Part 8

"Apa ini?" tanya Zulaikha penasaran, saat menerima sodoran map dari Andreas. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya lelaki itu keluar dari persembunyiannya menemui dirinya di ruang tamu.

"Peraturan untukmu mulai dari sekarang masuk di rumah ini. Baca saja." Sambil bersedekap, Andreas mengamati Zulaikha yang sedang memeriksa isi map tersebut.

PERATURAN YANG HARUS DITAATI KHUSUS UNTUK ZULIKHA RIVEIRA

Zulaikha mengernyit. 'Dari mana lelaki itu tahu nama kepanjangannya? Oh, mungkin tadi waktu dia membayar biaya administrasiku di rumah sakit,' batinnya. Mengabaikan nama kepanjangan dirinya, ia melanjutkan membacanya lagi.

1. Menikah dengan Andreas Aidan tanpa batas waktu.
2. Mengurus rumah dilakukan seorang diri, tidak boleh ada yang membantu.
3. Tidak boleh membantah perkataan Andreas Aidan selaku suami.
4. Tidur pisah kamar.
5. Tidak boleh menolak saat diajak hubungan ranjang.
6. Tidak boleh keluar rumah tanpa izin Andreas Aidan selaku suami.
7. Tidak boleh memiliki hubungan dengan pria lain.
8. Tidak boleh bekerja menjadi fotografer maupun desain grafis.
9. Setiap hari wajib menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Andreas Aidan, kecuali siang karena tidak selalu di rumah.
10. Pergi belanja harus bersama Andreas Aidan. Tidak boleh sendiri.
11. Tidak boleh merusakkan barang apa pun itu, apalagi milik Mama.
12. Mengurus tanaman dengan benar dan baik. Tidak boleh ada yang mati atau rusak.
13. Tidak boleh tidur lebih awal sebelum Andreas Aidan pulang kerja.
14. Tidak boleh ikut campur urusan pribadi Andreas Aidan.

Zulaikha melongo selesai membaca semua peraturan itu. Ia mengangkat kepala menatap Andreas. "Kamu gila? Di sini aku yang paling dirugikan. Aku juga keberatan dengan point nomor lima dan delapan. Kenapa tidak boleh menolak untuk tidak berhubungan badan? Kita menikah tanpa dasar cinta dan tidak saling menginginkan dari hati ke hati. Dan lagi, aku butuh pekerjaanku. Aku tidak bisa hanya tinggal diam di rumah saja."

"Aku tidak menerima bantahan. Pekerjaanmu di rumah juga sudah padat. Jadi, peraturan yang sudah kutulis wajib ditaati. Ingat, wajib ditaati." Setelah mengucapkan itu, Andreas berlalu dari hadapan Zulaikha. Namun, ia membalikkan badan lagi dan berucap kepada bodyguardnya, "Antarkan perempuan itu ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku."

Kemudian, Andreas menunjuk Zulaikha. "Mulai malam ini kamu yang menyiapkan makan malam. Dan mulai besok, kamu yang mengerjakan semua urusan pekerjaan rumah tangga. Semua pembantu sudah kupecat," ucapnya, tidak memedulikan wajah perempuan itu yang sudah merah padam. Lantas, ia benar-benar berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

"Aargh! Pria gila kamu, Andreas!" umpat Zulaikha, sambil teriak kesal. Map yang masih dalam genggaman ia tatap kembali, matanya menyipit. Dadanya naik-turun dengan napas menggebu-gebu.

"Peraturan yang sangat tidak masuk akal!" umpat Zulaikha lagi, lalu membanting map warna kuning kecokelatan itu ke lantai dan menginjak-nginjaknya penuh rasah gemas serta geregetan.

"Sudah, Nona. Mari saya antar ke kamar Anda." Tama menghampiri. Ia menarik lengan Zulaikha ke belakang, kemudian mengambil map yang mulai lusuh itu. "Sebaiknya ini Anda simpan baik-baik sebagai pengingat diri."

"Tidak sudi menyimpan map sialan itu! Kalian ada yang memiliki korek api?" Zulaikha mengedarkan pandangan, menatap satu per satu para bodyguard di belakangnya.

"Untuk apa, Nona?" tanya Tama, penasaran.

"Membakar map itu lah! Lalu, untuk apa lagi?!" jawab Zulaikha, malas.

"Sebaiknya jangan menambah masalah lagi jika Anda masih ingin hidup tenang, Nona."

