Chapter 19 : Wish
Angelo's PoV
Aku yakin namun bukan berarti jawabannya bakal benar. Aya menginap dirumahku karena alasan penting yang entah apa itu. Alasan yang membuat Aya memutuskan untuk menginap di rumahku sampai hari minggu.
Aku ingin tahu apa alasannya. Dia sampai mengatakan bahwa aku harus tetap berada di dekatnya. Bukannya aku membantah, hanya saja itu terdengar aneh bagiku. Aneh kenapa?
Aku... merasa malu. Ini mengerikan. Berusaha aku bersikap biasa saja. Tapi tampang datar Aya telah mengalahkan usaha kerasku. Tidak pernah berharap atau bermimpi Aya akan mengatakan itu untukku.
Namun, kata-katanya seperti ingin melindungiku dari sesuatu yang berbahaya di sekitarku. Tapi, aku tak merasakan adanya akan bahaya. Mungkin hanya perasaan Aya yang terlalu khawatir.
Aya menoleh ke arahku.
"Di mana kamar mandi?" tanya Aya.
"Di-di sebelah sana," jawabku agak terbata karena gugup sambil menunjukkan arah yang dimaksud.
Aya mengangguk dan melangkah tenang ke arah pintu kamar mandi. Sementara aku duduk di sofa dan menghela napas lega. Mungkin dia ingin mandi. Hari sudah sore. Setelahnya, aku juga akan mandi. Sambil menunggu, aku nonton televisi saja.
Kira-kira 15 menit aku menunggu. Siaran yang aku tonton hanyalah iklan-iklan yang kadang membuatku tertawa atau terasa mengesalkan karena diulangi sebanyak tiga kali.
"Lo terlihat nikmatin banget nonton iklan." Suara Aya terdengar di belakang. Dia sudah selesai mandi.
Aku terkekeh. "Ada beberapa iklan yang kocak. Lumayan bikin terhibur."
"Oh ya?"
Terasa ada yang duduk di sebelahku. Aku menoleh dan mendapati sosok Aya yang rambut panjangnya masih basah. Tubuhnya hanya terbalutkan oleh handuk putih. Matanya mengarah ke layar televisi, ikut menonton.
T-tunggu. Handuk? Dia hanya memakai... HANDUK?!
"Gi-giliranku mandi!" Aku berdiri dan kabur dari sana masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk.
Apa dia tidak merasa malu? Dia hanya memakai handuk dan duduk di sampingku. Apa dia tidak memandangku jijik karena aku melihatnya hanya memakai handuk? Astaga, hari ini begitu menakutkan daripada menonton film horor.
Setelah mengambil handuk, aku turun dari kamar dan sedikit menengok ke arah ruang tamu. Masih ada Aya. Dia sibuk nonton televisi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang dibawanya.
Aku segera melesat ke kamar mandi. Ketika aku sedang menggantung handukku di kapstok gantung yang ada di dinding dekat cermin, aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat. Ini... pakaian Aya!!
Buru-buru aku kembali memakai handuk. Sebelum mandi, aku harus mengatakan pada Aya kalau bajunya masih ada di dalam kamar mandi. Ya, aku harus bilang ini dulu.
Aku keluar dari kamar mandi. Berjalan melesat ke ruang tamu... lho? Ke mana Aya?
"Lo nyari gue?"
Aku terkejut. Rasanya jantungku mau melompat keluar dari tempatnya. Aku langsung membalikkan badan. Aya ternyata ada di belakangku. Dia sudah memakai baju bawaannya.
"I-iya," jawabku. "A-ada baju Kak Aya di dalam kamar mandi. Kakak pasti lupa ngambil baju Kakak."
Aya memegang kepalanya. "Oh iya. Aku lupa ngambil baju kotor gue. Maafin gue udah buat lo enggak nyaman. Gue ambil sekarang."
Aya berjalan ke arah kamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang. Saat dia sedang mengambil pakaiannya itu, aku berpaling ke arah lain. Jangan, pokoknya jangan dilihat.
"Sekali lagi maaf. Lo pasti gak nyaman banget. Lo bisa hukum gue. Hajar gue juga bisa," kata Aya sambil menunduk di depanku.
Ngehajar kakak kelas? Mana mungkin aku mau! Enggak, enggak. Jahat banget aku hajar kakak kelas sendiri. Lagipula cuma masalah sepele. Tidak perlu dibesar-besarkan dengan hukuman.
"Enggak kok, Kak, gak pa-pa! Udah, gak ada hukuman buat Kak Aya. Lagian aku mau mandi. Udah sore banget. Mau malam," balasku.
Aya kembali mengangkat kepalanya. Aku melihatnya menghela napas pelan. Apa dia lelah? Wajahnya tidak terlalu datar seperti yang aku lihat sebelumnya.
"Baik, lo bisa mandi sekarang. Gue tunggu di ruang tamu. Jaga diri lo." Setelah mengatakan itu, dia berjalan jauh ke ruang tamu.
Jaga diri?
