BBB [29]

Sorry for typo
~Happy reading~

Aku segera menghampiri Hani yang sudah terlihat menungguku. Wajahnya sangat kusut, rambutnya berantakan dengan matanya yang sebab. Rasa benciku pada dua orang itu semakin menjadi. Ibu hanya belum tahu kebusukan yang mereka lakukan itu.

"Kamu tidak kenapa-napa, kan?" kataku sambil memeluk tubuh Hani yang tidak berhenti bergetar.

Aku memberikannya air hangat yang sempat aku beli di warung terdekat. "Minumlah," seruku.

Hani menerimanya dengan tangan yang bergetar. Wajahnya masih berlinangan oleh air mata. "Sudahlah Hani, yang penting kamu tidak apa-apa, kan?" hiburku, mencoba menenangkannya.

Anggukan dari Hani membuatku sedikit lega. "Selama orang tuamu tidak ada di rumah, kamu tinggal saja bersamaku, ya?" ajakku lagi.

"Maaf, Mbak. Aku jadi ngerepotin," ucapnya dengan suara serak.

"Tidak apa. Terima kasih karena telah memberikanku bukti agar tidak terjebak dengan pria itu."

Aku membantu Hani untuk masuk ke mobil.

"Terjebak kenapa?" tanya Hani saat kami sudah berada di mobil. Pasti dia penasaran. Kondisi Hani juga sudah membaik dan tidak seburuk yang aku lihat tadi.

Tapi meskipun malas menjelaskan, aku memberinya sedikit ceritaku pada Hani. "Dia adalah mantan kekasihku sewaktu kuliah dan sekarang... berniat mengajakku menikah." Napasku ikut tercekat saat menjelaskannya. Mengingatnya, selalu membuat amarahku mendidih.

Tanganku sudah memegang erat kemudi mobil, saking kesalnya karena pria bernama Raka itu.

Raut tidak percaya terpampang jelas pada wajah Hani. "Mbak, serius? Kok bisa?"

"Ibuku tidak mengetahui betapa brengseknya pria itu," balasku tajam.

"Dan berkat bukti yang kamu berikan, aku sudah memberikannya pada ibu. Entah bagaimana reaksinya, tapi aku sedang malas membicarakannya."

Hani mengerti maksudku, dia langsung diam dan melihat ke arah jalanan. Suasana di mobil menjadi hening, aku turut berterimakasih pada Hani yang pengertian terhadap moodku saat ini.

•ווו

Setelah rekaman itu sampai pada Ibu, seperti yang sudah aku duga sebelumnya, Ibu langsung menanyakan ini-itu padaku.

"Kan sudah aku bilang, Ibu sih gak mau denger penjelasan Naura." Kami masih berkomunikasi via telepon dengan aku yang masih menyelesaikan tugasku di perum ini.

Walaupun aku membenci pria itu-Raka-aku harus tetap profesional untuk mengerjakan tanggung jawabku. Terdengar rentetan ceramahan panjang lebar dari Ibu tentang pergaulanku.

"Iya, Bu. Makanya lain kali jangan sembarangan menjodohkanku."

Telepon kembali terputus saat Ibu mengatakan akan mendatangi Raka dan menyampaikan penolakanku. Walaupun diliputi kekesalan, Inu pasti punya cara yang anggun untuk menolak Raka, tanpa harus mengatakan kekejian pria itu.

Aku percaya itu.

Aku kembali merebahkan tubuhku di samping Hani yang sedang tiduran sambil senyum-senyum melihat ponselnya.

"Lagi tukar pesan dengan siapa sih, segitu asiknya, hm?" godaku.

Wajah Hani yang putih itu sangat kentara sekali saat dia sedang tersipu malu. "Ish, Mbak!"

Aku tertawa pelan karena tingkahnya yang masih saja kekanak-kanakan. Wajar Naura, dia masih remaja labil.

Hani tiba-tiba memposisikan diri jadi duduk, aku mengikutinya.

Hani tampaknya ragu untuk berbicara. "Ada apa?" tanyaku peka.

"Mas Anza bilang ... Mas Arusha akan dikirim ke Pusat Pendidikan Intelijen Militer di luar negeri," lirih Hani.

Aku tahu ini terkesan berlebihan, tapi sejak tahu akan hal itu. Satu nama yang selama ini, sudah aku susah payah sembunyikan dalam hati, akhirnya kembali lagi di bahas.

Tepat ketika mendengar perkataan tersebut, ada jeda pada jantungku yang awalnya berdebar jadi terhenti sekian nano detik.

Aku masih terpaku, jika Hani tidak mengguncang bahuku. "MBAK!"

Aku mengerjapkan mata, seperti orang yang linglung. Menoleh pada Hani yang nampak cemas denganku. "Apa aja yang di bilang Anza?" desakku.

Hani menatapku dengan tatapan sendunya. Mungkin jika aku artikan menurut pendapatku, Hani merasa kasian dengan keadaanku saat ini.

"Mas Anza bilang ... besok Mas Arusha akan ke Jerman karena terpilih menjadi personil pilihan."

Aku buru-buru beranjak dari kasur, mencari benda kecil yang seingatku, aku simpan dalam ransel yang kemarin aku bawa ke Pusdiklatpassus.

Aku kalang kabut mencarinya, membiarkan cairan bening yang tidak sopannya terus mengalir membasahi pipiku. Tanpa bisa aku cegah, air mata itu terus keluar seiring dengan aku yang panik mencari ranselku.

"DI MANA SIH!" teriakku frustasi.

Aku tidak bisa menemukan ransel yang kemarin aku pakai, entah di mana ransel itu berada. Berkali-kali aku seka dengan kasar air mata itu.

"Mbak, ada yang bisa aku bantu?" tawar Hani.

Aku menatap Hani dengan tatapan memohon. "Han, tolong cari ransel yang kemarin aku bawa ke Pusdiklatpassus, masih ingat, kan?" tanyaku harap-harap cemas.

Hani yang mengangguk membuatku merasa sedikit lega karena ada teman yang membantuku mencari benda itu.

"Tolong bawakan aku brevet komando jika kamu udah menemukan ranselku," pintaku pada Hani.

Anggukan dari Hani menjadi langkahku untuk tidak berputus asa untuk mencari brevet komando pemberian Arusha.

Hingga akhirnya aku menemukan ranselku di kolong kasur. "KETEMU!" pekikku dengan girang.

Buru-buru aku membuka setiap resleting yang ada dan mencari benda kecil itu.

"Ah, akhirnya ...." Aku menggenggam erat benda tersebut sambil mengucapkan syukur yang tiada hentinya.

"Udah ketemu, Mbak?"

Aku mengangguk pada Hani dan memeluknya singkat. "Udah Hani, terima kasih ya."

Hani tersenyum cerah padaku. "Ada yang lebih butuh rasa terima kasih Mbak daripada aku," ujarnya.

Aku pun membalasnya dengan senyum simpul. "Iya, aku tahu," sahutku.

"Bilang pada Anza untuk membuat Arusha pergi ke alamat yang akan aku tuliskan nanti," sambungku.

Hani mengacungkan jempolnya. Aku pun mulai mengatur napasku yang kini sudah tidak serakus tadi.

Agar tidak ada penyesalan dikemudian hari, akan aku pastikan bahwa kali ini, akh benar-benar mempertahankannya.

~tbc~
Revisi : 30/10/20

Terima kasih telah membaca
Bye-bye, black!💚
.
.
.
Jangan lupa klik 🌟 komen dan share cerita ini ke teman-teman kalian ya 😂
.
.
Salam hangat,
Fe

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top