Chapter 20 : Flashback
Author's PoV
10 tahun yang lalu ...
"Mama! Papa!"
Seorang gadis kecil berumur 7 tahun dengan riang berlari kencang ke arah kedua orang tuanya sambil memegang sebuah kertas yang diberikan oleh guru Matematikanya saat di sekolah.
"Angel!" Wanita berambut panjang terkepang satu itu menyambut anak semata wayangnya di ambang pintu bersama suaminya.
Aya Angelica menghambur pelukan kepada Ibunya. Sementara Ayahnya melirik sesuatu yang dipegang oleh anaknya.
"Aku pulang!" seru Angel seraya melepaskan pelukan. Dia menghampiri Ayahnya dan menunjukkan kertas yang digenggamnya. "Papa! Lihat ujian Matematika Angel dapat seratus!"
"Hahaha! Putri cantik ini ternyata pintar Matematika, ya!" kata pria bermata abu-abu itu sambil membawa Angel ke dalam gendongannya. "Coba Papa lihat. Wah! Beneran seratus!"
Angel tertawa. "Angel gak bohong, kan? Angel dapat seratus! Selain Matematika, pelajaran yang lainnya juga dapat nilai seratus!"
Ayahnya berkali-kali mencium pipi anaknya dengan gemas dan bangga. Sementara Ibunya tertawa kecil dan menyuruh mereka masuk ke dalam rumah.
Banyak hal yang dilakukan di dalam keluarga bahagia. Termasuk keluarga Angel. Dia bersyukur bisa berada di keluarga ini. Memiliki orang tua yang penyayang dan perhatian sudah sangat cukup membuatnya senang. Dia ingin keluarga ini tetap bahagia dan utuh. Setiap pulang sekolah, dia akan membawakan berita baik dan disambut oleh kedua orang tuanya.
Suatu hari, Angel mendapat juara 1 dalam lomba cerdas Matematika. Dia sangat senang bisa menang dan mengharumkan nama sekolahnya. Orang tuanya pasti juga akan senang.
"Hari ini mereka gak nyambut kepulanganku di luar?" Angel bingung. Ini tidak seperti biasanya. Apa mereka sedang pergi ke luar mendadak urusan pekerjaan? Tapi, terasa tidak untuk Angel.
Tok! Tok! Tok!
Angel mengetuk pintu. Tak ada respon dari dalam. Angel berpikir, apa mereka sedang tidur? Oh iya, tidak seperti biasanya jalanan sepi tanpa ada yang berlalu-lalang. Biasanya, dia berjumpa dengan banyak orang.
"Mama! Papa! Buka pintunya! Angel udah pulang!" teriak Angel dari luar rumahnya.
Krekk!
Pintu dengan mudahnya terbuka karena tidak dikunci. Bukan, gagang pintunya rusak. Apa yang sudah terjadi?
Dengan perasaan khawatir, Angel masuk ke dalam rumah. Ada apa sampai gagang pintu rumah rusak? Kalau ada maling, harusnya sudah ketahuan oleh tetangga karena ini masih siang. Tapi percuma, tak ada orang di luar sana. Mereka menghilang seperti tertelan oleh tanah.
KLANG!!
Tidak sengaja, Angel menjatuhkan piala yang dibawanya. Dia sangat terkejut dan tertekan. Ada banyak darah di lantai dan dinding. Ditambah lagi, banyak orang asing berjubah hitam di dalam rumahnya.
"S-siapa? Mama dan Papa ada di mana?"
Salah satu orang asing berjubah hitam menoleh ke arah Angel. Dia berjalan menghampiri Angel dan menyentuh pundaknya. Angel bisa melihat dengan jelas wajah orang asing tersebut.
Mata orang itu merah menyala. Kedua taringnya tajam dilumuri darah. Kukunya yang panjang membuat Angel merintih sakit pada pundaknya.
"Orang tuamu sudah kami hisap habis darahnya. Rasanya segar sekali."
DEG!
Angel bergetar ketakutan. Air mata sudah berjatuhan banyak. Kedua tangannya terkepal membungkus kemarahan.
