Bab 4
Langkahku tidak berhenti meski teriakan Yunho menggelegar di ruang makan. Aku terus menarik lembut tangan Jungkook menuju mobil, mengabaikan tatapan syok para pelayan yang biasanya melihat Jaejoong yang patuh pada Yunho dan pasti akan mengambil kue itu untuk dibuangnya kemudian. Kali ini, aku pergi dengan kepala tegak. Dingin, tidak lagi berpura-pura sepeeti Jaejoong yang asli hanya untuk mendapat perhatian Yunho.
"Papa..." suara kecil Jungkook memanggil saat kami sudah berada di dalam mobil. "Daddy marah ya?"
Aku menoleh, merapikan dasi kecilnya yang sedikit miring. "Biarkan saja. Daddy-mu itu memang hobi marah-marah, mungkin dia kekurangan oksigen. Yang penting sekarang adalah sekolahmu. Mengerti?"
Jungkook mengangguk mantap, sebuah senyum lebar terukir di wajahnya. Sungguh anak yang polos, untungnya sekarang aku-lah 'Papa' nya. Tidak ada Jaejoong yang dulu, yang akan mengabaikannya dan malah fokus pada suami berengseknya saja. "Hahh, dasar bodoh!"
Aku hanya bisa menghela napas, dengan kenangan dibenak Jaejoong yang memilih mengabaikan anak semanis Jungkook, untuk mengejar Yunho yang jelas-jelas tidak mencintainya sejak awal. Pernikahan macam apa seperti ini, lebih baik bercerai saja, bukan terus mengemis. Kau bisa mencari pasangan yang lebih baik. Aku tak bisa menahan marah pada sosok Jaejoong yang dulu.
Segera, lamunanku itu terusik saat kaca mobil sebelah kemudi dipukul kasar. Yunho berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam. Di belakangnya, Lee Seol-Ah menatap dengan mata berkaca-kaca—akting yang sangat memuakkan. Entah, apa lagi yang mereka inginkan, tidak bisakah mereka pergi saja.
"Turunkan kacanya," desis Yunho padaku. "Minta maaf pada Seol-Ah sekarang, Jaejoong. Kau keterlaluan menepis pemberiannya di depan anakmu sendiri!"
Aku menyandarkan punggung, menatapnya lewat spion tengah dengan tatapan paling meremehkan yang pernah ada. "Minta maaf?"
Berapa ribu kali Jaejoong yang asli melakukannya, lalu dipandang lebih rendah daripada seorang parasit. Meminta maaf pada wanita beracun itu hanya agar tidak diceraikan?? Yah, karena sekarang ini aku. "Lebih baik, bercerai saja!"
"Kau—!"
"Jalan," perintahku pada supir tanpa memedulikan Yunho yang masih berdiri di ambang pintu.
"T-tapi Tuan Besar..." Supir itu tampak ragu.
"Aku bilang jalan! Atau kau mau aku yang menyetir dan menabrakkan mobil ini ke gerbang?" suaraku meninggi, membuat supir itu langsung menginjak gas.
Yunho terpaksa mundur selangkah agar kakinya tidak terlindas. Dari kaca belakang, aku bisa melihat pria itu berdiri kaku, sementara Seol-Ah berpura-pura menangis di bahunya. Pemandangan yang klise.
***
Di dalam mobil, rasa sakit di dadaku kembali menyerang. _Aah_ ... sisa-sisa emosinya masih tertinggal di sel-sel tubuh ini. Aku memejamkan mata, mencoba bernegosiasi dengan 'tubuh' ini.
'_Tenanglah, Jaejoong. Sebenarnya, kenapa kau begitu terobsesi dengan orang itu?'_
"Pa, Papa sakit?" Jungkook bertanya lembut. Dia mungkin masih sangat kecil tapi, juga mengerti kedua orangtuanya baru saja bertengkar. Daddy nya lagi-lagi marah pada Papa.
"Tidak, Cookie. Papa baik-baik saja."
Bocah itu bergumam, sembari menyandarkan kepala kecilnya pada lenganku. Dari matanya aku bisa melihat kesedihan sepertinya dia juga merasakan apa yang kurasakan. "Apa Cookie sedih lihat Papa dimarahi Daddy?"
"Huum, Daddy jahat!" Jungkook langsung menjawab, tak luput juga bocah itu memasang wajah marah. "Kasian Papa."
"Bagus, Cookie Papa memang harus sayang dan bela Papa," ujarku girang sambil mencubit pipinya gemas. Andai saja, dia benar-benar anakku eh..., sepertinya karena aku ditubuh ini sekarang berarti Jungkook juga memang darah dagingku jadi, sepertinya jika aku pergi ke manapun bisa kubawa pergi terlepas dari izin Jung Yunho.
