Last Time
"Kamu gapapa?" tanya Dzaki iba melihat raut wajah pacarnya yang pucat.
"I-iya gapapa." Senyum Ruth nampak terpaksa. Gadis itu menggelengkan muka dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Gimana tadi film nya?"
"Hmm, lumayan."
"O-oh..."
"Kenapa?"
"G-gapapa," ujar Ruth pelan, "kamu mau beli minum?"
"Eeh? Engga. Kalo kamu mau, beli aja gapapa."
"Loh, yakin? Hari ini aku yang traktir, Ki. So it's okayy. Mau apa? Tea Break?"
"Ehm, terserah." Dzaki memalingkan muka, ia membatin, 'cowo macam apa aku ini? Masa ditraktir cewe sih?'
"Yauda, aku beli taro sama matcha ya?"
"Boleh."
"Nih, pilih yang mana?" Ruth tersenyum sambil menyodorkan kedua gelas plastik pada Dzaki.
"Taro aja lah."
"Hehe, santai aja lah. Keliatan banget kalo kamu mikir cowo macem apa yang ditraktir sama cewe," Ruth setengah tertawa, "lagian, ini juga semacam perayaan buat ku udah berhasil masuk seleksi universitas Z. Aku memang berencana-"
Ruth menjeda. Ia tampak berpikir sejenak, "b-berencana menraktir pacarku jika lolos SBMPTN!"
"Ah.. iya,"
"N-ngomong-ngomong, tahun depan kamu bakal UTBK, kan? Udah ada rencana mau masuk mana?"
"Hmmm, mana ya? Masih belum kepikiran. Kemungkinan besar ambil DKV di Univ Y."
"O-oh.." Ruth terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Perasaannya campur aduk. Sudah agak lama ia tidak jalan-jalan dengan Dzaki, jadi mereka berdua sedikit canggung.
"Universitas Y ada di luar kota ya? Kota A kalo ga salah?" tanya Ruth lagi
"Iya, ehe."
"Kenapa pilih kesana?"
"DKV disana akreditasi A," jawab Dzaki singkat.
"Ooh, gitu ya..." Ruth mengetuk-ngetuk gelas plastik yang tinggal setengah isinya.
"Kenapa pilih di universitas Z?" tanya balik Dzaki
"S-soalnya di luar kota."
"Hmm. Tanggal berapa kamu ke Kota C?" tanya
"Besok."
Mata Ruth berkaca-kaca. Ia tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menghabiskan waktu dengan Dzaki. Ia berencana untuk mengukir cerita bersama sang pujaan hati.
Sayangnya, mereka bahkan terlalu canggung untuk saling bicara. Ruth merasa kacau.
"Ini.. bakal jadi pertemuan terakhir kita," bisik Ruth, "apa ada yang mau kamu lakukan sebelum pulang?"
"Gatau. Mungkin- ke toko buku?"
"Cari manga lagi?" Senyum Ruth terukir tipis. Ia segera membereskan barang-barangnya dan mengikuti Dzaki ke lantai 3 menuju toko buku.
Mereka menghabiskan banyak waktu disana. Dzaki terlihat lebih bersemangat. Ia melihat-lihat manga yang baru diterbitkan oleh animator kesayangannya.
Kegembiraan Dzaki memuncak, terutama ketika menyusuri bagian ATK. Ruth dan Dzaki membeli perlengkapan menggambar disana. Suasana sudah tidak secanggung tadi. Ruth tersenyum gembira.
Ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya. Untuk sesaat, ia bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang yang paling...
Dicintainya.
[Pukul 16.34]
Triinnnggg!! Triiingggg!!
Telpon genggam Ruth berbunyi. Dengan segera, gadis itu mengangkatnya. Rupanya dari sang ayah. Ia harus segera pulang.
"Kenapa?" tanya Dzaki, "sudah disuruh pulang ya?"
"Iya, hehe." Senyum Ruth kembali memudar. Matanya berkaca-kaca. Semua berjalan sesuai rencana. Ia sudah menghabiskan waktu berdua dengan orang yang dicintainya. Sudah cukup kan?
"D-dzaki," panggil Ruth. Tangan gadis itu gemetaran. Jadi, ia menyembunyikannya di belakang.
Dzaki menyadarinya. Namun lelaki itu enggan untuk bertanya.
"Kita putus ya?"
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top