Consolation - 9
Playlist: Kembali Pulang - Suara Kayu ft Feby Putri
Yuhuu update ^^
•
•
Tepat saat mata terbuka, Jondas menemukan Davares sedang mengupas kulit jeruk. Bukan untuk dirinya melainkan untuk dimakan sendiri. Jondas melirik parsel buah di atas nakas yang dia tebak dari Davares. Melihat ada bekas sobekan pada plastik wrap, Jondas langsung tahu Davares memakan buah dari parcel pemberian sendiri.
"Gue pikir lo mati, Jon, makanya gue makan buahnya," ucap Davares.
Jondas terlalu lemah untuk menanggapi. Dia cuma diam tanpa berniat membuka mulut.
"India rajin banget, ya, siapin bubur dan makanan bergizi buat lo dan anak-anak. Ngerawat lo juga pas sakit begini. Kalau gue jadi dia mending gue sumpahin lo mati sekalian. Soalnya sikap lo nggak ada baiknya." Davares berceloteh, mengeluarkan kalimat yang perlu disampaikan. Biar, deh, bicara pas sepupu lagi sakit. Dia tidak merasa kasihan sama Jondas. Justru sebaliknya, dia merasa kasihan sama India.
Jondas tidak menjawab. Dia mencoba duduk saat kepala masih terasa berat. Biasanya Davares orang yang paling perhatian sama orang lain, tetapi kali ini Davares membiarkan Jondas berusaha sendiri. Davares sudah emosi duluan sejak mendengar India bela-belain merawat sepupunya yang laknat.
"Lo pernah nggak ucapin makasih sama India atas semua kebaikan dia?"
"Lo nggak ada jadwal?" Jondas tidak menjawab, mengalihkan dengan pertanyaan lain.
Davares berdecak, menatap kesal sang sepupu. Biarpun Jondas sedang sakit, dia ingin menyumpahi sepupunya tidak sembuh. Tapi itu hanya akan menyusahkan India. Waktu mendengar Jondas sakit, dia tahu India tidak meninggalkan Jondas begitu saja.
"Lo tahu nggak India punya jadwal ketemu sama pembacanya? Dia batalin mendadak cuma untuk urus lo yang nggak tahu terima kasih dan nggak tahu diri," ketus Davares.
"Lo datang cuma buat ceramah?"
"Iya. Jenguk lo cuma buat maki-maki doang."
"Buat apa bilang makasih? Salah dia sendiri mau nikah sama gue."
Davares menatap marah. Bukan karena dia ada hati sama India jadinya marah. Bukan. Davares memang dekat dengan India bahkan sering menjadi teman cerita. Davares tahu sebaik apa India, bagaimana kisah cintanya yang amburadul, dan seperti apa India. Dibandingkan dengan Jondas yang memang masih memiliki hubungan keluarga, dia lebih memilih membela India.
"Jon," Davares mendesah kasar. "Bisa nggak, sih, lo lagi sakit begini ngomong yang baik-baik, lebih menghargai kebaikan India, atau berusaha lihat India dari kacamata berbeda?"
"Nggak." Singkat dan padat. Jondas menunjukkan wajah dinginnya.
"Baik-baik sama India. Kalau lo nggak memperlakukan dia dengan baik, jangan kaget kalau nanti ada yang melakukan itu dan India berpaling dari lo. Selagi India berusaha bertahan sama lo, pertahanin. Jangan sampai lo nyesel," nasihat Davares.
"Bagus kalau ada yang mau sama dia. Itu mempermudah...." Kalimat Jondas menggantung sebentar saat sakit kepala menyerang.
"Syukurin lo," sela Davares emosi.
Jondas memijat dahinya selama beberapa saat supaya sakitnya reda. Merasa cukup, dia kembali menatap sepupunya. "Gue mau cerai. Jadi kalau dia mau sama yang lain sebelum cerai, silakan."
Davares geleng-geleng kepala. Benar-benar iblis sekali. Dia sudah malas ceramah. Biar saja kalau nanti tiba-tiba cinta menyapa Jondas, dia jadi orang pertama yang menertawakan sepupunya. Lihat saja sumpahnya ini. Lihaaaaat!
"Jojooooon!" Suara sapaan nyaring terdengar membahana ibarat diucapkan melalui stereo. Suaranya menggema sampai Jondas dan Davares menoleh.
