Keep alive, Envy

https://youtu.be/ga94wVeFBac

*Perficio Almitas Vortex*

"Tu-tunggu... KINDNESS!!!" Terlambat aku berteriak dan bertindak. Kini syal ungu milik Kindness melilit helaiannya satu sama lain sehingga membentuk bola raksasa sempura yang melindungiku di dalam, sekaligus menahanku untuk tidak keluar.

"Kindness. Apa yang kamu lakukan? Keluarkan aku dari sini!! Biarkan aku bertarung!!!" biarkan aku melindungimu juga... jerit suara hatiku yang frustasi karena harus terkurung dalam perlindungan Kindness. Sedangkan Kindness sendiri, berada di luar menghadapi Witchcraft dan para Atramentous sialan itu.

"Sudah cukup, Envy. Uhukk." Suara payah Kindness dari luar menjawabku. Dari suaranya saja aku sudah tahu, dia sama tidak berdayanya denganku saat ini. Tapi roh bodoh ini masih tetap mengorbankan spirit gauge-nya yang tinggal sedikit itu untuk memakai skill ini. "Hahh. Hahh. Jika Envy... uhukk.. bertarung dengan mereka lebih dari ini. Envy akan lenyap." Kindness terbatuk lagi. Air mataku mengalir keluar dengan sendirinya karena merasakan penderitaan Kindness.

"Bagaimana denganmu sendiri, Rubah Bego? Persetan. Aku masih bisa bertarung. Jadi keluarkan aku sekarang juga!! Kamu mendengarku? Keluarkan aku!" kumohon...

"Tetaplah hidup... Envy." Aku bisa merasakan Kindness tersenyum saat ini. Senyuman bodoh miliknya yang selalu ia paksakan itu. Senyuman yang anehnya selalu bisa mencairkan hatiku yang beku. Senyuman yang aku sesalkan tidak bisa kulihat sekarang... dan mungkin tidak akan bisa kulihat lagi selamanya. Secepat ini aku merindukan senyuman yang saat ini hanya bisa kurasakan tanpa bisa kulihat secara visual ini. Kindness, aku ingin melihatmu...

"Akuhh.. masihh.. memilikihh banyak energih... jadihh.. Envy bisahh.. beristirahat." Kata Kindness mencoba terdengar kuat. Siapa yang sedang ditipunya saat ini? Aku dan dia sudah bertarung lama menghadapi Demonism dan Shamanism, dan pertarungan kami tentu saja timpang sebelah meski saat itu Witchcraft memilih tidak ikut campur dan membiarkan dua anaknya membantai kami secara fisik dan mental. Kami berdua mengambil posisi menyerang, tapi saat aku terluka, Kindness segera menggunakan healing skill-nya untuk memulihkan tenagaku. Aku tahu benar energinya dua kali lipat lebih terkuras dibandingkan diriku.

"Wah. Wah. Wah. Melindungi rivalmu ya? Jadi kamu ingin mengorbankan dirimu sendiri menjadi makanan Moloch?" Suara cempreng Demonism terdengar mendekat. Lengkap bersama lenguhan iblis summon-nya, Moloch. Aku merinding ngeri membayangkan Kindness hanya sendirian di luar sana menghadapi tante busuk itu.

"JANGAN SENTUH DIA, TANTE IBLIS!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!! AKU AKAN MENGHANCURKANMU!!!!" Teriakku berang. Kulakukan apa yang bisa kulakukan dari dalam, memukul-mukul dinding syal, menyepak, mencubit, menarik, tapi syal itu tidak berurai sedikit pun. Goyah pun tidak.

"Anak yang hanya tahu dilindungi tidak punya hak suara dalam pertarungan. Mendekam saja dalam penjara sial itu, dan dengarkan dengan baik-baik bagaimana Moloch mencabik-cabik tubuh rivalmu." Kata Demonism bengis.

"Kamu masih melindungi dosa payah itu? Sangat mengharukan. Dari awal dia hanya bisa menerima pertolongan. Dari anakku Necromancy, para dosa bebas, dan kau sendiri, kebajikan paling lemah." Kata Witchcraft dari luar. Aku mendengar suara Kindness merintih sangat kesakitan. Apa yang sudah diperbuat Witchcraft padanya??? "Tanpa kalian yang membantunya sampai saat ini, dia hanyalah naga yang tidak berguna. Shamanism!"

