Misunderstood

"Kita putus ya?"









Dzaki butuh waktu untuk mencerna permintaan Ruth. Ia memandang pacarnya yang terdiam menunggu jawaban.

Ia bertanya-tanya apa maksud dari kalimat singkat itu. Sayangnya, Dzaki terlalu sungkan untuk bertanya.
Akhirnya, ia hanya menjawab,



"Kenapa? Apa ini prank lagi?"




Ruth menggeleng. Ini bukan prank atau lelucon yang dibuat-buatnya seperti dulu. Ruth sudah berencana untuk memutuskan Dzaki tepat sebelum ia berangkat ke Kota C.




"Apa memang butuh alasan?" Air mata Ruth hampir saja menetes. Gadis itu mati-matian menahannya. Ia berharap Dzaki tidak menyadarinya.


"Iya, aku hanya ingin tahu."





Ruth terdiam. Butuh beberapa menit baginya untuk merespon jawaban Dzaki.
Alih-alih bicara, ia merogoh tasnya dan mengambil sepucuk surat yang dimasukkan dalam amplop merah. Ruth tidak bisa berkata-kata. Ia sadar bila dia mulai bicara, dia akan menangis menjadi-jadi.

Ruth menyodorkan sepucuk surat itu pada Dzaki.
"Aku pulang dulu ya? Tolong blok nomorku. Supaya aku ga ngehubungin kamu lagi."

Ruth memaksakan senyuman. Dia berbalik dan mengusap air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ruth berlari menuju eskalator. Turun ke lantai dasar, meninggalkan Dzaki yang masih terpaku tidak percaya.




Dzaki memberanikan diri membuka surat itu.




________________________________

Buat Dzaki❤️

Maaf,

Aku terlalu mencintaimu

_________________________________

"Shit."

Dzaki berlari menuju eskalator. Ia mencari sosok Ruth di kerumunan.

'kenapa?'


'kalau kamu sangat mencintaiku, lalu kenapa ingin kita berakhir?'

Dzaki berlarian kesana kemari mencari sosok Ruth. Tapi ia tidak segera menemukannya. Dzaki tahu Ruth belum memesan OJOL untuk pulang. Dzaki harus menemukan Ruth sebelum gadis itu benar-benar pergi.

'Ck. Ini salahku,' batin Dzaki. Seandainya ia menawarkan diri untuk menjemput Ruth dari rumahnya, Ruth tidak akan pulang tanpa Dzaki. Tapi Ruth sendiri yang menolak sebelum Dzaki menawarkan diri.

'Jadi ini rencana yang disusunnya?'



'Menraktirku untuk terakhir kali sebelum meminta putus dan menghilang dariku?'





"Ruth!"

Dari sudut matanya, Dzaki melihat Ruth berjalan perlahan di lobby mall sambil mengusap kedua matanya.




"Ruth!!!"

[ ]

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top