Bab 3
Setelah diomel panjang lebar oleh pak Yuyud, akhirnya Nara bergabung dengan Ata dan Achi. Satu jam lebih pelajaran biologi peminatan akhirnya selesai juga. Begitupun dengan hukuman untuk ketiga siswi didepan. Mereka kembali lagi ke tempat duduk masing-masing.
"Hoaahh... Tangan gue rasanya mau patah." Achi merenggangkan kedua tangannya lalu bersender di bahu Ata.
"Minggir lo gausah bahu gue bukan bantalan!" Ketus Ata.
Achi kembali duduk dengan posisi awal. "Ck, dasar pelit. Cuma nyandar bentaran doang, Ta."
"Lo pikir tangan gue gak capek? Ini semua gara-gara lo ngajak gue ngobrol ya!"
"Yaelah Ta Ata... Sama temen sendiri gitu amat. Lagian ada untungnya juga kita kena hukum."
Ata yang tadinya memijit pergelangan tangan menoleh ke Achi. "Apa untungnya?"
"Yaa kita kan jadi gak ikut tes pak Yuyud. Otak gue juga gak bakal nangkap tuh apa yang bapak jelaskan." Balas Achi santai.
Ata memutar bola matanya malas. "Lebih bagus ngikut tes ketimbang kena hukum. Gak ada faedah banget di hukum depan anak kelas. Ilmu gak dapat malu yang ada."
"Apaan sih lebay banget!" Ucap Achi yang mulai kesal.
"Mirror plis."
"Gak usah marah-marah ke gue. Kan elo duluan ngajak ngobrol, ngab."
"Gue tadi cuma nyadarin lo yang lagi bengong."
"Alesan doang,"
"Eh udah udah. Kenapa jadi berantem sih? Hukumannya udah selesai gak usah dibahas lagi." Lerai Nara yang sedari tadi hanya menyimak.
"Tau tuh. Sama-sama salah juga, kok saling nyalahin. Yaudahlah terima nasib aja." Sahut Yuqi.
"Noh si Ata duluan yang sewot. Gue mah dari tadi selow ye."
Ata menatap Achi dengan tatapan horror.
"Udah Chi, anggap ini udah kelar. Jangan di perpanjang. Kayak gak tau Ata aja, dia kan sangat antusias dalam nilai, ya wajar sih kalau tiba-tiba pertama kalinya kena hukum bakal sewot." Ucap Nara berusaha memberi penjelasan ke Achi.
"Kok lo cuma ngebela Ata doang? Berasa gue paling bersalah nih. Padahal kan--"
"Achi stop plis! Gak kelar-kelar ini, mending ganti topik deh. Mumpung guru belum dateng." Potong Ipit menatap Ata yang sedang sibuk memijit lengan lalu berganti menatap Achi lagi.
Achi mengekerutkan bibirnya seraya menopang dagu. "Fine!"
Akhirnya yang lain bisa bernafas lega, tapi tiba-tiba Yuqi kembali bersuara. "Btw, tumben lo telat, Nar?" tanyanya.
"Gara-gara bang Jeff gak ngisi vespanya, gue terpaksa naik angkot. Lama banget nunggunya."
"Lo naik angkot aja masih tetep cakep ya, gak ada tuh debu atau asap yang nempel. Heran gue," ujar Achi sambil memandangi wajah Nara.
"Dih, gak gitu juga. Emangnya kalo naik angkot muka kita bakal kucel?"
Achi dan Yuqi mengangguk. "Bener kata Achi. Gue waktu itu naik angkot, turun-turun rambut udah berantakan, terus kecium bau asap. Pas itu juga angkotnya lagi penuh."
"Right Yuq!" Balas Achi.
"Huu iyain deh, mungkin mines gue aja kali yang gak bernasib kayak kalian."
"Btw lo di suruh ngapain sama pak Dede, Nar?" tanya Ipit yang penasaran.
"Lah iya ya, kan hari ini jadwal piket tuh guru."
