Bab 5

"Ada apa ini? Siapa kalian?"

Aroma citrus yang menenangkan sebelumnya kini menghilang  berubah menjadi zona merahku. Ketenanganku mulai terusik melihat pemandangan di dalamnya sampai membuat darahku mendidih. Ruang tamu yang harusnya rapi kini berantakan dengan botol-botol minuman mahal dan pakaian yang terserak. Di sofa kulit, duduk seorang pemuda yang baru saja kukenal lewat  memori Jaejoong—Lee Jihun, adik tiri 'si Pemilik asli' yang parasit.

​"Oh? Kak Jaejoong?" Jihun menoleh dengan wajah tanpa dosa, sementara seorang wanita di sampingnya sibuk merapikan baju yang tersingkap. "Sedang apa di sini? Bukannya kau seharusnya sedang berada di pojokan rumah besar Yunho Hyung?"

​Aku tidak menjawab. Mataku menyapu ruangan dan melihat vas bunga antik Jaejoong pecah di pojok ruangan. Kutekan pangkal hidungku, menekan rasa penat dan emosi ini. Dulu, bahkan orangtuaku sendiri selalu menghormati privasiku tidak mau masuk tanpa izinku tapi, di sini!!

'_Aah, Ibu , Ayah ... aku merindukanmu!'_

​"Siapa yang memberimu izin masuk ke sini?" suaraku rendah, dingin, dan menusuk.

​Jihun tertawa meremehkan, dia bangkit berdiri sambil memegang gelas wine. "Ibu yang memberiku kunci. Lagipula, kau kan sudah kaya raya jadi nyonya Jung. Apartemen kecil ini tidak kau pakai, kan? Daripada kosong, lebih baik aku yang pakai jadi ... mungkin mulai hari ini, aku akan tinggal di sini."

​Aku melangkah maju. Kehadiranku yang tiba-tiba membuat Jihun sedikit mundur, mungkin dia merasakan auraku yang berbeda.

​"Keluar," kataku singkat.

​"Apa? Kau bercanda? Ibu bilang—"

​BRAK!

​Aku menendang meja kopi di depan Jihun hingga menggeser posisinya dengan suara dentuman keras. Wanita di samping Jihun pun tak luput menjerit ketakutan.

​"Aku tidak peduli apa yang dikatakan wanita yang kau panggil ibu itu. Unit ini atas namaku, dibeli dengan uang pribadiku juga jadi, siapa kau berani menempatinya? Dalam lima menit, jika kau dan wanitamu ini tidak angkat kaki dari sini..." Aku mengambil ponsel, jemariku menari di atas layar. "...aku akan melaporkan penyerobotan properti ke polisi dan memastikan nama keluarga 'Lee-'mu itu masuk ke berita utama malam ini karena kasus pencurian."

​Jihun membelalak, wajahnya memerah padam. "Kau... kau berani melawanku? Ingat Jaejoong, kalau kau macam-macam, aku akan mengadu pada Ibu soal betapa buruknya perlakuanmu."

​Aku tertawa, tawa yang terdengar mengerikan bahkan di telingaku sendiri. Aku berjalan mendekat, mencengkeram kerah kemeja Jihun hingga dia berjinjit.

​"Silakan mengadu. Katakan pada ibumu, Jaejoong yang kalian kenal sudah mati. Sekarang, bawa sampah-sampahmu ini dan pergi sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan menyeretmu keluar lewat jendela."

​Jihun gemetar. Dia melihat kilat kemarahan yang belum pernah dia lihat sebelumnya di mata kakaknya. Dengan terburu-buru dan sumpah serapah yang tertahan, dia memunguti barang - barangnya dan lari keluar bersama teman wanitanya.

​Setelah pintu tertutup dengan bantingan keras, aku terduduk di sofa. Napas membara. "Belum saja lama tinggal di tubuh ini, dan aku sudah ingin menghajar tiga orang sekaligus," gumamku sambil memijat pelipis. "Jung Yunho, Seol-ah, dan sekarang keluarga parasit ini. Baiklah... kalian ingin bermain? Mari kita lihat siapa yang akan hancur duluan."

Aku juga segera memanggil layanan kebersihan darurat lewat aplikasi untuk membereskan kekacauan yang dibuat si parasit Jihun. Rencanaku untuk bersantai tanpa adanya orang lain harus gagal karena para pengganggu itu.

Sembari menunggu, aku masuk ke kamar utama. Syukurlah, Jihun tidak sempat menyentuh area ini karena pintunya ternyata dikunci ganda dengan kode digital yang hanya diketahui Jaejoong 'asli' yaitu aku sekarang.

Aku menghela napas lega saat mendengar bunyi klik yang familiar. Pintu kamar utama terbuka. Aroma di sini berbeda—masih aroma sandalwood dan melati yang lembut, murni milik Jaejoong tanpa terkontaminasi bau alkohol Jihun.

