1 Pushover: Ego
"Bahkan humanoid saja masih jauh lebih manusiawi darimu. Dasar memalukan."
-Dokter Rios-
.
.
.
LEMBAYUNG matahari sore di Mars mulai membentang biru. Bagi para budak mimpi waktu sudah memasuki kuarter ketiga—dalam rutinitas setelah bangun dan bekerja kini saatnya pulang. Di penghujung hari, diantara puncak kelelahan, orang-orang tersapu keluar dari gedung perkantoran. Tinggi menjulang atau lebar membulat, gedung bertahta logam mengkilap itu disusun berlapis di bawah struktur modular. Beberapa memasuki jalan-jalan—yang berada di atas permukaan tanah atau jaringan udara, dengan kendaraan ringan melayang super cepat. Lainnya yang lebih kekurangan berlari dan berdesakan di antara transportasi umum. Kepadatan Distrik Workaholic yang sempat terpendam akhirnya memasuki time rush. Kondektur yang profesional mendorong para manusia diambang pintu kereta—atau begitulah yang kita pahami dari bentuknya. Sebagian yang ingin menghindari acara desak sore melipir ke area perbelanjaan dan menunggu agak larut malam. Kemudian mereka yang tidak punya pilihan hanya bisa melihat semuanya dari jendela-jendela gedung tinggi atau kaca transparan super tebal—yang lebih tidak beruntung terjebak di kawasan industri yang sumpek.
"... Malam ini karnaval patch baru Death Arte. Istriku tidak bisa dibujuk untuk menunggu lebih lama lagi. Yessetta, kamu 'kan belum menikah. Tidak punya kepentingan lain. Jadi tolong gantikan aku lembur malam ini, ya? kumohon."
Berkencan di Death Arte—sebuah game MMORPG, ternyata bagian dari kepentingan keluarga. Menarik.
"Aku juga! anakku baru tiga bulan, kau mana tahu sulitnya mengurus anak baru lahir seperti itu. Lagipula cara kerjamu cepat, pekerjaanku juga tidak sulit. Hanya tinggal rekap saja. Bisa, ya?"
Dan lagi, Luisetta adalah bagian dari orang-orang tak punya pilihan.
Tatapan matanya yang hampir selalu kosong begitu kontras dengan kedua ujung bibir yang perlahan tertarik ke atas. "Iya, boleh. Serahkan saja padaku." Bibirnya bergerak sendiri.
Reaksi dua temannya mirip seperti penjudi yang menang lotre—meski di belakang dia sudah tahu akan menang. "Baiklah! Aku mengandalkanmu!" pemuda pendek bermata kuning—seperti dia punya masalah penyakit hati, beringsut dan segera pergi dari sana. Sementara pemuda dengan gingsul menyerahkan sebuah kartu akses dan berkata, "Oh, iya. Jangan khawatir kamu akan sendirian. Dokter Rios jaga malam hari ini 'kan? Dia lebih suka duduk di 'bengkel' daripada ruangannya sendiri, jadi kau aman ada teman satu lantai ... Kalau begitu aku duluan, ya! Terimakasih!"
Luisetta menegang sesaat setelah mendengar nama belakang itu. Ia lupa tentangnya. "Aku mengerti," katanya setengah berbisik. Itu bagus tetapi juga tidak.
Padahal dia sudah mendapatkan dua kata ajaib dalam sekali obrolan. Akan tetapi hatinya masih kosong melompong. Kumohon dan terimakasih. Semakin orang-orang sering katakan, baginya kedua kata itu sudah tidak lagi ajaib. Atau ternyata masih ajaib karena dia terus disihir pada penggunanya.
Luisetta meraih mug keramik tebalnya dan pergi untuk mengisinya lagi dengan kopi hitam. Robot pekerja mereka sudah dimatikan sejak tiga puluh menit lalu. Klinik ini tidak punya biaya operasional lebih untuk menyalakannya setiap waktu di ruangan administrasi—ditambah pemilik klinik bukanlah seseorang yang percaya penuh pada teknologi robotika dan AI.
Dalam hening ruang dan seberkas cahaya yang keluar dari layar Holo-Screen. Luisetta mengetik seperti orang gila. Jemarinya terampil. Matanya yang tertutup sebagian oleh poni menatap lurus pada layar. Ada lima tab yang dibuka secara bersamaan, Luisetta mengerjakannya satu persatu setiap sub tugas : memperbaharui jadwal pasien, mengkonfirmasi setiap email pergantian jadwal, menyusun rekam medis baru untuk setiap pasien di hari itu dan terakhir mengirimkannya pada Dokter yang bersangkutan. Pekerjaan untuk satu hari dua orang administrator pasien selesai dikerjakannya dalam satu jam.
