Chapter 12

POV GERRY

Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan perasaanku yang sesungguhnya.

'Apa benar perasaan ini adalah cinta? Tapi selama ini aku tidak pernah merasakan yang seperti ini'

"Huft" entah sudah berapa kali ku hembuskan nafasku kasar hanya untuk mengurangi sesak di dadaku tapi tetap tidak mengurangi apapun.

Setelah mengenakan seragam lengkap, aku berjalan menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.

"Pagi om, tante" sapaku seraya duduk di sebelah Putra.

"Ger kapan kamu datang" tanya om Daniel — papa Putra—

"Semalam om" jawabku seraya tersenyum. Selesai sarapan aku pergi ke sekolah dengan seragamku yang berada di rumah Putra.

Sesampainya di sekolah aku melihat Adira sedang bersenda gurau dengan Indira.

"Hai Dir" sapa ku dengan senyuman lebar. Hariku sangat berwarna setelah  aku mengenal Adira. Adira yang melihatku berada disampingnya tersenyum lebar dan membalas sapaanku.

"Nanti pulang bareng ya, ada yang mau aku kasih" tuturku yang dibalas dengan senyuman lebarnya melihat itu membuatku gemas hingga mengacak rambutnya. Adira yang merasakan rambutnya berantakan hanya cemberut memajukan bibirnya yang bahkan membuat ku tertawa melihat tingkah lucunya.

'Mungkin aku bisa mempercayainya untuk hatiku' batinku seraya tersenyum, aku sudah tidak sabar menunggu jam pulang.

☆☆☆☆☆

Kring...kring...kring

Bell berbunyi tiga kali menandakan pelajaran telah usai, seluruh siswa keluar kelas setalah guru terlebih dulu keluar. Gerry tersenyum lebar ketika bell pulang terdengar.

"Ayo" ucapnya ketika berada di samping Adira

"Ayo" jawabnya seraya tersenyum lebar. Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkir dengan tangan saling menggenggam. Sesampainya diparkiran Gerry memberiman helm pada Adira. Setelah siap Gerru pun melajukan motornya menuju taman kota.

Sesampainya di taman kota, Adira dan Gerry memilih duduk di bawah pohon rindang dekat dengan bunga yang bermekaran.

"Dir" panggilnya seraya menggenggam kedua tangan Adira

"Iya" jawab Adira dengan senyuman

"I just want you to know if i love you so much, i want you to always be here next to me. I want every time i'll be around you in it. Because it please stay with me Adira" tutur Gerry dengan sungguh-sungguh. Adira yang mendengar penuturan Gerry hanya bisa tersenyum lebar.

"Hey answer me please and don't cry" ucap Gerry menangkupkan kedua tangannya di pipi Adira seraya menghapus air matanya dengan ibu jarinya.

"Ini air mata kebahagian Ger, dan ya aku akan selalu disampingmu" jawab Adira dengan suara bergetar. Gerry yang senang mendengar jawaban Adira langsung memeluknya dengan senyuman lebar. Saat sadar Gerry melepaskan pelukannya dan mengeluarkan cincin dari dalam sakunya yang ia beli ketika istirahat.

Adira terkesiap melihat cincin perak putih dengan berlian warna ungu muda yang hampir menutupi sebagian permukaannya.

Gerry yang melihat mata Adira berbinar hanya tersenyum lebar dan memasangkan cincin itu kejari manis Adira. Kebahagian menyelimuti mereka berdua saat ini, tapi apakah kebahagian itu akan tetap seperti ini selamanya atau akan berakhir?

☆☆☆☆☆

Jam menunjukan pukul 18.45 Adira tengah bersiap-siap untuk menghadiri hari peringatan pernikahan Mr dan Mrs Lowyer bersama kakaknya.

Sedangkan Adlan telah siap dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih yang sangat cocok di tubuhnya hingga wanita mana pun akan melirik dua kali untuk menikmati pemandangan indah itu.

Tak lama dari itu Adira turun dari lantai dua menuju keruang tengah menghampiri kakaknya.

Adlan seketika terkesiap melihat penampilan Adira yang sangat cantik malam ini. Dengan rambut di gulung keatas yang menyisakan rambut di bagian kedua sisi wajahnya.

Apalagi dengan baju berwarna hijau tosca yang simple tapi terlihat indah ditubuhnya.

(Liat sendiri ya susah jelasinnya😄)

"Kak" panggil Adira menyadarkan Adlan dari lamunannya. Adlan pun mengubah ekspresi wajahnya agar Adira tidak mengetahui apa yang ia pikirkan.

Tetapi disisi lain, Adlan tidak tau bahwa Adira merasakan jantungnya memacu lebih cepat ketika melihat penampilan Adlan.

'Oh tuhan apa yang sedang ku pikirkan' batin Adira seraya menggelengkan kepalanya.

☆☆☆☆☆

Sesampainya di hotel bintang lima, Adira dan Adlan berjalan menuju ballroom dimana tempat acara berlangsung.

Saat memasuki ballroom seluruh mata menuju kearah mereka dengan tatapan memuja. Adlan yang melihat itu semakin mengeratkan pelukannya yang berada di pinggang Adira.

"Ih kak jangan kuat-kuat napa meluknya" ucap Adira. Adlan yang mendengar itu hanya membalas dengan senyuman yang menawan hingga seluruh wanita yang berada disana menatapnya dengan lapar.

Dihiraukannya tatapan wanita yang memandangnya lapar berjalan kearah tuan rumah yang berada tidak jauh dengan mereka.

