The Beginning
"Uhm... apa ini?" Aku terbangun dari tidurku, bukan karena hawa dingin dunia manusia kalau sudah tengah malam. Tapi aku merasakan perasaan familiar ini.
"Wujudku...." Seingatku tadi aku memakai wujud kecilku sebelum tertidur dan bukannya wujud asliku. Aku butuh men-charging energiku karena tadi sesudah latihan, tenagaku terkuras habis. Thanks to Mischievous and Despair, mereka berdua semangat sekali ingin menyiksaku saat latihan. Aku iri kenapa mereka bisa sekuat itu.
"Eh, tunggu. Ini bukannya rumahku yang dulu di alam roh? Hah? Kenapa aku bisa ada di sini?" Aku berteriak kaget, tapi tentu saja tak ada yang menjawab atau mendengarku yang saat ini sudah seperti orang kesurupan karena aku hanya sendirian di tempat ini. Tapi di situasi seperti ini, orang normal mana pun pasti akan kaget, karena tiba-tiba dia terbangun di tempat yang as- ah, bukan asing sih, tapi gimana yaaa aku menjabarkannya... intinya aku ini Envy, Sang Iri Hati, yang sekarang sedang kabur ke dunia manusia. Aku tadi hanya tidur sebentar di Camp latihan para Unrestrained Sin itu, tapi kenapa saat bangun aku malah berada di sini coba? Apa saat tidur tadi aku tertangkap oleh Pride? Oh no~
Aku harus keluar dari tempat ini. Sekarang juga. Pikirku saat ini.
Ah iya, pertama-tama, portal ke dunia manusia...
Tapi tiba-tiba...
"Kak envyyyyyyy" Seseorang memanggilku dengan ceria dari arah belakang.
Aku terlonjak kaget. Gawat, ada orang yang datang. Aku harus segera kabur.
Aku cepat-cepat merapalkan mantra pembuat portal. Tapi... tak ada. Tidak ada yang terjadi. Aku tak bisa membuat portal!!! Kenapaaaa?
"Aku datang menjemput Kakak. Kak Envy sudah bangun rupanya, hehe...", oh sial. Ternyata mereka menungguku saat aku bangun. Aku sudah dikunci di tempat ini supaya tidak bisa kabur lagi. Pasti Pride yang sudah mengunci semua portal ke dunia manusia. Sial, sial, siaaaal...
Mau tidak mau, aku pun melihat orang yang dari tadi memanggilku "Kak Envy" itu.
Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat seseorang dengan penampilan serba hitam, jubah hitam panjang menutupi kakinya. Aku tidak tahu apa dia memiliki kaki atau tidak, karena saat ini dia melayang di atas daratan. Wajahnya tidak kelihatan, mungkin dia juga tidak memiliki wajah di balik jubah itu. Death scythe super besar tersampir di belakangnya. Aura kematian mengerikan terpancar dari arahnya. Siapa ini? Aku merasa pernah melihatnya sebelumnya, tapi ingatanku kabur sekali. Arrrrggghh.. aku iri dengan orang yang punya ingatan super. Jadi ilmuwan saja sana.
Rupanya wajah panikku terpatri jelas di wajahku saat ini karena dia kemudian melanjutkan, "Loh, Kak Envy, ada apa? Mengapa ketakutan begitu melihatku? Tenang saja, Kak. Kak Envy adalah orang yang berada di daftar terakhir yang mau kubunuh, hehe.." Katanya ceria. Bahkan terlalu ceria untuk ukuran orang yang baru saja mengatakan bahwa aku berada di daftar yang ingin di bunuhnya meski ada di urutan terakhir.
"Kamu.. si-" Dan aku berhenti, tidak melanjutkan pertanyaanku. Simbol di atas jubah yang tadi kulewatkan menyadarkanku. Sekarang aku paham. Sekelebat ingatan yang bagai kabut tadi tiba-tiba menguap dan menyisakanku endapan ingatan yang jelas. Benar. Aku memang pernah bertemu dengannya, hanya saja aku sudah terbiasa melihatnya dalam wujud lain yang lebih imut. Jadi, saat tiba-tiba melihatnya dalam wujud aslinya, aku kebingungan seperti ini. Harusnya aku tahu.
"Murder!!!" Hanya satu kata itu yang bisa kuucapkan saat ini.
"Yup. Kenapa Kak? Kayak baru ketemu aja."
"Aku sudah lupa karena sudah ratusan ribu tahun yang lalu, ternyata wujud aslimu seperti ini. Arrrggggh, aku semakin iri. Kenapa wujudmu super keren plus misterius begitu?"
"Hah? Kakak ini bicara apa? Bukannya aku memang selalu memakai wujud ini setiap hari? Ah, kakak ini ada ada saja."
"Setiap hari? Bukannya sebagian kekuatanmu sudah kamu berikan pada Wrath sehingga kamu tidak bisa memakai wujud aslimu lagi?"
Murder terdiam sejenak, kemudian berkata, "Sepertinya kak Envy harus konsultasi pada Gluttony deh. Mungkin dia punya obat untuk kepala ngawur kakak. Ah, ngomong-ngomong tentang Wrath, kita terlambaaaaaaaaat. Aaaaaaargggghh.. iya, tujuanku ke sini kan untuk menjemput Kak Envy. Ayo, tidak ada waktu lagi." Murder menarikku pergi. Tapi aku tetap bersikeras untuk bertahan.
"Tu-tunggu, ke mana? Sebentar, 'Wrath'? 'Gluttony'? Bukannya Kak Wrath dan Kak Gluttony, tapi kamu langsung memanggil nama mereka langsung? Entah apa yang bakalan dilakukan oleh Wrath ketika mendengarmu memanggilnya begitu."
Kali ini Murder berhenti menarikku. Dia berkata dengan lirih.
"Aku tidak tahu apa yang kak Envy bicarakan, tapi yang aku tahu pasti, jika kita tidak datang ke sana tepat waktu, Wrath akan mencincang kita berdua tak lupa menguliti setiap kulit dan kerak yang kita miliki dan terakhir dia akan memanggang setiap-sel-tubuh kita dengan api akhirat. Jadi, jika tidak ingin hal naas itu terjadi, sebaiknya hentikan omong kosong kakak dan ikut dengannku, sekarang."
Kata-katanya terdengar absolut.
Aku bergidik. Bukan karena penjabaran ekstrim tentang tindakan Wrath yang akan dilakukannya pada kami. Ya, aku tahu betul, hal itu persisnya yang akan dilakukan Wrath jika dia marah, tapi aku merinding karena melihat karakter asli seorang Murder. Ini kedua kalinya aku terperangah melihat Murder yang bicara dengan serius. Pertama kalinya saat aku menanyakan apakah dia (dan para dosa junior lainnya) membenci kami para dosa besar. Jawabannya saat itu membuatku merinding.
"A-ayo, kemana kita pergi?", akhirnya aku menyerah dan memutuskan mengikutinya. Terserahlah, dia mau ke mana.
"Naaaaaaah, gitu dong Kak Envy." Kata Murder, kali ini ia kemabali terdengar ceria. "Ayok. Kita ke tempat Pride sekarang."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top