Part 9
"Kenapa dia ada di rumahmu, Eas? Bukankah dia orang yang memaki-maki kita waktu di kafe?" Olivia yang baru sampai di rumah Andreas, dibuat kaget akan adanya Zulaikha. Tatapannya tampak menyelidik, memandang perempuan yang sedang berjongkok membersihkan pecahan mangkuk di lantai.
"Pengganti ART-ku. Mereka sudah tidak bekerja di sini lagi."
"Kenapa? Kamu memecat mereka semua?"
"Menurutmu?" Andreas melirik Olivia yang berdiri di sebelahnya. Agak sungkan untuk mengobrol panjang-lebar kepada kekasihnya itu.
"Aku paham." Mengangguk-angguk, Olivia mengulum senyum.
"Jadi, sekarang dia yang menjadi babu di rumahmu?" tanya Olivia lagi dengan nada mengejek. Ada rasa bahagia yang menyelinap ke dasar hatinya, melihat Zulaikha direndahkan.
Olivia menghampiri perempuan itu dan membungkuk, lalu berkata lagi, "Makanya jangan mencari masalah kepada kekasihku. Lihat, sekarang. Kamu dijadikan babu di sini."
Tersenyum mendengar perkataan Olivia, Zulaikha berpikir akan memberitahu kebenarannya kepada perempuan itu. Jika Andreas saja bisa memisahkan dirinya dengan Zacky, kenapa dirinya tidak bisa?
Zulaikha meneliti dan memastikan sudah tidak ada lagi pecahan mangkuk yang berserakan, lalu berdiri. Ia mengangkat dagu, tatapannya menantang Olivia. "Oh, ya? Mungkin karena Andreas tidak ingin terganggu saat bermesraan denganku nanti. Karena kami akan menikah dalam waktu dekat ini," ucapnya santai.
Mendengarnya Olivia tercengang, matanya membelalak dengan mulut terbuka. Bisa-bisanya perempuan itu ngawur dalam berucap. "Maksudmu apa?!" tanyanya, meninggikan oktaf suara. Lalu, ia menatap Andreas. "Tolong jelaskan, Andreas? Kenapa perempuan ini ngomong seperti itu. Apa benar, kamu akan menikahi dia?"
Andreas mengangguk tanpa keraguan.
"Kenapa? Apa kamu menghamili perempuan itu?" tanya Olivia, penuh selidik.
"Ti---."
"Iya. Kekasihmu yang bak Dewa Yunani itu menghamiliku. Di perut ini ada darah dagingnya yang sedang berkembang," ucap Zulaikha, sambil mengelus perut. Ia menatap puas Andreas yang sudah mengetatkan rahang. Jelas sekali sedang menahan amarah.
"Ah, Nona. Seharusnya kamu sadar diri kenapa Andreas tidak pernah mau dibawa pergi olehmu untuk menemui teman-temanmu itu. Karena dia tidak mencintaimu dan lebih menjaga perasaanku. Di sini, siapa yang nasibnya lebih malang, Nona? Aku sebagai babu spesial, atau kamu kekasih yang tak dianggap? Ups! Terdengar menyedihkan sekali menjadi kekasih yang tak dianggap." Zulaikha menutup mulutnya dan pura-pura menampilkan wajah sendu. Ia terkikik puas, rasanya sudah kelewat batas merangkai kata-katanya.
Olivia menggeram. Ia mengepalkan kedua tangan di sisi kanan dan kiri paha mendapat cibiran dari Zulaikha. Menyipitkan mata merasakan darahnya mendidih dan hati memanas, Olivia menampar Zulaikha cukup keras. Napasnya menggebu-gebu membuat dadanya naik turun.
"Wanita murahan! Jalang! Berani-beraninya menggoda dan merebut pacar orang!" murka Olivia.
Zulaikha menyeringai. Ia menangkup pipi bekas tamparan yang memanas. Menatap sinis Olivia dan Andreas secara bergantian, ia berkata, "Jangan asal menuduh. Kalau bukan Andreas yang merayuku, aku tidak akan jatuh dalam pelukannya. Ingat, Nona. Terjadinya hubungan gelap, bukan dari pihak perempuannya saja yang berengsek. Tapi, prianya juga. Dan ... seperti yang kukatan tadi. Andreas lebih memilihku daripada dirimu untuk dijadikan istri."
Melihat perdebatan sengit di hadapannya, kesabaran Andreas menipis. Tanpa babibu ia langsung mengangkat Zulaikha, memanggulnya bak karung berisi beras. Ia juga mengabaikan perempuan itu yang meronta, terus berjalan tergesa menuju lantai atas.
Sementara Olivia, ia masih berdiri mematung di tempatnya. Tak percaya jika Andreas telah menduakan dirinya.
"Sialan!" geramnya, sambil menghentakkan kaki. Ia berlalu dari dapur, mengikuti Andreas untuk meminta penjelasan.
