Desember ~ 5
Aku segera turun dari motor Jo begitu sampai di halaman rumahku.
"Makasih untuk kencan malam ini," Ucapku pada nya.
Dia tersenyum manis sekali. Dan aku pasti akan merindukan senyuman itu nanti nya.
"Jo, kita ini cuma teman kan?"
"Maksud kamu apa Des?"
"Bisa tidak kita nggak ketemu lagi? Maksud aku, kamu harus cari perempuan yang serius untuk jadi pasangan kamu."
"Aku serius sama kamu. Dan aku yakin kamu tahu itu, Des. Jangan pura-pura nggak tahu. Satu-satu nya perempuan yang aku dekati cuma kamu," Ujar Jo.
"Cari perempuan yang lain, jangan aku Jo." Kataku sambil menunduk.
"Kenapa aku harus cari yang lain, kalau aku udah pilih kamu?" Dia menyentuh daguku untuk menatap nya.
"Jawab Des," Seru Jo.
Entah sejak kapan air mataku sudah jatuh menetes. "Aku sayang sama kamu Jo." Suaraku tampak bergetar saat mengucapkan nya.
"Terus kalau kamu sayang, kenapa suruh aku cari perempuan lain?"
"Aku malu sama diri aku sendiri. Aku nggak pantas sama kamu. Hidup kita beda jauh Jo, dan itu buat aku sadar diri siapa aku dan siapa keluargaku. Kamu terlalu tinggi untuk aku gapai.
"Hidup aku bukan cerita dongeng Cinderella, di mana kamu yang jadi Pangeran nya. Ini adalah dunia nyata Jo. Pria tampan dan mapan seperti kamu, nggak akan mungkin bisa berakhir bahagia sama perempuan miskin kayak aku. Akan banyak halangan dari luar sana. Kamu ngerti maksud aku kan?"
Jo menatap mataku dengan lekat, lalu kedua tangan nya menghapus air mataku.
"Apa kamu menangis seperti ini dan memintaku menjauh karena Mamaku? Apa ucapan Mama aku ke kamu sangat menyakitkan Des?"
Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan nya.
Sampai akhirnya aku merasakan pelukan nya. Jo memelukku, dan itu malah membuatku tambah menangis.
Ya Tuhan...
Aku sayang sama lelaki ini, tidak bisakah dia menjadi milik ku?
Aku mohon....
"Aku tidak tahu kalau kamu akan tersakiti seperti ini hanya karena aku Des. Tapi, aku benar-benar sayang dan tulus cinta sama kamu."
Jo melepaskan pelukan nya, dan kemudian kedua telapak tangan milik nya kini berada di wajah ku. "Aku akan coba bujuk Mama supaya mau menerima kamu jadi pasangan aku. Kamu mau kan untuk bersabar? Dan aku mohon jangan pedulikan omongan orang lain."
Aku mau Jo, mau... tapi itu akan berakhir sia-sia. Keluarga kamu nggak akan mau menerima aku.
Maka dari itu aku harus mengakhiri perasaan ini, sebelum aku makin tersakiti nanti nya.
Aku menarik tangan nya dari wajahku dan menggenggam nya dengan erat. "Udah ya Jo, kita nggak usah lanjut lagi. Aku yakin, di luar sana ada banyak perempuan yang lebih dari aku. Mereka lebih pantas sama kamu. Aku nggak mau cari masalah di kampung ini Jo, aku takut keluarga aku yang akan terkena imbas nya kalau kita masih tetap bersama. Aku mohon kamu ngerti Jo, aku capek di katakan perempuan murahan sama orang. Mereka berfikir kalau aku udah berbuat yang aneh-aneh sama kamu. Tahu nggak sih itu rasa nya seperti apa?
"Sakit banget hati aku Jo, dengar semua gosip masyarakat di sini. Walaupun aku miskin tapi aku bukan perempuan murahan yang seperti mereka lontarkan. Aku masih bisa jaga diri dan mencari uang dengan halal, meskipun harus jadi babu di rumah orang. Tapi kenapa mereka selalu jahat dan memandang rendah keluargaku?" Tanyaku pada nya dengan air mata yang terus mengalir.
"Kamu tahu Jo, kenapa aku masih bisa tetap tetap kuat dan tegar sampai sekarang? Itu karena keluarga aku. Mereka lah semangat aku, dan aku nggak egois di sini. Kalau aku masih tetap sama kamu, itu tanda nya Bapak sama Bass yang akan jadi sasaran mereka. Dan aku nggak mau itu terjadi, cukup aku saja yang dengar kata-kata kasar dari mulut mereka."
Dia menundukkan kepala nya sambil memejamkan mata sesaat. Kemudian Jo membuka mata nya kembali untuk menatapku.
"Kita nikah tanpa restu orang tua aku, lalu kita pergi dari kampung ini. Bawa Bapak sama adik kamu. Aku janji akan menjaga kalian dan memenuhi semua kebutuhan kita nanti. Kamu mau kan, Des? Aku akan jadi pria tolol kalau sampai melepaskan perempuan seperti kamu Des."
