Gone
Sejak dulu, hidupku hanya berpusat pada satu titik; aku. Tak pernah kulakukan sesuatu yang tak membuatku untung. Yah, dapat dikatakan bahwa aku orangnya perhitungan, aku tak masalah dipanggil demikian. Mama sudah sering memperingatkanku, semua tak hanya berpusat padaku, ada saatnya berpusat pada orang lain. Namun, aku menolak gagasannya, hatiku tak mau mengakuinya, dan tampaknya tak akan mau.
Karena sifatku ini orang-orang lebih memilih menjauh, tak mau berurusan panjang denganku. Ribet kalau ditanya kenapa. Padahal, aku bukan tipe yang suka hal berbelit, aneh. Yah, aku sih tak masalah, tak ada untungnya juga mereka menempel padaku.
Akan tetapi, mendadak diriku harus merubah pandangan, saat seorang gadis polos datang mendekat. Dia seusia denganku, tetapi pandangannya pada dunia benar-benar naif, membuatku tertawa saat mendengarnya pertama kali. Namun, walau kutertawakan dia tetap biasa saja; mendekatiku, sedikit demi sedikit menghancurkan tembok keras yang selama ini kubangun.
Saat tembok itu hancur, aku sempat bingung. Sikapku benar-benar berubah. Aku tak menjadi egois, tak pula memperhitungkan untung rugi. Aneh, terasa menakutkan tetapi juga nyaman di lain sisi. Berada di fase bingung, aku menjadi mudah tersulut, apalagi saat kudengar mereka mengatakan dirimu tak seperti yang terlihat.
Aku benar-benar marah saat itu, mereka melontarkan omong kosong tentang dirimu, membuat sekitar merasa kau benar demikian, padahal kenyataan sangat berbeda jauh. Namun, saat kukatan demikian kau hanya tersenyum, sembari mengatakan sesuatu.
"Biarkan mereka. Selagi tak menyakiti, tak ada gunanya melakukan sesuatu kepada mereka."
Kata-kata itu membekas di hatiku, membuat diri ini mundur, mengikuti arahan darimu. Namun, tampaknya mereka makin menjadi saat dirimu tak melakukan perlawanan.
Kau tersakiti, aku naik pitam kemudian. Dengan sekuat tenaga kubalas perlakuan mereka padamu; kucakar wajah mereka dengan kuku yang baru kurawat sedemikian rupa kemarin, membuat cat kuku yang warnanya sama denganmu terkelupas. Kemudian, kujambak rambut mereka, membuat jeritan memilukan keluar. Kau terduduk saja di sudut, sekujur tubuhmu gemetaran saat kulirik sekilas.
Setelah puas melakukan hal yang sama, aku segera membawamu pergi. Kamu masih gemetaran, tetapi saat merasakan pelukanku kemu berhenti gemetaran. Aku lega saat itu, tak terbayangkan bagaimana jika kamu masih gemetaran walau kutenangkan, bisa-bisa mereka merasakan hal yang lebih daripada cakar dan jambak rambut.
Kita kemudian pulang, orangtuamu syok saat melihat kondisimu, kujelaskan secara rinci; kau dirundung oleh gadis lain. Alasannya klise, hanya karena seorang pemuda yang lebih tertarik pada paras rupawanmu dibanding salah satu dari mereka.
Wajah Mamamu gelap setelah mendengar penjelasan, dia kemudian memintaku pulang, dan kuikuti saja perintahnya.
Harusnya aku tak pulang saja waktu itu, karena keesokan harinya kau sudah tak ada di sini lagi.
End
A/N : Yeah, ini hanya tulisan acak-acak. Sekian.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top