Chapter 13
POV ADIRA
'Gak lagi, udah cukup selama ini kamu bohongin aku Ger'
Sakit itulah yang hanya ku rasakan saat ini dengan semua kebohongan yang terus di ucapkan Gerry. Tak terasa air mataku mengalir dengan deras seiring dengan ucapan nya yang jelas-jelas adalah kebohongan.
"Ini cincin kamu aku pulangin" sudah cukup kesakitan yang ia berikan. Aku berlari meninggalkannya yang masih menatap cincin yang ku kembalikan menuju taxi yang berada di sebrang jalan.
Tapi tiba-tiba tubuhku terhempas ke sisi jalan dengan sangat keras. Sakit yang menjalari seluruh tubuhku saat ini belum seberapa di banding dengan sakit yang ada di hatiku.
'Tuhan aku sulit bernafas apa ini akhir dari segalanya'
Dadaku terasa sesak hingga sulit untuk bernafas. Saat aku merasakan tangan seseorang yang meletakan kepala ku di pangkuannya, aku berusaha membuka mataku yang sangat sulit untuk terbuka.
"Dir buka mata lo dek" ucap kak Adlan dengan menepuk pipiku. Dengan kekuatan yang tersisa aku berusaha membuka kelopak mataku.
"Kak" panggil ku dengan lemah.
"Bertahanlah sayang ku mohon bertahanlah" ucap kak Adlan lagi. Tapi mataku terarah ke sosok yang berlari kearahku dengan tergesa-gesa, tapi tiba-tiba aku tidak bisa melihat dan merasakan apapun lagi saat kesadaran itu mulai hilang dari jiwaku.
☆☆☆☆☆
POV ADLAN
"Adlan bagaimana dengan Adira" tanya mama dengan berlari dan air mata yang mengalir.
"Ma, mama jangan nangis" ucapku seraya memeluk mama nerniat menenangkan mama saat ia berada di dekatku. Tubuh mama bergetar dengan air mata yang tak ingin berhenti.
'Oh Tuhan lindungilah Adira selamatkanlah dia agar aku tidak melihat orang yang ku cintai dan ku sayangi merasakan sakit'
"Adlan"panggil mama lagi seraya melepaskan pelukannya.
"Adira masih diruang oprasi ma nanti dokter bakalan ngasih tau" jawabku berusaha menenangkan mama tapi sepertinya tidak berhasil. Tak lama dari itu seorang suster keluar dari ruang oprasi dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana dengan anak saya sus" ucap mama
"Permisi bu saya sedang terburu-buru" jawab suster itu mengabai bpkan pertanyaan mama seraya beranjak pergi tetapi ditahan oleh mama.
"Sus saya mohon jawab pertanyaan saya"
"Bu saya mohon biarkan saya pergi. Saya sedang terburu-buru saat ini anak ibu harus mendapatkan donor darah dengan tepat waktu" ucapnya lagi
"Kalo gitu ambil saja darah saya sus"
"Apakah golongan dar..." ucapan suater itu terpotong saat suster lain membuka pintu dan mengintruksikan untuk segera mengambil darahnya. Suster yang melihat itu langsung bergegas pergi meninggalkan mama yang masih ingin bicara.
"Ma udah jangan di kejer, suster itu juga lagi berusaha nyelamatin Adira. Kalo mama nahan dia terus dia gak bisa nolongin Adira dengan cepat" ucapku berusaha menyadarkan mama. Mama yang mendengar itu hanya mengangguk dan duduk di tempatnya tadi.
Sudah 5 jam oprasi berjalan dan belum ada tanda-tanda oprasi akan selesai. Mama yang sedari tadi menangis kini sudah sedikit tenang. Ku arahkan pandanganku kearah suara langkah kaki yang ternyata papa dan Arlan.
"Bagaimana Adira Dlan" tanya papa dengan raut wajah yang khawatir.
"Dokter ma..." ucapanku terpotong ketika ruang oprasi terbuka.
"Bagaimana dengan anak saya dokter apa dia baik-baik saja" tanya mama tanpa jeda.
"Putri ibu baik-baik saja, saat ini kita hanya menunggu dia siuman" jawab dokter.
'Terima kasih Tuhan, kau mengabulkan permintaanku' batinku dengan menghembuskan nafas lega.
"Putri anda akan di pindahkan ke kamar rawat inap satu jam lagi" ucap dokter itu seraya beranjak pergi.
☆☆☆☆☆
POV AUTHOR
Saat ini Adira telah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP dengan dokter yang tengah memeriksa keadaannya. Walau belum sadar, tapi Adira dinyatakan telah melewati masa keritisnya walau sewaktu-waktu bisa drop.
"Kondisinya sudah sedikit membaik" ucap dokter itu.
"Lalu kapan dia akan siuman" tanya Sulastri tidak sabar.
"Sebaiknya kita bi arakan diruangan saya" tutur dokter itu seraha berjalan keluar yang diikuti oleh Brams, Adlan, Sulastri, dan Arlan.