"Baik, Ayah." Jawab Shamanism cepat. Kali ini terdengar langkah berat mendekati tempatku.

"Jangaa..." Kindness berteriak.

"Heh. Tutup mulut busukmu di depan, Ayah!"

"AAAAAAAAAAAA...." Kali ini terdengar Kindness melolong kesakitan.

"KINDNESS!!!"

"Aku bilang tutup mulut. Kenapa kamu malah berteriak, Bodoh!!"

"Ugghhhhhh."

"KINDNESS!! Apa yang kau lakukan, Tante Busuk?? Lepaskan dia. Kindness, keluarkan aku dari sini."

"Hohoho... jangan khawatir, Dosa Besar Envy. Dia hanya kehilangan... satu tangannya. Tidak terlalu berguna." Kata Demonism memberi informasi atas keadaan Kindness.

Tidak. Akulah yang tidak berguna saat ini. Seperti kata Witchcraft, aku hanyalah roh yang selalu menerima bantuan. Aku selalu dilindungi, tapi aku tidak bisa melindungi, bahkan untuk orang-orang yang paling kusayangi sekali pun. Air mataku tidak berhenti mengalir. Teriakan kesakitan Kindness di luar tidak berhenti dan semakin lama semakin histeris. Demonism entah sudah memerintahkan iblisnya menyiksa Kindness dengan cara kejam seeprti apa. Aku lebih menderita daripada saat Demonism menyiksaku tadi. Lebih baik seribu, tidak, satu milyar kali aku menerima siksaan itu daripada harus mendengar teriakan Kindness yang sarat nestapa.

"Heh, Kakek Bau Tanah, kamu ngapain dari tadi di situ tapi tidak berhasil-berhasil juga? Kenapa Naga Ijo itu belum keluar juga dari sarangnya?" Tanya Demonism.

"Aku juga tidak tahu. Ramuanku tidak bisa bekerja pada bola ini." Jawab Shamanism yang berada di dekatku. Aku tidak menyadarinya, Shamanism ternyata dari tadi berusaha membuka uraian bola syal ini.

"Oooh.. Adik manis ini ternyata memiliki skill pertahanan yang hebat ya." Intonasi Demonism terdengar menjijikan. "Sepertinya satu-satunya cara agar skill itu hilang adalah dengan membunuhmu."

"Sudah cukup. Lepaskan saja skill bodoh ini. Kindness!! Biarkan aku keluar!" aku mendobrak-dobrak dinding syal itu dengan seputus asa yang bisa kukumpulkan. Tentu saja pertahanan ini luar biasa sempurna. Sekarang aku mengerti kenapa namanya "perficio", pertahanan sempurna.

"Bhe..lhum.. chu..kuph.. Envy.. hah..rus.. hhi..duph.." kata Kindness dengan susah payah.

Pemahaman kedua menyentakkanku. Kindness, Si Bego itu, tidak pernah berpikir melawan Atramentous dan selamat dari mereka. Ia sadar kekuatan kami berdua tidak sebanding dengan mereka. Maka cara ekstrim yang ditempuhnya adalah dengan membiarkan salah satu dari kami berdua selamat, dan bodohnya dia memilih aku dan mengorbankan dirinya sendiri. Skill ini menahan serangan apapun dari luar sementara diriku mendapatkan re-charge dari Almitas Vortex, skill pertahanan sekaligus penyembuh. Sejak kapan kamu bisa memikirkan strategi, Kindness?

"Heeee... memangnya apa yang sedang kamu capai?" tanya Demonism kepada Kindness.

"Demonism, itu adalah skill penyembuh, dia sekarang sedang menyembuhkan Envy. Bunuh saja kebajikan itu sekarang!" Perintah Witchcraft sialan.

"Tidak. JANGAAAN. KINDNESS." Aku berteriak sekuat tenaga sampai tenggorokanku kering, sampai paru-paruku sakit. Sayangnya hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

"Dasar banyak bacot. Tanpa kau suruh pun sudah akan kulakukan." Setuju Demonism tanpa menghiraukan teriakan histerisku seperti orang kesetanan. "Moloch! Lakukan dengan baik yaa."