Sampai di kamar Zulaikha, Andreas membanting pintu sangat keras, langsung mengunci pintu dengan cepat. Ia melangkah lebar menuju ranjang, lantas menghempaskan tubuh perempuan itu ke kasur tanpa perasaan hingga membuatnya terpental.
"Berengsek! Apa maksudmu berucap seperti itu, hah?!"
Zulaikha beranjak duduk. Ia merintih kesakitan, sambil mengusap-usap siku yang tertindih badan.
"Kenapa? Aku hanya membantumu mencari alasan, bukan?" Meskipun masih merasakan sakit di lengannya, Zulaikha memaksakan untuk tersenyum mengejek.
Andreas mencengkeram rahang Zulaikha keras-keras. Matanya melotot tajam memandang perempuan itu. "Dengan menuduhku menghamilimu?" tanyanya penuh penekanan.
Zulaikha berkelit berusaha melepaskan tangan Andreas dari rahangnya. Ia tidak boleh lemah. Terus berusaha melepaskan, tetapi sangat susah. Akhirnya, ia menendang perut lelaki itu yang refleks langsung melepaskan cengkeramannya. Tidak membuang kesempatan, Zulaikha melompat turun dari ranjang dan berdiri agak jauh.
"Impas, bukan? Kamu memaksaku berpisah dengan kekasihku. Aku pun bisa melakukan hal yang sama."
Andreas mengayunkan kaki mendekati, membuat perempuan itu melangkah mundur.
"Kamu lelaki brengsek, Andreas. Tidak pantas perempuan itu bersanding denganmu. Dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada dirimu!" Masih melangkah mundur, Zulaikha berseru.
"Kamu tidak punya hak mengurus urusan pribadiku. Lupa dengan aturan yang sudah kubuat?"
Zulaikha mentok di tembok. Ia terjebak dalam kungkungan Andreas. Mereka beradu tatap, saling menantang.
"Persetan dengan peraturan, aku tidak peduli! Peraturan macam apa itu, yang tidak ma---."
Ucapan Zulaikha terhenti saat bibir lelaki itu menyatu dengan bibirnya. Ia tercengang, merasakan peredaran darah berhenti mengalir membuat sekujur tubuhnya membeku dan jantung berdebar cepat. Secara refleks, Zulaikha mendorong dan menampar Andreas sampai kepala lelaki itu terpelanting.
"Berengsek kamu!" Zulaikha melototkan mata, wajahnya tampak merah padam. Sedangkan satu tangannya terus megusap-usap bibir, berusaha menghapus jejak bibir lelaki itu.
Merasakan nyeri dan asin di sudut bibirnya, Andreas mengusapnya dengan ibu jari. Dilihatnya, darah segar membekas di ujung ibu jari tersebut. Seringaian sinis dan tatapan mata yang menajam, ia lemparkan untuk Zulaikha.
Andreas mengikis jarak. Menghimpit perempuan itu dan menekannya, sampai tidak ada lagi ruang di antara mereka. Napas kasar yang saling bersahutan, membuat udara memanas serta debaran jantung kian terasa.
Gedoran pintu dari luar yang berulang kali didengar pun, Andreas abaikan. Ia tahu, Olivia di sana.
"Semakin brutal dirimu." Tatapan Andreas seperti ingin menguliti hidup-hidup perempuan yang ada dalam kungkungannya. "Pantas saja Mamaku meninggal karena dirimu. Pasti kamu yang mendorongnya sampai dia tertabrak mobil."
Suara Andreas yang terdengar serak dan dalam, membuat Zulaikha mematung dengan debaran jantung yang bertalu-talu. Seperti terhipnotis, ia hanya menatap netra cokelat itu lekat-lekat. Setelahnya, merasakan remasan rambut yang ditarik ke belakang membuat kepalanya mendongak.
Lelaki itu menyatukan bibirnya lagi dan mencari celah untuk menelusupkan lidah. Zulaikha berusaha mengelak, tetapi cengkeraman di rambut dan tekanan di kepalanya yang semakin kencang, membuat ia susah bergerak. Bukan hanya itu, tangan Andreas yang bebas mulai beraksi melingkar ke pinggangnya, lalu menarik tubuhnya agar semakin merapat.
Berhasil menelusupkan lidah ke mulut Zulaikha, Andreas memagutnya kasar dan brutal. Tidak ada ampun. Rintihan yang keluar dari mulut Zulaikha, justru menambah semangat ia melumatnya.
Merasakan kehabisan oksigen, Andreas melepaskan sejenak pagutannya untuk menarik napas. Kemudian, melanjutkan lagi aksinya, tidak memedulikan bagaimana kondisi perempuan yang sedang dihajarnya.
Zulaikha sendiri tidak bisa menyeimbangi tenaga lelaki itu. Setiap bergerak, Andreas akan menambah tekanan tenaganya. Kulit kepala yang semakin memanas, pasokan udara yang menipis, serta ruang gerak yang minim, membuat tubuh Zulaikha melunglai lemas dan pasrah. Ia memejamkan mata, merasakan lidah lelaki itu terus menari-nari di dalam mulutnya.
