Bab 8
Tekanan dari Dua Sisi
Di dalam ruangan kantor Firma Hukum Choi & Associates yang mewah dan kedap suara, aku duduk di hadapan Pengacara Choi Siwan. Di atas mejanya, tampak penuh dengan dokumen -dokumen yang tertata rapi. Pemandangan yang membuatku teringat dengan pekerjaan dan mejaku sendiri yang sudah tertinggal. Apa tempatku di sana sudah terganti? Hah, membayangkan hal itu aku jadi sedikit sesak mengingat bagaimana kerasnya aku dulu sampai bisa menduduki tempat tersebut sebagai Merger dan akuisisi (M &A).
"Tuan Jaejoong, Apa Anda serius untuk bercerai? Tidakkah baiknya Anda berpikir lebih lama lagi?"
"Entahlah, rasanya tak perlu dengan usulan itu. Kami sudah siap untuk bercerai dengan alasan hubungan yang sudah lama tak lagi harmonis."
Sang Pengacara tersenyum kecil, menanggapi perkataanku sebelumnya entahlah maksudnya apa. Aku hanya ingin proses perceraian ini akan berjalan mulus dan bisa memulai kehidupanku entah itu sebagai Kim Jaejun dulu atau Kim Jaejoong sekarang dengan lebih bebas.
"Apa ada masalah soal pengajuan ini?"
"Sebenarnya tidak, pertanyaan tadi hanya sekadar formalitas. Jika, kedua pihak sudah bersikeras dengan perceraian sebagai seorang pengacara saya hanya bisa membantu."
"Kalau begitu, aku serahkan urusan ini pada Anda." Kuulurkan tanganku, kami berjabat tangan tanda sepakat. "Kalau bisa lakukan dengan cepat juga tenang, calon mantan suamiku ini juga orang yang sibuk dan tidak suka kegaduhan."
"Tentu, Saya akan mempersiapkannya sebaik mungkin. Lalu bagaimana apa Anda punya tuntutan lain--"
"Maaf, Tunggu sebentar!" ujarku, karena baru saja aku melihat ponselku di atas meja bergetar hebat. Nama 'Ibu' muncul di layar. Aku menghela napas panjang—Ibu kandung Jaejoong yang asli, seorang wanita yang lebih mencintai kemewahan dan suami barunya daripada anaknya sendiri. Entah kenapa aku penasaran, mau apa wanita ini? Apa benar-benar seburuk itu seperti dalam ingatan Jaejoong?.
Pengacara Choi mengangguk singkat mempersilahkan.
Begitu tombol hijau kugeser, suara keras dan penuh tekanan berat langsung menusuk telingaku. "KIM JAEJOONG! Ibu kecewa padamu. Apa yang sudah kau lakukan pada adikmu itu?"
Aku menjauhkan ponsel itu beberapa senti dari telingaku. Langsung pusing dengan pernyataan aneh seperti itu. "Ibu, pelankan suaramu. Aku sedang ada urusan penting. Jadi, jika hanya ingin bertanya soal itu lebih baik nanti saja."
"Apa? Urusan apa, sampai kau mau mengabaikan Ibu dan adikmu seperti ini?! Mau bagaimanapun kita ini--"
"Ibu kututup saja!"
Tut... tut... tut...
Sambungan kuputus sepihak. Setengah tak percaya aku memanggil orang lain dengan panggilan 'Ibu' sungguh terasa aneh tapi, juga tidak.Tetapi, mengingat sikapnya barusan Kepalaku mendadak berdenyut nyeri. Jaejoong yang asli benar-benar hidup dalam neraka. Di satu sisi ada suami yang mengabaikannya, di sisi lain ada keluarga yang hanya tau memanfaatkannya saja.
"Tuan Jaejoong? Anda baik-baik saja?" Pengacara Choi bertanya dengan raut khawatir.
Aku mencoba tersenyum tipis dan tetap tenang padahal dalam hati, bibirku ingin sekali kugunakan untuk meruntuki hidupnya kali ini. "Aku baik-baik saja," jawabku, suaraku kini terdengar lebih tajam dan dingin.
"Baik, kalau begitu kita lanjut dengan pertanyaanku tadi... ?"
Cukup lama akhirnya kami selesai berdialog, untuk mempersiapkan tuntutan cerai ternyata tidak semudah kukira. Ada beberapa tahapan termasuk mediasi. Yang, sebenarnya ingin kutolak hanya agar mempersingkat waktu saja tapi, ternyata bagian itu harus tetap berlangsung. Terserahlah, terpenting saat ini aku harus menjemput Jungkook. Hanya dia satu-satunya keluarga yang ditinggalkan Jaejoong 'asli' yang paling berharga dan istimewa.
