BAB 7
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela dapur mansion Jung yang biasanya kaku dan dingin. Namun, ada pemandangan yang sangat tidak biasa di sana. Jung Yunho—pria yang biasanya hanya menyentuh pulpen mahal dan dokumen kontrak—kini terlihat canggung dengan celemek melingkar di pinggangnya.
Dapur sudah berantakan. Beberapa butir telur pecah di lantai, dan aroma roti panggang yang sedikit gosong memenuhi udara. Yunho tampak frustrasi, berkali-kali ia menyeka keringat di dahinya sambil menatap buku resep di tabletnya.
"Kenapa membalik telur saja sesulit ini?" gerutunya pelan.
Aku menuruni tangga bersama Jungkook yang masih mengucek matanya karena mengantuk. Begitu sampai di lantai bawah, aku mengernyit. Bau masakan tercium, tapi bukan bau masakan koki profesional melainkan bau aneh yang tidak jelas apa itu.
Saat kami masuk ke ruang makan, meja sudah tertata. Tidak ada porselen mewah, hanya piring sederhana berisi sandwich telur yang bentuknya agak berantakan, beberapa potong buah, dan segelas susu hangat untuk Jungkook.
Yunho berdiri di samping meja, wajahnya tampak kuyu seolah tidak tidur semalaman. Ada bekas tepung di pipinya dan jari telunjuknya terbalut plester luka.
"Pagi..." sapa Yunho, suaranya terdengar cemas bercampur semangat tinggi. Tatapannya tepat mengarah pada Jaejoong seolah pada dialah dirinya bicara. "Aku... aku memecat semua orang tadi malam. Jadi, aku mencoba membuatkan sarapan untuk kalian."
Aku terdiam, menatap piring di depanku lalu menatap Yunho. Jaejoong yang asli mungkin akan sennag melihat pemandangan ini, tapi aku hanya menaikkan sebelah alis tak terpengaruh. "Kau memasak ini sendiri? Lebih baik kau segera cari koki baru secepatnya dan jangan pernah lagi masuk ke dapur."
Sudut bibir Yunho berkedut, kesal. "Meski, tampilannya seperti ini. Aku sudah pastikan ini cukup layak."
"Kami tidak butuh kata, 'Cukup layak' dalam hal makanan apalagi untuk balita seusia Jungkook. Semua harus memenuhi gizi," tukasku sambil mendengus. Omong-omong soal seperti ini meski, aku masihlah single tapi, aku tau pentingnya gizi apalgi untuk bayi dari Ibu yang cerewet sejak kecil masalah begini.
Yunho tidak bisa menjawab apapun, tampak pasrah dan hanya bisa berakhir melihat Jungkook. "Pagi ...Cookie, ini pertama kali Daddy masak? Daddy harap kamu suka?"
Jungkook menarik kursinya, menatap sandwich buatan ayahnya dengan ragu. "Daddy yang buat?"
Yunho mengangguk kecil, lalu berjongkok di samping Jungkook. "Maafkan Daddy ya, Cookie? Mulai hari ini, Daddy yang akan pastikan aman dan terbaik buat Cookie."
Jungkook menatapku, seolah meminta izin. Aku mengangguk pelan. Anak itu pun mulai menggigit roti tersebut. "Enak! Tapi sedikit asin, Daddy."
Yunho tersenyum tipis, merasa lega dengan tanggapan Jungkook, sebelum tatapannya kembali mengarah padaku. "Jaejoong, bisakah kita bicara? Tanpa emosi kali ini?"
Aku menarik kursi, duduk dengan tenang. Tagu akan datang waktu seperti itu. "Baiklah setelah Jungkook pergi ke sekolah."
Tanpa dua orang dewasa itu sadari, Jungkook mendongak diam-diam melirik mereka berdua lalu, menunduk melihat sarapannya dengan sedih.
Aku mengambil pisau dan garpu, memotong roti itu dengan rapi. "Dengar, Yunho. Kau memecat pelayan itu adalah langkah awal yang bagus untuk keselamatan Jungkook. Tapi soal 'kita'? Itu urusan lain. Aku tetap pada keputusanku untuk bercerai."
Wajah Yunho seketika layu, namun ia tidak membantah seperti biasanya hanya menutup mulutnya dengan tatapan tak terbaca. Entah apa yang ada dalam pikirannya yang pasti, aku tidak bisa peduli kecuali, pada si Kecil di sampingku. Jungkook mungkin terluka tapi, aku akan ikut berusaha membahagiakannya dengan caraku sendiri tanpa harus bersama Yunho.