"JANGAN. JANGAN LAKUKAN. JANGAN LAKUKAN ITU!!! BUNUH SAJA AKU. KINDNESS. KINDNEEESS!!!"

"Dhaz..." Kindness bahkan tidak diizinkan mengeluarkan kata terakhirnya padaku. Bunyi mengerikan keras dari luar membuatku terlonjak, sekaligus merana. Kindness...

Tepat setelah itu, secara ajaib dan menyakitkan, syal yang dari tadi kuributkan terurai dengan cara menyedihkan dan jatuh terkulai lemas dalam genggaman tanganku. Mataku basah dan kabur oleh deras air mata, tapi tatapanku tetap nanar mencari Kindness. Aku menemukannya tidak jauh dari tempatku berdiri, di tengah para iblis dan monster Atramentous. Aku tidak peduli. Aku berlari meraih Kindness yang sekarang berwujud Rubah Putih yang bonyok. Tanpa tangan sebelah kanan. Demonism berkata jujur bahwa dia telah mengambil tangan Kindness. Dan nyawanya. Aku menangkupkan makhluk putih ini di dadaku sambil membenamkan wajahku dalam bulu lembutnya.

"Hah. Aku tidak punya waktu untuk hal sentimental seperti ini. Pangeran akhirnya keluar dari sarang syal dan menemukan rubah putih telah tiada. Moloch, anak baik, kamu tahu apa yang harus dilakukan kan?"

"Ngggghhhhh!!!" Moloch, Sang Iblis hanya melenguh. Ia kemudian menyerangku sampai terlempar sejauh satu meter. Aku terjerembab ke tanah tapi masih sambil melindungi tubuh Kindness.

Satu

Tetaplah hidup... Envy. Suara Kindness terngiang-ngiang dalam kepalaku.

"Kakek Tua Busuk, buat dirimu berguna!" Sergah Demonism kepada Shamanism.

"Aku tidak menerima perintah darimu, tapi baiklah." Shamanism kemudian menyerangku dengan ramuan hijaunya sampai kakiku mengerut busuk kekuningan. Aku menolak berteriak.

Dua

Tetaplah hidup... Envy. Senyum Kindness yang hangat terpatri dalam ingatanku. Tapi bongkah es tetap tercipta dalam hatiku.

"Naga yang tidak berguna!" Kata Witchcraft. Ia kemudian menoleh kepada anak-anaknya, "Kalian berdua, cepat selesaikan!"

"Baik, Ayah." Kata Demonism dan Shamanism hampir bersamaan.

Kali ini mereka berdua bersama-sama melancarkan skill kepadaku. Aku luluh lantak. Hancur.

TIGA

Tetaplah hidup... Envy. Apa itu hidup, Kindness? Saat aku mengerut mati di dalam? Kamu mempertahankan kehidupan yang tidak mungkin aku jalani sendirian. Apa artinya Iri Hati tanpa Kebaikan Hati? Aku akan hidup dengan kedengkian terhadap kehidupan itu sendiri karena kematian yang merebutmu. Jadi apa itu hidup?

Udara di sekitarku mendingin... perlahan membeku. Bongkah-bongkah es runcing muncul di berbagai tempat dan juga membekukan para atramentous. Mereka kehilangan skill-skill mereka. Mereka beku oleh es rasa dengki milikku yang memuncak.

*Malice Ager Malitia activated*

Tetaplah hidup... Envy. Jika itu memang keinginanmu, Rubah Bego. Aku akan hidup.

*Leviathan's Spear*

Dengan sekali serangan, aku menghancurkan patung es para atramentous dan Witchcraft. Mereka terlempar sekaligus terbebas dari bekuan es. Aku tahu, mereka tidak mati. Yang mati hanya Kindness, bukan mereka,

Mereka kembali bergerak, tapi terkejut.

"Apa-apaan Si Brengsek itu? Darimana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?" Demonism ternganga.

"Dia bahkan tidak dalam wujud daemonium-nya." Jelas Shamanism.

"Hati-hati, sekarang rasa iri hatinya meningkat drastis. Skill pasif-nya akan sangat menyusahkan." Witchcraft memperingati kedua anak busuknya.

