Seruling

"Mari bermain kejar-kejaran!"

Suara yang tak tau berasal dari mana menggema, memberikan rasa cemas yang entah sejak kapan menyusup. Nadanya sih terdengar ramah, tapi entah kenapa aku malah gemetaran.

Kulirik kanan kiri, tak ada siapapun di sini. Jadi ... aku benar-benar sendirian, dan tiba-tiba saja suara itu datang. Refleks, aku merapat ke tembok di samping kanan.

"Kau yakin mau ke sana?" Suara itu kembali terdengar membuatku menoleh ke tembok di belakangku. Mataku membola saat melihat tangan mulai keluar dari tembok, langsung saja aku maju, menghindari tangan-tangan yang telah sepenuhnya muncul. Warnanya hijau, dengan beberapa jari hilang atau kuku yang terkelupas. Salah satu dari mereka bahkan punya kuku yang tajam sedangkan ibu jarinya terpelintir sampai berputar sepenuhnya.

Di mana sih ini! Batinku menelisik sekitar. Kanan dan kiriku hanya lorong dengan dua tembok di sisi, jika  tembok itu bertemu, matilah aku ditengah-tengahnya. Dari sebelah kanan, terdengar suara teriakan. Membuatku seketika terlonjak kaget.

Bukan, bukan karena teriakannya. Namun ... sesuatu di depan itu. Seorang gadis berpakaian baju tidur terusan berwarna putih. Rambutnya tergerai, menutupi wajahnya.

Langkahnya terseok-seok ke tempatku. Naluriku berkata lari, tetapi aku malah mencoba berani.

"Halo? Siapa kamu?" Dari segala pertanyaan yang berenang di kepala, aku malah lontarkan hal tersebut. Si gadis terdiam sejenak. Kepalanya teleng ke kanan. Dia tak bergerak barang seincipun, membuatku bertanya-tanya apakah ia sudah mati.

"Halo?" panggilku lagi tapi kali ini mulai mendekat ke arah gadis berbaju putih itu. Dari sudut mataku, tangan-tangan di tembok masih berusaha menjangkauku, tetapi mereka tak bisa.

Tanganku terangkat, ingin tepuk bahunya hingga tiba-tiba tangan gadis itu mencekalnya dengan kuat. Membuatku meringis kesakitan.

"Kenapa malah kemari?" Suaranya terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang membuatku kaku. Cairan merah meluruh dari sekujur tubuhnya. Rambutnya mulai rontok, dan kulitnya mulai mengikis.

Lalat yang tak diketahui asalnya mulai mengerubungi seluruh wajah gadis itu. Satu yang aku dapat lihat.

Warna matanya serupa denganku.

Langsung saja, aku hentakkan tangannya, membuat cekalan gadis itu terlepas. Mundur perlahan, aku masih tak percaya. Sebenarnya ini ada apa sih!

"Ah! Kamu menemukan pencarinya ternyata." Suara tak berasal itu kembali terdengar, membuatku merinding seketika.

Pencari? Gadis yang mulai berubah menjadi bangkai ini maksudnya?

"Nah! Karena sudah, mari kita mulai," ucapannya terhenti sejenak. "Ah! Jika kamu ingin keluar dari sini, jangan sampai tertangkap!" Segera setelahnya, suara itu kembali menghilang meyisakan aku dalam rasa ragu-ragu.

Mayat berjalan itu tiba-tiba saja berlari dengan kencang, membuat aku segera tancap gas dari lokasi sekarang. Sial! Bagaimana caranya aku melawan mayat itu?

Suara tawa terdengar, aku tak tahu berasal dari mana. Namun yang pasti, jika tak lolos sekarang, aku bisa saja mati di tangan mayat yang semakin mengikis ketertinggalannya.

Ayo, putar! Putar otak! Batinnku sembari toleh kebelakang, hanya mendapati mengeri bahwa mayat itu sedang mencari daging baru.

Di ujung, kulihat cahaya terang berasal. Langsung saja, kakiku makin cepat berlari. Mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar karena akupun tak tahu sudah selama apa berlari.

Semakin dekat dengan cahaya, si mayat makin beringas. Ia bahkan mulai mengukurkan tangan penuh darah itu. Membuat aku mual melihat bagaimana darah pekat masih menetes.

Pada detik terakhir, si mayat hampir menarikku, kurasakan ujung rambutku tertarik. Namun, untung saja orang semacam is tiba-tiba menabrak tembok tak kasat mata.

Mayat itu memandangku bengis, kemudian berbalik dengan langkah terseok-seok. Seakan-akan, tak ada hal apapun di awal.

Ruangan luas berwarna putih. Tak ada benda selain kursi di tengah ruangan. Kulangkahkan kaki dengan ragu. Hatiku bertalu dengan hebatnya. Saat aku sampai di hadapan kursi tersebut, sebuah seruling sehalus porselen tergeletak di sana.

Dengan penuh rasa penasaran, kuangkat seruling itu. Memandangnya dengan aneh. Hingga ... tanganku melepaskannya. Merah keluar dari setiap lubang seruling. Mengotori lantai putih bersih yang tengah ku pijak.

"Hai, sampai juga, ya." Sebuah suara familiar sampai ke gendang telinga. Kutolehkan kepala ke arah kiri. Mendapati seorang gadis berdiri dengan santainnya.

Wajahku pucat, bukan karena si gadis yang tiba-tiba datang. Namun, lebih kepada wajah dan penampilannya yang sama sepertiku. Bagai pinang dibelah dua. Tak ada satupun perbedaan di antara kami.

Si gadis tersenyum cerah, tetapi tak bertahan lama hingga berubah menjadi seringai.

"Selamat datang di neraka, Jina."

End

A/N : Nggak tau, aku nggak tau nulis apaan. Maafkan kalau banyak yang bikin kening kalian kerut dua belas

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top