Nara menghela nafas sebelum lanjut berbicara, "gue di suruh nyabutin rumput."
"Tapi gue gak nyesal kena hukum." Lanjut Nara yang kini mulai senyum-senyum.
"Lah kenapa?"
"Emm, kayaknya ada ekhem-ekhemnya nih." Ipit menyipitkan matanya menatap Nara.
Nara mengangguk, "yaps! Gue di hukum bareng bang Arkan."
"Hah?! Kok bisa?"
Nara hanya tersenyum sambil memegang pipinya yang kembali memerah.
"Heleh, Sok malu-malu kucing Lo. Terus gimana kelanjutannya? Lo ada ngobrol gak sama bang Arkan?"
Nara menopang dagu dan mengingat kembali apa yang terjadi antara dirinya dan seseorang yang dia sukai sejak lama.
_________________________________
"Aww-- aduh tangan gue." Rintih Nara yang tengah mencabutin rumput-rumput.
"Ishh... Tuhkan tergores. Ini semua salahnya bang Jeffry. Aw--duh."
"Tangan lo kenapa?"
Nara mendongak ke samping. Terdapat seorang cowok sambil membawa kantong plastik besar.
"Bang Arkan...." Gumam Nara.
Cowok itu menoleh kebelakang nya dan memanggil salah satu siswa yang juga dihukum untuk mengambil plastik yang di genggamnya. Setelah itu dia berjongkok di depan Nara sambil menatap telapak tangan Nara yang memerah.
"Udah tau lagi nyambut rumput liar. Harusnya lebih hati-hati lagi. Rumput ini rada tajam." Ucap Arkan.
Dia mengambil sesuatu didalam saku bajunya. "Siniin tangan Lo ... Nih pakai sendiri bisa, kan?" Ucapnya sambil memberi hansaplast.
________________________________
"Terus terus?"
"Ya terus gue bilang makasih lalu dia pergi gitu aja."
Achi menganga sambil mengerjapkan matanya. "Gitu doang? Lo gak ada minta no Wa, line, tweet atau ajak kenalan gitu?"
"Dihh... Lo pikir gue cewek apaan? Ogah." Kata Nara sambil mencubit pelan tangan Achi.
"Aww-- sakit beb gak usah nyubit segala." Nara hanya terkekeh geli mendengar aduhan Achi.
"Denger dari cerita lo, gue punya opini kalau bang Arkan itu orangnya perhatian banget. Padahal ada yang bilang kalau dia cuek, galak, dan kasar. Tapi buktinya dia mau tuh bantuin Lo." Ucap Ipit.
Tiba-tiba Achi mengebrak meja. Membuat yang lain ikut kaget.
"Nah itu dia .... Berarti kita gak seharusnya menilai seseorang dari luarnya. Wahh kalo gue jadi Nara tadi. Langsung gue ambil kesempatan buat pdkt dengan bang Arkan." Katanya sambil tersenyum nakal.
"Kalau gitu Lo keliatan kayak cewek centil. Emangnya Lo mau dianggap kayak gitu?" Sahut Ata.
"Astagfirullah Ata ... dari tadi Lo kayaknya gak suka mulu dengan omongan gue. Kenapa sih beb? Kalo masih kesal dengan yang tadi gue minta maaf, sabar-sabar aja lo ngadepin gue." Kata Achi sambil mengatup kedua tangannya.
Ata tak lagi merespon. Dia hanya mengangguk dan beralih ke buku sejarah Indonesia yang sudah dikeluarkan nya.
°•°•°•°
8 jam sudah mereka menghabiskan waktu disekolah dan yang dinantikan telah tiba. Mereka bisa pulang kerumah masing-masing. Semua murid berdesakan diluar sekolah. Bahkan parkiran begitu ramai. Namun tidak dengan beberapa cowok yang berada di rooftop. Mereka lebih memilih pulang di akhir. Alasannya karena tak ingin ikut berdesakan.