***
"Aku bisa menebak, Kak Aya pasti punya alasan mau nginap di rumahku. Iya, kan?"
Dengan serius aku bertanya kepada Aya yang tengah duduk sambil memegang remote televisi di sampingku. Awalnya dia hanya melihat ke arah televisi, mendengar pertanyaanku dia menoleh ke arahku.
Malam sudah tiba dengan tenang. Kami baru selesai makan malam dan memutuskan ke ruang tamu untuk menonton televisi. Ada film bagus yang tayang di salah satu siaran.
"Alasan?" Aya menatapku serius. Tunggu, apa aku sudah salah bertanya?
"Ya, alasan," jawabku membalasnya menatap serius agar aku bisa mendapatkan jawaban darinya. "Beritahu, apa alasan Kakak nginap di rumahku?"
Aya terdiam sebentar. Dia beralih ke arah televisi, memutuskan kontak mata dariku.
"Gak ada."
Sesingkat itu dia menjawab? Kenapa terasa sulit sekali bicara dengannya? Atau aku yang salah bertanya?
"Tapi," Aya meletakkan remote televisi di sampingnya duduk. Dia kembali melihatku. "gue punya keinginan. Sesuai rencana, gue nginap di rumah lo."
Aku tidak suka rasa penasaran. "Apa yang Kak Aya inginkan?"
Aya mengalihkan pandangan. "Kalau lo tahu, mungkin lo gak akan mau temenan sama gue lagi."
Memangnya apa yang Aya inginkan sampai dia mengatakan kalau aku tahu, aku tidak akan mau berteman dengannya lagi?
"Enggak mungkin aku gak mau temenan sama Kak Aya lagi. Bilang aja, apa yang Kakak inginkan sehingga Kakak milih nginap di rumahku?" tanyaku lagi dan meyakinkannya.
Aya menghela napas. "Oke. Bakal gue beritahu. Yang gue inginkan sekarang adalah, keselamatan lo."
"Hah? Maksud Kak Aya apa?" tanyaku menginginkan jawaban yang lebih membuatku mengerti. Keselamatanku? Memangnya ada apa denganku? Apa aku akan diserang?
"Angelo Arsyhomarthara, dengerin gue." Dia memegang tangan kananku dan menggenggamnya erat. Tangannya dingin. "Lo itu manusia. Trus, lo udah lama tahu tentang keberadaan vampir yang ada di sekitar manusia, para vampir yang berusaha beradaptasi di dunia yang dipenuhi oleh rantai makanan. Ini kasus pertama ada manusia yang tahu kebenaran adanya vampir. Dan, karena lo itu punya darah yang sangat manis dan harum, hidup lo bakal ribet. Lo bakal diganggu oleh banyak vampir yang berusaha ngincer darah lo. Kedamaian lo sebagai manusia akan berantakan karena lo mengetahui kebenarannya."
Aku terkejut. Apa aku sudah melakukan kesalahan mengetahui kebenaran adanya vampir di dunia ini? Kalau hanya aku yang tahu, apa salahnya? Setidaknya aku tidak akan bilang pada siapa-siapa.
"Memangnya kenapa kalau aku tahu adanya vampir di dunia ini?" tanyaku, membuat Aya semakin menggenggam erat tanganku.
"Selain hidup lo yang bakal ribet, nyawa lo sedang dalam bahaya."
DEG!
"Dalam bahaya?" Aku tidak mengerti. Maksudnya... aku akan mati di tangan vampir? Atau, Aya yang akan membunuhku di rumahku sendiri?? Tidak. Aku tidak terima itu. Aku masih ingin hidup.
"Le-lepaskan!" Dengan kasar dan terpaksa aku melepaskan genggaman tangan Aya. Dia tampak terkejut melihatku memberontak. Aku berdiri melangkah mundur menjauhinya.
Jadi maksudnya, dia ingin membunuhku karena aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar? Dan dia akan membunuhku dengan cara menghisap habis darahku??
Aya menatapku dengan tatapan sedih. "Seperti yang gue duga, lo bakal jauhin gue. Lo gak bakal sudi lagi berteman sama gue."
Ada rasa bersalah pada diriku begitu aku mendengarnya berkata seperti itu. Aku telah membuatnya sakit. Tapi, dia membuatku takut. Tidak mungkin aku akan mati semuda ini.
"Lo mau lenyapin gue, iya kan??" pekikku. Air mata sudah jatuh membasahi kedua pipiku. "Gak. Gue gak akan ngizinin lo ngisap darah gue. Setitik pun, gak akan ada buat lo. Dan gue gak akan mati di tangan lo. Lo bukan malaikat maut, lo itu VAMPIR!"
Aya menggeleng-geleng. Aku tidak mengerti dengan gelengen itu. Apa dia menjawab perkataanku? Dia pasti sudah tidak sabar ingin menyicip darahku. Dasar vampir sialan.
"Gue bukan mau bunuh lo. Gue—"
"Oh! Iya, gue tahu. Lo mau nyicip darah gue yang manis ini dulu. Udah puas minum, lo pun bunuh gue. IYA, KAN??!"