​Aku langsung saja berjalan menuju brankas kecil yang tersembunyi di balik lemari pakaian. Sesuatu  dimemori  Jaejoong 'asli' yang tampaknya tempat berharga dan di mana dia menyimpan rahasianya. Jemariku bergerak otomatis memasukkan kombinasi angka: tanggal lahir Jungkook.

​Di dalamnya, tidak ada tumpukan uang atau emas. Aku sedikit kecewa dengan hal itu tapi, yaah ... sudahlah! Aku akan mencari uangku sendiri. Di dalam sana, ternyata hanya ada sebuah kotak kayu beludru hitam. Saat kubuka, jantungku mencelos. Kecewa untuk kedua kalinya padahal sebelumnya aku masih berharap, ternyata benar-benar bukan perhiasan, melainkan tumpukan surat medis dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah agak usang.

​Aku duduk di tepi ranjang, membuka halaman pertama.

'Hari ini untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.  Dia Jung Yunho.'

'Hari ini Jung Yunho melamarku benar-benar hatiku hampir meledak saking bahagianya.  Tapi apa ini ?! dia hanya ingin menikah kontrak denganku.'

'Aku berpikir ulang. Apa aku harus menikah dengan orang yang kucintai atau mencintaiku?'

'Baiklah sudah kuputuskan, karena aku  mencintainya, aku bisa berusaha mengambil hatinya agar  dia berbalik mencintaiku.'

'Oh_, Tuhan. Aku benar-benar menikah dengan Yunho akhirnya. Mulai hari ini, aku akan semakin mencinfainya juga, berjanji akan kudapatkan hati dan perhatian Yunho agar mencintaiku dan harus mencintaiku mulai dari sekarang.'

'Lihat, sekarang aku hamil anak dari Yunho. Dia pasti bahagia dan mencintaiku kan?'

'Bayi kami sangat lucu aku memberi namanya Jungkook , Jung Jungkook. Bayi ini  mirip dengan Yunho. Tampan sekaligus cantik,  aku sangat mencintainya seperti aku mencintai Yunho.'

'Aku terus mengatakan aku mencintaimu. Tapi, sampai kapan? Kau belum juga pernah mmbalas pernyataan cintaku ini, padahal kita sudah memiliki bayi bersama, Jungkook kecil kita.'

'Seol-Ah , siapa wanita itu? Entah kenapa aku punya perasaan buruk. Sejak kedatangan wanita itu Yunho sedikit berubah. Apa dia orang yang kau cintai?'

'Dia bilang dia tidak akan menceraikanku tapi, tidak juga mencintaiku? Ini sudah tahun ketiga pernikahan kita. Apa kau benar-benar tidak bisa mencintaiku? Lalu bagaimana dengan Jungkook apakah Kau juga mencintainya? Aku cemburu. Apa tidak akan ada yang mencintaiku?'

'Aku benci semua orang, Aku hanya ingin Yunho mencintaiku ...'

Aku menutup buku harian itu dengan suara brak yang cukup keras. Dadaku terasa sesak, bukan karena hal seperti aku mencintai Yunho, tapi karena emosi yang campur aduk. Entah pada Jaejoong atau pada Yunho karena bagiku, keduanya tidak waras.

​"Bodoh... kau benar-benar bodoh, Jaejoong-ah," bisikku pada kesunyian kamar. "Kau memberikan seluruh hatimu pada orang yang bahkan tidak memberimu remah-remah kasih sayang. Jung Yunho juga,... dia itu manusia apa batu?"

​Aku melempar buku itu kembali ke dalam brankas, tapi saat buku itu mendarat, sebuah lembaran kecil terjatuh dari selipan sampul belakang. Penasaran aku mengambilnya dan membukanya, kini kejutan lain datang.

**Hasil Tes Toksikologi.**

​Di sana tertera nama Kim Jaejoong dengan kadar zat penenang yang dosisnya terus meningkat selama setahun terakhir.

"Ada juga yang seperti ini, Jaejoong kau pasti benar-benar depresi hanya karena cinta, ya?" gumamku sambil melipat kertas itu dengan rapi dan menyimpannya di saku celana.

Aku menatap lembaran hasil laboratorium itu sekali lagi. Kadar zat penenang yang terdeteksi cukup untuk membuat orang dewasa linglung dalam jangka waktu lama. Pantas saja ingatan Jaejoong asli sering kali buram dan emosinya tidak stabil. Tidak hanya itu, dengan keadaan seperti ini wajar saja jika, dia mulai mengabaikan Jungkook.

***

Saat ini, sembari menggandeng Jungkook kakiku kembali melangkah melewati pintu besar mansion Jung, suara bising para pelayan dalam sekejap berubah sunyi tapi, tak satupun berani menyapa atau datang menghampiri. "Hah, benar-benar tidak tahu sopan santun."

Meski begitu, Aku menggandeng Jungkook dengan mantap, memberikan rasa aman yang sudah lama tak dirasakannya. 