"Eh, ada tamu. Gue pikir nggak ada yang jenguk lo," ucap Amini Indrawan, salah satu teman baik Jondas. Selain teman baik, Amini juga merangkap sebagai pengacara yang siap membantu Jondas jika ada masalah. Meskipun di perusahaan Jondas sudah ada legal sendiri, tetapi Jondas tetap menggunakan jasa Amini untuk membantu. Antara tidak percaya akan kemampuan anak legal di kantor atau Jondas lebih nyaman bekerja sama dengan Amini.
Amini berjalan pelan menghampiri Jondas sambil mengatup mulutnya seolah berusaha menghindar. "By the way, gue bawain lo buah. Tapi ada di bawah udah diterima sama istri lo. Gue malas bawa ke sini, nentengnya berat."
"Thank you, Mi," balas Jondas.
Kemudian hening. Suasana mendadak krik-krik. Jondas mengamati Amini dan Davares yang saling menghindari kontak mata. Dua insan itu dulunya pernah berpacaran selama dua tahun. Namun, hubungan kandas begitu saja. Amini menolak untuk menikah, sedangkan Davares sudah mantap ingin meminang. Setelah putus hubungan mereka jadi kikuk, ya, seperti sekarang ini.
"Permisi. Jon? Eh?" Kali ini-untungnya ada suara lain yang menginterupsi. Suara laki-laki yang lebih berat.
"Hei, Jov," sapa Jondas.
"Oh, ada Amini juga," ucap Joval Prambadi, teman baik Jondas.
Sebenarnya Jondas mengenal Amini melalui Joval. Jauh sebelum Amini dan Joval menikah dengan orang lain, keduanya pernah menikah selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan bercerai. Berbeda dengan hubungan Amini dan Davares yang kikuk, hubungan Amini dan Joval diisi emosi bertubi-tubi. Padahal satu kantor, tetapi keduanya sering ribut besar.
"Kenapa? Kamu nggak senang aku ada di sini?" balas Amini sewot.
Inilah contohnya. Jondas sering menjadi penonton setia Amini dan Joval. Padahal dulu mereka sering double date ketika Jondas masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya.
"Biasa aja. Kamu bisa nggak, sih, nggak narik urat? Jondas lagi sakit. Harusnya tenang, bukan berisik," balas Joval, yang kini sudah berada di samping Jondas dan meletakkan parsel buah di atas nakas yang hampir penuh.
"Ini reuni mantan, ya?" ceplos Jondas.
"Diam nggak lo!" omel Amini.
Ya, lumayan, deh, hiburan. Meskipun kepala sedang sakit, Jondas bisa terhibur dengan kecanggungan di antara tiga orang itu. Satunya mantan suami Amini, satunya lagi mantan kekasih Amini.
"Eh, ramai banget." Suara lain muncul, membuat semua orang di sana menoleh.
Jondas mendapati India datang dengan senyum lebarnya. Khas India sekali. Perempuan itu berjalan mendekat, menyapa satu per satu tamu yang datang menjenguk dengan senyumnya. Dengan sikap sopan India, perempuan itu mengatakan permisi dan mengambil posisi duduk di bibir ranjang.
"Mas, kepalanya sakit nggak?" tanya India.
Jondas menjawab singkat. "Nggak."
"Beneran?"
"Iya."
"Sebentar." India mengarahkan punggung tangannya pada kening Jondas. Seperti sebelumnya, Jondas menepis tangan India.
"Saya udah baik-baik aja," ucap Jondas dingin.
Ketiga tamu yang ada di sana kaget menyaksikan tindakan Jondas. Namun, Amini dan Joval tidak mau ikut campur, tetap memasang ekspresi biasa berpura-pura tidak melihat kejadian itu. Berbeda dengan ekspresi Davares yang menunjukkan sisi muaknya.
"Biar Mas bilang begitu, tetap aja harus saya periksa. Jangan nolak, Mas." India mencoba sekali lagi. Syukurlah, kali ini Jondas membiarkan dirinya memeriksa suhu tubuh suaminya. "Demamnya udah turun. Nanti makan dan minum obat lagi, ya, Mas."
"Iya," jawab Jondas singkat.
"Ya udah saya tinggal dulu, ya, Mas. Nanti telepon aja kalau butuh apa-apa," pamit India seraya bangun dari tempat duduknya. Sambil melempar senyum, dia pamit. "Saya titip Mas Jondas, ya, semuanya. Saya mau siapin makanan dulu. Nanti kalian cicipin puding di bawah, ya."
