Chapter 1

Luar Angkasa, unknown

Luar angkasa, tempat terbaik untuk bersembunyi. Begitu luas dan tidak terjangkau. Menjadikan dirimu terlihat begitu kecil seperti atom yang mengikuti arus puing-puing di angkasa. Mencari petunjuk untuk menemukan jalan pulang atau menghapus jejak untuk tidak bisa kembali.

Tiga bulan setelah meninggalkan Orion. Mia terombang-ambing di luar angkasa tanpa tahu tujuan dan arah. Baginya, pergi sejauh mungkin dari Orion dan Bumi adalah yang dia tahu. Tapi rasanya tidak cukup untuk menghilangkan kenangan yang pernah tertanam di dalam hatinya. Kenangan pahit, manis, amarah, dan emosi lainnya yang dia tinggalkan di Orion dan Bumi.

Terlebih lagi, Mia harus mengurus ayahnya yang sudah terkena bubuk besi dan tidak bisa disembuhkan. Efek bubuk besi telah merenggut setiap ingatan ayah Mia. Sekarang, ayahnya hanya bisa menahan rasa sakit dari setiap darah yang keluar. Mia, harus mengikatnya jika dia tidak ingin melihat ayahnya menyakiti dirinya sendiri seperti yang sudah-sudah.

Pada awal Mia pergi menggunakan pesawat ruang angkasa dari planet Orion yang membawa ayahnya, efek bubuk besi sudah berada pada tahap kedua. Saat itu Mia tidak tahan untuk tidak menangis melihat ayahnya yang sudah tidak berdaya. Mr. Paris, masih sadarkan diri saat itu, walaupun darah sudah keluar dari mata, hidung, hingga telinganya. Dia mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut seraya berkata, “Maafkan aku,” katanya. Setelah itu, tahap ketiga dimulai. Mr. Paris mulai mencakari tubuhnya, hingga Mia terkena pukulan di wajahnya saat berusaha mencegah hal itu.

Saat itu juga, Mia mulai mengikat ayahnya di salah satu kamar di dalam pesawat. Setiap satu jam sekali, Mia harus membersihkan darah yang terus keluar dari tubuh ayahnya tanpa henti. Hal itu yang membuat Mia menangis setiap malam.

Sekarang, pukul empat sore di Bumi bagian New York. Jam yang Mia bawa dari Bumi waktu itu masih menyala dan mengikuti waktu tempatnya tinggal. Baginya, sekarang tidak ada malam dan siang. Di luar angkasa, semua terlihat jauh dan sama. Kadang, Mia merindukan Bumi, merindukan sahabatnya, merindukan Sam, merindukan Alex, dan merindukan udara segar yang memenuhi paru-parunya pagi hari. Tapi, Mia membuang jauh-jauh pikiran itu. Baginya, saat ini ayahnya-lah yang terpeting. Dan terlalu berbahaya jika dia kembali ke Bumi.

Mia berjalan menelusuri lorong pesawat menuju kamar ayahnya untuk membersihkan darah, sambil membawa air yang dia dapatkan dari alat penghasil air di pesawat ini. Tentu saja kaum Orion memiliki peralatan super canggih. Walaupun planet mereka hancur, tapi teknologi mereka tidak tertinggal. Justru, semakin canggih dan semakin di luar batas imajinasi. Sayangnya, mereka tidak memiliki alat untuk membuat makanan bisa bertahan sampai kapan pun. Karena, sekararang ini, persedian makanan Mia mulai menipis.

Mia mulai membasasi handuk yang dia bawa bersama baskom alumunium berisi air. Darah mulai mengering di setiap sudut wajah ayahnya sejak sejam yang lalu. Gadis itu mulai menguatkan diri lagi setiap kali harus melakukan hal ini, walaupun sudah berkali-kali.

“Aku berjanji untuk menjagamu, Dad.” Mia mulai membasahi handuknya dan menyapukan pada wajah ayahnya.

Kedua tangan dan kaki ayahnya terpaksa Mia ikat di setiap sudut ranjang. Jika tidak seperti itu, ayahnya pasti bisa membuka ikatan dan mulai menyakiti dirinya sendiri lagi.

Seteleh selesai membersihkan ayahnya, Mia kembali pada ruang kemudi. Melihat ke depan ruang angkasa yang begitu luas dan kosong. Sama seperti perasaanya sekarang, begitu kosong dan dingin. Tiba-tiba, matanya tertuju pada layar pendeteksi yang menunjukkan sebuah benda melesat dengan cepat di depannya.