Denting notifikasi mengetuk salah satu layar Holo-screen. Seorang pasien terjadwal untuk Dokter Neurosynthetist—Dokter spesialis cabang baru, ahli jaringan saraf manusia dan sintesis digital—Eleazar Rios sudah datang. Luisetta bergegas ke ruangan 'bengkel' Dokter tersebut. Diketuknya pintu berbahan logam—cara memanggil yang ketinggalan zaman.
"Dokter Rios, Nona Callie Synn sudah menunggu di ruangan anda. Sekarang sudah jam konsultasi." Tidak ada jawaban sampai satu menit berlalu, "Dokter?" Luisetta hendak mengetuk lagi sampai akhirnya pintu terbuka.
Pemuda dengan rambut hitam berantakan berdiri menjulang diambang pintu. Dia seolah melirik sadis Luisetta dari balik kacamata Hypno-Glasses yang selalu dia pakai.
"Sudah kubilang jangan menggangguku untuk urusan apapun malam ini." suaranya berat, mengungkung dan bermakna tanpa tanggung jawab.
Kapan dia berkata begitu?
"Jika operasinya gagal memangnya kau mampu menanggung hidup anak logam cacat Tuan Garry? kau pikir robot rusak dan kuno sepertinya masih punya uang asuransi atau sekadar sesuatu untuk diwariskan?" sewotnya.
Melirik ke arah dalam 'bengkel' Sang Dokter. Luisetta bisa melihat sebuah robot kaleng tanpa kepala dengan jaringan rumit sedang terbaring diatas meja panjang. Dia tidak ingin menghakimi, tetapi Dokter Rios mungkin hanya sedang eksperimen biasa. Benda yang sedang dia 'operasi' itu bahkan sudah tidak diproduksi sejak seabad lalu. "Aku tidak tahu anda sedang dalam operasi, Dokter. Tetapi konsultasi ini sudah dijadwalkan sejak minggu lalu, bahkan sudah anda setujui waktunya."
"Minggu lalu, ya minggu lalu. Hari ini, ya hari ini. Seharusnya kau tanya aku lagi apa hari ini ada waktu kosong atau tidak, bukannya berlindung dari janji masa lalu." Dokter Rios sama sekali tidak memberinya waktu untuk menyiapkan diri, Luisetta mencoba membuka mulutnya sebelum menutupnya kembali penuh kesadaran diri. Kejadian itu membuat Sang Dokter kembali berceloteh, "Apa? kau mau bilang aku tidak masuk akal? tak bertanggung jawab? seenaknya? atasan despotik dan mau melapor pada serikat pekerja? mentang-mentang aku pemilik klinik jadi semua jadwal kuubah seenak jidat?! apa?! katakan!" desaknya.
Luisetta menunduk patuh. Mau gemetar pun ia sudah terlalu terbiasa dengan situasi ini, "Tidak, Dokter." Ia masih ingin bekerja disana, selain karena dia tidak berpendidikan dan kesulitan mencari pekerjaan lain, "Saya akan menginformasikan pada Nona Callie bahwa anda akan menjadwalkan ulang konsultasinya." Luisetta menunduk semakin dalam, rambut blonde jatuh semakin banyak dan menyembunyikan wajahnya. "Maaf, sudah mengganggu operasi, Dokter. Saya permisi sebentar."
Seolah baru sadar ada hal aneh, alisnya tertaut lalu bersedekap sembari bersandar pada pintu, "Tapi bukannya kau seharusnya sudah pulang? Kenapa masih disini, hm? Kau pikir aku akan terkesan dengan gelagat sok rajin itu? Kau pikir bisa naik gaji?"
"Ada pekerjaanku yang belum selesai," jawabnya setengah jujur.
"Pekerjaanmu?"
Pengulangan itu terasa seperti sindirian yang dalam bagi Luisetta. Bahkan meskipun beliau tahu tentang kelakuan pekerja administrasi lain pada Luisetta, tidak ada yang dilakukannya.
"Kau belum menyelesaikan pekerjaan 'mu' dan lembur seolah aku yang menyuruhmu begitu? Kau sedang berusaha membuat citraku buruk dan menutup klinik ini, huh?"
Semakin lama ini memang semakin kemana-mana.