"Hahaha! Ya, seperti itu. Menangislah untuk kematian kedua orang tuamu. Kalian, para manusia, adalah rantai makanan kami! Jadi, kalian boleh menangis sebanyak-banyaknya. Kami tidak peduli. Hahahaha!!!"
"Berhenti tertawa."
Orang itu terkejut mendengar Angel berani mengatakan hal seperti itu padanya. Kepala Angel yang menunduk membuatnya ingin menengadahkan kepala Angel dan menghisap darahnya di bagian leher. Ya, dia akan lakukan itu pada Angel, agar anak itu menyesal sudah berani padanya.
Dia memaksa Angel mengangkat kepala yang tertunduk. Pundak Angel sudah dicengkram kuat. Tenaga kecil Angel tak kuat melawan tenaga orang itu. Entah makhluk apa, Angel merasa orang itu sangat kuat dibandingkan tenaga manusia dewasa. Ketika orang itu berhasil mengangkat kepala Angel dari tundukan, dia langsung menggigit dan menghisap darah Angel.
Kruk!
"ARGH!!" Angel merintih kesakitan. Darahnya keluar dari gigitan orang itu yang masih menghisap darahnya. "K-kenapa ... lakuin ini ... ke Angel?"
Orang itu melepaskan tancapan taringnya dari leher Angel. Dia ingin menjawab pertanyaan Angel.
"Karena aku adalah VAMPIR."
Vampir? Angel pernah mendengar kata itu. Makhluk yang suka menghisap darah! Makhluk seperti itu bagaimana bisa ada di dunia ini?? Makhluk penghisap itu sudah membunuh kedua orang tua tercintanya.
Dan makhluk itu sudah merasakan darahnya.
"MENJAUH DARI ANGEL!"
Angel mendorong vampir itu menjauh darinya. Vampir itu terdorong sedikit. Dia menjilat sekitar bibirnya yang berantakan oleh darahnya Angel. Melihat itu, Angel merasa mual. Dia harus pergi dari sini. Di sini tidak aman lagi untuk anak kecil seperti dirinya.
Dia berlari cepat keluar dari rumahnya. Berlari menelusuri tengah jalan yang sepi. Dia takut. Sangat takut. Orang tuanya dibunuh. Orang-orang tidak tampak berada di luar. Semua terasa menyeramkan. Ada apa sebenarnya?
Di jalan beraspal berikutnya, Angel hampir tertabrak oleh sebuah mobil merah. Untunglah, pengemudi mobil itu sempat mengerem. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri Angel karena melihat Angel berdarah pada bagian baju dan leher.
"Ikut sama tante, ya!" ajak wanita berambut pendek itu.
Angel diam, tidak menjawab. Namun, mata abu-abunya menatap mata wanita itu.
Menyedihkan. Gadis kecil tak berdosa ini telah menjadi penyerangan vampir. Sebelum penyerangan vampir ke tempat tinggal manusia terjadi, wanita itu sudah tahu dari awal. Kalau mengatakan berita ini ke tempat tinggal manusia, apa manusia akan percaya dengan mudahnya?
99,9% manusia akan menganggap berita itu tidak masuk akal. Memang terasa tidak sesuai kenyataan, tetapi sebenarnya mereka tidak tahu kalau vampir itu ada. Namun, ini vampir berlevel berbahaya. Mereka bisa menghisap sampai tak ada darah yang tersisa. Kebanyakan vampir berbahaya berasal dari vampir murni.
Dan Angel akan mengetahui tidak lama lagi, bahwa dia tergigit oleh vampir mulia berbahaya. Pada umur anak-anaknya, dia tidak lagi menjadi seorang manusia, melainkan vampir.
***
Di SMA Seretie, ruang aula ...
Kepala sekolah SMA Seretie dan guru-guru tengah mengadakan rapat mengenai permasalahan yang terjadi di kota. Sambil mendiskusikan soal memerlukan siswa dan siswi baru untuk mengisi SMA Seretie yang baru selesai dibangun.
