Consolation - 1
"Suami yang baik dan perhatian hanyalah karangan." -Consolation
#Now Playing: Anggi Marito - Tak Segampang Itu
•
•
Keluarga Palmer biasa mengadakan acara jamuan makan malam setiap sebulan sekali untuk mempererat hubungan. Mereka berkumpul di satu rumah yang terpilih secara bergantian. Kali ini rumah orang tua salah satu sepupu Jondas menjadi tempat jamuan keluarga besar Palmer. Halaman belakang rumah didekorasi seindah mungkin guna menjadi tempat ternyaman bagi para tamu.
India datang bersama suami dan kedua anaknya. Satu-satunya acara yang mengikutsertakan India hanyalah acara keluarga Palmer. India tidak tahu siapa saja rekan kerja Jondas, tidak tahu siapa teman dekat Jondas, karena dia tidak pernah diajak setiap kali Jondas pergi keluar untuk menghadiri acara di luar acara keluarga.
"Mas," India mengejar Jondas yang langsung meninggalkannya setelah turun dari mobil. "Hari ini Om Richard ulang tahun, kan? Saya takut salah."
Seperti biasa pertanyaannya tidak ditanggapi. Bulan pertama pernikahan mereka, Jondas masih menanggapi meskipun seadanya. Lambat laun suaminya mulai mengabaikan dan berlaku seperti ini.
"Pa, kenapa nggak dijawab? Bunda, kan, tanya," celetuk Joantra.
Jowan melihat India merasa kasihan. "Iya, Bunda. Kalau nggak salah memang ulang tahun."
"Makasih, Jowan." India melempar senyum dan mengusap kepala Jowan yang berjalan menemaninya.
"Papa, Papa nggak boleh begitu sama Bunda," omel Joantra yang kini mengejar ayahnya.
Jondas menoleh sekilas, tetap berjalan tanpa menanggapi. Langkahnya dipercepat. Joantra yang melihat sikap menyebalkan ayahnya tidak bisa melakukan apa-apa selain cemberut dan berdecak keras supaya ayahnya dengar. Sementara itu, di belakang mereka, Jowan menggandeng tangan India supaya tidak sendirian. India sudah terbiasa dengan sikap Jondas dan mengatasinya dengan senyuman.
"Wah ... sepupu tercinta datang juga," sapa Jiwaya Palmer, sepupu Jondas.
"Pa, aku mau ke sana dulu," pamit Jowan seraya menunjuk tempat bermain khusus yang ada di rumah ini.
"Aku juga," sambung Joantra.
"Lho? Nggak mau peluk Tante, nih?" Jiwaya merentangkan kedua tangannya berharap dipeluk dua anak itu. Bukan mendapat balasan, keduanya sepakat menjulurkan lidah menunjukkan penolakan dan kabur begitu saja.
Setiap keluarga pasti ada sosok yang menyebalkan. Iya, Jiwaya adalah manusia itu. Sosok yang tidak pernah disukai para sepupu maupun adik-adiknya karena sifatnya tidak baik. Itulah mengapa Joantra dan Jowan menghindari Jiwaya. Mereka tidak suka dengan Jiwaya. Meskipun India sudah menasihati untuk tidak bersikap demikian, keduanya tetap tidak mau dipeluk atau menyapa Jiwaya. Mereka benci. Bukan tanpa alasan pula mereka bersikap demikian. Hal itu dipicu oleh sikap Jiwaya yang selalu jahat terhadap India. Joantra dan Jowan pergi karena tahu ayah mereka bisa menjadi tameng supaya Jiwaya tidak mengganggu India.
"Anak-anak lo nyebelin, deh, Jon. Nggak diajarin apa harus sopan sama yang tua?" Jiwaya melihat India, dengan sinis tentunya. "Oh, iya, kalau ibu tiri yang urus mah nggak mungkin diajarin yang baik-baik, ya?"
India diam tidak menanggapi. Tahan. Acara masih panjang. India harus menyimpan energinya sampai acara berakhir. Kalau dia meladeni Jiwaya, energi positifnya bisa berubah buruk.
"Jon, nggak kangen sama Wantra? Gue kangen, deh, sama Wantra," lanjut Jiwaya, kali ini dengan menyentuh pundak sepupunya.