'_Yaah, semisal aku tidak bisa kembali ke tubuhku sendiri. Aku harus berpisah dengan si Beruang itu. Untuk Jungkook, dia bisa bersamaku. Anak manis tidak mungkin kubiarkan tinggal bersama Yunho dan wanita tadi.'_
**
"Ayo, Cookie. Kenapa malah melamun?" tanyaku sambil membukakan pintu untuknya. Mereka baru saja tiba di sekolah, saat kulirik tempat tersebut. Sungguh luar biasa Taman kanak-kanak ini. Tidak disangka ternyata seperti inilah taman kanak-kanak untuk para anak konglomerat. Jujur saja dulu pun, dia masuk di sekolah terbaik dikotanya saat itu sejak taman kanak-kanak terutama waktu berkuliah, universitas bergengsi di mana seleksi masuk sana 100: 5 tapi, tetap saja taman kanak-kanak ini tampak lebih dari itu.
Di sini, parkiran mobil berjejer rapih. Setiap anak keluar dari mobil dan digandeng entah itu orang tua atau pengasuhnya. Berjalan masuk gerbang langsung terdapat halaman luas lainnya dengan segala macam taman permainan dari mulai taman bermain yang terdiri dari rumah-rumahan para Hobbit, lapangan bermain pasir, bola dan segala fasilitas olahraga yang lainnya.
Jungkook sudah turun dengan tas punggung kura-kuranya. Ia sempat merapikan seragamnya sejenak, wajahnya berseri-seri, hampir terlihat seperti ingin meledak karena bangga. Ia langsung menggandeng erat telunjukku, seolah ingin memamerkan pada dunia bahwa ‘Ini lho, Papa Cookie!’
_'So cute...'_
"Papa, nanti jemput lagi, kan?" tanyanya sambil menatapku penuh harap di depan lobi kelas.
Sejenak aku terdiam lalu langsung mengangguk setuju. Tidak ada salahnya untuk menjemputnya kembali sebelum aku sendiri mulai sibuk dengan rencana yang nanti akan kubuat. "Oke, tentu saja papa nanti akan menjemput lagi... jadi, Cookie baik-baik di sekolah."
Mendengar hal itu wajah Jungkook langsung berbinar kembali mengangguk keras penuh semangat. "Papa juga janji tidak boleh terlambat menjemput Cookie, ya?"
"Cookie, Selamat pagi," sapa seorang wanita muda yang bisa dipastikan adalah guru di sekolah tersebut. Tak luput dia juga menatapku seolah bertanya-tanya, Siapakah gerangan yang sedang bersama muridnya ini.
"Pagi juga, Miss. Lihat! Ini Papa Cookie. Dia antar Cookie sekolah sekarang."
Ku buka kacamataku, dengan sopan mengeluarkan tangan memperkenalkan diri. Mungkin Ini pertama kalinya aku sebagai Kim Jaejoong datang ke sekolah Jungkook.Biasanya, Jungkook hanya turun ditemani supir atau asisten yang wajahnya sedatar papan cucian.
Sapaan yang Kuterima pun dibalas dengan sopan dan hangat. "Sungguh menyenangkan, Akhirnya bisa melihat Papa Cookie di sekolah. Cookie bilang Papa dan Daddy-nya sangat sibuk bekerja tapi, hari ini Anda bisa menyempatkan diri."
"Terima kasih, Miss. Yah terkadang kesibukan itu tidak mengenal hari tapi mungkin mulai hari ini saya akan menyempatkan diri untuk melihat pertumbuhan Jungkook-ie kecil kami di sekolah."
"Senyum guru itu terlihat semakin lebar, mungkin terpesona atau mungkin hanya sekadar kagum melihat perubahan drastis seorang wali murid yang biasanya hanya muncul dari kata-kata samar Jungkook, tentang Papanya yang tampan sekaligus cantik.
Setelah Jungkook masuk ke kelas dengan langkah riang, aku kembali ke mobil. Namun, getaran di saku jas menghentikan langkahku.
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tersimpan dengan nama 'My Love❤️'.
Melihat rangkaian kata itu membuat bulu kudukku berdiri, ngeri. Segera aku langsung mengganti nama menggelikan itu menjadi lebih pantas 'si Beruang bodoh', setelahnya, baru kubaca pesannya. Dan benar saja pesan yang Kuterima hanyalah kata-kata yang bernada kasar dan tidak tahu malu.
'_Aku tidak akan memaafkanmu. Lebih baik kau benar-benar membawa Jungkook ke sekolahnya, jika tidak ...?? Akan ku buat perhitungan denganmu satu lagi, minta maaflah pada Seol-ah. Dia benar-benar gadis baik. .'_
'Pria brengsek'. Jung Yunho ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia menyuruhnya minta maaf pada wanita simpanannya. Satu hal lagi yang membuatnya tidak habis pikir. kenapa bisa Jaejoong yang dulu begitu lemah di depan YunHo dan bisa menerima keadaan pernikahan mereka yang jelas-jelas tidak sehat sejak awal.
"Kita pergi ke mana lagi, Tuan?" tanya sopir ketika melihatku sudah duduk di belakang kemudi.
