Chapter 3

New York, Bumi

Terang bulan malam itu begitu dingin. Dengan separuh napas yang terengah-engah, Alex berusaha terus berjalan menuju kamp rahasia yang menjadi tempat pengungsian setelah para Rioner Rebel menyerang Bumi. Apalagi, kepalanya dihargai sebesar 50 ribu unit, dia harus berhati-hati jika tidak ingin ada yang mengikutinya.

Ya, setelah invasi bangsa Orion ke Bumi, semuanya menjadi berubah. Tatanan negara, hukum, dan uangnya. Tapi yang lebih kejam adalah peraturan hukumnya. Manusia Bumi adalah budaknya, sedangkan para Rioner Rebel adalah kekuasaan tertingginya. Manusia Bumi dipaksa untuk bekerja sedangkan mereka mengambil semua sumber kekayaan yang ada. Yang tidak patuh, akan berakhir dengan penyiksaan yang tidak terbayangkan.

Sangat sulit untuk tidak menuruti para Rioner Rebel ini, terutama saat kekuatan mereka bertambah kuat dan tidak terkalahkan. Hanya dengan bantuan kaum Orion sendiri yang bisa mengalahkan para Rebels. Karena kekuatan yang mereka miliki sebanding, pertarungan antara keduanya akan menjadi sangat sengit.

Setelah persimpangan keempat, Alex berbelok dengan cepatnya, menelusuri gang kecil yang mulai menyempit di ujung. Alex merogoh tasnya, mencari-cari kaca mata malam saat memasuki pintu besi sebuah gedung tua. Cahaya semakin memudar saat dia menutup pintunya, gelap gulita. Disini lah kaca mata malamnya berfungsi.

Alex harus mencari lambang Patriot yang disembunyikan dengan baiknya untuk bisa masuk ke dalam kamp tersembunyi itu. Dan dia berhasil menemukannya dalam waktu yang singkat. Bukan karena dengan mudahnya, melainkan insting pelacaknya memang telah diasah sedemikian baik untuk situasi seperti ini.

Sambil meraba lambang itu, Alex mencari-cari bagian yang terasa cukup aneh, kemudian menekannya perlahan. Dinding di sebelahnya bergeser secara tiba-tiba, tanda bahwa dia sudah semakin dekat dengan kamp pengungsian.

Sebuah lorong panjang berada dihadapannya. Aroma menyengat seperti kotoran menyeruak sejak dinding itu terbuka. Tanpa ragu, Alex masuk mengikuti lorong berbau itu. Kaca mata malamnya masih dia gunakan, karena jika tidak, dia tidak akan bisa melihat jalannya.

Sepanjang perjalanan, dia menghitung langkahnya. Sampai pada sebuah cahaya yang menyinari tangga batu di depannya, Alex melepaskan kaca mata malamnya. Dia menaiki tangga itu perlahan dan mendapati tenda-tenda pengungsian seperti kamp lainnya.

Anak-anak dan orang dewasa bercampur, sebagian memiliki bekas luka yang tidak bisa hilang dalam jangka waktu yang lama. Orang-orang dipengungsian hampir semuanya diselamatkan, namun ada juga yang berhasil menyelamatkan diri dan mencari kamp.

"Alex!' Seseorang memanggilnya dari depan sebuah tenda yang paling besar.

Alex berjalan ke arahnya. "Bagaimana situasinya?" tanyanya.

"Kau masuk saja, Sam dan kawanannya ada di dalam."

Saat Alex masuk, semua mata mengarah padanya. Dan disana lah dia melihat pria yang menjadi kawannya tiga bulan terakhir ini, Sam. Tidak hanya Sam, si kembar Earth, Irial, dan Maxie juga berada disana. Mereka membicarakan penyerbuan pangkalan Rioner Rebel untuk bisa segera dilaksanakan.

"Alex, aku senang kau bisa datang dengan selamat," ucap Giana, pemimpin kamp di sini.

Alex hanya mengisyaratkan sebuah anggukan, hingga Giana kembali pada pembicaraannya.

"Kita masih butuh waktu untuk mengumpulkan pasukan, terutama jika kita menyerbu pangkalan utama." Giana menatap satu-persatu orang di ruangan.

"Mereka akan menemukan kamp ini sebelum kita sempat menyerbunya. Tidak ada cukup waktu untuk terus menunda-nunda." Sam mulai berargumen.