Jondas menjawab, "Kangen. Tadi sore gue habis pergi ke makamnya. Kalau lo kangen, datang aja ke sana."
"Besok, deh. Lagi juga kenapa, sih, lo harus nikah lagi? Macam nggak bisa urus diri sendiri aja." Jiwaya berkata dengan nada sinis sambil sesekali melempar senyum mengejek pada India.
"Nggak tahu. Gue juga benci pernikahan ini," balas Jondas dingin.
Jawaban Jondas menjadi pernyataan yang perlu digarisbawahi. India diam tidak bersuara. Lehernya sudah seperti dicekik setelah Jondas menanggapi pertanyaan Jiwaya. Sekalipun Jondas tidak berpura-pura senang dengan pernikahan mereka.
"Kalau gitu cerai aja nggak, sih?"
Pertanyaan Jiwaya dikeluarkan seakan-akan India tidak ada di sana. Walaupun Jiwaya rajin melihat India, berbeda dengan Jondas yang tidak menoleh pada India.
"Iya, nanti," sahut Jondas.
Jawaban terakhir Jondas menjadi yang paling menyakitkan. India mencoba tetap tenang dan menekan rasa kecewanya dalam diam. Setelah jawaban itu, tidak ada lagi pertanyaan yang dilontarkan. Jiwaya menarik pergi Jondas, meninggalkan India sendirian tanpa pamit.
Dan lagi, India harus menelan pahitnya kenyataan bahwa suaminya tidak pernah membelanya. Mau diejek atau dihina pun, Jondas tidak pernah bereaksi dan membiarkan India terluka. Rasanya hancur. Benar-benar hancur.
"Wah ... India udah datang, ya."
Sapaan ramah itu terdengar dari belakang. Kontan, India berbalik badan dan menemukan Richardson Palmer, omnya Jondas. Dalam hitungan detik India mengubah ekspresi kecewanya menjadi senyum ramah.
"Halo, Om. Apa kabar, Om?" balas India tak kalah ramah.
"Baik, India. Kamu baik-baik aja, kan? Oh, ya? Jondas mana? Anak-anak di mana?"
"Saya baik, Om." India menyampaikan kebohongan yang paling sering diucapkan di depan semua orang dibarengi dengan senyum terpaksa andalannya. "Mas Jondas lagi ambil makanan, Om. Anak-anak juga lagi cari camilan."
"Mereka itu, ya, bukannya ajak kamu. Benar-benar, deh."
India tetap mempertahankan senyumnya. "Nggak apa-apa, Om, saya memang disuruh nunggu di sini sama Mas Jondas. Oh, iya, Om..." India mengulurkan tangannya. "Selamat ulang tahun, Om. Saya mendoakan agar Om selalu sehat dan panjang umur. Semoga harapan-harapan yang Om inginkan dapat segera terwujud."
Richard menyambut uluran tangan India dan tersenyum lebar. "Makasih, ya, India. Kamu ini paling rajin ucapin selamat ulang tahun. Padahal tadi pagi udah kamu ucapin lewat WhatsApp. Sekali lagi makasih, India. Saya doakan hal yang sama kembali sama kamu."
"Iya, Om. Oh, ya, satu lagi, Om. Maaf hadiahnya agak terlambat. Besok hadiahnya baru bisa dikirim dari tempat saya beli hadiah, Om. Semoga nanti Om suka hadiah dari saya dan Mas Jondas."
"Makasih, ya, India. Tolong sampaikan terima kasih sama Jondas. Takut nanti dia sibuk ngobrol sama yang lain jadi nggak sempat bilang secara langsung."
India mengangguk pelan. "Iya, Om."
Kebohongan lainnya adalah membawa nama Jondas dalam setiap hadiah yang India berikan untuk pakde maupun omnya Jondas. Setiap kali salah satu dari mereka ulang tahun, India selalu menuliskan hadiah tersebut darinya dan Jondas. Padahal Jondas tidak sepeduli itu untuk membelikan orang-orang di sekitarnya hadiah. Tidak hanya itu saja, kalau ada teman India yang menikah, India pasti menuliskan hadiah darinya dan Jondas. Sebisa mungkin India melukiskan suaminya sebagai sosok yang perhatian agar orang-orang tahu kehidupan pernikahan mereka harmonis. Setidaknya menciptakan khayalan indah jauh lebih mudah dibandingkan harus menunjukkan kenyataan itu sendiri.