"Maksud kamu kawin lari?" Tanyaku kaget.
"Iya."
"Gila kamu Jo, aku nggak mau. Nikah itu harus ada restu dari orang tua. Karena restu orang tualah restu dari Tuhan juga. Gimana kita membina rumah tangga kalau nikah tanpa doa dari mereka? Aku nggak mau Jo."
"Aku juga nggak mau lepasin kamu Des! Demi Tuhan, selama bertahun-tahun aku berjuang dekati kamu. Untuk bisa cari perhatian dari kamu yang cuek banget sama aku. Begitu aku dapat ruang di hati kamu, tapi kamu malah nyuruh aku pergi. Bisa kamu bayangin gimana perasaan aku Des? Jangan berfikir cuma kamu sendiri yang tersakiti di sini, hati aku juga sakit Desember!"
"Yaudah Jo, kita berdua merasakan hal yang sama kan? Kalau gitu kita akhiri saja, nggak usah pertahankan hubungan yang gak akan pernah tahu mau di bawa kemana."
Jonathan menyipitkan mata nya padaku. "Jangan ngomong seolah aku nggak pernah serius sama kamu. Detik ini kalau kamu mau, aku juga bisa nikahin kamu! Tapi apa, kamu yang nyerah duluan kan? Kamu yang nggak mau aku perjuangkan. Dan itu membuktikan kalau kamu sebenar nya nggak cinta sama aku Des."
"Terserah kamu mau bilang apa Jo. Cukup aku dan Tuhan yang tahu, gimana sering nya nama kamu selalu aku sebut dalam setiap doaku. Mungkin ini udah jadi takdir kita yang nggak bisa bersama. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing. Kamu jalani hidup kamu dan aku jalani hidupku sendiri."
Kemudian aku berjalan satu langkah ke depan Jonathan dan memberikan kecupan singkat pada bibir nya. "Ini ciuman pertama dan terakhir kita. Terimakasih sudah pernah hadir dan menemaniku beberapa tahun ini. Semoga kamu bahagia Jo," Ucapku tulus pada nya.
Setelah itu aku berjalan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan nya sendiri di sana.
Dia terus memanggil namaku untuk berhenti, tapi ke dua kaki ku terus melangkah.
"Des, jangan pergi dulu."
"Aku cinta sama kamu!"
"Desember!"
Aku menghiraukan panggilan nya. Jika aku berhenti, aku yakin tidak akan bisa menolak permohonan nya. Jadi aku harus tetap berjalan ke depan.
Semoga ini menjadi keputusan terbaik untuk kami berdua.
****
Seminggu semenjak kejadian itu, Jo terus menghubungi nomorku setiap hari nya, karena aku selalu menghindar setiap kali bertemu dia di manapun.
Kenapa dia keras kepala sekali? Aku sudah berusaha untuk melupakan dia, tapi kenapa dia selalu tetap ngejar aku? Apa yang dia lihat dari perempuan seperti aku ini?
Ponsel yang ada di celanaku bergetar. Aku yakin ini telepon dari dia lagi.
Begitu melihat nama nya yang tertera pada layar ponsel, langsung saja ponsel itu aku non-aktifkan supaya tidak mengangguku lagi.
Seperti nya aku harus ganti kartu nanti. Iya, sehabis kerja ini aku harus ke pasar membeli nya.
Aku kembali membilas kain setelah menyimpan ponsel ku itu.
"Desember...."
"Iya bu...." Aku menghentikan pekerjaan membilas kain saat mendengar suara panggilan ibu Meta. Dia adalah istri dari Pak Krisna Prasaja, dan ibu dari tuan Pram juga tuan Langit.
"Besok saya sama suami saya mau pergi ke Palembang. Kamu bisa jagain rumah nggak satu hari saja." Kata ibu Meta.
"Emang tuan Pram sama tuan Langit kemana Bu?"
"Besok Pram ada seminar di Medan, kalau Langit nggak bisa di harapkan. Dia pasti keluar malam bareng teman-teman nya. Nanti gak ada yang jaga rumah, kamu mau kan Des? Tenang deh, saya tambahin gaji kamu bulan ini." Bujuk nya.
Aduh gimana ya, bukan nya aku nggak mau. Tapi besok kan tanggal 20 Desember, dan itu adalah hari ulang tahunku.
Aku berencana mau ngajak Bapak sama Bass makan di luar sekalian merayakan nya.
Tapi Ibu Meta bilang tadi mau menjanjikan tambahan gaji untuk bulan ini.
Yaudah deh, aku iya kan saja. Kan lumayan uang tambahan nya untuk di tabung. Lagian makan di luar nya bisa ganti hari nanti.
"Cuma satu hari kan bu?" Tanyaku memastikan.
"Iya satu hari."
"Yaudah deh Bu, Desember mau."
"Untung ada kamu Des, makasih ya."
"Iya bu," Kataku sambil tersenyum.
Ibu Meta pun pergi lagi ke depan, dan aku kembali bekerja ke belakang dengan cucianku.
7-November-2016
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top