"Kamu pikir, hidupku sekarang sangat tenang?! Oh, astaga! Apa kalian tidak melihat bagaimana bos kalian memperlakukanku dengan kasar, tanpa memiliki belas kasihan mau pun perasaan?"

Para bodyguard itu diam, sama sekali tidak ingin membalas ucapan Zulaikha yang menampilkan wajah dramatis.

"Asudahlah, antar aku ke kamar," pungkas perempuan itu, pasrah. Lalu, mengikuti Tama yang berjalan lebih dulu sambil membawakan tas jinjing miliknya.

Menaiki anak tangga, rasa kagum Zulaikha terhadap isi rumah itu hambar sudah. Mungkin jika batinnya masih waras, ia akan tersenyum kesenangan menilai desain ruang keluarga yang terhubung dengan ruang tamu begitu apik. Lampu kristal berukuran besar yang terpasang di tengah hall, dengan plafon model klasik memiliki ukiran berwarna kuning keemasan dan putih, membuat rumah itu terkesan sangat mewah. Berbagai macam lukisan pun menempel indah di dinding. Sebelah tangga bagian kanan, berdiri kokoh empat pilar besar membentuk ruang segiempat yang tengah-tengahnya terdapat piano berwarna hitam. Sofa, kursi, meja, dan pajangan-pajangan lain, juga memenuhi ruangan tersebut. Akan tetapi, Zulaikha masih enggan untuk melihat sekitar.

Sampai di undakan anak tangga terakhir, Tama belok kiri menuju kamar nomor dua. Zulaikha mengikuti, tatapannya tetap memandang lantai marmer yang mengkilap.

"Ini kamar Tuan Andreas. Kamar Anda di sini, Nona," ujar Tama, sambil menunjuk kamar Andreas saat melewati depannya, kemudian beralih menunjuk kamar Zulaikha.

Perempuan itu berhenti melangkah. Mengangkat kepala menatap Tama, ia berucap. "Sampai sini saja. Terima kasih sudah mengantar."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zulaikha mengambil alih tas dari genggaman lelaki bertubuh kekar di depannya, lalu melangkah menuju kamarnya. Ia berhenti di depan pintu, salah satu tangannya memutar kenop dan bernapas lega karena pintu tidak terkunci. Masuk ke kamar mengabaikan bodyguard itu di luar yang masih memerhatikan dirinya, Zulaikha melempar tasnya ke sembarang arah, lalu menutup pintu agak keras.

***

Zulaikha membuka mata perlahan setelah ketiduran cukup lama. Gelap yang menyapa, membuat ia kembali memejamkan mata. Sedangkan tangan bergerak meraba kasur untuk mencari ponsel, ingin tahu jam berapa sekarang. Namun, teringat ponselnya tidak ada, ia menepuk jidat.

Kemudian, perempuan itu beranjak duduk, menggeliat nikmat sambil menguap. Matanya masih terpejam rapat, seakan-akan enggan untuk melihat keadaan sekitar. Kepala juga masih agak nyut-nyutan rasanya, membuat ia terdiam sambil mengumpulkan nyawa yang belum masuk sempurna. Namun, teringat tugas yang diberikan Andreas, sontak, ia membuka mata dan gelagapan sendiri.

Dengan segera Zulaikha melompat dari ranjang. Berlari menuju pintu, lalu keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga. Sampai di lantai bawah, ia kebingungan harus ke arah mana. Baru menyadari jika dalam rumah itu sangat luas. Saat pandangannya tidak sengaja melihat jam dinding sudah menunjukkan jam setengah tujuh, Zulaikha tercengang.

"Harus masak untuk makan malam. Etapi, itu lelaki makannya jam berapa, dan sukanya makan apa? Mana aku bisanya cuma masak mie instan doang," gumamnya, sambil berkacak pinggang tampak berpikir.

Kemudian, Zulaikha mengedarkan pandangan ke sekitar. Senyumnya mengembang melihat foto mamanya Andreas yang terpajang di dinding ruang keluarga. Refleks, tangannya terangkat. Melambai ke arah foto itu, menyapanya. "Hallo, Ibu. Maaf, ya, kalau aku mengacaukan rumah, Ibu. Tapi, aku janji, aku akan merawatnya khusus untuk Ibu."