Suami yang baik dan perhatian hanyalah karangan India. Demi menutupi fakta yang berbanding terbalik.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Jondas duduk menikmati jamuan makan malam di tempatnya. India berada di sampingnya, begitu pula dengan beberapa sepupu yang bergabung dengan meja mereka. Sementara itu, anak-anak berada di meja lain, berbincang dengan yang lain dan sibuk bermain sesuka hati.
Di tempat duduk mereka ada para sepupu Jondas yakni Davares, Deora, Mickey, dan Kadon. Tidak ada satupun dari mereka yang membawa pasangan karena mereka semua belum menikah. Lebih tepatnya Deora tidak lagi membawa pasangannya karena baru saja bercerai.
"Gue nggak habis pikir lo cerai dari Viscy, De," mulai Davares.
"Kalau nggak cocok masa mau dipertahankan?" balas Deora.
"Ya, siapa tahu masih bisa dipertahankan."
"Tahu lo. Contoh, nih, Jondas sama India. Hidup harmonis dan rukun. Jangan kebanyakan ribut makanya jadi cerai," celetuk Mickey Palmer, adiknya Davares.
"Itu mah karena India baik. Iya nggak, Jon?" timpal Kadon.
Sambil mengunyah daging, Jondas menanggapi dengan datar. "Iya, Wantra baik banget."
Nama yang diucapkan berhasil membuat semua sepupu Jondas menghentikan kegiatan mereka dan menatap Jondas. Mereka bergantian memperhatikan reaksi India, yang rupanya tetap tenang menyantap makanan.
"Jon, maksud gue bukan-"
"Iyalah India baik banget. She's the best," potong Davares lebih dahulu menyudahi ucapan Kadon yang sudah dipahami, dengan senyum lebar.
Jondas baru sadar mulut menyebut nama almarhum istrinya, bukan India. Tidak mau peduli, dia tetap menyantap hidangan daging steak matang yang dilumuri bumbu blackpepper. Dia tidak akan meralat apa pun karena baginya Wantra sangat baik.
"Eh, iya, gue nonton film yang diadaptasi dari novel lo, lho, In!" Kadon segera memahami maksud Davares memotong ucapannya dan mulai menjalankan skenario lain untuk membangun obrolan yang lebih menyenangkan.
"Lo nonton? Masa, sih? Bukannya bioskop cuma jadi salah satu tempat lo buat bermesum ria?" ledek Deora.
"Eh, eh, mulut!" Kadon memelototi Deora, sepupunya itu tertawa. "Gue beneran nonton sama gebetan gue tahu! Selain gue suka sama plotnya, gue suka sama aktrisnya. Gile lo, masa gue nggak nonton Sekar Tanujaya? Cantiknya ampunan gitu. Eh, tapi perannya agak menyedihkan, ya. Kenapa dapat laki-laki bajingan coba?"
"Oh, ini film yang judulnya The Way You Treat Me, ya? Tentang laki-laki manipulatif yang bikin pacarnya sebaik malaikat itu tetap milih dia sampai akhir? Yang dikasih kesempatan terus? Agak tolol, sih. Eh, maksud gue, no offense, ya, In. Tapi kenapa harus dikasih kesempatan setelah disiksa begitu?" sambung Mickey kembali bersuara.
"Ini mah tipikal bacaan kesukaan Kadon," kata Deora.
"Apaan! Jondas, tuh, yang suka baca novel. Gue mah lebih suka nonton," sahut Kadon.
Jondas hanya mendengarkan, tidak berkomentar apa-apa. Selain nama lengkap India Americasya Wijaya, dia hanya tahu istrinya berumur empat tahun lebih muda darinya dan merupakan seorang penulis terkenal. Sebatas itu. Tidak ada lagi yang Jondas ketahui. Tidak tahu novel apa saja yang ditulis istrinya atau novel apa saja yang sudah diadaptasi menjadi film maupun series. Jondas tidak mau peduli.
"Gue nggak gitu suka baca novel. Wantra yang suka," ceplos Jondas.