Dengan kekuatan vampirnya, Aya langsung ada saja berdiri di hadapanku tanpa bisa aku lihat langkahnya. Dia mencengkeram kedua bahuku.
"ANGELO ARSYHOMARTHARA, GUE BELUM SELESAI BICARA! DENGERIN GUE DULU SAMPAI SELESAI! BARU LO BISA MARAH-MARAH SEPUASNYA KE GUE YANG BRENGSEK INI!!"
Aya lantas memelukku selesai dia memekik di depanku. Aku berusaha memberontak agar dia menyerah dan melepaskanku.
"Gue akan lindungin lo dari vampir-vampir yang ngincar darah lo. Jadi, lo enggak perlu takut sama gue. Lo boleh percaya sama gue. Gue akan jadi pelindung lo. Meski gue juga vampir, gue enggak mungkin nyiksa lo dengan ngisap darah lo. Gue gak akan buat lo jadi vampir kayak gue. Angelo Arsyhomarthara, lo dengar gue, kan? Udah, berhenti nangisnya. Lo itu cowok, bukan cewek. Lo masih marah sama gue? Lo bisa jauhin gue, benci sama gue, pukul gue juga gak pa-pa."
Sambil dia jelasin semuanya dan menenangkanku, dia mengelus punggung dan kadang kepalaku agar aku bisa tenang.
Jadi... aku sudah salah paham padanya?
Dengan tiba-tiba aku membalas pelukannya. Bahkan lebih erat dibandingkan pelukan darinya. Aku lega, ternyata semua yang aku katakan tadi adalah salah. Dan jawaban yang benar adalah perkataan dari Aya yang membuatku sangat mengerti.
"Aya."
_______
Hasil pertanyaan yang dipilih dan jawaban dari pemain HIM!! Mari simak, yuk!^^ Rugi yang gak nanya, lho!
1) Angelo boleh dikarungin gak?
Angelo : Napa gue dikarungin? Gak mau ah!
Lette : Mungkin karena nama lo terlalu ribet :v
Angelo : Tapi ada yang bisa nyebut benar nama gue.
Lette : Siapa? Mana orangnya??
Aya : Gue.
Lette : .... *kabur*
2) Angelo itu orangnya posesif gak?
Angelo : Hehe, gak tau karena gak pernah pacaran :'v (JONES)
Lette : Dasar jones :v
Angelo : Yang di sono gak jones?
Lette : Gue punya suami tapi beda dimensi :v
Angelo : Njir-_-
3) Rex itu mantan pacar atau pacarnya Kolera?
Kolera : Rex itu sejenis sampah yang hidup dikutuk jadi vampir.
Rex : Jahat banget sih :'(
Kolera : Jauh-jauh dariku! *merasajijikluarbiasa* Dia itu bukan mantan atau pacar, dia itu cuma sampah yang tersesat!!
Rex : Napa kasar banget sih sama gue? Lo itu kan—
Kolera : *tabokwajahRex*
4) Teddy itu hidup, gak? Kayak Chucky dan Annabelle?
Kolera : Chucky? Annabelle? Siapa mereka? Teddy itu cuma hidup buat aku aja.
Lette : Yang mikir Teddy hidup, maaf, ini bukan genre fantasy. Ini vampir :v *KABUR*
5) Aya itu sebenarnya suka tulus ama Angelo atau cuma darahnya?
Lette : Kepo amat :v
Aya : Let, boleh gue jawab?
Lette : Silakan. Itu pertanyaan buat lo :v
Aya : Menurut lo aja. Gue ngincar dia buat darah, atau buat dia jadi milik gue?
Lette : Itu namanya lo lagi ngadain sesi pertanyaan kayak gue. Bukan menjawab :'v
Aya : Gue kan mau dia analisis gue sekali lagi. Kalau jawabannya benar, gue bakal tepok tangan.
Lette : Cuma tepok tangan? Duit? :v
6) He is Mine itu merujuk ke siapa? He = Angelo Mine = ??
Lette : Kalau soal judul, 'He' itu memang Angelo. 'Mine' itu mengarah ke cewek yang ngincar dia :v
Aya : Dia milikku.
Lette : Nah, seperti itu maksudku :v
Belbe : Dia milikku.
Lette : Itu juga :v
Cho : Dia milikku.
Deola : Milikku!
Oly : Berisik banget!
Alvina : Hahaha!
Kolera : Kenapa semuanya menyukai Angelo itu sih?? Menjijikkan.
Lette : Baik, baik. Pertanyaan selanjutnya :v
7) Adegan Alvina senyum ama Angelo itu kenapa?
Lette : Oh, gak paham ya. Aku juga lho :v
Alvina : Gue suka aromanya. Harum banget. Jadi gue senyum :)
Angelo : *merinding*
8) Sifat asli Oly itu gimana?
Lette : Mageran :v
Oly : Gue suka bobo.
Selesaiiiii :v
Terima kasih sudah menyimak Q&A HIM ^^ Semoga lebih kepo dan terhibur~~~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top