Archí

Hanya perlu dua kata untuk menghancurkan segalanya.

“Kita putus.”

Awalnya dia tertawa, berpikir apa yang kukatakan hanya candaan semata. Seperti yang selalu kulakan padanya. Aku banyak bercanda dan selalu berhasil membuatnya tertawa. Kali ini aku serius, dan dia menyadari itu semenit kemudian karena aku tak ikut tertawa.

“Putus?” Dia bertanya. Masih berusaha meyakinkan diri kalau aku tak bersungguh-sungguh. Sebuah anggukan lemah sudah cukup untuk menjawabnya. Lalu dia berhenti bertanya, semua jadi senyap di dalam kamar kosnya yang kecil dan pengap. 

Kemudian dia menangis. Isakan yang melolong, bukannya di mulai dengan rintihan atau rengekan pelan. Sebuah tangisan keras yang terdengar ke penghuni kos-kosan yang lain. Lalu berubah menjadi rintihan penuh amarah diikuti kedua tangannya mulai melempari apa saja yang ada di dekatnya. Botol air, jam weker, buku.

“Kenapa?! Kenapa?! Setelah semua yang aku lakuin! Setelah semua yang aku kasih buat kamu!”

Akuarium kosong menjadi benda terakhir yang ia lemparkan dan benda itu tepat mengenai dahiku. Dia berhenti begitu mendengarku meraung kesakitan. Darah yang tipis menepel di telapak tanganku. Aku balas menyerang, berderap maju dan meraih lehernya yang kecil kemudian mendorongnya ke dinding.

Dia sontak ketakutan, seluruh amarahnya ciut seketika. Matanya yang basah bergetar saat menatapku. 

“Dasar anak sundal! Kamu jangan pernah deketin aku lagi, ngerti?!”

Aku melepaskannya, dan dia menjatuhkan dirinya begitu saja. Tangisnya tumpah sekali lagi saat aku benar-benar pergi dari sana. Penghuni kosan yang lain berdiri mengintip di pintu masing-masing, penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tak repot-repot untuk menjelaskan hal itu pada mereka.

Tepat setelah aku melewati pagar, barulah kusadari mereka semua berkumpul di depan kamarnya. Terkejut, melotot, dan menutup mulut sembari membisikkan nama Tuhan. Seseorang dengan panik berlari masuk, berusaha menyelamatkannya. 

Seseorang yang lain berteriak. “Astaga! Matanya! Matanya berdarah!”

Seseorang yang lainnya menoleh padaku, memberi tatapan kosong. Seolah ia menyalahkanku atas apapun yang terjadi di dalam sana.

Dan aku tidak mau tahu apapun itu. Dia bukan urusanku lagi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top