Chapter 2

Perkataan Mia seolah seperti seseorang yang sedang membual. Terlihat dari wajah si gadis yang mengejek Mia sekarang sedang tertawa terbahak-bahak. Padahal si pria berbaju hijau sudah memperingatkannya. “Maaf, maaf. Aku hanya tidak bisa menahannya. Orang ini benar-benar punya selera humor yang tinggi,” katanya sambil tertawa.

“Terserah kau mau mengatakan apa. Tapi, aku memang bukan dari planet Orion.” Mia mulai tidak suka dengan perkataan si gadis yang menyindirnya.

“Kalau begitu, dari mana kau dapatkan pesawat ini?” tanya si pria berbaju hijau. Mia yakin, dia adalah kaptennya.

“Ceritanya panjang, jika kau ingin mendengarnya, katakan pada anak buahmu untuk tidak macam-macam dengan kapalku.” Mia berbalik tepat saat seorang pria menodongkannya sebuah pistol bermata ganda. Tentu saja Mia menyadari kehadiran pria itu di kapalnya lewat layar pemantau di ruang kendali. Jika tidak, dia tidak akan mengeluarkan senjata dan menodongkannya balik pada pria itu.

Pria itu punya rahang yang tegas dengan eskpresi wajah yang serius. Jika dilihat-lihat, dia seperti Alex dalam versi yang lebih kaku. Karena wajahnya tidak berekspresi, seperti pembunuh bayaran, membuat Mia sedikit bergidik saat menatap mata si pria.

Pria itu memandangi layar di belakang Mia, yang diyakini mendapatkan persetujuan untuk menurunkan senjatanya. Mia ikut menurunkan senjatanya dan memasukkannya kembali ke tempatnya. Sekarang, dia beralih pada kapten berbaju hijau. “Aku akan membuka pintu masuknya,” katanya.

Ukuran kapal Mia memang lebih besar tiga kali lipat dari pesawat milik mereka. Karena itu, mereka bisa memasukkan pesawat ke dalam pesawat Mia.

Mia dan si pria yang sudah berada di pesawatnya menuggu di dalam ruangan kemudi. Tentu saja, Mia memberikan petunjuk lewat layar pemantaunya untuk menuntun para tamu asing dengan berbicara lewat pengeras suara.

“Apa kau tidak berpikir ini jebakan, Z?” tanya si gadis yang tadi mengejek Mia pada Si Kapten berbaju hijau.

“Kalau ini jebakan, dia kalah jumlah dari kita dan kita bisa mengambil alih kapalnya,” jawab pria lainnya yang baru mulai bicara sejak tadi.

“Aku bisa mendengar kalian, apa kalian sadar?” tanya Mia.

“Kau memang kalah jumlah dan aku berani bertaruh kau tidak akan bisa menang melawan Damon,” kata Z.

Mereka tidak berbicara apa-apa lagi hingga sampai di ruang kemudi. Mia berdiri dari tempatnya duduk yang sejak tadi sudah gelisah karena pria bernama Damon terus-terusan mengamatinya. Seperti seekor ular yang sedang mengamati mangsanya.

Z adalah seorang pria berkulit eksotis dengan wajah khas latin. Rambut hitam ikalnya menggantung dengan sempurna di atas telinganya. Sebuah ukiran tato menghiasi pergelangan tangannya. Damon, juga memiki tato yang sama di tempat yang sama. Mungkin itu seperti simbol kelompoknya.

Mia tersenyum pada mereka, berusaha bersikap tenang sebagai tuan rumah. Dia kemudian menyodorkan tangan untuk menjabat, tapi Z hanya memandangi tangan Mia sambil tersenyum. “Kami tidak berjabat tangan, kawan.” Z kemudian menepuk-nepuk wajah Mia pelan. “Namaku Zeus, tapi kau bisa panggil Z. Yang ini namanya Marriot, dan satu-satunya gadis dalam kelompok pemberontakan ini namanya Ophelia. Dan si mata elang, Damon.”

Mia mengangguk setelah Z memperkenalkan seluruh krunya. “Oke. Aku rasa kalian sudah tahu namaku, jadi aku tidak perlu menyebutnya lagi.” Mia mulai menatap satu-persatu orang-orang itu.