"Selamat untuk anda tuan Lowyer dan papa meminta maaf tidak bisa datang" ucap Adlan seraya menyalami Mr dan Mrs Lowyer

"Terima kasih nak dan sampaikan saja salam saya pada papamu" jawab Mr. Lowyer

"Hai siapa namamu kau cantik sekali" ucap Mrs. Lowyer pada Adira

"Saya Adira tante anak bungsu keluarga Wijaya" jawab Adira dengan senyuman. Dewi yang mendengar itu pun tersenyum dan memeluk Adira

"Seandainya saya punya putri sepertimu tapi sayangnya saya tidak ada anak perempuan" tutur Dewi dengan senyuman walau terlihat sendu dimata Adira

"Kita pamit dulu silahkan dinikmati hidangannya" ucap Angga seraya tersenyum yang di balas anggukan kepala dari Adlan dan Adira.

"Dir ikut kakak yok"

"Kemana?"

"Ketemu temen-temen kakak"

"Gak lah Adira nunggu disini aja" jawab Adira seraya duduk disalah satu kursi yang berada di dekatnya. Adlan pun mengangguk lalu pergi menuju teman-temannya.

Sudah lima belas menit Adira menunggu Adlan yang tak kunjung datang. Merasa bosan ia pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah berniat mencari keberadaan Adlan. Tapi apa yang ia lihat saat ini bukanlah apa yang ia harapkan

'Apa lagi ini ya Tuhan. Apa kebahagiaan ku hanya sebatas tadi siang' batin Adira meringis tak terasa air matanya menetes melihat hal yang menyakitkan saat ini ia melihat Gerry yang sedang berciuman mesra dengan seorang wanita cantik dan sexy.

Walau wajah pria itu tertutup oleh tubuh wanita itu, tapi Adira sangat yakin bahwa pria itu adalah Gerry. Adira yang merasa tidak tahan melihat semua itu pun berlari keluar tanpa berpamitan pada Adlan. Ia hiraukan pandangan heran semua orang yang melihatnya berlari sambil menangis

'Apa ini rasanya dihianati, seburuk itukah efek patah hati hingga disekitar gua terasa sangat menyakitkan' batinnya dengan berurai air mata.

☆☆☆☆☆

POV GERRY

"Ger" panggil seseorang yang sangat ku kenal.

"Apa kamu masih marah denganku" tanyanya dengan nada bicara yang menjijikan

"Ger" panggilnya lagi dengan menyentuh pundakku karna merasa di acuhkan.

"Pergilah Lis, gua gak mau liat muka lo lagi" ucapku menahan emosi

'Apa dia belum puas nyakitin gua selama ini'

"Ger aku minta maaf sungguh aku sangat menyesal, aku tidak berniat menghianatimu selama ini" jelasnya dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin

"Gak niat lo bilang? Selama 2 tahun ini lo pergi gitu aja sama cowok lain dan ninggalin gua dalam keadaan yang memohon biar lo gak tinggalin gua dan semua itu lo bilang gak niat" ucapku dengan nada yang sedikit meninggi

'Apa dia pikir gua bisa lupa gitu aja apa yang dia lakuin dulu'

"Ger ak..."

"Udahlah lo..." ucapanku terpotong karna dengan tiba-tiba ia duduk dipangkuanku dan melumat bibirku di tengah keramaian.

'Adira'

Ya aku bisa melihatnya menatap kearahku dengan tatapan terluka.

'Sial bitch' aku pun mendorongnya menjauh dan mengejar Adira saat melihat ia berlari keluar. Aku yakin pasti ia menangis.

'Bodoh apa cuma ini yang bisa gua lakuin, apa gua cuma bisa buat dia nangis'

Aku pun berlari mengejarnya sebelum ia benar-bemar jauh dari sini

"Dir" ucapku seraya membalikan tubuhnya ketika aku berhasil mengejarnya.

'Yaps tepat sasaran sudah ku duga ia menangis, bodoh wanita mana yang gak nangis liat orang yang di sayang ciuman dimuka umum' batin ku mengejek.

"Lepasin" jawabnya dengam suara bergetar

"Dir dengerin aku dulu semua i..."

"Semua ini salah paham gitu maksut kamu? Jelas-jelas aku liat dengan mata kepala aku sendiri kalo kamu tadi ciuman sama wanita itu tadi. Sekarang jelasin dimana yang salah" teriaknya dengan air mata yang semakin deras

"Dir semua itu gak bener aku berani sumpah aku gak cium dia"

"Jadi maksut kamu dia yang duluan cium? Aku gak bodoh Ger udah cukup kamu maini perasaan aku. Aku tau kamu gak cinta sama aku, kamu pacaran sama aku cuma gara-gara taruhan"

'Apa, dari mana dia tau'

"Kenapa, kaget?" ucapnya dengan senyuman lirih.

"Ini cincin kamu aku pulangin" tuturnya dengan menyerahkan cincin yang tadi siang baru tersemat di jari manisnya.

Aku berlari mengejar Adira ke arah sebrang jalan saat ia berlari menuju taxi yang berhenti menurunkan penumpang, tapi tiba-tiba sebuah suara meneriaki nama Adira bersamaan dengan ku yang meneriakinya.

"Adiiraaaaa"

★★★★★

Hai gaes ku up lagi. Sebenernya mau up 2 hari lagi tapi kungkinan besik kuota dah abis😂 jadi ku up malem ini dan lanjut kalo dah ada kuota😄.
Jadi ide yg masih segunung ini terpaksa di simpen di draf dulu.

Btw kalo ada yg mau buat quotes dari cerita ini tolong tag ig aku yah @asni_putri27

See you next chapter😘

Asni_putri

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top