Tetaplah hidup... Envy.

Tetaplah hidup... Envy. 

Tetaplah hidup... Envy. 

Tetaplah hidup...

Hidup...

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!" Aku berteriak mengoarkan amarah, dengki, benci, rasa sakit, putus asa, kerinduan, dan semua rasa negatif lainnya. Energi yang besar melingkari tubuhku, dan dengan perlahan tubuhku mengeras, bersisik, dan kokoh. Transformasi daemoniumku tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Tubuh Kindness dalam genggamanku mulai menguap. Sedikit demi sedikit berubah menjadi partikel kecil roh biru. Tinggal hitungan menit sampai yang tersisa hanyalah hampa udara.

"Di-dia berubah??!" Shamanism kaget.

"Halaaaaah... apa istimewanya sih saat dia berubah menjadi naga raksasa? Moloch bi-" Belum selesai Tante Busuk itu berkata, aku langsung mendepak iblis kebanggaannya itu dengan ujung ekorku. Iblis itu terhempas, beku, dan kembali ke negeri asalnya di dasar neraka terdalam.

"MOLOCH!!! BRENGSEK!!!" Demonism menjadi beringas dan melancarkan skill-nya melawanku.

"Demonism, jangan!!!" Terlambat Witchcraft memperingatinya. Aku langsung mendeteksi adanya pemakaian skill sehingga skill pasifku yang satu lagi kembali aktif.

*Leviathan's Desire activated*

Berkat kebodohan Tante Busuk itu, semua skill aktif mereka menjadi tidak aktif, serangan kedua dari bongkah-bongkah esku. Mereka kembali lagi tidak bisa berkutik dan kehilangan separuh dari spirit gauge mereka.

Aku mungkin bisa menghancurkan mereka lagi dalam sekali serangan. Tapi....

Aku memilih terbang pergi.

Untuk hidup.

.............................................

Aku membaringkan tubuh Kindness yang tinggal setengah di atas tanah beralaskan syal ungunya. Partikel-partikel kecil biru aura Kindness perlahan beruraian ke atas. Terbang ke atas langit yang kutahu pasti akan berkumpul kembali ke Hutan Pious. Aku berhenti menangis. Tidak lagi merasakan sakit. Mungkin karena tingkat tertinggi dari rasa sakit adalah tidak lagi merasakan sakit itu sendiri. Syaraf nyeriku mungkin sudah kebal, atau tak lagi berasa. Aku sekarang adalah kehampaan, yang kini menatap kosong tubuh Kindness yang sekarang telah tiada.

Tunggu. Sejak kapan tubuhnya menghilang seluruhnya? Aku menatap partikel terakhir aura roh biru yang bersiap-siap pulang. Tunggu. Tunggu. Jangan pergi.

Partikel itu terbang perlahan, tapi aku berusaha meraihnya dengan tangan kosong. Jangan pergi, Kindness. Kindness!!

Tentu saja aku tidak bisa meraihnya. Partikel itu lepas dari genggamanku. Aku mengejarnya. Meraihnya. Mengejarnya. Tapi tak teraih. Tidak. Tidak. Tidak. Kumohon. Kembali. 

Partikel roh itu pergi. Terbang. Aku tak bisa lagi mengejarnya. Partikel terakhir yang menyimpan aura Kindness.

Aku menatap partikel itu dengan pandangan hampa. Kerongkonganku kering, tapi kupaksakan bibirku untuk mengucapkan kata terakhir yang tidak sempat ia ucapkan tadi. "Dhaz korun, Kindness." Kata suaraku parau.


------------------------------

Whew... Cerita ini sepenuhnya terinspirasi dari Arrow, The Whumpie Master, yang sudah mengenalkan genre whump di kehidupanku yang dipenuhi oleh dunia romance ini. Tapi sayangnya aku gak bisa menulis "whumpie" dengan baik, jadi yaaah.. aku tambahi angst dikit.

Bound Part 8 udah 50%.. yeeeeeeeeeeeey. Maap, lama.

Aku jadi berproduktif lagi nulis gara-gara punya banyak waktu gak megang hape, hahahahahahaha

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top