“Jadi, kau berhutang cerita pada kami.” Z melipat kedua lengannya di dada. Memperlihatkan otot-otot bisep di balik bajunya yang seakan ingin robek.

“Well, aku memang bukan berasal dari Orion. Aku berasal dari Bumi. Tapi, aku keturuan campuran Orion-Bumi. Ayahku seorang Rioner dan Ibuku adalah manusia Bumi. Singkat cerita, aku pergi ke Orion untuk menyusul seseorang dan berharap dia mengingatku. Sayangnya, semua tidak berjalan sesuai rencana. Jadi, di sinilah aku, pergi sejauh mungkin dari Orion dan dari Bumi.”

Z memandangnya lirih, kemudian mulai bercerita balik. “Aku rasa, ceritamu tidak cukup menarik dibandingkan cerita kami. Kami berasal dari planet Lune, kaum kami hidup bekecukupan dan damai sampai tiga bulan yang lalu, kaum Orion datang dan mulai berkuasa. Mereka memerintah kaum kami, mengambil semua kekuasaan dan meyiksa yang tidak patuh.”

Mia menunduk lemah. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiga bulan yang lalu berarti saat Mia memberikan Gungnir pada Rebels. Apa semua ini salahnya? Apakah seharusnya Mia tidak menyerahkan Gungnir begitu saja? Tapi, dia juga tidak bisa kehilangan kedua orang yang paling disayanginya. Walaupun, ayahnya tidak berhasil selamat, setidaknya Sam berhasil.

“Ada apa?” tanya Z.

Mia tidak menjawabnya. Dia seolah merasa bersalah.

“Dia merasa bersalah,” ujar Damon yang sedang bersandar di pojok ruangan.

Z menoleh ke arah Damon sesaat. Memastikan, pria itu tidak sedang bercanda. Kemudian menoleh ke arah Mia lagi. “Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Z lembut.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian.” Mia kemudian berjalan keluar dari ruang kemudi dan menuntun para tamu asingnya ke ruangan di mana dia mengikat ayahnya.

Z, Ophelia, dan Marriot mengikuti Mia, sedangkan Damon tetap ditempat untuk berjaga-jaga. Saat berada di depan ruangan ayahnya, Mia menghembuskan napas panjang. Kemudian membuka pintunya. Di mana ayahnya sedang terikat dengan darah yang mulai keluar lagi sedikit demi sedikit.

“Dia ayahku. Kaum Orion asli. Para Rebels menusukkan benda yang dibubuhi bubuk besi dan akibatnya membuat ayahku seperti orang yang sekarat,” jelas Mia.

“Jadi bubuk besi bisa melukai kaum Orion?” tanya Ophelia penasaran.

“Ya. Tapi, kau harus menusukkannya tepat di jantung,” jawab Mia. Dia kemudian mempersilahkan mereka untuk keluar dan menutup kembali pintunya. “Orion memiliki penunjang kehidupan. Gungnir merupakan tombak yang bisa membuat planet mereka kembali subur setelah sebagian dari kaum mereka mendapatkan cukup cinta untuk planetnya. Gungnir juga menjaga agar kekuatan kau Orion tetap pada batasnya. Saat itu, aku menyimpan Gungnir dan menukarnya dengan dua orang untuk diselamatkan. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.”

Ophelia tertawa. Kali ini tidak percaya. “Apa? Kau menukar benda … apalah itu … dengan dua orang untuk diselamatkan? Dan akibatnya sekarang mereka memiliki kekuatan tidak terbatas. Kau benar-benar bodoh!” makinya.

“Ophelia!” Z mengingatkan. “Jaga ucapanmu dan nada bicaramu.”

Ophelia memutar bola mata kesal. Dia kemudian pergi meninggalkan yang lainnya, menyusul Damon di ruang kemudi. Marriot yang sejak tadi tidak banyak bicara mulai kebingungan. Entah apa yang membuatnya seperti itu, sejak tadi dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Mereka akhirnya kembali menuju ruang kemudi. Damon sedang membenarkan senjatanya yang terlihat rusak, sedangkan Ophelia duduk dengan kesal di dekat layar pemantau.