"Mereka terlalu kuat untuk dikalahkan." Salah satu anak buah Giana berkomentar.

"Tidak jika kita gunakan rencana kami," sahut Irial.

Giana menatap pria itu. "Dan membahayakan orang-orangku?"

"Hanya sebagai pengalih perhatian, mereka bisa langsung selamat saat sampai di perbatasan. Mereka akan membaur dengan yang lainnya dan tidak akan tertangkap." Kali ini Jace yang ikut berkomentar.

"Bagaimana jika mereka tidak sampai perbatasan? Mereka bisa mati," ketus Giana.

Alex tahu Giana hanya ingin orang-orangnya selamat dalam rencana ini. Alex tidak bisa menjamin itu, tapi untuk keselamatan jutaan orang, beberapa perlu dipertaruhkan. Walaupun rasanya tidak adil, hal itu harus dilakukan. Tidak selamanya pengorbanan tidak membuahkan hasil.

"Mereka benar, Giana. Kita tidak punya cukup waktu atau mereka berhasil menemukan kita." Alex mulai berbicara.

"Tapi orang-orang kita bisa mati, Alex." Giana bersikeras.

Mata Alex tertuju pada meja yang menunjukkan strategi rencana penyerbuan milik Sam. Sebuah peta yang menunjukkan ke arah mana mereka harus masuk sebelum akhirnya menyerang. "Kita sudah mati sejak Rioner Rebel menyerbu," gumam Alex.

Giana tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti rencana yang sudah ada. Mempertaruhkan miliknya dan orang-orangnya dalam misi berbahaya ini. "Baiklah, kita lakukan penyerbuan dalam lima hari ke depan. Aku butuh menghubungi yang lainnya untuk bertemu di titik kumpul."

Sam mengangguk dan satu-persatu keluar dari tenda itu. Alex yang paling terakhir keluar, mendapati pelukan hangat dari Jace, diikuti Hale, Irial, Maxie dan pada akhirnya Sam. Mencintai seseorang yang sama tidak membuat mereka membenci satu sama lain.

"Bagaimana kabarmu, kawan?" tanya Sam.

"Masih bernapas," candanya.

"50 ribu unit untuk kepalamu, huh?" Hale menyiku pundak Alex.

Alex hanya bisa tersenyum. Itu merupakan hadiah termahal bersamaan dengan harga kepala Sam.

"Kalian benar-benar tidak bisa dipisahkan, ya? Bahkan harga kepala kalian sama mahalnya." Jace menggeleng-geleng.

"Alex!" seru seseorang.

Alex menoleh, mendapati seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya. "Hannah," gumamnya.

Tanpa ragu, gadis itu meloncat ke arah Alex dan memeluknya. Hannah memang pernah memiliki perasaan pada Alex, tapi tidak lagi. "Ya ampun, sudah lama sekali," ujarnya sambil melepaskan pelukan.

"Ya. Bagaimana kabarmu?" tanya Alex.

"Bagaimana ya, jika aku katakan baik, itu separuhnya bohong. Dan jika kukatakan tidak baik, itu juga separuhnya bohong." Hannah masih tidak kehilangan selera humornya. Kemudian matanya tertuju pada pria di samping Alex yang tidak lain adalah Sam. Secara spontan, Hannah menghadiahi sebuah tamparan di wajah pria malang itu. Namun, secara cepat langsung memeluknya.

"Aku tidak dapat pelukan juga?" Jace tiba-tiba memecahkan keheningan.

Hannah melepaskan pelukannya pada Sam, kemudian beralih pada Jace. "Aku tidak begitu ingat kau," katanya.

"Oh," gumam Jace. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan.

"Seperti dulu lagi, ya." Hannah tersenyum lebar, namun hilang seketika saat sengatan memori tentang sahabatnya muncul tiba-tiba. "Tanpa Mia," gumamnya.

Suasana hening seketika.

"Maaf, aku butuh waktu sebentar." Hannah langsung meninggalkan mereka.

Sam dan Alex saling bertukar pandang. Mereka juga merindukan Mia. Mungkin saat ini, orang yang satu-satunya sangat mereka berdua ingin lihat adalah Mia. Namun itu tidak akan terjadi. Mia sudah pergi jauh dari mereka. Dan dia tidak akan kembali ke Bumi hanya untuk menemui mereka berdua.

