Chapter 1 : You

(Fullname) = Nama Lengkap
(Firstname) f/n= Nama Pertama
(Lastname) l/n= Nama terakhir
(Eyecolour) e/c = Warna mata
(Haircolour) h/c = Warna Rambut

Semua cerita memiliki awalnya masing - masing.

"Selamat Ulang Tahun (Firstname)."

Singkat, padat, dan jelas. Yah kau tidak banyak berharap pada Akaashi Keiji.

"Ampun deh Keiji-chan, aku merasa tidak berulang tahun kalau hanya itu yang kauucapkan."

Yah Akaashi Keiji itu sahabat laki-laki yang paling dekat denganmu, semua tentangnya kau tahu, dan semua tentangmu dia tahu.

"(Firstname) ..."
Ucapan Akaashi menggantung.

PLETAK

"Ittai," katamu sambil mengelus dahimu yang baru saja dijitak Akaashi.

"Salahmu sendiri, memanggilku dengan akhiran chan." cibirnya.

"Gomen, Keiji-SAN." kali ini kamu memberi penekanan di San. Karena Keiji setahun lebih tua darimu.

"Ini, untukmu."

Kamu mengambil kotak yang dibungkus berwarna biru langit dari tangan Keiji, dan tanpa aba - aba langsung membukanya dan mendapati sebuah pocket camera.

"Wah wah Keiji-san memang teman yang terbaik!" Saking senangnya kamu langsung memeluk Keiji dan tanpa menghiraukan tatapan orang lain yang berada di cafe.

Ampun deh (Name) seandainya kau melihat wajah Keiji yang memerah, pasti kau akan tertawa terbahak-bahak. Yah, mengingat wajah Keiji yang sering expressionless.

Teman? Jangan bercanda.

"Lepas, lepas," kata Keiji sambil berusaha melepaskan pelukanmu.

"Lho Keiji-san nggak suka aku peluk ya?" Tanyamu with innocent smile.

"Kita ini berada di tempat yang ramai
(f/n)." kata Keiji sambil menghela napas panjang.

Sedangkan kau hanya tersenyum bodoh setelah melepaskan pelukan Keiji.

****

Tanpa disadari mereka, matahari sudah hampir tenggelam di sebelah barat, angin sore yang menerpa rambut (h/c) (f/n), membuat (f/n) semakin cantik saja. Atau begitulah yang dipikirkan Akaashi saat ini.

Akaashi mengamati (f/n) sesaat dan menyadari kalau dari tadi (f/n) sudah mulai menggigil.

Salah (f/n) juga karena memakai kaos lengan pendek, padahal sudah musim gugur.

"Pakai saja." kata Akaashi sambil memberikan mantel yang di belakangnya bertuliskan 'Fukurodani'.

"Arigatou Keiji-san." kata (f/n) sambil mengambil jaket itu dari tangan Akaashi.

"Hm... memang bau khas Keiji-san."

"Maksudmu?" Tanya Akaashi bingung.

"Maksudku, seperti bau khasmu." kata (f/n) yang sudah memakai mantel Akaashi.

"Kalau kau berkata seperti itu, aku mulai berpikir kalau badanku bau." kata Akaashi yang sukses membuat (f/n) terkekeh geli.

"Ya sudahlah, aku bosan berbicara dengan orang sepertimu." kali ini (f/n) berbicara sambil membuang muka.

"Kalau begitu aku duluan." belum sempat Akaashi mempercepat langkahnya, tangan (f/n) lebih dulu menghentikan langkahnya.

"Jahat sekali, Keiji-San. Ok ok aku tarik ucapanku." kata (f/n) sambil memberikan ekspresi yang menurut Akaashi manis.

"Kawaii~."

Ucapan Akaashi sukses membuat kedua pipimu merona merah.

'Perasaan apa ini?' Pikir (f/n).

"Kenapa pipimu?" Dor! Skakmat (f/n).

"Eh..? Tidak kok, hanya perasaanmu saja." bohong (f/n). Mereka melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda karena sedikit beradu argumen tadi, alias pulang ke rumah masing - masing.

Apa hanya perasaan (f/n) saja, kalau mereka sudah tidak mengangkat topik pembicaraan satu pun sedari tadi.

Dan (f/n) memutuskan untuk bicara duluan daripada berada dalam situasi canggung seperti ini terus.

"Nee Keiji-San..."

"Hm?"

"Aku punya pertanyaan konyol."

"Katakan saja." ini yang membuat Akaashi penasaran, tumben sekali dia bertanya sesuatu sampai situasi seserius ini.

"Um... cewek yang Keiji-san suka siapa ya?"
Pertanyaan (f/n) sukses membuat Akaashi salah tingkah di tempat.

"Rahasia." singkat, padat, dan jelas.

"Pelit sekali, kasih tau aku dong." rengek
(f/n).

"Dia itu orangnya suka bicara terang - terangan, menyebalkan seringkali, dan dia nggak peka terhadap perasaannya sendiri."

(F/n) mulai memikirkan siapa yang dimaksud Akaashi.

(F/n) menyerah, dia tidak bisa memikirkan satu pun teman perempuannya yang sifatnya sama seperti yang dibilang Akaashi tadi.

****

Bulan dan bintang menerangi langit malam yang gelap. Sosok di dalam bayangan itu menyeringai tatkala melihat sepasang orang masih bercerita dan bercanda ria di malam hari seperti ini.

Sosok itu tidak pernah mengedipkan matanya. Senyum dan tawa itu, selalu membuatnya tenggelam dalam suasana yang tak bisa dijelaskan.

Matanya berpindah pada yang satunya lagi, kali ini dia menatap dengan tatapan penuh kebencian dan amarah.

Setelah mereka telah jauh darinya, sosok itu tertawa sangat keras dan membiarkan tawanya itu tenggelam di baliknya malam yang dingin.

Chapter 1 memang pendek, yah nanti part depan baru dipanjangin dikit aja. Saya memiliki masalah di bagian latar mohon bantuan readers alias commentlah.

Menurut kalian bagaimana chapter 1?
Perlu diperbaiki kah?

Rabu 28 September 2016

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top