Langit ~ 6

Naomi Wijaya

Ini udah seminggu Lang, kamu belum mau maafin aku juga?

Telpon gak di angkat, sms gak dibalas, bbm cuma diread doang? Tega ya kamu!

Hey, Langit Prasaja! Jangan diemin aku kayak gini....

Setelah membaca isi chat dari Naomi, aku kembali meletakkan ponsel nya di atas meja kerjaku.

Biarin aja dia merasa bersalah, emang dia kira enak apa nolak lamaran orang?

Aku kembali mendengar suara chat bbm dari ponsel ku.

Naomi Wijaya

Sayang... kok cuma di read sih?

• Please, maafin aku :'(

• Kita bisa bahas soal pernikahan itu dengan kepala dingin, jangan emosi kayak gini.

• Kita udah dewasa bukan remaja lagi.

• Aku cinta sama kamu.

• Sayang, please balas chat aku.

• Jadi gak konsen nangani pasien gara-gara kamu marah gini sama aku :'(

• Please....

Tanganku terasa gatal ingin membalas chat nya Naomi. Nggak tega juga lihat dia mohon-mohon begitu.

Biasa nya juga kami sering bertengkar karena berbeda pendapat, dan saling cemburuan satu sama lain. Tapi salah satu di antara kami pasti akan mengalah lebih dulu. Setelah itu kami akan baikan, berpelukan lagi, ciuman lagi dan bercumbu di mobil ataupun di hotel.

Tapi pertengkaran kami kali ini beda, gak bisa di selesaikan hanya dengan ciuman panas ataupun blow job yang sering dia berikan untukku saat berkencan.

Dia menolak lamaranku, dan itu membuat aku sangat kecewa pada nya.

Kenapa aku memilih dia menjadi istriku? Karena hanya dia satu-satu nya wanita yang memenuhi kriteria seleraku.

Aku bukan pria yang munafik. Naomi itu wanita cantik, pintar, dan memiliki tubuh yang bagus. Lelaki mana yang bisa menolak pesona wanita seperti itu? Aku yakin semua laki-laki akan betah dan tidak akan 'jajan' di luar jika memiliki istri yang pintar di atas ranjang memenuhi kebutuhan suami. Dan itu bisa aku dapatkan itu semua dari Naomi.

Terlepas dari itu semua, aku memang cinta pada nya. Jadi aku menikahi nya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisku tapi juga karena cinta.

Sebenarnya aku udah nggak terlalu marah pada Naomi. Hanya saja, aku mau kasih dia pelajaran. Biar dia nyesal udah nolak lamaranku.

Aku kembali meletakkan ponsel di samping meja.

Tiba-tiba Jonathan datang ke arah meja kerjaku dengan membawa buku akte pengawasan ketenagakerjaan yang bewarna biru gelap.

"Ini Lang, laporan dari PT. Sucfindo." Ucap Jo.

"Thank you."

Dia mengangguk lalu berbalik hendak pergi. Namun aku langsung memanggil nya.

"Jo."

Dia berbalik ke belakang lagi.

"Kenapa? Ada yang kurang?"

"Oh bukan itu. Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Ini tentang Desember."

"Dia kenapa Lang? Sakit?" Tanya nya khawatir.

"Bukan, dia tidak sakit."

"Lalu apa?"

"Apa dia kekasihmu?

"Iya, Desember kekasihku."

"Apa kamu tahu kalau dia itu seorang pembantu di rumahku?"

"Aku tahu itu."

Aku tertawa mendengar jawaban dari Jonathan. Ini benar-benar gila, seorang Desember bisa menjadi kekasih Jo.

Apa dunia sudah mau kiamat?

Wanita seperti Desember itu sama sekali tidak cocok untuk jadi seorang istri! Apalagi mendapatkan lelaki seperti Jo.

Dia itu cocok nya bersanding sama tukang ojek, supir, tukang becak atau kuli bangunan. Yang jelas bukan Jonathan!

"Kamu serius menjalin hubungan sama perempuan seperti Desember? Aku bisa kenalin kamu sama perempuan yang lebih jauh dari dia, Jo."

Seperti nya ucapanku tadi menyinggung Jo, tampak dari ekspresi nya.

"Apa maksud kamu Lang? Memang nya di pemikiran mu, perempuan seperti Desember itu bagaimana?"