Melihat jauh ke luar jendela, Choi Siwan berdiri dengan lembaran kertas ditangan sambil terus memerhatikan sosok Jaejoong yang berjalan masuk mobil. "_Jung Yunho, dari JUNG CORP'S ..._ ini pasti jadi berita besar ..."
***
Yunho membanting pintu kamar dengan napas memburu. Keheningan rumah yang biasanya terasa damai, kini justru terasa mencekam dan asing. Ia baru saja kembali dari sekolah Jungkook dengan tangan hampa. Guru di sana bilang Jaejoong sudah menjemput Jungkook hanya selang beberapa saat. Yang paling membuatnya kesal adalah saat dia mencoba menghubungi Jaejoong yang sama sekali tidak digubrisnya begitu juga, sopirnya.
"Hahh.., Kim Jaejoong! Kau muali berulah. Ke mana kau pergi jika tidak di sini?" Geram Yunho sambil melonggarkan dasinya dengan kasar.
Tepat saat ia hendak menuangkan wiski untuk meredakan kemarahannya, pintu depan terbuka. Sosok Seol-ah muncul dengan wajah yang diset sedemikian rupa agar tampak prihatin. Ia membawa sebuah kantong berisi makanan.
"Yunho-ya... kau sudah pulang?" tanya Seol-ah lembut, melangkah mendekat seperti biasa. Ia tidak pernah khawatir dengan tanggapan orang lain dengan kedekatannya dan Yunho karena memang itu yang dia inginkan. Lagipula, Yunho pun selama ini tak pernah membatasi hal tersebut.
"Kau tahu dari mana aku pulang cepat hari ini?" tanya Yunho dingin. Dia menegak wiskinya yang sempat tertunda.
"Aku menghubungi sekeetarismu, menanyakan apa kau sudah makan siang tapi, katanya kau pergi? Saat kutanya ke mana, dia tidak tahu jadi, kutebak kau pulang ke rumah. Apalagi, aku tau kau sedang ada masalah dengan Jaejoong."
Yunho menoleh, matanya merah karena frustrasi. "Jaejoong dia berulah lagi. Dia tidak bisa membuatku tenang sejenak saja."
Seol-ah meletakkan makanannya di meja, lalu berjalan mendekat dan duduk di samping Yunho. "Mungkin dia terlalu pencemburu. Sepertinya dia berpikir kita punya hubungan khusus."
"Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya?" Yunho mendesah berat, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur lelah. "Aku sudah berulang kali menegaskan bahwa aku hanya menganggapmu sebagai adik. Hubungan khusus apa lagi yang dia imajinasikan di kepalanya?"
Yunho menuangkan wiski ke gelasnya, matanya menatap tajam pada cairan amber itu. "Meski aku tahu dia mencintaiku, aku tidak pernah menjanjikan apa pun. Pernikahan kami hanya hitam di atas putih. Tidak ada ruang untuk perasaan di dalam sana."
Seol-ah mengangguk pelan, meski hatinya berdenyut nyeri mendengarnya. Ia geram karena Yunho terus-menerus menggunakan label 'adik' untuknya, sementara Jaejoong—si 'orang luar' itu—mendapatkan status sah sebagai istri dan ibu dari ahli warisnya. Dasar pria tidak bersyukur, batin Seol-ah sinis, dia tidak tahu betapa banyak orang menginginkan posisi yang ia buang-buang itu.
"Tapi Yunho... kau tahu sendiri bagaimana Jaejoong selama ini," ujar Seol-ah dengan suara yang sengaja dibuat lembut dan prihatin. "Dia terus mencoba menarik perhatianmu, berharap kau memberikan kasih sayang lebih. Mungkin dia merasa berhak karena dia adalah Nyonya Jung."
Yunho terdiam, namun batinnya bergejolak. Baginya, pernikahan ini adalah transaksi yang saling menguntungkan. Jaejoong mendapatkan nama besar dan perlindungan keluarga Jung, sementara Yunho mendapatkan citra pria berkeluarga yang stabil untuk bisnisnya.
Seharusnya itu sudah cukup bagi Jaejoong, gumam Yunho dalam hati. Selama kontrak ini masih kuinginkan, dia akan tetap berdiri sebagai Nyonya Jung di sampingku. Apa lagi yang kurang? Cinta? Bagiku cinta tidak cukup penting untuk dijadikan dasar hidup. Perasaan itu fana, bisa datang dan pergi, tapi kontrak adalah kepastian.
Seol-ah menatap Yunho lekat-lekat, mencoba menimbang peluangnya. "Lalu... berapa lama lagi kau akan mempertahankan kontrak ini? Bukankah Jaejoong sudah melanggar batas paling dasar dengan jatuh cinta padamu? Dia sudah tidak relevan lagi dengan tujuan awalmu."
Yunho menyesap wiskinya, tatapannya mendadak kosong namun dingin. "Aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak. Selama dia tidak mengganggu hidupku, tidak mengaturku, dan bersedia hidup layaknya rekan yang berbagi rumah tanpa drama... kontrak itu akan tetap aman."
Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam. "Masalahnya sekarang, dia mulai mencoba membuat masalah lebih besar. Dan itu... adalah sesuatu yang tidak bisa kutoleransi."
*
Suasana di ruang tengah mansion jadi sangat tenang kembali setelah Pria besar itu berhasil meluapkan emosinya. Kini Yunho, yang setengah mabuk merasa pening dan lelah karena tekanan seharian, membiarkan dirinya berbaring di sofa dengan kepala bersandar di pangkuan Seol-ah.
Seol-ah tersenyum lebar, jemarinya mengusap rambut Yunho dengan lembut. Ia merasa menang. _Lihatlah, Kim Jaejoong._ Pada akhirnya, suamimu tetap berbaring di kakiku, batinnya penuh kemenangan. Pria bodoh.
Tiba-tiba, pintu besar terbuka.
Aku melangkah masuk dengan santai, menenteng tas belanja kecil seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu mataku menangkap pemandangan di sofa, aku berhenti sejenak, menatap mereka dengan tatapan menilai yang dingin—seperti sedang melihat serangga yang terjebak di genangan air.
Namun, sebelum Seol-ah bisa membuka mulut untuk menyindir, sebuah "Peluru kendali" kecil melesat dari sampingku.
"DADDYYYYYYYYY!!!"
BRUAKK!
Jungkook, dengan berat badan balitanya yang sedang lincah-lincahnya, melompat dan mendarat tepat di atas perut Yunho dengan lutut duluan.
"Ugh—!" Yunho tersedak, matanya hampir keluar karena terkejut dan sesak napas. Kepalanya terangkat paksa dari pangkuan Seol-ah. "Cookiee?!"
"Daddy sedang apa? Kenapa tiduran di paha/ Bibi Seol-ah? Apa Daddy sedang sakit perut seperti Cookie kalau kebanyakan makan permen?" tanya Jungkook dengan wajah sangat polos, sementara dia terus bergerak-gerak memperlakukan perut itu seperti pelana kuda, membuat ayahnya itu makin megap-megap.
Seol-ah terperanjat, tangannya yang tadi mengusap rambut Yunho kini terdorong kasar oleh gerakan Jungkook. "J-Jungkook, hati-hati! Daddy-mu sedang istirahat!"
Jungkook menoleh, menatap Seol-ah dengan mata bulatnya yang jernih. "Bibi, Daddy itu milikku dan Papa ... Bibi tidak boleh menyentuh Daddy lagi atau aku marah."
Aku hampir saja tertawa melihat wajah Seol-ah yang memerah menahan malu karena tamparan keras dari bocah itu. Aku berjalan mendekat, meletakkan tas dan kantong berisi mekanan di meja dengan tenang.
"Jungkook-ie, Daddy itu cuman milikmu seorang. Papa tidak akan ikut-ikutan merebutnya. Juga,
sebaiknya, turunlah. Daddy-mu kesakitan," ujarku datar tanpa emosi. Aku menatap Yunho yang sekarang sedang berusaha duduk sambil memegangi Jungkook membuatnya duduk di atas pangkuannya.
"Kalian dari mana?" tanya Yunho dengan tampangnya yang berantakkan dan kusa. Aroma alcohol tercium kuat dari tubuhnya. Dia mabuk di siang bolong begini? Benar-benar menyedihkan
Kuhela napas, melelahkannya berinteraksi dengan orang lain seperti ini. "Kita hanya pergi jalan-jalan. Cookie, kemarilah! Kita ganti baju dulu dan istirahat."
"Mau pergi ke mana lagi?" Yunho menahan lengan Jungkook, namun matanya menatapku seolah menuntut penjelasan.
"Kau setengah mabuk, Yunho. Aku hanya ingin membawa Jungkook mandi dan istirahat. Memangnya mau ke mana lagi?"
Mendengar kata 'mandi', Jungkook segera melepaskan diri dari kungkungan ayahnya. Namun, siapa sangka bocah itu malah menarik tangan Yunho agar ikut bangkit berdiri. "Daddy juga perlu mandi, dia bau, Pa!"
"Soal itu, biar Daddy-mu urus sendiri," tolakku cepat.
"No! Cookie mau mandi bareng Daddy!" Jungkook menatap Yunho dengan mata memohon, lalu beralih menatapku.
Aku mengangkat bahu. Jika dia ingin bersama ayahnya, silakan saja. "Terserah." Aku berbalik untuk menuju kamar mandi lebih dulu.
"Horeee!! Kita akhirnya mandi bertiga!" teriak Jungkook sambil melompat kegirangan.
Langkahku terhenti seketika. Aku hampir saja tersungkur. Apa yang baru saja bocah ini katakan? Mandi bertiga?
To be Continue...
'230226'🎐
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top