"Ayolah, kawan. Kalian harus merelakan." Irial satu-satunya yang berani berkomentar.

"Aku juga butuh waktu sebentar," kata Alex yang ikut meninggalkan reuni singkat itu.

"Jika kalian butuh aku, aku akan berada di ujung sana." Sam menunjuk kerumunan orang-orang yang sedang diobati.

Saat Sam sudah cukup jauh, Hale mulai berbicara. "Dude, kau memperburuk keadaan," protesnya pada Irial.

"Aku tahu." Irial menyetujuinya.

"Akan butuh waktu untuk mereka berdua merelakan, tapi mereka juga tidak akan melupakannya." Maxie menatapi Sam dari tempatnya berdiri.

"Hale, aku lapar. Ayo cari makanan di dapur. Mungkin masakan di sini lebih enak daripada kamp sebelumnya. Aku bahkan tidak bisa menelannya waktu itu." Jace merangkul kembarannya dan menyeretnya pergi juga.

Tersisa Maxie dan Irial yang tidak tahu harus pergi ke mana. Mungkin, Irial butuh berbaring sesaat, tubuhnya terasa nyeri di setiap bagian. Sedangkan Maxie, lebih memilih untuk mengamati orang-orang.

Setelah Gungnir terakhir hancur, kekuatan para Patriot semakin bertambah. Indra penciuman mereka menajam, begitu juga pendengaran dan penglihatan. Pergerakan mereka jadi lebih cepat tiga kali lipat dari sebelumnya. Mereka juga sembuh dengan cepat. Sedangkan kekuatan kinesis mereka masih sama, namun kemampuan Déjà vu yang biasanya mereka gunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan sesama Rioner sudah tidak bisa lagi. Kemampuan itu menghilang begitu saja, entah apa penyebabnya.

Karena itu juga, mereka harus berkomunikasi jarak jauh secara normal seperti yang manusia Bumi biasa lakukan. Cukup menyulitkan, namun mereka harus terbiasa dengan hal itu. Walaupun kadang, Jace terus berusaha keras untuk mendapatkan kekuatan itu kembali.

Hampir tengah malam. Semua orang sudah tertidur di tenda mereka masing-masing. Sebagian ada yang tertidur di luar tenda, karena kecukupan tenda yang tidak banyak. Mereka memprioritaskan wanita dan anak-anak yang tidur di dalam tenda. Sedangkan para pria tidur di luar tenda beralaskan sehelai kain. Setidaknya itu lebih baik daripada harus tidur di tempat para Rioner Rebel.

Alex masih terjaga. Dia bahkan hampir lupa rasanya tertidur pulas. Setiap kali dia memejamkan mata yang muncul dalam mimpinya adalah Mia. Muncul pertama kali dalam sesi latihan saat Alex menjadi instruktur bela dirinya.

"Tidak bisa tidur?" Sam memergoki Alex yang sedang memandangi papan pengumuman yang ditempel untuk memberitahu jadwal penjagaan.

Alex menoleh. "Ya," jawabnya singkat. "Kau?"

"Sama," jawab Sam.

Keheningan menyelimuti keduanya. Hingga Alex mulai bicara lagi. "Apa kau pernah memimpikannya?" tanya Alex.

"Kadang." Sam melipat lengannya di dada. "Saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku sedang memburu William. Aku menariknya ke dalam masalah yang membahayakan dirinya."

"Aku mempermalukannya di hari pertama latihan bela diri di depan banyak orang." Alex terkekeh.

Mereka dia sesaat. Seolah sedang menarik memori-memori manis bersama Mia yang membuat keduanya jatuh cinta pada gadis itu.

"Aku merindukannya, Sam." Alex menoleh pada pria yang tidak pernah dia pikirkan bisa menjadi temannya sekarang.

Sam balik menoleh. "Kita merindukannya."

__________

Heyyo, guys! Aku tahu aku slow update bgt sama cerita ini, tapi percayalah aku kangen mereka semua.

Oiya, Deja vu sudah selesai tahap edit, dan sedang di layout. Aku gak sabar buat meluk Sam dan Alex >< apakah kalian sama juga? Aku harap iya hehe

Btw gimana chapter ini? Tinggalkan komen kalian ya ^^

B. K

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top