Mimpi

Buku yang kutemukan kemarin terlihat aneh. Bukan karena usang, lebih tepatnya karena banyak halaman yang kosong. Apakah buku itu adalah diary?

Mau bertanya pun sih percuma saja. Pada akhirnya, ketika bosan aku akan membolak-balik halaman yang ada tulisan. Tak pernah bosan, karena entah kenapa setiap tulisan yang tertoreh menarik minatku.

Kisahnya tentang para hewan di luar akal manusia dan juga kejadian tak lazim. Kadangkala, aku tertawa. Tak habis pikir akan isi kepala orang yang menuliskan hal ini. Apa ia gila? Mana ada hal-hal tak lazim seperti itu di dunia ini.

Setelah puas, aku segera tutup buku tersebut dan naik ke atas tempat tidur. Sudah jam sepuluh malam, jadwalku adalah tidur. Jadi, dengan damai kupejamkan mataku. Menyambut mimpi yang tak pernah kuduga-duga akan berakhir tragis nantinya.

****

"Woah!" Mataku membola, angin kencang menerpa wajah. Senang tetapi juga takut. Aku duduk di atas sesuatu berbulu. Hah? Apa ini?

Kuturunkan pandangan, mendapati burung elang raksasa menjadi tumpangan. Ingin berteriak, tapi rasanya ada tangan tak kasat mata mencegah.

Pada akhirnya, aku hanya duduk kaku sembari gemetar ketakutan akan kemungkinan elang ini memakanku ketika turun nanti.

Namun, alih-alih di makan, aku malah disambut oleh beberapa orang. Mereka tersenyum ramah, memperkenalkan diri sebagai tiga saudara tak bernama.

Kutelengkan kepala, bingung ingin merespon seperti apa. Pada akhirnya, ku angkat bahu sedikit. Masa bodo lah, lagipula nanti juga bakal terbangun. Batinku.

Saat matahari di sini mulai berganti dengan bulan, aku meminta pulang. Namun ketiga saudara itu tak mengizinkan. Berbahaya, katanya. Jadi, aku turuti saja saran mereka, toh tak rugi juga.

Semalaman, kami berempat bermain dengan suka cita. Kartu, catur, semuanya ludes kami mainkan. Aku menang, tentu saja. Membuat ketiga orang itu berseru frustasi setiap melihat kemenanganku.

Tanpa sadar, hari sudah berganti. Sekali lagi, aku berkata ingin pulang. Tetapi ketiga saudara itu malah membawaku bermain-main di dekat air mancur.

Dingin terasa saat tangan mengenai air, kami perang air saat salah satu memancing. Ini kali pertama aku sesenang ini. Rasanya tak ingin pulang saja.

Gina, bangun, Nak.

Suara mama terdengar. Aku menanyakan kepastian itu kepada mereka bertiga. Namun, tak ada satupun yang mengatakan mendengar hal yang kudengar.

Jadi, setelah cukup puas bermain, aku meminta dipulangkan. Mereka setuju. Kami berjalan ke tempat pertama kali berjumpa. Ada elang di sana dan sebuah sangkar seukuran tubuh manusia. Untuk apa itu? Batinku bingung. Namun, tak kuperhatikan lebih lanjut lagi.

Tak penting, batinku.

"Selamat tinggal, Gina." Setelah itu, mereka memasukkanku ke sangkar. Elang mengangkat kailnya. Mengangkatku ke atas, kuayunkan kedua tangan, lengkap dengan senyuman.

Indah, mimpiku kali ini sungguh menyenangkan. Saat kami berada di atas, tiba-tiba pengaitnya lepas. Dan dalam sekejap, aku terjun bebas.

Menemui tanah dengan benturan keras yang membuat nyawaku melayang.

Selesai

A/N : Ahay, ahay. Dl melanda, dan jadilah saya nulis nggak mikirin apa-apa lagi. Maaf//kabooor//

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top