"Dengar Jo, aku tidak berniat untuk menjelek-jelekkan dia. Ini hanya pendapatku saja. Perempuan kayak dia, akan melakukan apapun supaya bisa mendapatkan lelaki kaya untuk merubah hidup nya. Kamu tahu sendiri kan gimana kehidupan keluarga nya? Aku nggak tahu udah sejauh mana gaya berpacaran kalian berdua, tapi saranku lebih baik kamu tinggalin dia Jo. Sebelum dia hamil dan menuntut kamu untuk menikahi nya."

Aku dapat melihat rahang Jo mengeras dan kedua tangan nya mengepal.

"Brengsek kamu Lang! Kalau bukan karena lagi di kantor, aku sudah menghajar mu dari tadi!" Umpat Jo.

"Kenapa kamu marah coba? Aku kan hanya memberi nasehat baik padamu!" Ucapku kesal.

"Nasehat itu lebih pantas untuk kamu dan Naomi, bukan aku dan Desember! Satu hal yang kamu harus tahu, Desember itu memang miskin tapi dia perempuan terhormat! Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk bisa menyentuh tangan nya saja Lang! Walaupun dia hanya tamatan SMA dan seorang pembantu tapi dia tidak pernah menyodorkan tubuh nya untuk pria manapun! Aku yakin kamu akan bertekuk lutut di bawah kaki nya jika kamu sudah mengenal pribadi nya Desember!"

Aku tertawa mendengar ucapan nya Jo. Lalu aku berdiri dari kursiku dan berhadapan dengan nya. "Aku bukan pria bodoh yang mau sama perempuan kayak dia. Sangat mustahil sekali jaman sekarang pacaran hanya pegangan tangan. Munafik kamu Jo! Kalau dia memang sebegitu istimewah untukmu, kenapa tidak kamu nikahi saja? Sana lamar Desember ke Bapak nya yang idiot itu!"

"Aku nggak akan terpancing emosi dengan ucapanmu Lang. Ya, aku sangat ingin melamarnya dan menjadikan Desember istriku. Tapi dia menolakku karena mendengar mulut-mulut orang yang tidak terpelajar di luar sana dan seperti kamu ini contoh nya. Dan aku bukan pria yang munafik! Semua yang aku katakan itu adalah fakta. Melihat sikapmu dan semua pembicaraan kita tadi, aku bisa menilai karakter kamu Lang! Sungguh Naomi malang harus punya kekasih brengsek sepertimu!"

Sial!

Dia langsung pergi begitu saja setelah menghinaku tadi. Dasar cowok goblok! Emang cocok dia berjodoh sama si Desember.

Sama-sama munafik!

Ah! Kesal banget jadi nya.

Aku membuka tutup botol mineral dan meminum nya untuk menenangkan pikiranku.

Baru saja kembali duduk di kursi, ponselku sudah berdering di atas meja.

"Ya Hans, ada apa?"

"Lang, nanti malam ada acara nggak?"

"Nggak ada, lagi kosong. Kenapa?"

"Dodit bikin party di rumah nya, ya biasa lah melepas masa lajang nya. Lusa kan dia mau nikah sama Abel. Gimana Lang? Ikut nggak?"

"Kalian ngundang Naomi juga?" Tanyaku.

"Belum, kenapa?"

"Nggak usah di undang deh Hans, aku lagi marahan sama dia. Kalau Omie datang, aku malas ke sana."

"Tumben kalian marahan, biasa nya akur banget."

Aku dapat mendengar suara tawa nya si Hans.

"Ya biasalah, nama nya juga pacaran. Nggak selama nya mulus terus kayak jalan tol."

"Yaudah deh, kita nggak bakalan undang Naomi. Tapi kamu jadi dateng dong. Tahu sendiri kan Lang, kamu yang paling hits di sini, semua pada nanyain. Si Langit datang nggak? Nggak seru kalau nggak ada tuh orang. Aku yakin Lang, cewek-cewek di sini bakalan senang banget kalau tahu kamu sama Naomi lagi marahan."

"Jangan bikin gosip yang nggak benar ya Hans! Naomi masih nomor satu untuk aku."

"Masih kan? Berarti ada kemungkinan nomor dua, tiga dan seterus nya." Balas Hans sambil tertawa.

"Udah ketawa nya?" Tanyaku. "Aku masih harus kerja, nanti malam aku datang ke party nya Dodit."

"Okay deh."

"Party nya di tempat biasa kan?"

"Yoi."

"Jangan lupa pesankan minuman favorit kita Hans," Seruku.

"Pasti nya, tenang aja Lang. Semua beres kok."