*
Terdengar suara deru langkah kaki yang berjalan cepat datang menghampiri dan tepat berhenti tak jauh dari mereka yang masih sarapan. Di sana Seol -Ah berdiri tanpa ragu melihat sekitar sebelum akhirnya fokus pada Yunho dan hanya melirik Jaejoong dengan rasa benci lalu, menganggapnya seolah makhluk transparan.
Seol-Ah bertanya dengan nada sedih. "Aku dengar sesuatu, sebenarnya apa yang terjadi dengan para pelayan di sini? Kalian tidak apa-apa, kan? Cookie--?"
Yunho mempersilahkan Seol-Ah duduk terlebih dulu tanpa pikir panjang. Begitu juga Seol-Ah yang sama tanpa ragu duduk di meja makan bersama keluarga kecil itu. Wajahnya masih terpasang wajah khawatir dan ketakutan entah pada Yunho atau juga Jungkook yang tampak tidak terganggu dengan kehadiran sahabat Daddy nya itu, balita manis ini terlalu sibuk menghabiskan makanannya yang tidak seberapa enak itu. Begitu juga Jaejoong.
Sejenak Yunho memerhatikan reaksi Jaejoong tapi, yang diharapkannya tidak terjadi.
"Yunho Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Seol-Ah sekian kali, setelah melihat tatapan Yunho pada Jaejoong.
"Para pelayan itu kurang ajar mereka berani mempermainkan makanan Jungkook dan Jaejoong. Jadi aku memecat semua pelayan itu tanpa terkecuali." Yunho mulai bercerita.
"Bagaimana bisa? Padahal, aku melihat mereka baik-baik saja ... tapi, tidak disangka ...huuh. jika, saja Nyonya rumah bisa melakukan pekerjaanya dengan baik tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Lalu, bagaimana sekarang?. Siapa ahh.. " Seol Ah berhenti bicara seolah baru melupakan sesuatu, dia melirik Jaejoong dengan pandangan tak suka tapi, juga pasrah. "Aku tidak khawatir denganmu, Yun ... tapi, Cookie?"
"Apa yang kau pikirkan? Ada Jaejoong dia akan mengurusnya," balas Yunho cukup percaya diri. "Jaejoong yang akan mengatur semua hal di sini mulai sekarang terutama urusanku dan Jungkook, bukan begitu?"
"Aku bukan pembantumu, urus saja sendiri," jawabku datar padahal, dalam hati aku langsung ingin muntah, jijik kenapa juga aku harus sampai mengurusi semua hal itu. Untuk, mengurus Jungkook dia sama sekali tak masalah tapi, mengurusnya dan rumah ini? Yang benar saja.
"Bukannya, ada Nona Seol-Ah ini. Biar dia yang lakukan."
Setelah mengatakannya aku tidak bisa lebih lama untuk tinggal di sana." Cookie, apa kau juga sudah selesai sarapannya?"
Jungkook menoleh sebenarnya dia tidak benar-benar sarapan itu, hanya memotong - motong kecil rotinya asal. Pasti dia tidak suka roti gosongnya, kasian. " Sudah, Pa! Cookie kenyang."
"Bagus, kalau begitu cepat kita pergi ke sekolah."
"Papa mau antar Cookie lagi?" Jungkook bertanya seolah dia terkejut mendengarku akan mengantarnya lagi.
"Tentu, Ayo!"
"Tapi, Cookie sarapanmu belum habis."
"Yunho," Kupanggil nama itu dengan rasa lelah, yang tak bisa kupikirkan lagi apa penyebabnya. Tapi, entah ide darimana aku ingin mengerjai orang ini. Kuambil dan meletakkanya roti sisa Jungkook di depan Seol-Ah. "Kau mau bantu menghabiskan roti ini, kan? Jangan salah meski tampilannya tak menarik seperti ini tapi, Yunho membuatnya dengan penuh cinta. Kau harus mencobanya. Silakan nikmati! Nah, sekarang, Ayo, pergi Cookie!!"
Kutinggalkan ruangan itu dengan kepala tegak sambil menggandeng Jungkook. Terserahlah mau apa mereka. Setelah itu aku pergi ke sebuah restoran yang buka pagi untuk sarapan yang lebih baik lalu, mengantarnya ke kelas dan berjanji menjemputnya nanti.
"Tuan, ke mana lagi kita pergi? Atau, kita pulang saja?" tanya supir.
Cukup lama sebelum kujawab. Terlalu banyak hal yang kupikirkan tentang apa yang harus kulakukan tapi, tidak termasuk untuk kembali ke mansion si Jung itu. "Pergi ke apartemenku saja!" ujarku yang diangguki si Sopir sambil kembali memikirkan jalan hidupku di dunia ini. Sebenarnya, kenapa dirinya tiba-tiba saja berada ditubuh Jaejoong ini? Bagaimana dengan dirinya yang asli, apa mati atau masih hidup? Ditambah kehidupan Jaejoong yang kacau. Hahhh, kuhela napas berat, kepalaku bisa pecah memikirkan semua ini.