"Beli kuaci beli teh es..."
"Cakepp."
"Gue haus doy, beliin gih."
"Njir gue kira Lo mau ngepantun taunya ngelantur."
Dua cowok dengan seragam acak-acakan memasuki rooftop dan duduk selonjoran begitu saja.
"Gue bukan Ecan yang jago ngepantun."
"Terus jago lo apa?"
Dengan bangga cowok itu tersenyum, "memikat hati para ciwi-ciwi." Kata cowok bernama Hendry Triwijaya.
"Idih! Bangga gitu jadi fuckboy?"
"Sedikit, karena gue baru menyadari kalau itu bakat gue."
"Bakat PALE Lo botak. Dahlah males gue ngeladeni orang narsis." Cowok bernama Doyon itu berpindah tempat dan ikut berbaring di dekat Arkan.
Arkan melirik kedua sahabatnya dengan tatapan tajam. Dia kembali duduk dan membenarkan posisinya.
"Ngapain lo berdua disini? Bukannya tadi gue suruh balik duluan?"
"Lah emangnya ini tempat milik elo? Kalau kata pak Dede sih 3s." Sahut Hendry yang duduk disamping Doyon.
"3s apaan?" tanya Doy.
"Suka-suka sayalah. Ck, bukan murid setia pak Dede lo."
"Sintink. Sana jadi anaknya pak Dede aja, gue liat-liat cocok kok."
"Ogah anjirr! Yang ada tiap bulan kepala gue botak!"
Sontak Hendry dan Doyon tertawa. Kerusuhan keduanya membuat Arkan sedikit terganggu.
"Berisik lo berdua. Rafa mana?"
"Yee si bos, nyariin Rafa doang nih? Kita gak di cari?"
Duk! Arkan menggetok jidat Hendry.
"Jadi orang gak usah bego-bego amat."
Hendry cekikikan sambil mengelus jidatnya, "bercanda boss! Galak amat sih. Noh si Rafa udah balik duluan."
"Eh tumben tu anak balik awal?" tanya Doyon.
"Meneketeh! Lo tanya aja langsung sama orangnya. Palingan mau nongki bareng anak band."
"Dih ngeselin jawaban lo."
"Ah masaaaa?"
Malas untuk meladeni ucapan Hendry, dua cowok itu pergi dari rooftop.
"Eh-eh pada mau kemana?"
"Pulanglah. Kalau Lo mau nginap disini silahkan, bareng kunti-kunti cantik. Sekalian aja kuntinya lo godain."
"Tungguin gue anjir!!"
Arkan tak ikut membalas ucapan Hendry. Dia pergi dengan langkah lebarnya meninggalkan dua makhluk rese yang menganggu istirahatnya.
Ketika Arkan menuruni anak tangga, cowok itu terkejut dengan seseorang yang hampir terjatuh tepat ketika melewati nya. Dengan sigap Arkan menangkapnya.
Tak sampai 5 detik cewek itu langsung berdiri lagi dan sedikit menunduk malu.
"Eh--? ma-kasih bang udah nolongin."
Arkan tak merespon. melainkan memicing matanya menatap cewek itu sambil bersedekap.
"Lo- cewek yang nyabut rumput tadi pagi, kan?"
Nara membulatkan matanya. Dia tertegun ketika Arkan mengingatnya. Bingung mau membalas apa Nara hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
Arkan mendekat tepat disamping telinga Nara dan berbisik sesuatu.
"Dua kali lo ceroboh di depan gue. Lain kali hati-hati, karena untuk ketiganya nanti gak bakal gue tolongin."
Setelah mengatakan itu Arkan berlalu pergi gitu aja dengan tampang datar. Sedangkan Nara, dia tercengang seraya menepuk kedua pipinya.
"Mimpi apa gue semalam. Hari ini bisa berapa kali pas-pasan sama bang Arkan!"
~~~
Bersambung
-ATH,
03/10/2020
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top