"Vampir berlevel berbahaya terlepas dari sel tahanan dan telah menyerang kota. Mereka menghisap orang-orang dewasa terutama anak-anak penerus bangsa," kata dari suara seorang guru memecahkan kesunyian.
"Saya tahu itu," balas kepala sekolah. "Dan untuk mengisi sekolah kita dengan siswa dan siswi baru yang akan bersekolah di sini suatu hari nanti, mungkin akan sulit."
"Itu tidak benar." Suara seorang guru berambut pendek membuat semua pasang mata mengarah padanya. "Saya telah menyelamatkan seorang gadis kecil yang diserang oleh vampir. Dia akan menjadi anak angkat saya. Suatu saat dia tamat SMP, saya akan mendaftarkan dia di sekolah ini."
"Benarkah? Baguslah!" seru kepala sekolah itu. "Kita memerlukan pelajar yang lebih banyak agar sekolah ini tetap berdiri. Kalian semua akan mempromosikan sekolah kita ini. Dan, Ibu Fiska, apa anak itu sehat-sehat saja?"
"Tenang, Pak. Dia sehat-sehat saja. Hanya saja, yang menyerangnya adalah vampir mulia."
"Itu artinya, dia telah menjadi vampir?"
"Benar."
Semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut dan berbisik. Kecuali kepala sekolah. Beliau malah tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa. Lagipula kita dan sekolah ini sudah dipercaya oleh mereka untuk menjaga rahasia adanya vampir di kehidupan manusia. Tentunya, kita harus menjaga rahasia ini rapat-rapat. Karena sekolah ini terpilih menjadi kepercayaan mereka, saya sudah memutuskan untuk membuat dua kelas lagi untuk siswa dan siswi vampir."
Fiska merasa lega mendengar kepala sekolah mengatakan itu. Angel adalah calon siswi di SMA Seretie. Gadis itu akan belajar di sekolah ini. Dia berharap dengan ada dirinya dan sekolah yang mendukung Angel untuk tetap semangat hidup, Angel tidak akan murung selamanya.
***
"Aya. Mulai sekarang, panggil aku Aya."
Fiska menghela napas. Selesai dia mengikatkan dasi sekolah Angel, dia mengelus kepala Angel lembut.
"Kenapa? Bukannya nama 'Angel' lebih terkesan indah?" tanya Fiska.
Tak ada ekspresi yang Angel gambarkan pada wajahnya. Sosoknya yang periang telah sirna karena vampir yang telah menghancurkan keluarganya. Dia masih tidak rela. Dia merasa dendam.
Pada umurnya yang telah menginjak ke-16, dia harus masuk SMA untuk melanjutkan sekolahnya. Membosankan sekali baginya.
"Karena nama 'Angel' gak pantas lagi untuk jadi nama panggilan aku."
"Tapi—"
Terlambat. Angel sudah menghilang dari hadapannya. Gadis malang itu sudah lama menjadi vampir seutuhnya dan telah mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh seorang vampir. Dia yakin, Angel sudah sampai di sekolah tanpa bantuannya.
Dengan pelan, Fiska melanjutkan kata-katanya dengan pilu. "—nama itu juga pemberian orang tuamu."
***
Durasi seperti sudah dikuasai oleh Angel. Dia sudah sampai di depan pintu kelasnya.
Angel membaca papan kelas. "Kelas Hitam."
Dia membuka pintu yang tidak terkunci tersebut. Pintu tak dikunci itu membuatnya teringat masa lalunya. Masa lalu yang menyeretnya ke dalam kesedihan dan kemarahan.
Dia benci vampir. Sangat.
BRAK!!
Sengaja dia membuka pintu kelas terlalu keras, membuat semua pasang mata yang ada di dalam melihat ke arahnya. Pintu itu nyaris hancur.
Angel tahu walaupun tidak bertanya. Siswi yang lain di kelas Hitam juga sama sepertinya. Vampir.