Aku akan berbenah mulai dari sana, mungkin tidak lama lagi aku tinggal di sana setelah perceraian. Dan, terpenting saat ini aku perlu segera mencari pengacara perceraian. "Sopir Ma, apa kau tahu firma hukum terdekat sini?"
"Ya, ada di blok depan. Itu perusahaan besar kedua dikota ini."
"Ok, antar aku ke sana lebih dulu."
***
Di kantor pusat Jung Group, suasana lantai paling atas itu sedingin es. Jung Yunho duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak fokus pada laporan keuangan di layar monitor. Pikirannya tersangkut pada bayangan Jaejoong pagi tadi—tatapan mata yang jernih, bibir yang tidak lagi bergetar saat bicara, dan tamparan semalam yang masih terasa panas di pipinya.
"Sejak kapan dia punya sorot mata sedingin itu?" gumam Yunho, melempar pulpen mahalnya ke atas meja.
Pikirannya mendadak terlempar ke masa lalu. Ke kilasan-kilasan memori tentang Jaejoong yang dulu—si agresif yang menyedihkan.
Beberapa bulan lalu,
Di ruangan ini.
Jaejoong masih duduk menunggu dengan kotak bekal di tangan. Wajahnya segar, matanya berbinar penuh senyum tiap melihatnya. Tetapi, entah kenapa Yunho sebaliknya malah terasa sesak dan kesal ditatapnya begitu.
"Yunho-ya, aku memasak bulgogi kesukaanmu. Makan siang bersama, ya?"
Yunho bahkan tidak melirik kotak bekal itu. Ia hanya menatap jam tangannya dengan raut jijik. "Kau punya banyak waktu luang sampai harus datang ke sini? Pulanglah. Lebih baik kau jemput dan jaga Jungkook dengan baik, bukan menjadi kurir makananku begini. Aku bisa urus- urusanku sendiri."
Jaejoong menunduk, bahunya merosot, tapi ia tetap mencoba tersenyum. "Tapi, di taman kanak-kanaknya Jungkook sudah disiapkan makan siang. Tapi, kau ..kan, tidak. Pagi ini juga, kau tak makan? Kau bisa sakit Yunho ."
"Hah..., Jaejoong-Ah, aku lelah melayanimu . Sebaiknya kau pulang saja!"
Kembali ke masa kini, Yunho memijat pelipisnya. Rasa bersalah mulai menyelinap, namun egonya masih mencoba membela diri. Tepat saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita cantik dengan setelan blazer elegan berwarna maroon melangkah masuk. Aura wanita ini berbeda dengan Seol-ah yang lembut buatan; wanita ini memancarkan wibawa dan ketenangan yang nyata.
"Maaf, aku sudah mengetuk berkali-kali jadi,aku masuk begitu saja."
Yunho mendongak lalu, menunduk seolah tak terkejut. "Hyemi, ada apa?"
"Kau tampak kacau, Yunho," suara itu tegas dan familiar.
Hyemi adalah masa lalu yang terkunci rapat dalam kotak penyesalan Yunho. Dia adalah wanita yang pernah menjadi tunangan resminya, wanita yang benar-benar ia cintai dan ia hargai—jauh sebelum rencana pernikahannya dengan Jaejoong dimulai karena tekanan keluarga.
Hyemi duduk di kursi di depan meja Yunho tanpa diminta. Matanya melirik ke arah foto keluarga di meja kerja Yunho yang sudah tergeletak miring. "Aku dengar terjadi kekacauan di rumahmu. Aku tahu dari Seol-ah . Apa yang terjadi?"
Yunho mendengus. "Kenapa kau mau tahu?"
"Yah, hanya ingin tahu saja. Aku dengar kali lagi-lagi Kim Jaejoong buat masalah besar. Jadi, pasti berat buatmu. Setidaknya jika kau cerita mungkin, saja membuatmu lebih lega."
"Hyemi, terimakasih tapi, aku tidak mau bicara apa-apa," tukas Yunho.
"Kau segitunya. Sepertinya kau butuh cermin, lihat penampilanmu yang berantakkan? Makanya aku datang sebesar apa masalahmu sampai kau juga melamum dan tak fokus pada pekerjaan seperti bukan Jung Yunho yang biasanya."
Yunho terdiam. Mulutnya masih rapat menutup tapi, matanya tampak lebih jujur.
"Yunho," lanjut Hyemi sambil berdiri dan mencondongkan tubuhnya memegang tangan Yunho. "Jika sulit tidak apa-apa.
"Jaejoong sepertinya serius ingin bercerai."
To be Continue ...
'220226'🧤
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top