Lagi, jawaban Jondas berhasil menciptakan keheningan saat para sepupunya tengah sibuk saling meledek. Dari bawah meja Jondas merasakan tendangan kaki Kadon, yang entah sengaja dilakukan atau mau menendang kaki sepupunya yang lain, yang pasti jarak kakinya dan Kadon lebih dekat karena mereka duduk bersampingan. Seperti sebelumnya, Jondas tidak mengubah jawabannya. Memang itu faktanya.
"Gue belum nonton. Kapan, nih, nonton bareng film itu?" Mickey beraksi lebih dulu mencoba mencairkan suasana.
Sejak tadi India sudah menahan diri. Dia berharap suaminya bisa berpura-pura setidaknya menyebut namanya dan berpura-pura sok tahu tentangnya. Namun, berulang kali Jondas menyebut nama Wantra tanpa ragu. Bukan tidak senang, India merasa tidak dianggap. Jika terjadi di rumah, dia sudah biasa, tetapi mengapa harus ditunjukkan sejelas itu di depan semua sepupu Jondas?
India bangun dari tempat duduknya, mengulas senyum paksa. "Mas, saya pamit ke toilet sebentar, ya."
Kalimat itu menjadi yang terakhir sebelum India benar-benar pergi meninggalkan meja. Kepergian India menciptakan sunyi yang dalam, membuat para sepupu Jondas merasa tidak enak dan bersalah sudah bertanya banyak hal.
"Jon," Deora memotong daging steak tanpa melihat sepupunya. "Lain kali lo baca novelnya India yang judulnya Let Me Love You. Biar lo tahu betapa menderitanya tokoh utama perempuan di sana selalu dibandingin sama mantan pacar si laki-laki. Sekalian biar lo tahu betapa buruknya lo jadi laki-laki dan suami."
"Iya, betul," timpal Davares setuju.
"Buset Deora...," gumam Kadon kaget.
Jondas cukup terkejut dengan kata-kata itu hingga dia menaikkan pandangan dari makanan pada sepupunya.
Deora meletakkan alat makannya, menatap Jondas yang juga menatapnya. "Gue nggak tahu apa yang ada di pikiran lo, tapi lo harusnya bisa berpura-pura nyebut India dalam setiap jawaban yang kita tanyakan. Gue malas ikut campur cuma ngelihat India selalu berusaha senyum dan bersikap baik banget sama anak-anak lo, gue kasihan. Gue lebih kasihan lagi dia nikah sama laki-laki yang masih berduka panjang. Apalagi suaminya nggak pernah belain dia tiap diejek sama sepupunya. Kasihan banget."
"Maksud lo sepupu mana, nih? Kak Jiwaya, ya?" tebak Kadon.
"Iya. Gue diam aja karena malas ribut sama iblis satu itu. Tapi kalau Jondas, kan, suaminya. Harusnya dia belain India kalau Jiwaya ngejek, bukan diam aja."
Mickey nyeletuk, "Iya, sih, gue juga takut sama kakak gue. Nggak berani omelin Kak Jiwaya."
"Dia bisa bela dirinya sendiri. Buat apa dibela?" balas Jondas santai.
Deora berdecak kasar, menatap Jondas cukup lama dengan kesal. "Sakit lo, Jondas."
Tanpa aba-aba Deora bangun dari tempat duduknya, mengambil piring makannya yang belum selesai dan berpindah tempat duduk. Begitu pula dengan Davares yang ikut meninggalkan tempat duduk, tetapi tidak sambil membawa piring. Berbeda dengan dua orang itu, Kadon dan Mickey tetap di tempat mereka, kebingungan sendiri harus bagaimana.
Sunyi pun mengisi meja mereka. Jondas tetap fokus dengan makanannya. Tidak berniat menghampiri India yang belum juga tiba. Biarlah. India bisa mengurus dirinya sendiri. Jondas hanya ingin makan dengan tenang.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🥰
Jadi manteman, genre ini sedikit berbeda dari romcom buatanku ya. Kalau dibilang angst, ini memang angst. Tapi ya nggak angst banget sih. Tapi kudu sabar-sabar pas baca cerita ini. Kalau kalian mau mengumpat atau ngomel, cerita ini cocok untuk kalian XD wkwk
Meskipun temanya beda, gak ada lawak2nya banget, aku harap kalian menikmati cerita ini ya🥰
Follow IG: anothermissjo
Meet our India!<3<3
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top