Kuhela napas dalam-dalam, berpikir cukup lama sebelum menjawab, " ke apartemen pribadiku."
Yah, untungnya sesuai ingatan Jaejoong asli. Dirinya masih mempunyai apartemen pribadi sebelum pernikahannya dengan Yunho. Tempat itu kosong tidak disewakannya tapi, masih terawat baik karena, sesekali dia masih pergi ke sana untuk menenangkan diri. Sungguh keberuntungan yang luar biasa sehingga, saat berpisah dengan Yunho nanti, dia masih punya tempat tinggal. Membayangkannya saja sudah membuatnya tenang.
Mobil meluncur membelah kemacetan kota menuju kawasan elit di pusat Seoul. Sepanjang jalan, aku hanya menatap keluar jendela, memutar otak. Pesan dari Yunho tadi benar-benar membuat selera makanku hilang. Meminta maaf pada Seol-ah? Dalam mimpi terliarnya pun, itu tidak akan terjadi.
'Jaejoong, oh, Jaejoong!! Hanya karena cinta. Kau bisa jadi, begitu bodoh! Apa yang kau pikirkan sampai harus jadi budak cintanya Jung Yunho dan, bahkan sampai kau pernah sampai mengabaikan Jungkook segala. Apa yang kau lihat darinya?'
Begitu sampai di apartemen, aku langsung disambut aroma citrus yang menenangkan. Tempat ini jauh lebih manusiawi daripada rumah besar bak museum yang kutinggali bersama pria brengsek itu. Tapi, ada sesuatu yang salah.
"Ada apa ini? Siapa kalian?"
***
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Sesuai janjiku pada Cookie, aku sudah stand-by di depan gerbang sekolah dengan mobil yang kuparkir sedikit menjauh agar tidak terlalu menarik perhatian. Aku bahkan sengaja mampir ke toko kue favorit Jungkook untuk membelikan strawberry shortcake sebagai hadiah karena dia sudah menjadi anak baik hari ini.
Namun, pemandangan di depan lobi kelas membuat darahku jadi mendidih kembali.
Di sana, di dekat bangku taman tempat anak-anak biasanya menunggu jemputan, berdiri seorang wanita dengan gaun floral yang tampak terlalu mencolok untuk suasana sekolah. Wajahnya cantik, tipe kecantikan yang lembut namun tampak dipaksakan—Seol-ah.
Kutarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. Hari ini cukup melelahkan, lebih baik bersikap tenang dan mencoba berpikir jernih. Dan, saat ini yang kulihat Seol-Ah yang sedang sedang berlutut di depan Jungkook, mencoba memegang tangan kecil anak itu sementara Jungkook tampak menarik diri dan menyembunyikan wajahnya di balik tas kura-kuranya.
"Jungkookie!"
Kepala kecil itu mendongak. Begitu matanya menangkap sosokku, wajah yang tadinya muram langsung berubah cerah seolah seluruh lampu di kota Seoul dinyalakan secara bersamaan.
"Papa!"
Anak pintar. Jungkook segera berlari kearahku membuatku sangat puas lalu, menabrak kakiku dengan pelukan erat. Melihat tingkahnya jelas Aku juga tidak tahan untuk langsung menggendongnya. "Apa Papa terlambat?"
"Tidak!! Cookie baru saja keluar kelas."
"Oh, ya, bagus kalau begitu." Lalu, a>@@>#ku mengangkat kotak kue itu di depan wajahnya. "Lihat, Papa bawa apa?"
"Kue stroberi!" teriaknya senang, melompat-lompat kecil.
"Kukira, kau tak akan menjemputnya? Kasian Jungkookie menunggu cukup lama," ujar Seol- Ah yang tanpa disadari sudah berdiri disampingku bahkan, jari-jarinya tidak bisa diam terus mencoba menyentuh Jungkook. "Cookie padahal Tante juga bawa kue untuk Cookie?!"
Kutepis halus tangannya yang jahil itu, setelah berpikir sejenak aku tidak perlu berkonfrontasi dengan wanita ini hanya karena Yunho. Aku bukan Jaejoong yang 'asli.' tapi, kuharap wanita ini pun punya batasan yang baik diantara mereka.
"Cukup, jangan terlalu berlebihan!! Terimakasih karena sudah berinisiatif menjemput Jungkook tapi, lain kali tidak perlu. Jungkook punya aku sekarang!"
"K-kau?!"
"Aku pergi!" Tidak kupedulikan lagi wanita itu, terserah dia mau marah atau menggeram kesal di sana. Yah, lebih baik seperti ini. Mengurangi musuh dan pertengkaran. Berusaha hidup tenang dan damai seperti kehidupanku dulu.
Seol-ah mematung, mulutnya ternganga. Dia tidak tahu bahwa Jaejoong yang sekarang punya 'peluru' untuk bicara.
To be Continue..🥂
'070226'
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top