“Baiklah, aku rasa kita sudah tahu apa yang kita butuhkan. Bubuk besi. Kita harus kembali ke Lune dan mulai penyerangan lagi.” Z memandangi satu persatu krunya.

Bisa dibilang, hanya Damon yang bisa diandalkan Z dalam kelompok itu. Ophelia hanyalah seorang yang suka rela ikut dalam kelompok pemberontak karena Damon berada di dalamnya. Sedangkan Marriot yang paling pendiam di antara yang lain juga ikut karena dia yang memiliki kemampuan mengemudikan pesawat. Dan Damon, dulunya adalah seorang tentara yang dibebas tugaskan karena selalu bertindak seenaknya. Dan Z sendiri, dia adalah seorang anak dari salah satu pemimpin di Planet Lune. Itulah dari mana dia bisa mendapatkan pesawat yang dipakainya.

“Maafkan aku tentang planet kalian,” ujar Mia, merasa bersalah.

“Kau menyelamatkan dua orang, walaupun itu tidak sebanding. Tapi, dua orang itu pasti orang yang sangat berarti untukmu.” Z terdengar seperti seorang pemimpin yang bijak. Tidak heran dia memimpin kelompoknya.

“Kemarilah,” kata Mia akhirnya pada Z. “Setidaknya aku bisa memberikanmu senjata melawan mereka.” Mia menunjukkan ruang senjata yang ditemukannya dua bulan lalu saat sedang mencari buku petunjuk pesawat yang tidak dia temukan sampai sekarang.

Saat tadi Mia mengatakan senjata, wajah Damon langsung berseri-seri. Dia sangat tertarik dengan apa yang akan Mia tunjukkan, karena itu dia ikut bersama Z. Sedangkan Marriot dan Ophelia dibiarkan menunggu di ruang kemudi.

Mia membuka ruang persenjataan dengan kunci yang diberikan oleh Will saat pertama kali dia pergi.  Tanpa disuruh, Damon masuk ke dalam ruang persenjataan setelah Mia membukanya. Dia terlihat bersemangat, bahkan lebih bersemangat dari Sang Kapten sendiri.

“Kalian bisa ambil yang kalian butuhkan. Aku hanya bisa membantu ini saja,” ujar Mia penuh penyesalan.

“Ini lebih dari cukup.” Z mengikuti Damon yang sedang memasukkan senjata ke dalam tas yang dia temukan di pojok ruangan.

Damon terlihat seperti seseorang yang rakus. Anehnya, dia bukan rakus pada makanan, melainkan pada senjata-senjata yang terpajang di depannya. Mia mengamati Damon dari depan pintu. Dari pandangannya sekarang, Mia bisa melihat bekas-bekas luka Damon di sisi lehernya, yang sepertinya menjalar hingga ke dadanya. Dia jadi penasaran, bagaimana bentuk luka itu dan sampai mana luka itu menghiasi tubuh Damon. Sayangnya, Mia tidak tertarik untuk mendengarkan cerita dari mana Damon mendapatkan luka itu. Walaupun dia tahu pasti cerita itu akan terdengar mengesankan.

Damon berbalik setelah mengumpulkan senjata. Dia menghampiri Mia yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Tas menggantung di bahu kanannya. “Jika kau penasaran dengan luka-luka itu, aku mendapatkannya karena bertarung dengan Kaum Orion sialan itu,” katanya tepat saat dia berada disamping Mia.

Mia bahkan tidak berani menoleh ke arah Damon sedikit pun. Pria itu benar-benar seperti mata elang, atau dia memang bisa membaca pikiran orang? Batin Mia dalam hati.

Z sudah mengumpulkan senjata yang dia perlukan. Dia tadi hanya melirik sekilas saat Damon menyinggung luka-lukanya pada Mia. “Maafkan aku tentang Damon. Dia terlalu sensitif untuk masalah luka itu. Dan kau sebaiknya jangan memandanginya terlalu lama, karena dia pasti tahu kalau kau sedang mengawasinya.”

Mia tidak tahu apakah memang itu sebuah kemampuan yang dimiliki kaum Lune atau hanya Damon saja yang cukup aneh. Rasanya, hanya Damon saja, karena Z, Marriot, dan Ophelia sama sekali tidak bersikap seperti Damon. Mia membuktikannya dengan memandangi Ophelia dan Marriot saat mereka berjalan menuju pesawat luar angkasa milik mereka.