Kelas Hitam dibuat untuk menampung pelajar vampir yang ingin belajar menjadi seorang vampir yang bisa hidup berdampingan dengan manusia. Juga mencegah agar tidak menjadi vampir berlevel berbahaya.
"Berisik!" Gadis bermata biru tiba-tiba telah berada di depan Angel. "Lo napa sih? Datang-datang udah berani bangunin gue!"
Angel menatap dengan dingin. "Gak usah banyak bacot. Gue ke sini cuma mau sekolah. Bukan buat berantem sama lo. Jadi minggir. Gue mau nyari kursi."
Angel melangkah melewati gadis itu dan tertepis pundak gadis itu oleh pundaknya, membuat gadis itu menggeram. Dia juga tidak ingin berurusan dengan gadis berambut panjang itu. Lebih baik dia melanjutkan tidurnya.
"Oke, gue tidur lagi, deh." Cewek bernama Oly itu berjalan santai menuju salah satu sofa dan membaringkan diri di sana. Tidak lama kemudian, dia pun tertidur sambil mendengarkan lagu di-earphone-nya.
Angel duduk di sofa untuk satu orang. Dia tidak ingin banyak bicara dan bergerak. Dia ingin kelas ini cepat selesai dan pulang.
"Hai! Mau permen?" tawar seorang gadis berambut perak kepada Angel.
"Gak," tolak Angel setelah melihat permen di tangan cewek itu.
"Kalau gitu, kenalin. Gue Alvina Rasenol. Salken!" kata cewek itu memperkenalkan diri ke Angel.
"Aya." Angel tidak menatap ataupun melihat Alvina. Dia malas melihat vampir.
"Oke Aya, kayaknya lo enggak terlalu suka berinteraksi. Jadi, boleh gue kenalin cewek-cewek yang ada di sini?" tanya Alvina sambil merangkul paksa Angela.
"Ck! Apaan sih!"
"Tuh! Liat yang sedang tidur itu. Namanya Olysinan Qyinaxia. Terdengar ngeribetin banget namanya, kan? Haha! Kalau yang di sana itu namanya Deola Terhezyana. Dia kalau bicara baku banget. Katanya dia enggak terlalu terbiasa bahasa kita-kita biasanya. Trus, yang lagi megang boneka itu Kolera Teenfix. Yang lagi makan donat itu namanya Belbe Transly. Dia suka banget sama donat. Terakhir, yang lagi baca buku itu Cho Pelhany. Dia kutubuku banget. Nah, udah tau semua yang ada di kelas Hitam, kan?"
Alvina menunjukkan semua yang dia sebutkan, membuat Angel terpaksa harus mengetahuinya.
"Kalau, lo?" tanya Alvina.
Angel bingung. "Apa?"
"Kesukaan lo. Apa yang lo suka?"
Angel berpikir sebentar. Apa yang disukainya? Yang setiap hari dia lakukan karena suka?
"Belajar."
Alvina terbengong sebentar.
"Pfff!"
"Napa?" tanya Angel merasa agak kesal melihat Alvina seperti sedang menahan tawa.
"Gak. Baguslah kalau lo suka belajar. Udah dulu, ya!"
Alvina menjauh dari Angel menghampiri Cho yang sedang membaca buku. Alvina merampas buku Cho dan berlari menjauh dari Cho. Mereka pun kejar-kejaran di dalam kelas.
"Eh!! Buku gue, woii!!"
"Bwe!! Kejar sampai dapat!"
"Sialan! Awas lo! Kalau ketangkep, gue hisap darah lo!"
Angel menutup telinganya. Terdengar berisik ketika mendengar Cho berucap.
Dia vampir, namun dia tidak pernah mencoba meminum darah ataupun menggigit siapa pun. Dia merasa jijik dengan darah. Warna merah itu selalu mengingatkan masa lalunya yang menyeramkan.
Vampir mulia bisa saja kehausan, tapi dapat menahan rasa haus itu bertahun-tahun. Dalam artian, tidak selamanya dia dapat menahan rasa hausnya.
Tetapi, dia tidak akan mau minum darah. Tidak akan pernah.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top