"Gue ikut, In," kata Davares.
"Iya, In, thank you," balas Amini.
Sesudah India pergi Amini memelototi Jondas. Sedangkan Joval menarik kursi agar duduk di samping Jondas.
"Jon, gue nggak tahu lo sejahat itu sama India. Kenapa lo tepis tangannya, sih? Dia, kan, niatnya baik," oceh Amini.
"Amini," sela Joval berusaha untuk menghentikan sang mantan.
"Kenapa?" Amini menatap tajam Joval. "Aku boleh, dong, sampaikan apa yang aku lihat? Aku sama kamu memang nggak gitu akur sekarang, tapi saat kita nikah, kamu memperlakukan aku dengan baik. Kamu sebaik itu. Nggak pernah kasar. Yang aku bingung, Jondas nggak kasar. Kenapa mendadak kasar gini?"
Joval geleng kepala guna menyudahi keingintahuan Amini. Namun, Amini tidak peduli dan tetap mengomeli Jondas dengan mulut blak-blakan.
"Heran banget lo sekasar ini, Jon." Amini masih nyerocos bak ibu-ibu. "Lo tahu nggak, tadi gue lihat Adit di bawah. Adit mantannya India, kan? Mereka ngobrol dan kelihatan cocok banget. Kalau lo nggak mau jadi suaminya lagi, cerai aja. Kasih kesempatan yang lain untuk bahagiain India."
"Amini, cukup." Joval menggeleng lagi sambil menatap sang mantan istri.
Lagi-lagi Amini tidak mau mengerti dan mengomel. "Kenapa? Aku nggak salah. Lagi juga buat apa bertahan sama laki-laki yang nggak menghargai istrinya? Di depan orang pula bersikap kasar begitu. Kalau aku udah pasti kucerai. Sayang aja India baik dan sabar banget. Ih, mendadak kesel."
Amini bangun dari tempat duduknya. "Gue sumpahin sakit terus lo ya, Jondas. Biar lo tahu kalau lo sakit, India selalu rawat lo. Jadi lo bisa kasihan sama dia walau sedikit."
Setelah mengomel Amini pergi tanpa pamit. Joval tidak bisa mengatakan apa-apa selain menetap di sana.
Walaupun cara Amini menyampaikan ketidaksukaannya terlalu blak-blakan, tetapi Joval setuju. Dia sudah lama mengenal Jondas dan baru kali ini melihat laki-laki itu bersikap kasar. Dulu waktu sama mantan pacarnya Jondas yang lain maupun Wantra tidak begitu. Jondas selalu baik dan sabar. Beda sekali dengan sikapnya sekarang.
"Jon, bukan gue mau ikut campur. Tapi dengar Amini dan lihat kejadian tadi, lo salah. Kalau memang lo nggak mau lagi sama India, ceraikan dia. Kasihan." Joval mulai buka suara.
"Kami memang mau cerai kok. Nggak usah khawatir."
"Jon, kehilangan seseorang memang menyakitkan. Tapi memperlakukan orang lain dengan buruk nggak akan mengembalikan yang udah nggak ada. Kalau memang mau cerai ya bagus. Biarkan India cari kebahagiaannya sendiri," ucap Joval.
"Iya."
Joval tidak mau berkomentar lagi. "Cepat sembuh deh biar lo bisa debat sama Amini. Dia kelihatannya butuh debat."
Jondas geleng kepala. "Mungkin. Makasih, Jov."
"Iya, sama-sama."
Setelah itu obrolan yang berlanjut hanya sebatas basa-basi semata. Mereka tidak punya pembahasan untuk dibicarakan sekarang terlebih Jondas sering memijat keningnya. Jadi Joval memutuskan meninggalkan Jondas setelah obrolan singkat mereka berakhir.
💝💝💝
India menyiapkan puding untuk dinikmati para tamu. Davares membantunya, begitu pula dengan Adit.
"In, jangan diambil hati masalah tadi ya. Sepupu gue tabiatnya jelek," ucap Davares membuka obrolan.
India melempar senyum. "Nggak apa-apa kok, gue udah biasa."
Adit menyela, "Ada masalah apa, Dav?"
Davares nyerocos, "Ya itulah sepupu gue lagi sakit nggak tahu diri. Dia nepis tangan India di depan gue sama yang lain. Nggak tahulah. Sakit jiwa itu orang. Udah sakit malah jahat. Belum aja gue sumpahin mati."