Auto pilot yang Mia pasang langsung diubah menjadi mode manual. Cepat-cepat Mia menukik ke arah kanan untuk menghindari benda itu. Entah benda macam apa yang bergerak secepat itu, bisa sebuah bintang, atau kaum Orion yang menemukannya. Tapi, untuk apa mereka mengejar Mia lagi? Dia sudah tidak memiliki apapun untuk diberikan.

Saat Mia baru menghindari benda itu, ternyata memang bukan bintang, melainkan sebuah pesawat luar angkasa yang sekarang mengikuti arah perginya pesawat Mia. Dengan cepat, Mia menggunakan kecepatan penuh untuk menghindari pesawat itu.

Kejar-kejaran terjadi, Mia masih terus menghindari pesawat yang mengejarnya dari belakang, hingga mereka mulai meluncurkan serangan. “Sial!” maki Mia. Dia belum pernah menggunakan pesawat dalam mode perang. Bahkan dia tidak tahu apa gunanya tombol-tombol di layar. Mia mulai mengutak-atik layar untuk mencari mode perang pesawat.

Akhirnya, dia menemukan pelindung pesawat. Setelah mengaktifkan pelindung, serangan yang mereka luncurkan tidak bisa menembusnya. Tapi, tetap saja Mia harus segera menghindar dari mereka. Dia mulai bergerak secara acak hingga serangan terhenti. Namun, pesawat musuh masih mengikutinya di belakang. Mia mulai tidak sabaran, hingga akhirnya mulai menyerang dengan mengeluarkan rudal yang bisa mengunci target.

Pesawat musuh mulai kewalahan, mereka mulai bergerak ke arah lain untuk menghindari rudal yang diluncurkan Mia. Untuk saat ini, dia bisa bernapas cukup lega, karena mereka sedang sibuk dengan rudal yang bisa menghancurkan kapal mereka.

Mia rasa, pesawat musuh tidak cukup canggih jika dibandingkan dengan pesawatnya. Jika itu adalah para Rebels dari Orion, mereka pasti akan meluncurkan serangan balik yang sama persis. Mengingat, pesawatnya berasal dari sana. Tapi saat ini, mereka justru sibuk menghindari rudal yang Mia lesatkan. Yang berarti, pesawat itu bukan berasal dari Orion. Namun, dia harus tetap berhati-hati.

Tanpa pikir panjang, Mia meluncurkan rudal kedua untuk menghancurkan rudal pertama yang sudah terlanjur dilesatkannya. Saat rudal kedua menghantam rudal pertama, pesawat asing itu berhenti seketika dan berputar arah menuju pesawat Mia. Mereka tidak mengejarnya lagi, tapi dalam posisi ini, mereka sama-sama seperti ingin menembaki satu sama lain.

Mia mulai mencari cara untuk bisa berkomunikasi dengan pesawat asing itu. Hingga sebuah layar hologram muncul di depannya dengan tiga orang yang sedang memandanginya tajam. Wajah mereka tidak begitu beda dengan wajah kaum Orion dan Bumi. Atau mungkin, mereka memang dari Bumi.

“Hai,” sapa Mia canggung. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa.

“Kaum Orion! Apa yang membuatmu ragu untuk membunuh kami?” tanya salah seorang pria dengan baju berwarna hijau lusuh. Kantung matanya terlihat menghitam dan dalam, seolah dia belum tidur berhari-hari.

“Aku rasa, karena dia ingin melihat kita disiksa,” sela salah seorang gadis dengan bekas luka di salah satu pelipis wajahnya.”

Si pria dengan pakaian hijau lusuh itu melirik si gadis tajam karena menyelanya. Kemudian beralih lagi pada Mia.

Mia mengerutkan keningnya. “Well, aku rasa karena aku bukan berasal dari planet Orion.” Ada sedikit nada sindiran dari perkataan Mia. Jika kaum Orion yang mendenagrnya, pasti akan terdengar seperti penghinaan, tapi Mia tidak bermaksud seperti itu.

Sekarang, ketiga orang itu yang mengerutkan keningnya. Kemudian, saling bertatapan satu sama lain. Hingga pria berbaju hijau mulai berbicara lagi. “Kalau begitu, siapa kau? Dan dari mana asalmu?” tanyaya.

“Namaku Mia Paris dan aku berasal dari Bumi.”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top