"Aku akan menyelesaikannya dalam satu jam, Dokter. Maaf." Luisettta tidak begitu berpikir banyak akan masalah ini. Menerima terasa lebih benar untuknya. Tidak ada bedanya dengan robot kaleng yang sudah ketinggalan zaman seabad—mereka patuh tanpa tanya.
"Kau pikir aku tidak tahu?" Dokter Rios berdecak dan menampar kedua tangan Luisetta yang terlipat membulat seperti pembantu. "Kalau tidak bisa membela dirimu sendiri, marahlah! Kau pikir seseorang akan menyelamatkanmu, menggantikanmu lembur, atau menampar orang yang seenaknya sepertiku?! Siapa yang kau tunggu, huh?! Pahlawan kesiangan darimana?!"
Luisetta hanya diam mendengarkan. Kepalanya tertunduk melihat sepasang sepatu kusam milik Dokter Rios. Sedetik kemudian sebuah tangan meraih rahangnya dan menariknya terangkat ke atas. Dalam posisi itu Luisetta bisa melihat raut wajah kesal Sang Dokter. Pemuda itu tidak mengatakan apapun tapi sejurus kemudian membuang wajahnya dengan kasar.
"Bahkan humanoid saja masih jauh lebih manusiawi darimu. Memalukan," hardiknya.
Pintu tertutup kembali dengan keras. Luisetta menunduk sedikit padanya yang sudah raib.
Tidak ada yang dia pikirkan. Tanpa menunggu atau mengkonfirmasi apapun Luisetta kembali ke ruangannya dan sekali lagi berhadapan dengan perawat di bawah tentang pembatalan jadwal. Dokter Rios adalah yang paling rewel tentang apapun di klinik. Dia tidak merundung Luisetta dengan senyum atau manipulasi psikologis. Dia meludahi wajahnya dengan omelan tak berujung lalu memutar balikkan fakta dan menyalahkannya atas segalanya. Dia selalu memarahinya seperti itu. Bagi Luisetta Dokter Rios adalah orang aneh yang penyendiri dan blak-blakan. Lagi-lagi ... Luisetta sudah terbiasa dengannya juga.
Dua jam tambahan yang penuh drama akhirnya berakhir. Luisetta melipir ke lantai bawah untuk mengecek sisa pekerjaannya. Kalau tidak Dokter Rios pasti akan menghampirinya dan mengomel lagi.
Setelah mengganti jadwal, merevisi kemudian salah, dan berulangkali diomeli perawat, pekerjaannya selesai dan akhirnya pulang. Luisetta memutar knop apartemen sederhananya dan segera melempar semua yang menempel pada dirinya di sepanjang koridor. Ia mandi dan makan sup pangsit super pedas sembari menyalakan komputer. Punggungnya yang tegang tergeletak begitu saja diatas kursi. Tiga puluh detik waktu tunggu ia habiskan dengan menutup mata dan menenangkan diri.
Layar-layar Holo-screen menyala satu persatu. Empat layar kecil, dan sebuah layar ultra wide ditengahnya. Luisetta menghabiskan hampir seluruh hartanya untuk membeli semua perangkat ini. Bekerja sejak remaja, tinggal di kawasan murah berhantu, dan makan pangsit—yang digilir dari pangsit isi sayur sampai pangsit isi daging ayam—rebus setiap hari.
Semuanya untuk hiburan sepulang kerja.
Senyumannya merekah saat dua layar paling atas, satu layar ultrawide ditengah, dan dua layar paling bawah berkedip dan memasuki tiga aplikasi berbeda. Itu adalah senyuman pertamanya yang tulus di hari ini.
[Sinkronisasi Avatar : Loading ... Selamat Datang Kembali, Lui]
[Sinkronisasi Avatar : Loading ... Selamat Datang Kembali, Etta]
[Sinkronisasi Avatar : Loading ... Selamat Datang Kembali, Ise]
Kenapa harus terlalu memikirkan hari ini jika aku tidak hanya memiliki satu kehidupan?
Catatan dan Glosarium :
1. Karena bias cahaya yang diterima berbeda dengan Bumi, di Mars siang hari langit berwarna kemerahan, sementara sore langit disekitar matahari berwarna biru.
2. Neurosynthetist adalah cabang kedokteran fiksi yang mempelajari tentang sistem saraf manusia dan saraf sintetis digital. Lingkup keahliannya adalah manusia dan robot atau masalah yang menyangkut keduanya.
3. Contoh Kacamata Hypno-glasses, source : Pinterest
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top