya Kafta sama sekali tak mengenakan kacamata, melainkan sebuah lensa kontak berwarna merah menyala. Namun, pada akhirnya dia kembali pada kacamata kecil yang lebih cocok untuk wajahnya. Kuduga itu setelah dia membaca sebuah berita tentang model yang jadi buta dan gila karena lupa melepaskan lensa kontaknya sebelum tidur.
Pintu kamarnya terbuka, Kafta keluar sambil menarik kopernya—yang mengejutkan ternyata cukup kecil. Dia tersenyum lebar padaku.
“Makasih ya, kamu udah mau bantu aku. Maaf kalau mendadak banget kayak gini.”
“Nggak papa, kok. Lagian aku juga nggak terlalu sibuk.”
“Oh ya? Kukira kamu sering antar jemput pacarmu tiap hari.”
Kurasakan pipiku menghangat. “Oh. Kami udah putus.” Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh. Kuharap Kafta cukup mengerti untuk melakukannya.
“Oh,” katanya. Sempat hening sejenak, kami merasakan kecanggungan. Sampai suara lonceng kecil menyelamatkan kami. Kafta tersenyum lebar lagi saat mendapati empat kaki kecil tengah berlari ke arahnya.
“Leony!” serunya. Dia mengulurkan kedua tangan untuk mengangkat kucing besar tersebut sampai setinggi wajahnya. Seperti seorang ibu yang begitu sayang pada anak bayinya. Kafta mulai memuji-muji kelucuan kucing tersebut, mengucapkan kata-kata dalam nada yang tinggi, mengendus-endusnya, dan menjilatinya mulai dari kepala dan berputar sampai ke seluruh puting-putingnya.
Dia baru berhenti setelah ponselnya berdering. Kafta meletakkan lagi Leony, dan tanpa repot-repot membersihkan bulu kucing di lidahnya, dia menjawab panggilan yang singkat tersebut.
“Ayo. Kakakku udah nunggu di bawah,” katanya padaku.
Kafta keluar begitu saja, meninggalkan kopernya. Sedetik kemudian kusadari kalau akulah yang harus membawanya turun. Tanpa protes sedikitpun aku menariknya dan bergegas menyusul ke dalam lift.
Tiba di lantai satu kami berjalan dengan terburu-buru ke gerbang depan karena kakak Kafta tak berhenti menghubunginya untuk bergegas. Setengah jalan kemudian aku berhenti karena suara makian yang terdengar dengan cukup keras di dekat kami. Saat menoleh kutemukan dua orang pemuda yang sedang berkelahi, salah satunya tak berhenti berteriak, semantara yang satunya terus memukul.
Aku tak bisa memperhatikan dengan jelas, terlebih karena Kafta langsung menarikku untuk pergi dari sana. “Ayo, cepat!” Dia tak peduli pada perkelahian tersebut, bahkan seolah tak mendengarkan teriakan yang tadi terdengar.
Di gerbang depan seorang pria berpostur tinggi dengan jas tuxedo hitam sudah menunggu kami di samping sebuah mobil. Mengenakan kacamata hitam yang memberikan kesan pertama kalau dia adalah pengawal pribadi keluarga Kafta, tetapi kusadari kalau dia adalah pria yang berdiri di samping foto keluarga Kafta. Dia adalah kakaknya.
Sementara kakaknya memasukkan koper ke bagasi belakang, Kafta mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu. “Aku cuman punya segini. Sisanya bakalan ku-transfer nanti, ya,” ucapnya terburu-buru.
Aku menerima uang itu dan berkata, “Iya. Nggak papa, kok.”
“Beneran nggak papa, kan?” tanyanya lagi, seakan saat ini juga aku akan menolak permintaannya dan pergi begitu saja.
Aku mengangguk. Tentu saja aku dengan senang hati akan tinggal di Asrama Kolam Ikan; asrama elit yang hanya ditinggali oleh orang-orang kaya. Sebuah tempat yang menyediakan semua kenyamanan. Asrama yang memiliki lift, sofa, televisi, dapur, kamar mandi, dan segala fasilitas lain yang membuatnya lebih cocok disebut sebagai apartemen daripada asrama mahasiswa.
Tentu saja aku dengan senang hati akan tinggal di Asrama Kolam Ikan selama sepuluh hari untuk merawat seekor kucing dengan satu mata. Tentu saja aku akan melakukan semua itu dengan dibayar.
“Kamu nggak usah khawatir soal Leony. Dia bakalan aman di tanganku,” kataku.
“Jangan lupa ikannya,” ucapnya. Aku teringat dengan akuarium kecil di sudut asramanya yang berisi empat ekor ikan berwarna merah terang. Tadi Kafta juga sudah menjelaskan hal tersebut. Dulu ada delapan ekor, tetapi Leony terkadang iseng dan membuat ikan-ikan itu stres sampai mati.
“Dan ikannya. Nggak usah khawatir,” kataku lagi, berusaha meyakinkannya kalau hewan-hewan itu akan baik-baik saja ditanganku. Meski kenyataannya aku tidak begitu baik dengan binatang apapun, terutama kucing. Dulu sekali ibuku pernah memelihara seekor kucing galak yang suka sekali mengacak-acak barangku. Suatu hari aku bermimpi kucing itu mencakar-cakar kakiku sampai berdarah dan aku memohon-mohon agar Ibu membuang kucing itu.
Kafta tersenyum, tanda puas. “Makasih, ya, Silas. Kamu beneran membantu. Aku pergi dulu.”
Dia masuk ke dalam mobil, duduk di samping kakaknya yang entah sejak kapan sudah berada di dalam sana. Mobil itu melaju dengan tergesa-gesa. Aku berdiri di tempat menyaksikannya pergi, sampai tempat parkir itu digantikan oleh sebuah mobil serba putih.
Saat kembali berjalan ke kamar Kafta, suara keributan terdengar lagi di lorong asrama. Kali ini bukan lagi dua pemuda yang berkelahi, tetapi tampak kerumunan yang mengelilingi sesuatu. Dari belakangku dua satpam berlari tergopoh-gopoh sambil membawa tandu, menyuruhku untuk segera menyingkir dari jalannya, dan langsung berbelok menuju kerumunan tadi.
Dari tandu tersebut, kedua satpam tadi menaruh seorang pemuda. Wajahnya dipenuhi memar. Hidung dan mulutnya terus mengeluarkan darah. Matanya bonyok. Kondisinya mengenaskan.
Aku menyadari dari baju kaos biru yang ia kenakan, dia adalah salah satu pemuda yang tadi berkelahi. Lalu aku teringat, mobil putih yang parkir di gerbang depan adalah ambulans.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top