"Oke,"

Beruntung ada hiburan nanti malam. Lumayan lah untuk hilangkan suntuk. Udah lama juga nggak minum bareng mereka.

Kalau udah gini, aku jadi semangat lagi ngerjain tugas kantor. Sambil mengulum senyum, aku kembali berkutat pada laporan-laporan yang di beri Jonathan tadi.

*****

GEDEBUK!

Ah, sial kepalaku terantuk ke lantai lagi. Sudah ke dua kali nya aku terjatuh saat berjalan di depan pintu rumah. Untung kedua orang tuaku sedang pergi ke Palembang. Kalau tidak aku pasti sudah di gantung karena pulang dalam keadaan mabuk seperti ini.

Aku bangkit berdiri dengan susah payah, kepalaku pun terasa berdenyut sakit sekali. Aku tidak tahu ini efek terbentur ke lantai tadi atau karena minuman alkohol itu.

Dua botol whiski berhasil aku habiskan. Dan itu semua karena ulah Hans yang menantangku tadi.

GEDEBUK!

Ya, aku kembali jatuh. Aku benar-benar mabuk sekali saat ini. Bahkan aku harus di antar pulang oleh Hans sampai di gerbang rumah.

Kepalaku mendongak saat mendengar suara pintu rumah terbuka.

Oh sial!

Mengapa pandanganku jadi kabur begini? Aku memejamkan mataku sebentar.

"Oh ya ampun... tuan Langit kenapa begini?!"

Aku mendengar suara histeris seorang wanita di rumah ini.

Tapi siapa dia?

"Ayo, biar saya bantu tuan."

Dia membantu untuk bangkit berdiri, kemudian tangan kiri ku diletakkan di atas bahu nya. Sehingga dia bisa memapahku untuk berjalan.

Kepalaku terasa berat sekali, jadi aku menyandar kan nya di cerukan leher wanita itu. Aku rasa dia baru selesai keramas, karena aku masih dapat mencium aroma shampoo di rambut nya.

Sungguh aku sangat penasaran siapa wanita yang berada di sampingku ini? Pandangku terasa samar-samar untuk melihat nya.

"Astaga... mengapa tubuh tuan berat sekali."

Aku tersenyum mendengar keluhan nya. Tentu saja berat, aku kan seorang pria dewasa.

Tapi tunggu....

Suara wanita itu seperti tidak asing lagi di telingaku.

Mirip seperti suara Desember.

Tapi tidak mungkin dia berada di rumah ini.

Jadi siapa wanita itu?

Karena terlalu asik dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba tubuhku terhempas di atas ranjang dan wanita itu ikut menindih tubuhku. Ku rasa dia terlalu kelelahan memapahku tadi.

Dia mencoba bangkit dari atas tubuhku, tapi aku menahan nya.

"To-tolong lepaskan sa-saya," Ucapnya terbata-bata.

Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu pada nya, sebelum dia pergi. "Terimakasih sudah membantuku," Kataku sembari membuka mata untuk memandang wajah nya.

"Hem... i-iya." Suara nya masih terdengar gemetar.

Pandanganku benar-benar kabur tidak bisa melihat nya. Seperti nya aku harus tidur saat ini.

Ah dan sial nya wanita ini terus bergerak meronta untuk minta dilepaskan dari pelukan ku. Sehingga membangunkan hasrat ku sebagai seorang pria.

Aku bahkan dapat merasakan ke dua dada miliknya yang menekan dadaku.

"Sa-saya harus keluar dari kamar anda tuan," Pinta nya padaku.

Mungkin dalam keadaan normal, aku pasti akan melepaskan wanita ini. Tapi saat ini aku dalam keadaan mabuk dan ada banyak setan yang sedang mempengaruhi pikiranku.

Rayuan setan itu menyuruhku untuk menahan wanita ini untuk tetap di dalam kamarku, bersamaku. Setan itu bilang aku harus mencium nya dan memeluk nya.

Aku mencoba menepis ucapan-ucapan mereka, tapi sial nya kekuasaan setan lebih mendominasiku saat ini.

Aku benar-benar butuh pelepasan.

Para setan tertawa bahagia saat aku membalikkan posisi, dan menindih tubuh wanita itu.

Siapapun wanita ini, aku harap ini hanya mimpi.

Dia pun menangis dan mencoba berontak saat aku mulai membuka pakaian nya.

Maaf... maafkan aku.

Jika ini bukan mimpi, siapa pun kamu, aku berjanji akan menikahimu.

15-November-2016

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top