Sesampainya di ruang kerja, dokter itu mempersilahkan Brams dan Sulastri duduk dihadapannya sedangkan Adlan dan Arlan berdiri di sisi kedua orang tuanya. Mereka dapat melihat dwngan jelas di atas meja terdapan tulisan SP.B Rizky Rangga Reksa yang menandakan bahwa itu adalah namanya.
"Bagaimana dok" tanya Sulastri.
"Sabar bu sebentar lagi suster akan membawakan dokumennya" jawab dokter itu seraya tersenyum memaklumi sifat Sulastri. 2 menit kemudian masuk seorang suster dengan berkas di tangannya, suster itu pun keluar setelah memberikannya pada Dokter Rizky.
"Setelah saya cek Adira telah melewati masa kritisnya, tetapi belum benar-benar sembuh luka yang ada pada kepalanya yang di sebabkan benturan yang sangat keras. Adira bisa saja sewaktu-waktu mengalami pendarahan pada kepalanya oleh sebab iti saya sarankan bapak dan ibu menyiapkan darah yang sama dengan Adira. Se..."
"Apa saya bisa mendonorkan darah saya dokter" potong Brams yang tidak sabar dengan semua itu. Dia bukanlah orang yang ingin mendengarkan penjelasan orang panjang lebar. Ia hanya ingin penjelasan yang singkat padat dan jelas.
"Golongan darah saya AB" lanjutnya lagi. Mendengar itu Dokter Rizky melihat dokumen yang ada di tangannya lalu ia menjawab seraya tersenyum
"Maaf pak tapi saya menyarankan agar yang mendonor hanya darah yang sama agar tidak terjadi komplikasi"
"Berarti saya bisa dong dok" tanya Sulastei dengan senyuman lebar.
"Golongan darah ibu apa"
"O" jawab Sulastri dwngan senyum tetap terkembang. Dokter yang mendengarnya hanya mengernyit kan dahinya bingung. Arlan yang mengetahui itu pun bertanya
"Apa ada yang aneh dokter" tanyanya dengan nada heran
"Em.. Begini sebelumnya saya ingin minta maaf apakah Adira bukan anak kandung kalian?" tanya Dokter Rizky hati-hati takut menyinggung perasaan keluarga Adira. Mereka yang mendengar itu membelalakan matanya terkejut.
"Apa maksut anda dokter" tanya Adlan dengan datar hingga memancarkan aura mengerikan dari dalam tubuhnya. Dokter Rizky yang mendapatkan tatapan itu berusaha menjelaskan dengan ketelitian agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.
"Secara singkatnya dalam persilangan gen, golongan darah O yang menikah dengan AB akan menghasilkan A,B, atau AB. Jadi anak bapak dan ibu memiliki 3 kemungkinan seperti yang saya sebutkan tadi tetapi tidak dengan O. Jadi saya pikir Adira ad...."
"Tidak mungkin" ucap Sulastri dengan air mata yang berlinang.
"Apa anda yakin dokter, maksut saya bisakah anda periksa lagi mungkin ada yang keliru" tanya Brams seraya memeluk istrinya. Pertanyaan Brams hanya dijawab dengan gelengan kepala yang menandakan bahwa semua itu bukanlah kekeliruan. Sedangkan Adlan dan Arlan terdiam dengan fikirannya masing-masing.
☆☆☆☆☆
Saat ini seluruh keluarga berada di dalam kamar rawat inap Adira. Brams dan Sulastri duduk di sofa dengan Sulastri yang menangis di dekapan Brams. Sedangkan Arlan duduk di samping ranjang dengan menggenggam tangan Adira serta Adlan yang berdiri di jendela kaca.
'Apa lagi ini Tuhan, gua harus senang apa sedih? Di satu sisi gua sedih karna dia ternyata bukan adik kandung gua, tapi di sisi lain gua seneng karna dengan begitu gua bisa bersatu sama Adira" batin Adlan seraya tersenyum, mungkin saat ini ialah satu satunya orang yang merasa bahagia dengan keadaan saat ini.
"Ma, pa" suara itu membuat Brams Sulastri dan Adlan berjalan mendekati Adira.
"Kamu sudah bangun sayang" ucap Sulastri dengan senyuman yang begitu lebar. Melihat itu Arlan memanggil dokter dengan menekan tombol darurat yang berada di dekat ranjang Adira.
Tak lama kemudian Dokter Rizky datang dan tersenyum melihat Adira telah siuman.
"Kondisinya sudah semakin membaik" jelasnya dengan senyuman lebar yang di balas dengan tarikan nafas lega dari keluarga Wijaya.
★★★★★
Hai ku kambek😘
Gimana ceritanya kali ini?
Memuaskan gak😂
Tenang selama ide masih ada aku bakalan up, jadi doanya aja yah gais.
See you next chapter
Asni_putri
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top