Ophelia dan Marriot sama sekali tidak terusik dengan apa yang Mia lakukan, sedangkan saat dia mulai memandangi Damon, pria itu langusung menoleh seketika. Pria itu seperti memiliki mata di berbagai sudut, tidak aneh kenapa dia dipanggil dengan sebutan mata elang.

Ophelia dan Marriot tidak mengucapkan salam perpisahan pada Mia. Sedangkan Damon hanya memberikan anggukan cepat dan langsung mengikuti kedua temannya masuk ke dalam pesawat.

Dan Z, menepuk-nepuk pipi Mia lembut. “Sampai jumpa, kawan,” katanya. Kemudian dia memberikan sesuatu padanya. “Ini, tekan tombolnya jika kau butuh bantuan darurat. Ini akan melacak keberadaan pesawatmu.”
Mia mengambil sebuah benda berbentuk seperti pager yang digunakan untuk berkomunikasi zaman dahulu, tapi dia tidak yakin benda itu memiliki fungsi yang sama dengan yang dia tahu. “Terima kasih,” ujarnya.

See you around, mate.

Setelah kepergian Z dan kawan-kawannya, Mia duduk di depan kemudi sambil menatapi langit yang tidak berujung. Pikirannya mulai kembali ke Bumi, betapa dia merindukan sahabatnya, betapa dia merindukan Alex, dan betapa dia merindukan Sam. Sayangnya, dia tahu bahwa semua itu hanyalah harapan yang tidak akan mungkin dia lakukan.

Sebuah suara aneh berbunyi berasal dari perutnya, rasa lapar mulai menjalar. Mia bangkit dan pergi menuju ruang persedian makanan. Dia kemudian menuangkan bubur gandum yang sudah hampir habis ke atas piring yang terbuat dari plat besi. Jika melihat persedian makanannya, paling tidak akan habis dalam waktu dua atau tiga hari. Pilihannya adalah menemukan planet terdekat yang bisa mengisi persedian makanannya, jika tidak dia harus kembali ke Bumi untuk mengisinya di sana.

Mia kembali pada kursi kemudinya sambil membawa piring berisi bubur gandum yang diambilnya. Dia terlalu sering duduk di depan kemudi daripada tidur di kamarnya. Tentu saja berjaga-jaga lebih penting daripada seseorang menyusup masuk ke dalam pesawatnya atau lebih buruk menyerangnya secara tiba-tiba. Tentu pesawatnya memiliki mode kamuflase, tapi tetap saja Mia lebih suka berada di depan kemudi sambil memandangi langit.

Lampu indikasi berkedip-kedip merah, menunjukkan sebuah pesan masuk. Membuat Mia meletakkan piringnya dan menekan tombol untuk melihat apa isi pesannya. Sebuah pesan suara. Awalnya, dia hanya bisa mendengar sebuah jeritan dari kejauhan. Kemudian seseorang mulai bicara. “Mia Paris. Aku butuh bantuanmu. Kembalilah ke Bumi, aku tahu bagaimana mengalahkan para Rebels dan menyembuhkan ayahmu,” kata seorang wanita.

Suara pesan itu kemudian menghilang, diikuti dengan layar di depannya yang menunjukkan bahwa sinyal pesan berasal dari New York. Layar kemudian redup pelahan-lahan dan memantulkan wajah Mia yang terlihat bingung.

Seharusnya, pesan itu tidak membuatnya menjadi pengecut. Tapi pada kenyataannya, Mia takut bukan main. Antara takut dan penasaran. Takut pada kenangan yang selama ini dia sudah kubur dalam-dalam dan penasaran untuk tidak menolak menggalinya kembali.

Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya sesekali, mundar-mandir di depan kemudi pesawat, dan memeriksa ayahnya setiap beberapa menit.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri. Tentu sebuah pertantaan yang hanya Mia bisa menjawabnya sendiri.

Mencari kebenaran mengenai perkataan wanita itu atau tidak sama sekali.

“Aku harus melakukannya, aku harus kembali ke Bumi.”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top