***
Andreas keluar dari kamar Zulaikha, mendapati Olivia masih berdiri di depan kamar itu.
"Eas, jadi benar yang perempuan itu katakan? Kamu menghamilinya dan akan menikahi dia?"
Andreas sudah menduga, rentetan pertanyaan itu akan keluar dari mulut Olivia yang membutuhkan penjelasan. Masih bungkam dan terus melangkah, ia berhenti saat Olivia menghadang jalannya.
"Aku butuh penjelasan, Andreas. Jangan diam saja."
"Ke ruang keluarga, aku akan menjelaskan di sana."
Andreas melanjutkan jalan lagi, melewati Olivia dan menuruni anak tangga. Sampai di ruang keluarga, ia duduk di sofa diikuti Olivia yang duduk di sebelahnya.
"Ayo, cepat jelaskan." Tidak sabaran menunggu penjelasan, perempuan ber-make up tebal itu menggoyang-goyangkan lengan Andreas.
"Ya, aku akan menikah dengan dia. Tapi, bukan karena dia hamil." Dengan tatapan lurus ke depan ke arah televisi, Andreas berucap.
"Lalu, apa? Alasan apa yang membuatmu ingin menikahi dia? Kamu sudah menjalin hubungan dengannya dan mengkhianatiku selama ini?"
"Tidak. Tapi, balas dendam. Karena dia yang sudah menyebabkan Mama meninggal."
"Apa?" Terkejut mendengar penuturan itu, Olivia menatap Andreas serius. "Jadi ... perempuan itu yang sudah membuat Tante Sarah meninggal? Tidak bisa dibiarkan! Aku akan memberi pelajaran kepadanya," lanjutnya lagi, dengan kedua tangan mengepal.
Olivia akan beranjak, tetapi langsung ditarik Andreas agar duduk kembali.
"Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk perempuan itu, ini urusanku. Aku sengaja memindahkan semua ART untuk kerja di restoran, dan perempuan itu yang menggantikannya bekerja di sini. Seorang diri tanpa bantuan siapa pun."
"Tapi, kenapa harus menikah? Cukup dijadikan babu, sudah kelar, 'kan, urusan?"
"Karena aku bisa berbuat semauku untuk menghancurkan dia, menyakiti dia. Dengan menikah, tidak ada orang lain yang berhak ikut campur urusan rumah tanggaku."
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kita, Andreas? Papa sudah menginginkan kita agar segera menikah."
"Aku rasa kamu sangat paham dengan perasaanku, Olivia. Dari dulu aku tidak pernah ada rasa kepadamu. Menjalin hubungan ini pun, atas desakan Mama yang tidak enak hati kepada orang tuamu."
"Aku tahu. Tapi, apa masih sama sampai sekarang? Belum tumbuh rasa cintamu untukku, sedikit pun? Sudah setahun kita menjalin hubungan. Aku juga tulus mencintaimu, Andreas."
"Maaf, Liv. Belum tumbuh perasaan apa pun."
"Belum, berarti masih bisa mencoba, Andreas. Aku akan menunggu sampai hatimu bisa menerimaku."
"Perasaan tidak bisa dipaksakan untuk mencintai seseorang. Sebaiknya, hubungan kita selesai sampai di sini. Aku juga akan menikah, tidak ingin melibatkanmu terlalu jauh."
Olivia menggeleng. Menggenggam tangan Andreas. "Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu menikah hanya untuk balas dendam kepada dia. Tidak untuk membangun rumah tangga bak pasangan yang saling mencintai."
"Tidak bisa, Liv. Lebih baik berhenti dari sekarang, sebelum terlambat."
"Dan membiarkanmu menikah dengan dia?" Mata Olivia berkaca-kaca. Ia tahu Andreas tidak mencintainya dari dulu, dan ia yang terus memaksakan diri untuk tetap bersamanya. Mendapat dukungan dari orang tuanya dan mamanya Andreas, ia menaruh harapan besar untuk lelaki itu. Namun, kenyataan pahit masih menyambarnya jika sampai sekarang hati Andreas belum tersentuh sama sekali.
"Terserah apa katamu, Liv. Tapi, aku menganggap hubungan kita sudah selesai sampai di sini. Dan kamu bukan lagi kekasihku."
"Kamu benar-benar memutuskanku?"
"Untuk kebaikan bersama."
"Jahat kamu, Andreas." Beranjak dari duduknya, Olivia menampar Andreas menyalurkan kekecewaan hati. Lantas, ia segera berlalu, keluar dari rumah itu dengan air mata yang meluruh deras.
Andreas sendiri menghela napas lelah. Dua kali pipinya terkena tamparan. Namun, tidak apa-apa. Menurutnya, keputusan itu memang yang paling tepat. Ia tidak ingin melibatkan Olivia terlalu jauh. Benar kata Zulaikha, perempuan itu baik. Pantas mendapatkan lelaki yang baik juga, yang mau membalas cintanya dengan tulus.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top