"Park Min-hee!" panggilku, suaraku bergema di langit-langit lobi yang tinggi.

Park Min-hee muncul, entah dari arah dengan wajah yang masih mencoba terlihat angkuh, namun ada keraguan di matanya. "Ya, Tuan Jaejoong? Tuan Besar Yunho belum pulang, jadi Anda sebaiknya—"

"Siapkan makan malam untukku dan Jungkook sekarang," potongku tanpa menatapnya dan sebaliknya sibuk membuka sepatu Jungkook. Siapa peduli juga dengan si '_Beruang galak'_ itu. "Lalu, dimana sandal rumahku dan Jungkook?"

Min-hee terganggu, tampak kesal. Beberapa pelayan muda di belakangnya saling lirik seolah ingin saling melempar tanggung jawab. Aku mulai kesal lagi.

"Papa, biar Cookie ambilkan. Cookie tahu di mana?" Bocah manis itu hendak beranjak tapi, segera kutahan. "Baby-ku ini Pangeran di rumah ini. Apa gunanya mereka semua, kalau tidak bisa membantu Pangeran tampan kita ini?"

Aku menatap mereka semua, melihat hal ini baru salah satu dari mereka berlari entah kemana dan tergopoh mengambilkan sandal rumah yang kuminta. Aku ingin membuka mulut untuk bicara tapi, kubatalkan. Hari ini, cukup melelahkan tapi, akan kupastikan orang-orang di sini yang tidak hanya tidak menghormatiku bahkan, tidak patuh juga yang pernah bersikap jahat pada Jaejoong harus kubalas atas namanya.

Aku memakai sandal rumahku dengan tenang, lalu menuntun Jungkook menuju ruang makan. Para pelayan mengikuti dari belakang dengan langkah ragu, seperti sekumpulan semut yang kehilangan arah karena ratunya tiba-tiba berubah menjadi singa.

"Jungkook-ie, duduk di sini sayang," kataku sambil menarikkan kursi untuknya.

Aku duduk di kepala meja—posisi yang biasanya hanya ditempati oleh Yunho. Park Min-hee tampak ingin memprotes, wajahnya merah padam melihatku menempati kursi "Majikan tercintanya" itu, tapi ia menahan diri saat melihat tatapan tajamku.

"Cepat sajikan makanannya!" Perintahku mulai tak sabar juga.

Mendengar ini, para pelayan lainnya mau bergerak. Jika, saja para pelayan itu masih tidak mau melakukan perintahnya. Kupastikan oranf-orang ini kupecat dan digantika orang baru sebenarnya, mereka punya kepercayaan seperti apa sampai tidak mau mendengar tuannya.

Hidangan mulai disajikan. Namun, mataku terpicing melihat piring Jungkook. Potongan dagingnya jauh lebih sedikit dan piringnya tidak seindah piring yang biasanya disiapkan untuk Yunho atau tamu.

"Berhenti," kataku dingin saat seorang pelayan muda hendak meletakkan piring itu di depan Jungkook. '_Apa mereka memperlakukan Jungkook dibelakangku dan Yunho? Huh, ini keterlaluan. Para pelayan ini ....'_

"A-ada apa, Tuan?" tanya pelayan itu gemetar.

"Bawa kembali ke dapur. Ganti piring Jungkook dengan set porselen terbaik Dan pastikan porsi daging dan sayur yang seimbang."

"Tapi Tuan Jaejoong," Min-hee akhirnya angkat bicara dengan nada sinis, "Ini makan malam yang sudah kami sediakan. Biasanya, Tuan muda tidak pernah protes."

"Cookie, apa kau suka makan malammu ini?"

Jungkook tampak berpikir, dia bergantian melihat piring makannya dan sang Papa. "Cookie tidak suka makan malam ini, kadang makanan itu tidak enak tapi, saat Cookie makan bersama Daddy makanannya suka sangat enak."

Mendengar itu, Jarjoong segera membuang piring itu ke lantai. Penilaiannya tentu juga tidak salah, saat makanan itu tersaji yang terlihat hanya beberapa potong daging pucat, sayur dingin dan nasi lembek yang jelas tampak tak enak. "Kalian benar-benar memberi sampah pada kami? Sungguh tidak bisa percaya!"

Mendengar nada kemarahan Jaejoong, semua orang menjadi tegang. Tapi, berbeda dengan yang lain Park Min He masih menegakkan punggungnya.

"Tuan Jaejoong, Anda harus tahu para koki dibelakang dapur sangat berusaha memberikan makan terbaik tidak mungkin mereka asal-asalan menyiap---"

Plak! Plak!

Kutampar wajah pelayan kurang ajar itu. Tidak habis pikir, keberanian seperti apa sampai dia terus berani menjawabnya. Tepat setelah itu.

"KIM JAEJOONG! Apa yang sedang kau lakukan?"

Itu suara Yunho.

To be Continue..🍿
'070226'


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top