"Hush! Jangan gitu, Dav," sela India memelotot.
"Lo masih bisa baik ya. Jangan baik-baik, In. Kadang jadi baik tuh melelahkan. Lo nggak capek ya?" ucap Davares.
Tentu saja melelahkan. India cuma tidak mau menunjukkan di depan semua orang, terutama Adit. Laki-laki itu adalah mantan terakhir. Sosok baik yang pernah mengajaknya menikah. Sayangnya, saat itu India belum siap jadi hubungan mereka harus kandas setelah dua tahun bersama. Kalau dipikir-pikir andai dia menerima lamaran Adit, dia tidak akan menderita bukan? Tapi semua sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang perlu disesali.
"Udah jangan dibahas lagi," ucap India mengakhiri.
Diam-diam Adit memperhatikan sang mantan. Dia sering mendengar cerita Davares mengenai India dijahati suaminya sendiri. Kalau mendengar cerita itu rasanya dia ingin mengajak India kabur. Kalau bisa cerai dan bahagia bersamanya. Tapi tidak semudah itu, kan? Davares bilang India kepikiran mengenai anak-anak Jondas. Dia tahu India memang sebaik itu. Tapi ya terlalu baik terkadang bisa lelah sendiri seperti yang Davares katakan. Seperti sekarang saja wajah India terlihat lelah.
"Kalau udah nggak sanggup, cerai aja, In. Kamu nggak berhak diperlakukan semena-mena. Kamu manusia, bukan barang." Adit menyampaikan pendapatnya. Dia tidak tega melihat India kewalahan dan lelah sendirian. "Kalau Jondas nggak mau bahagiain kamu, aku mau. Biar aku aja yang bahagiain kamu sebagaimana harusnya."
Davares diam, melirik Adit, dan mengacungkan ibu jari. Dia ikut senyum mendengar Adit berani menyampaikan keinginannya.
India diam memandangi Adit. Sambil tetap tersenyum, dia berkata, "Makasih, Adit. Tapi lebih baik kamu cari yang bisa dibahagiain. Bukan aku orang yang perlu kamu bahagiakan."
Davares berdecak kesal. India ini lebih suka disakiti ya daripada dibahagiakan? Kesal sekali. Tapi dia mengerti India bicara seperti itu karena merasa bersalah tidak menerima lamaran Adit. Tapi--arghhhhhh! Kenapa sih? Davares gemas sendiri!
Adit belum menyerah. "Kalau aku maunya membahagiakan kamu gimana?"
India diam sejenak. Berapa kali dia mencoba meyakinkan Adit untuk tidak memedulikan, laki-laki itu selalu peduli. Bibir pun terbuka hendak menaggapi, tetapi sebelum dilakukan, suara yang cukup nyaring menginterupsi.
"Bundaaaaa!" Joantra memeluk India dari samping dan melempar tatapan tajam kepada Adit. "Aku mau makan. Pokoknya ditemenin makan sama Bunda!"
India mengusap kepala Joantra sambil tersenyum. "Iya, Sayang. Ayo, Bunda temenin."
India tidak perlu pamit, dia cuma melempar senyum kepada Adit dan Davares mengakhiri obrolan singkat mereka. Dia berbalik badan merangkul pundak Joantra. Sementara itu, Joantra sempat menoleh dan menjulurkan lidah kepada Adit.
Adit cuma melempar senyum dan melambaikan tangan, tapi Joantra semakin galak menunjukkan wajah tidak suka. Davares pun tertawa menyadari interaksi tersebut.
"Ya, Bro ... mau rebut India mah saingan lo bukan Jondas, tapi anak-anaknya. India nggak tega ninggalin mereka. Nggak paham lagi sama India," ucap Davares seraya menepuk pundak Adit.
"Nggak apa-apa, gue bisa nunggu sampai dia sadar."
Davares bertepuk tangan pelan. "Adit Bucin Kebangetan. Fix, itu nama baru lo. Mau gue pamerin sama Mario, Yoga sama Ronny."
"Iya, sana."
Adit tidak melihat Davares, pandangannya hanya tertuju pada India yang perlahan mulai menjauh. Perempuan itu mengusap kepala Joantra, tampak begitu menyayangi anak tirinya. Sepertinya benar, yang sulit bukanlah merebut dari Jondas melainkan anak-anaknya Jondas yang tampak menyayangi India.
💝💝💝
Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🫶🏻
Follow IG: anothermissjo
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top