Zulaikha melangkah mendekati foto itu, ada sesuatu yang ingin ditanyakan soalnya. "Ibu, kira-kira anak Ibu, sukanya makanan apa, ya? Aku tidak bisa masak, lalu harus belajar dengan siapa? Karena ponselku pun disita sama dia, Bu." Seperti sedang mengadu kepada ibunya, Zulaikha berbicara akrab dengan foto mamanya Andreas meski tidak akan mendapat jawaban.

"Apakah Ibu ada menyimpan resep makanan yang bisa kupelajari? Kalau ada, boleh aku pinjam?" lanjutnya lagi, dan ia merasa konyol karena berbicara sendiri dengan foto. Akhirnya, Zulaikha memutuskan untuk berlalu, tetapi sebelum beranjak ia menyematkan ciuman melalui tangan dan ditempelkan ke foto tersebut.

Sementara itu, dari kamarnya Andreas melihat tingkah Zulaikha dari layar monitor CCTV. Hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan perempuan yang dinobatkan sebagai pembunuh mamanya itu.

Ia masih memerhatikan langkah perempuan itu yang terlihat kebingungan. Entah akan ke mana sekarang. Namun, tidak berselang lama perempuan itu sudah berada di dapur. Ia baru ingat jika mulai malam ini Zulaikha lah yang harus menyiapkan makan malam untuk dirinya.

Andreas masih menatap gerak-gerik perempuan itu yang berdiri di depan meja kompor. Rambut panjangnya yang dicepol asal, memperlihatkan penampilannya sangat berantakan.

"Akan masak apa dia?" tanyanya pada diri sendiri, melihat Zulaikha membuka kulkas. Perempuan itu tampak memilih-milih, lalu mengeluarkan sayur dan bahan makanan lain.

Mendengar ponselnya berdering, perhatian Andreas teralihkan dari layar monitor CCTV tersebut. Ia beranjak, melangkah menuju ranjang untuk mengambil ponsel yang tergeletak di sana.

"Olivia," gumamnya. Ia pun segera menghubungkan sambungan teleponnya.

"Hallo, Eas," sapa Olivia, dari seberang sana.

"Ada apa, Liv?"

"Aku mampir ke rumah, ya. Kamu di rumah, 'kan?"

"Ya, datang saja ke sini."

"Oke, Sayang. Ini aku masih di jalan."

"Ya."

Andreas memutuskan sambungan telepon. Teringat Zulaikha, ia langsung keluar kamar dan menuju dapur, ingin melihat langsung apa yang dilakukan perempuan itu.

**

"Ah, bagus sekali kamu sudah turun, Tuan Aneh. Nih, aku sudah selesai masak makan malammu," ucap Zulaikha, saat berpapasan dengan Andreas yang akan masuk ke dapur. Ia pun menyodorkan semangkuk besar mie instan dalam bawaannya ke hadapan Andreas, yang baru saja selesai dibuat dengan campuran sawi, telur, sosis, bakso, dan potongan cabai merah lumayan banyak.

Melihat itu, Andreas menatapnya tajam. Ia bergidik ngeri sendiri melihat potongan cabai lebih mendominasi isi mangkuk tersebut. Dengan geram, ia berseru, "Kamu ingin membunuhku, menyuruh makan mie instan dengan cabai sebanyak ini, hah?!"

"Tuan! Kamu itu hafalnya, bunuh, bunuh, bunuuuh, terus. Siapa yang akan membunuhmu? Ini aku sudah masak makan malam, sesuai permintaanmu. Karena aku belum bisa masak yang aneh-aneh, jadi mie instan saja dulu. Tadi aku nemu di dalam lemari banyak banget."

Andreas mengembuskan napas kasar. Berdebat dengan perempuan yang salah, justru ia yang akan kehilangan banyak tenaga. "Kamu makan dan habiskan, sekarang!" perintahnya, penuh penekanan.

"Enggak! Ini aku buatkan untukmu, khusus untukmu, Tuan."

"Aku suruh kamu makan dan habiskan!"

'Anjir, lima bungkus mie instan dan setengah plastik cabai, niatnya ingin ngasih pembalasan ke dia, tapi malah aku yang kena tulah,' batin Zulaikha, sambil menelan ludah.

"Kita bagi dua, Tuan. Aku separuh, kamu separuh." Zulaikha mencoba membujuk.

"Aku bilang, kamu makan dan habiskan. Sekarang. Di hadapanku."
Zulaikha terdiam, masih menimang-nimang akan memakannya atau tidak.

"Cepat!"

PRAANG!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top